HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 76 : (Season 2)



"Kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri?"


Satu pukulan melayang di dada Farhan. Lisa semakin marah melihat gaya Farhan yang tampak santi sekali menanggapi kemarahannya. "Bukti sudah ada di depan mata, tapi kamu masih nggak mau ngaku juga ya, Mas? Hati kamu terbuat dari apa? "


"Astaga Tuhan!" Farhan mencengkeram dua bahu Lisa. "Aku benar-benar tidak tahu Lis. Aku tidak pernah memakai benda itu sama sekali. Kamu tahu sendiri aku takut dengan benda itu!"


"Terus kenapa isinya kurang satu? Benda itu ada di kamar kita, siapa lagi yang masuk ke dalam kamar kita kalau buk—"


Lisa menghentikan bicaranya saat itu juga. Matanya membola. Ingatannya berputar keras diukuti detak jantung yang mulai bergemuruh panik. "Jangan-jangan," lirihnya hampir tak terdengar.


"Jangan-jangan apa?" Farhan melotot.


"Ya ampun! Tadi Ell sama Cilla nonton di kamar kita. Aku ketiduran, jadi aku nggak tahu mereka ngapain aja di kamar."


"Yang benar saja kamu! Kenapa bisa sampai seteledor itu?"


"Aduuuuh, Mas! Bagaimana ini?" Lisa menepuk keningnya cemas.


Melihat Lisa seperti itu, Farhan segera berlari ke meja kerjanya kembali. Menyalakan monitor untuk memastikannya sendiri melalui rekaman ulang CCTV.


"Sekitar jam berapa kamu tidur siang?" tanya Farhan tanpa menoleh.


Lisa mendekat, menempelkan dadanya di punggung Farhan dengan mata serius menatap layar yang sudah menampilkan CCTV di sudut-sudut ruangan.


"Jam setengah duaan, Mas! Pas aku bangun jam empat sore, mereka sudah tidak ada di kamar lagi," terang Lisa seraya menggigit kuku jarinya.


Rekaman CCTV diputar ulang pada jam satu siang. Tepat di jam dua lewat tiga belas menit. Farhan dan Lisa melihat dua bocah itu berlari keluar dari kamar menuju pintu kamar Cilla.


Farhan tidak dapat melihat apa saja yang mereka lakukan di kamar utama lantaran tidak ada CCTV satu pun di sana. Ia hanya bisa melihat dua anakan piranha itu keluar dan berlari ke arah kamar Cilla.


Layar CCTV dialihkan ke kamar Cilla. Di sana ada banyak CCTV yang bisa Farhan lihat dari berbagai sudut kamar mereka. Kecuali kamar mandi.


"Ya ampun!" Lisa menutup mulutnya. Setengah tidak percaya bahwa mereka sedang berebut benda menjijikkan itu.


Dahinya mengembun cemas begitu melihat Cello sempat menjilat benda yang dikiranya permen itu. Lantas Cilla merebut dan berlari membawa benda itu ke kamar mandi entah mau melakukan apa.


Farhan yang sudah sangat lelah karena bekerja seharian menoleh murka pada istrinya. Ia berdecak, "Sudah kubilang, jangan pernah membiarkan mereka berada di kamar kita tanpa pengawasan orang dewasa! Ini baru hal seperti itu, bagaimana kalau barang berbahaya lain?" gertak pria itu.


"Lebih baik kamu yang tertidur di kamar mereka! Ini bahaya sekali Lisa! Bagaimana kita akan menjelaskan itu pada mereka besok? Kamu tahu 'kan, dua bocah itu sangat bawel dan pintar!"


"Iya, maaf Mas! Maaf juga karena sudah menuduh kamu selingkuh sama pembantu," lirihnya tak enak hati.


Selepas itu, mereka mengecek kamar si kembar. Benar yang Farhan duga, kedua bocah itu bermain-main dengan benda keramat yang tak semestinya mereka lihat.


Benda itu tergeletak di pojok dinding kamar mandi Cilla. Bentuknya sudah berantakan lantaran di isi air banyak sekali oleh Cilla sampai meledak.


"Kayaknya mereka mengira ini balon air!" Lisa mengambil benda yang sudah dieksekusi itu. Melipatnya dengan tisu untuk dibuang ke tempat sampah nanti.


Farhan yang merasa letih tak mau membahas hal itu malam ini. "Ya sudah, ayo kita tidur ... urusan besok pikirkan nanti lagi saja."


Mereka berdua berjalan mengendap-endap. Memasuki conecting room yang terhubung ke kamar Cello untuk melihat keadaan bocah itu, lalu keluar melalui pintu kamar Cello setelah memastikan dua bocah itu tidur nyenyak.


Pagi menjelang.


Suasana di ruang makan tampak tenang. "Hari ini kita mau pulang ke rumah nenek lagi," ujar Cello menyendok nasi goreng terakhir di piringnya.


"Jadi kapan kalian mau pulang ke rumah?" tanya Farhan.


"Nanti kalo Ell sunatan. Sebenernya kita mau pulang sekarang, tapi kasihan nenek sama kakek nggak ada temennya."


Farhan tersenyum. Sedikit terenyuh mendengar ucapan Cello.


Tepat di bawah meja, kaki Lisa tak henti-hentinya menyikut kaki Farhan. Matanya melirik-lirik takut. Memikirkan apa yang harus ia jawab jika dua bocah itu sampai menanyakan soal alat kontrasepsi yang mereka mainkan kemarin.


Beruntung, dua bocah kembar itu seperti lupa dengan kompak. Mereka tidak menanyakan apa pun yang menyangkut hal itu.


Lisa sedikit bernapas lega. Biarlah ini menjadi kenangan mereka saat masih kecil. Mungkin saat sudah dewasa nanti, dua bocah itu akan tertawa saat mengetahui benda apa yang pernah mereka mainkan saat kecil dulu.


***


Setelah baca komen-komen, ternyata banyak yang memiliki kejadian persis kayak keluarga ini ya. Termasuk aku yang pernah mau beli itu di depan kasiran. Aku kira permen. 😭


Jangan lupa komen dan like.