
Percaya atau tidak, orang seperti Farhan memang ada dan banyak di kehidupan nyata. Mereka-mereka yang seperti itu, adalah tipe manusia yang peduli dibalik layar tanpa ingin mendapatkan kepuasan untuk dipuji. Berbanding terbalik dengan orang yang suka melakukan pencitraan hanya untuk sebuah pujian.
Yang pastinya, Farhan memiliki alasan tersendiri kenapa memilih bungkam dengan semua pengorbanan yang ia lakukan untuk Lisa. Di mana hanya pria itu yang tahu pasti kenapa ia melakukan semua itu.
"Ngapain pulang?" Farhan mengaduk kopi pait yang baru saja ia buat. Matanya melirik Lisa yang sedang tersenyum jenaka ke arahnya. Wanita itu berdiri, menyandar di pintu sambil memperhatikan Farhan membuat kopi.
"Aku kangen kamu." Lisa memajukan mulutnya sok imut. Mengepangkan kedua tangan dengan harapan Farhan mau dipeluk. Nihil, Farhan kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sayannya aku tidak." Farhan memicingkan mata sinis, berjalan melewati Lisa tanpa peduli.
Pria itu duduk di ruang keluarga, menyesap kopi pahit yang baru ia buat dengan gerakan pelan. Menikmatinya perlahan sambil menghirup aroma harum kopi khas Lampung kesukaannya. Dasyat wangi kopi itu mampu membuat pikiran Farhan menjadi tenang.
"Sayang, maafkan aku. Seharusnya aku bertanya dulu sebelum marah-marah dan langsung pergi." Lisa ikut bergabung duduk, tangannya langsung bergelayut manja di lengan Farhan tanpa rasa malu. Sesuai kenyataan, malu-malu hanya akan membuat dirinya semakin sulit menaklukhan kekerasan Farhan. Pria itu sudah kebal bisa dari gadis anggun yang hobi menjaga penampilan diri.
Bersandar di dada Farhan, Lisa berkata kembali sambil menyelusupkan tangannya di balik kaos biru polos milik Farhan.
"Kenapa kamu suka sekali membuatku salah paham begini, sih?" Nada bicara Lisa mengalun lembut, mengalahkan aroma kenikmatan kopi yang sedang Farhan hirup dalam keterdiamannya.
Lalu, kopi itu direbut paksa, dijauhkannya dari jangkauan Farhan hingga matanya melotot kesal ke arah Lisa. "Apa yang kamu lakukan?"
Dalam sekejap, wanita itu melompat naik kepangkuan Farhan. Kedua tangannya mengalung erat di tahta leher jenjang Farhan. "Bawa aku ke kamar, tidak usah minum kopi lagi."
"Atas dasar apa kau memerintahku!" telak Farhan kesal. Inilah yang Farhan heran dari wanita itu, ia selalu mempunyai lima ratus taktik untuk menaklukkan kebekuan seorang Farhan.
Lisa tersenyum centil sambil menjatuhkan kecupan sayang di hidung Farhan. "Atas dasar cinta! Kalau tidak begini, kamu tidak akan berhenti minum kopi," ujar Lisa.
"Lancang sekali kamu melarangku minum kopi?"
"Tidak bermaksud melarangmu. Hanya saja kafein tidak baik diminum menjelang tidur. Lagi pula, aku tahu kamu hanya minum kopi di saat galau," ujar Lisa dengan sedikit memasang pandangan mengejek.
"Siapa juga yang galau." Farhan menyanggah omongan Lisa.
"Menurutku kamu galau."
"Menurutku kamu bawel," balas Farhan, mengejek.
"Oh." Satu kata keluar dari mulut irit Farhan. Sama sekali tidak tertarik dengan gombalan Lisa yang tidak penting.
"Masih marah sama aku?" tanya Lisa agak menelisik. Jari-jarinya menggelitik, menyelusup ke balik kaos dan mengelus punggung Farhan, lembut. Dia hanya diam, entah sedang menikmat atau justru muak sendiri.
"Aku tidak pernah marah." Wajahnya melongos ke samping, dari sudut mata Lisa, ia bisa melihat bahwa Farhan merasa malu dengan perlakuan manis-manis kemayu yang Lisa terapkan.
"Hidup kamu terlalu lurus, Mas. Sesekali kamu harus aku ajak main tik@tok biar tau wawasan. Gaul dikitlah!" Lisa merogoh ponsel dari saku celana. Memancing amarah Farhan tanpa ia sadar.
"Sekarang lagi musim video viral, istri yang pamer punya suami om-om." Kamera sudah di arahkan ke muka. Farhan merebutnya secara brutal. Membuang ponsel itu jatuh ke lantai tanpa peduli.
"Apa kamu mau pamer, kalau kamu masih muda dan suamimu sudah tua?" Entah kenapa Farhan merasa kesal. Sesuatu yang Lisa pikir keren, adalah penghinaan untuk dirinya sendiri.
"Iya, aku mau pamer, tapi bukan itu maksudnya."
Sayangnya Farhan tidak akan paham dengan video: 'Ini gimana, Lee ko O-om manis, Lee.' yang ia maksud. Farhan terlalu negatif menilai dirinya sendiri.
"Kamu mau pamer ke orang lain, kalau hidpmu miris karena menikah dengan om-om?" Farhan masih saja merasa dihina.
"Siapa yang miris, sekarang lagi jamannya begitu," ujar Lisa menjelaskan.
"Terserahmu sajalah."Pria itu berdiri hingga Lisa yang ada dipangkuannya terjatuh ke lantai. Ia meninggalkan Lisa yang masih meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
"Ya, Alan sialan. Beraninya kamu menjatuhkanku." Teiakan Lisa tak didengar.
Bodoh! Sepertinya kamu lupa bahwa suamimu bukan om-om gaul seperti milik mereka yang ada di video viral, Lisa. Dasar om-om kurang update.
Perjalanan Lisa untuk membuka mulut Farhan masih panjang. Usaha bermanja-manja dan menjadi gadis tidak tahu diri gagal total.
***
Aku lagi gak semangat nulis, mati ide. Maaf banget ya, kalau gak menarik dan bikin kalian bosenin.😥