HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Pertengkaran



Mungkin orang bilang Lisa kejam, memberikan uang dua puluh ribu pada Vivi tak sejahat orang tuanya yang selalu membuat Lisa kelaparan. Setidaknya Lisa masih memiliki hati nurani dengan memberikan recehan sebanyak dua puluh ribu.


Lisa terus melamun memikirkan kebangkrutan perusahaannya sepanjang berjalan. Rasanya sungguh aneh jika perusahaan pamannya bangkrut tanpa sebab. Mengenai masalah nama Lisa sebagai pihak yang mengakuisisi, bisa saja itu hanya rumor belaka. Jujur saja Lisa sama sekali tidak percaya, dan rasanya itu mustahil.


Ia membuka pintu ruang kerja Farhan, menyerahkan file tanpa menyapa ataupun melihat ke arah sang suami.


Farhan yang merasak aneh langsung menahan Lisa agar jangan keluar dulu. "Tunggu!"


Lisa sudah melangkah, nyaris meraih handle pintu. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berbalik badan. "Ada apa, Tuanku?"


"Kamu kenapa?" tanya Farhan agak aneh. Biasanya, Lisa selalu menyempatkan diri menggoda Farhan setiap kali masuk ke ruang kantornya, jadi ia merasa heran di saat Lisa terlihat murung seperti melamun.


"Tidak apa." Wanita itu menggeleng. "Hari ini mungkin aku akan izin setengah hari, aku mau pergi ke suatu tempat," lanjutnya.


"Mau kemana?"


"Ke perusahaan pamanku, aku mau memastikan benar atau tidak perusahaan itu bangkrut." Dan juga kenapa harus aku yang menjadi biang kebangkrutannya, lanjut Lisa dalam hati.


"Nona Lisa," panggil Rico agak khawatir. Ia menatap Farhan yang masih bergeming. Pria bodoh itu benar-benar diam tidak mau menjelaskan bahwa perusahaan ayah Lisa sudah terakuisisi dua tahun lalu atas nama Lisa.


"Tuan, apa Anda tidak mau menjelaskan?" pancing Rico. Ia nyaris frustasi dengan sikap Farhan yang acuh tak acuh.


"Maksudnya apa, sih?" Lisa yang sedang diterpa badai bingung langsung menyergah. Berbagai pikiran negatif berkumpul dan menghasilkan sebuah dugaan tepat.


"Jangan bilang--" Wanita ini mendekat ke arah Farhan. Duduk tepat di hadapan pria itu sambil menggelengkan kepala.


"Kamu tidak berbuat macam-macam dengan perusahaan itu kan, Mas?" sergah Lisa mulai curiga.


Farhan membalas tatapan istrinya agak menantang. "Memangnya kenapa?"


"Itu perusahaan ayahku. Ada pun orang yang berhak merebutnya adalah aku seorang," ujar Lisa.


Kesalahpahaman mulai terjadi, Lisa akan marah jika Farhan tidak segera memutar otak. Bagaimanapun juga perusahaan itu masih menjadi privasi Lisa di masa lalu, adapun Farhan ingin membantu juga harus melalui persetujuan Lisa. Bukan main akuisisi sembarangan.


"Tuan Farhan sudah mengakuisisi perusahaan itu atas nama Nona dua tahun lalu," ucap Rico.


"Kenapa bisa?" Kini tatapan Lisa berubah marah. Ternyata Farhan benar-benar tidak paham dengan apa yang Lisa rasakan.


"Harusnya kamu senang bukan? Tidak perlu mengeluarkan keringat, perusahaan itu resmi menjadi milikmu." Farhan membalas tatapan marah Lisa dengan gaya arogan.


"Tapi kamu tidak bilang padaku dulu, Mas. Setuju atau tidaknya aku, kamu wajib minta izin dulu padaku." protes Lisa tidak terima. Matanya berkaca-kaca. "Bukankah itu namanya lancang?"


"Tapi aku sudah membantumu! Harusnya kamu berterima kasih untuk ini," kilah Farhan yang merasa dirinya sudah benar.


Mata Lisa merambang. Farhan terlalu arogan dan sok berkuasa di matanya. Pria itu sama sekali tidak memikirkan harga diri yang Lisa junjung selama ini.


"Tapi aku kehilangan kesempatanku untuk membuktikan pada mereka bahwa aku mampu merebut apa yang sudah menjadi hakku. Jika sekedar akuisisi, itu artinya kamu hanya membeli perusahaan tanpa memikirkan bahwa perusahaan itu adalah milikku. Aku tidak senang, aku kecewa," ujar Lisa.


"Jangan seperti itu, Lis. Percayalah, ini adalah usaha terbaik yang Tuan Farhan lakukan untuk masa depanmu." Rico menatap Farhan. Berharap pria itu menjelaskan sesuatu, namun hasilnya nihil. Farhan bergeming tanpa kata, membiarkan Lisa larut dalam kesalahpahaman.


"Usaha apanya? Membeli dan mengakuisisi perusahaaan atas namaku, itu sama sekali tidak perlu. Perjuanganku untuk merebut perusahaan ayahku gagal total gara-gara dia!" Lisa menunjuk Farhan dengan berani.


Amarahnya menggebu-gebu. "Sudahlah, orang berhati batu seperti itu tidak akan paham dengan apa yang aku rasakan." Lisa melangkah pergi. Menghilang di balik pintu ruang kerja Farhan dengan sekejap mata.


"Tuan, apa Anda tidak ingin melakukan pembelaan apapun? Anda harus menjelaskan ini pada nona." Rico duduk, merasak khawatir dengan rumah tangga bossnya yang tidak jelas.


"Biarkan saja, kamu kembali kerjakan urusanmu saja," ujar Farhan. Ia melanjutkan kembali kegiatannya. Mentap layar tanpa berniat mengejar Lisa.


Susah, susah, kalau seperti ini caranya aku yang khawatir padamu, Tuan. Lisa bukan gadis ber-IQ tinggi yang paham dengan kebaikanmu. Rico termangu dengan pikiran kalutnya sendiri.


***


Hayoloh, ada rahasia apa nih kira-kira?


Jangan lupa vote ya, biar cerita ini nangkring di beranda IG NT .... hehe..