HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Cerita Di Kamar



***


Waktu yang paling tidak ditunggu tiba, saat Lisa harus satu kamar lagi dengan si Tiga Menit yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Hiks, ia ingin menggigit Farhan sampai menjerit-jerit. Demi apa pun Lisa tidak rela. Bisa-bisanya Farhan kalah duluan. Padahal, Lisa telah menahan sakit dengan durasi yang cukup lama saat proses masuk si singkong gosong itu. Karena memang membobol gawang perawan setara dengan sulitnya mencari jarum emas di tumpukan jerami. Giliran sudah berhasil masuk, dia malah ingin cepat-cepat hengkang dari singgasananya. Sungguh Lisa ingin menendang kepala bawah Farhan yang kurang ajar itu.


"Hallo Tuan." Lisa nongol dari balik pintu sambil tersenyum jenaka. Dilihatnya Farhan sedang membaca buku tebal dengan cover kulit berwarna cokelat. Tidak ada menarik-menariknya di mata Lisa.


"Masuklah," perintah Farhan tanpa menoleh sedikit pun. Masih asik membaca buku aneh di tangannya.


"Tapi Tuan—" Gadis itu tampak meragu. "Apa tidak sebaiknya malam ini kita tidur terpisah saja? Aku takut Cilla semakin benci padaku," ujar anak itu.


"Jangan banyak alasan. Kau bisa bangun pagi-pagi sebelum dia bangun. Apa kau ingin meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang istri?" tukas Farhan dengan nada kesal.


"Baik, Tuan!"


Lisa mendesah pasrah setelahnya. Sudah dipastikan nasibnya malam ini akan berakhir pada adegan ranjang sialan seperti kemarin. Sambil meremas jemari, ia mendekati Farhan, menatap pria yang asyik membaca buku sambil bersandar pada tumpukan bantal dan guling.


"Matikan lampunya," perintah Farhan sambil menaruh bukunya di atas nakas. Lisa berbalik sesuai perintah, melangkah anggun menuju saklar lampu dan segera mematikannya. Cukup lama ia berjalan seperti siput, sampai sang suami murka melihat tingkahnya.


"Apa kau sedang menunggu untuk digendong?"


"Tidak, Tuan!" Lisa segera berlari, melompat ke atas kasur sampai tubuh Farhan sedikit tersentak.


"Aku sudah sampai," cengir gadis itu seperti kuda tertawa.


"Dasar bocah! Kemarilah," ucap Farhan sedikit tersenyum. Sayangnya hanya ia yang dapat merasakan. Lisa tidak dapat melihat karena keadaan kamar itu cukup gelap.


"Eh, kenapa begini?" Lisa merona malu saat Farhan mengangkat tubuhnya, lalu mendudukannya di pangkuan Farhan.  Mereka saling berhadapan seperi Lisa adalah anak kecil yang layak untuk dipangku.


"Aku malu," lirih Lisa sambil menunduk.


"Aku suamimu," jawab Farhan, seketika gadis itu kalah telak. Hanya dapat menunduk malu dalam balutan remang-remang cahaya lampu tidur.


Ah, dia harus segera membuat alasan masuk akal agar dapat menggagalkan acara malam ini. Ia tidak mau tersiksa untuk kedua kali. Tidak ada jalan lain selain menggagalkan niat jahat Farhan, karena Lisa belum sedekat itu untuk berani menceritakan perkara ranjang di antara mereka berdua.


"Tuan, bagaimana jika kau menceritakan masa lalumu sebelum bertemu bunda? Kita kan suami istri. Harus saling terbuka, bukan?" kilah Lisa mencoba mengalihkan perhatian Farhan dari tubuhnya.


"Boleh, tapi sebelumnya kau juga harus cerita padaku. Sedekat apa kau dengan bundaku sampai dia lebih memihakmu."


"Hahahah." Lisa tergelak. "Kau cemburu ya?"


"Cerita!" sergah Farhan dan membuat Lisa seketika merinding horor.


"Iya aku cerita," ketusnya. Gadis itu memutar memorinya di masa lalu. "Dulu, aku sering disiksa oleh bibiku saat masih kecil ... dan bunda selalu menjadi malaikat penolong, bunda yang suka melabrak bibiku dan mengancam akan melaporkannya ke polisi."


Dalam diam, Farhan menggemeretakkan giginya emosi. "Teruskan!"


"Aku pernah tinggal di rumah bunda satu minggu. Jennie sangat senang karena kehadiranku. Aku dapat membantunya mengerjakan PR. Sehingga ia mendapat nilai bagus. Bahkan, dia dapat masuk jurusan IPA di SMA ternama juga berkat bantuanku."


Di titik ini Farhan mulai paham, kenapa anak sebodoh itu bisa masuk jurusan IPA dan masuk ke sekolah favorit. Ternyata Lisa biang keladinya.


"Teruskan!" perintah Farhan sambil mendekatkan wajahnya di ceruk leher Lisa. Gadis itu merinding seketika. Mencoba menjauhkan kepala sialan itu dari lehernya. Namun tenaga Farhan terlalu kuat. Pada akhirnya Lisa mengalah pasrah dan membuat Farhan berulah sesuka hati.


"Aku nyaris diadopsi oleh bunda, tapi bibiku merebutku kembali. Ia tidak mau aku pergi dari rumah itu, alasannya karena aku adalah anak dari almarhum adiknya. Padahal, kenyataan yang sesungguhnya bukan seperti itu. Dia membutuhkan tenagaku untuk menjadi pembantunya ... karena dia tahu aku gadis penurut. Walau kadang suka melawan." 


"Apa luka di punggungmu itu adalah bekas siksaan bibimu?" tanya Farhan penasaran..


Seketika otak Farhan memanas. Pria itu merasa murka. Dadanya sakit mendengar jawaban Lisa.


"Apa kau ingin membalaskan dendammu pada keluargamu? Aku dapat membuat anak bibimu berwajah hancur," balas Farhan dengan semangat berapi-api.


"Jangan, Tuan! Aku bukan pendendam."


"Tapi aku pendendam,'" balas Farhan kesal. 


Lisa membelai dada Farhan yang naik turun dipenuhi emosi tak jelas. Memberikan sentuhan lembut agar amarah pria itu sedikit menurun.


"Sudahlah, semuanya telah berlalu. Lebih baik dilupakan seperti tidak pernah terjadi. Aku juga mendapat banyak keberuntungan. Bisa sekolah di universitas ternama, menjadi menantu bunda, dan menikah dengan CEO kaya raya. Bukankah hidupku sudah sangat enak?" 


Pasrah, Farhan mengikuti kemauan sang istri walau ia tidak rela.


"Baiklah, kalau itu maumu ... cerita lagi, aku masih ingin mendengarkan cerita lain." Farhan menyibak piyama Lisa hingga kancingnya lepas semua.


"Tuan!" ucap Lisa memberikan nada protes.


"Sengaja," jawab Farhan enteng. Pria itu mulai melancarkan aksi jahanamnya.


"Bagaimana aku mau cerita? Kalau Anda seperti ini?" 


"Ello saja kau perlakukan seperti ini. Kenapa aku tidak boleh?" Sambil membenamkan wajahnya di atas benda favorit itu.


Lisa menggeliat. Menahan geli yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Bisa-bisanya Farhan menyamakan dirinya dengan anak kecil. 


Alih-alih bercerita, Lisa malah melirih dengan sedikit desahan tertahan.


"Kau suka?"


Lisa merona malu saat Farhan dengan tidak tahu dirinya melontarkan pertanyaan seperti itu. "Teruskan bercerita, aku akan melanjutkannya jika kau suka." Farhan kembali membenamkan wajahnya dalam-dalam.


Ya, God! Tolong selamatkan nyawaku malam ini. Lisa menjerit tragis dalam hati. Kali ini berapa menit? satu, dua, atau jangan-jangan tiga puluh detik?


"Tuan, aku tidak bisa cerita kalau begini?" Lisa terus menggeliat dalam balutan rasa nikmat.


"Kalau begitu tidak usah cerita." Bagian penutup atas gadis itu sudah dilempar ke lantai oleh Farhan. Lantas, pria itu menarik tubuh Lisa lebih lekat lagi.


"Curang. Aku belum mendengarkan kisahmu," protes gadis itu.


"Bawel! Besok saja aku ceritanya." Pria itu menarik kepala Lisa hingga bibir mereka saling bertemu. Sedikit lebih lihai dari kemarin, ciuman Farhan sudah lumayan terasa. Tidak ada gigi-gigi yang nyangkut dan tak sengaja melukai bibir Lisa.


Setengah jam berlalu, adegan pemanasan itu sudah cukup bagi Farhan. Kini saatnya ia memenuhi kebutuhan singkong gosongnya yang sudah meronta di bawah sana.


Tidak perlu ditanya hasilnya seperti apa. Hanya mampu bertahan sedikit lebih lama, singkong gosong itu tercabut dalam durasi tiga menit sepuluh detik. Di mana si pemilik lahan mendesah pasrah sambil menahan rasa yang bergejolak di dalam tubuhnya.


Sekali lagi, Lisa menguatkan hatinya. Jangan samakan Farhan dengan tokoh novel yang sikap dan sifatnya sudah di desain sesempurna mungkin oleh si penulis untuk menyenangkan para pembaca. Pria itu hidup asli dan bernapas di atas bentala. Begitulah Lisa menguatkan pikirannya agar tidak emosi.


***


Jangan nyamain Farhan sama tuan perkasa lainnya ya, biarlah waktu yang kan menjawab semua.


Jangan pelit-pelit ngasih poin, biar aku kreji up.