HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Penerus Bangsaku



"Ya Farhan si Alan!" Lisa membuka pintu ruang kerja Farhan, kasar. Matanya menatap tajam ke arah pria itu. Bahkan, sosok Rico yang baru saja datang terlihat transparan di matanya.


Tak mau menoleh, Farhan meneruskan pekerjaannya. Ia sedang berdiri di depan etalase. Mencari simpanan dokumen anggaran bulan lalu untuk dicocokkan dengan yang baru.


"Ayo kita duel satu lawan satu, aku benar-benar marah kali ini!" Kemarahan semakin memuncak, Lisa berlari ke arah Farhan secara membabi buta.


"Mati saja kau Farhan!" Tangan Lisa langsung mencengkeram leher Farhan emosi. Ia mencekiknya sampai Farhan terbatuk-batuk. Rico yang merasa bossnya sedang terancam langsung berlari menjadi tameng. Melindungi Farhan dari keganasan bison betina yang sedang mengamuk.


"Jangan halangi aku Pak Rico, aku harus membunuh suamiku yang menyebalkan ini." Lisa mencoba meraih Farhan. Mencakar wajah Rico tanpa sadar.


"Tahan dulu, ada apa ini, Nona? Tolong jangan membuat kecauan. Mari kita bicarakan baik-baik. Apa eksistensi burung cicicuit tuan Farhan hilang lagi? Jadi tiga menit, atau jangan-jangan tidak bisa berkicau?" Rico yang merasa tidak tahu apa-apa asal menebak panik. Membuat batu bernapas yang ada di belakangnya mendengkus dalam diam.


"Menyingkir Pak Rico, aku harus memberi pelajaran pada dia!" Lisa menunjuk-nunjuk Farhan. Ingin sekali ia mencakar Farhan yang selalu memasang tampang tidak bersalah.


"Saya tidak akan membiarkan Nona melukai tuan Farhan. Meskipun Nona istrinya sekali pun." Rico terus menghalangi, membuat Farhan kesal sendiri. Padahal, yang sedang dihadapi adalah wanita. Bagaimanapun juga Farhan tidak mungkin dikalahkan oleh Lisa.


"Menyingkir, ini masalah pribadiku dengannya, jangan ikut campur!" Lisa semakin murka kala Rico terus menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi batu giok di belakangnya.


"Jangan seperti itu, Nona. Tuan Farhan adalah tanggung jawab saya, lebih baik pukul saya sepuasnya daripada melukai, Tuan Farhan."


"Banyak omong! Dasar asisten homo sialan kau!" bentak Lisa, saking emosinya Lisa, ia tak sengaja menendang dua butir tomat dan gagang pacul original milik Rico.


"Arghhh! Penerus bangsaku! Apa Anda sudah gila, Nona!" pekik Rico, tubuhnya langsung terkapar di lantai sambil memegangi gagang pacul miliknya yang cidera parah. Ia menggelepar seperti lele yang kolam airnya terkuras habis.


"Kau sendiri yang menghalangiku. Rasakan saja!" Lisa melangkahi tubuh Rico, tega. Emosi membuat wanita itu kesulitan mengontrol amarah dan hati nuraninya. Pikiran Lisa terlalu gereegetan, tertuju pada Farhan yang sedang berdiri mematung di samping etalase.


"Kemana saja kamu saat aku membutuhkanmu. Dasar suami tidak peka!" Satu pukulan mendarat di dada Farhan. Cukup keras sampai pria itu meringis menahan sesak. "Aku nyaris mati kebingungan. Kamu tidak ada tanggung jawabnya sama sekali. Apa susahnya sih, membalas pesan singkat dariku?"


"Ponselku ada di laci. Kamu 'kan tahu aku sedang sibuk. Tadi tuan Haris juga memintaku menemaninya pergi berkeliling. Lagi pula, nyawamu masih utuh, tubuhmu juga tidak terluka." Farhan berujar tanpa rasa salah.


"Jahat! Aku takut sekali, bodoh!" Lisa menundukkan kepala, lantas menyandarkannya di dada Farhan putus asa.


"Maaf," ujar Farhan.


"Maaf saja tidak cukup untuk mengobati kekesalanku. Kau jahat sekali, Tuan."


"Nyonya Dina tidak akan berani macam-macam pada seseorang yang sudah menjadi milikku. Aku adalah anak yang paling ditakutinya. Seumur hidup mengenalnya, beliau tidak pernah berani ikut campur masalah pribadiku. Itu sebabnya aku santai saja saat melihat kamu dibawa olehnya. Karena aku tahu kamu akan baik-baik saja," ujar Farhan.


"Tapi aku sangat takut, takut dia menyuruhku pergi meninggalkanmu seperti di film-film. Aku tidak bisa menerima jika itu sampai terjadi."


Air mata sudah jatuh berderaian. Isakkan serak Lisa membuat Farhan menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya lebih dalam. Mengabaikan asisten yang telah mengorbankan nyawanya. Tidak peduli pada Rico yang masih meringis kesakitan di bawah sana.


"Salah satu alasanku menikahimu adalah karena ketangguhanmu. Aku butuh wanita sepertimu di sampingku. Yang kuat diterjang badai sekalipun. Aku percaya padamu, apapun masalah yang terjadi kamu pasti bisa mengatasinya."


Cih! Rico berdecih jijik seraya mendengkus kesal. Sejak kapan pria tiga menit itu pandai merangkai kata?


"Stop ya kalian, cepat bawa aku periksa ke rumah sakit sekarang juga. Jika penerus bangsaku sampai cidera, ayahku tidak akan tinggal diam. Kupastikan istrimu dituntut," ancam Rico yang kesal melihat adegan uwu-uwu di saat dirinya cidera.


"Ah, maaf!" Farhan segera melepas pelukan Lisa. Ia memapah Rico ke arah sofa. "Tolong maafkan istriku, aku akan memanggil dokter spesialis ke sini," imbuh Farhan agak kurang enak. Sebagai laki-laki, ia tahu betul seperti apa rasanya ditendang tepat pada bagian itu.


"Istrimu terlalu barbar, Tuan. Lebih baik kita bunuh saja. Cari istri baru," kesal Rico. Ia memang berani pada Farhan di saat-saat tertentu.


"Maaf. Aku akan memperbaiki otaknya nanti malam." Sekali lagi Farhan menunduk hormat. Mencoba mengambil hati Rico agar memaafkan Lisa.


"Aku minta maaf ya Pak Rico. Bagaimana kalau kucarikan wanita bayaran untuk mengetes itu kamu masih berfungsi atau tidak." Mode nyinyir Lisa diaktifkan.


Rico langsung menatap Lisa kesal. "Beraninya, kau!" bentak Rico. Membuat Lisa mundur dan mengerjap kaget.


"Maaf ... maaf. Aku 'kan hanya menyarankan, Pak. Takutnya disconnected from server atau hilang sinyal. Bahaya loh," ujar Lisa serius.


"Berhenti mengoceh tidak jelas! Lebih baik panggilkan dokter spesialisnya sekarang. Aku sudah tidak tahan." Rico melengos kesal, masih memegangi gagang paculnya yang sedang cidera parah.


Rasa nyut-nyutan ia tahan. Sambil sedikit berdoa agar penerus bangsanya baik-baik saja. Setidaknya masih ada sinyal dan bisa berguna di kemudian hari.


***


Bantu vote novel ini ya, guys. Biar segalanya jadi lancar. Terima kasih atas partisipasinya.


Anarita