
Farhan langsung sigap menghubungi dokter spesiali k*lamin untuk memeriksa keadaan penerus bangsa Rico. Pria itu masih terkapar di sofa, merintih dan meratapi gagang paculnya sedari tadi. Ia mengancam Farhan tanpa rasa takut, jika sampai Rico cidera, Lisa harus jadi pembantu di rumah Rico sampa sembuh. Farhan menyanggupinya, bahkan ikut menawarkan diri jadi pembantu juga. Dua manusia yang saling menyayangi, hingga Lisa merasa cemburu dan berpikir mereka homo sejati.
Setelah dokter spesialis itu datang, Farhan langsung berpamitan, ia terpaksa menyuruh Lisa menjaga Rico karena harus menghadiri pertemuan dengan klien di Jakarta Selatan.
Dokter memeriksa Rico cekatan, mengobati dan mengecek gagang paculnya masih berfungsi atau tidak.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Lisa yang merasa paling bersalah langsung menyergah. Matanya tertuju pada gagang pacul milik Rico yang baru saja ditutup risletingnya. Lisa tidak melihat, tapi ia penasaran apakah benda itu masih utuh, atau jangan-jangan remuk dan berubah jadi ayam geprek.
Tidak! Lisa menggeleng, enggan memikirkan hal semiris itu.
"Pukulannya terlalu kuat, apa Anda menggunakan tenaga dalam?" tanya dokter itu agak tidak enak. Ada sedikit memar di sana, yang pastinya tidak akan bisa langsung sembuh hari ini.
"Saya kurang tahu, tapi sepertinya iya." Lisa bicara takut-takut, jemarinya saling bertaut.
Dokter mengangguk, lalu mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. "Saya sudah memberikan suntik antibiotik. Namun, jika sakitnya tidak kunjung sembuh dalam tiga hari—saya sarankan agar tuan Ji melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit."
Lisa melirik Rico yang masih terkapar di sofa sambil mendengarkan ucapan dokter. Mata pria itu melotot tajam. Jika penerus bangsaku sampai kenapa-napa, kau akan mati Lisa! Begitulah kurang lebih mata Rico menyiratkan arti tatapannya.
"Kira-kira ... efek samping parahnya seperti apa, Dok? Apakah itunya jadi tidak bisa bangun lagi?"
Dokter tersenyum mendengar kefrontalan Lisa. "Masih bisa, kecuali jika lukanya sampai bertambah parah, kemungkinan terburuk testis akan berhenti memproduksi cairan sp*rma. Menghadirkan efek impoten akibat benturan tersebut."
"Astaga!" Lisa menutup mulutnya tidak percaya. Matanya membola, melirik ke arah Rico kembali yang sudah melayangkan seribu pisau jika penerus bangsa Rico sampai terluka parah.
"Semoga saja memarnya tidak parah dan sampai melukai organ testis bagian dalam," ujar dokter itu kemudian.
"Terima kasih, Dok." Lisa menunduk sopan.
"Untuk hari ini, biarkan tuan Ji istirahat dan mengurangi aktifitas berat beberapa hari ke depan. Mohon bantuannya, Nona." Dokter itu tersenyum. Lalu meraih tas kerjanya untuk bersiap pergi.
"Saya pasti akan merawatnya dengan baik, Dok." Lisa mengantar dokter itu keluar. Meninggalkan Rico yang matanya sudah terpejam. Entah tidur atau hanya pura-pura, Lisa tidak tahu.
Kembali lagi ke ruang kerja Farhan, Lisa mengambil segelas air putih dan obat yang tadi diberikan dokter. "Pak Rico, minum obat dulu!"
Pria itu langsung mendengkus, sebelum akhirnya bangun dan mendudukkan tubuhnya sambil bersandar di sandaran sofa. "Cih, tidak usah sok baik. Awas saja, jika aku sampai kenapa-napa. Kau akan kutuntut, Nona Lisa!" ancam Rico kesal.
Lisa memanyunkan bibirnya, memutar tutup botol obat kapsul yang masih tersegel rapat-rapat. "Ya maaf, Pak. Aku tidak sengaja. Siapa suruh kamunya ikut campur urusanku." Lisa menyodorkan obat dan air putih. Rico menerima dan mulai meminumnya.
"Uhuk!" Rico langsung tersedak ludahnya sendiri. Obat yang ia minum macet di antara rongga dada. Membuat paru-parunya terasa sakit dan sesak. Ada air yang menetes dari kedua lubang hidungnya.
"Maaf ... maaf ...." Lisa sigap mengelap wajah Rico dengan tisu. "Aku 'kan hanya menawarkan diri, Pak. Aku si tidak masalah punya suami dua. Toh kalian berdua ganteng semua." Lisa tersenyum jenaka, membuat Rico malas melihat ekspresi tidak berdosa anak itu.
"Sembarangan kamu! Kalaupun kamu tidak menikah dengan tuan Farhan, aku juga tidak tertarik dengan gadis grasak-grusuk sepertimu," balas Rico agak nyinyir.
"Ya, sudah. Aku kan hanya menolong, misalkan beneran Pak Rico impoten, otomatis kegantengan dan keseksianmu akan sia-sia. Kupastikan tidak ada gadis yang mau menikah denganmu," ujar Lisa mengejek.
"Itu semua karenamu!"
"Hanya mengandai, aku juga tidak berharap Bapak beneran impoten, kasian fansmu yang ada di gedung ini," sungut Lisa. "Makannya cari pacar dong, Pak. Biar bisa ngetes masih berfungsi atau tidak. Masa ganteng-ganteng gak laku," ejeknya lagi.
Rico membela diri dengan segenap kepercayaan dan status pria tampan yang ia sandang. "Aku jomlo berkualitas. Beda dengan jomlo tidak laku."
"Cih!" Lisa berdecih sinis, tapi mau bagaimanapun juga memang Rico adalah pria idolanya wanita satu gedung. "Kualitasmu akan menurun kalau gak cepet-cepet di tes uji coba. Ah, jangan-jangan lebih parah dari tiga menit."
"Jangan samakan dengan suamimu, aku lelaki tangguh!" sergah Rico sambil membayangkan ketangguhannya saat main solo di kamar mandi. "Aku yakin durasiku lebih dari tiga puluh menit."
Lisa tercengang. Bisa-bisanya ada pria sepercaya diri itu.
"Tangguh kalau jomlo gak guna!" Lisa bangun dari posisi jongkok, mengambil nampan berisi obat Rico dan meletakkannya di meja dekat pintu.
"Semoga saja kamu cepat punya pacar, Pak, biar aku bisa lihat para fansmu pata hati. Lalu aku akan tertawa sendiri melihat momen patah hati sedunia, hahaha." Lisa tertawa jahat, pikiran Lisa mulai terbang jauh, menghayal.
"Ingat janjiku, kalau kamu sampai impoten, nikah aja sama aku. Tuan Farhan tidak akan marah, toh kamu cuma suami pajangan."
Bantal sofa dilempar Rico kesal. Lisa tertawa ngakak sambil berjalan kee meja kerja.
Aku ingin sekali menyumpal mulutmu dengan soda api, Lisa! Ah, aku lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada mendapat istri berkategori spesies langka seperti itu.
Rico merinding ngeri.
***
Aku up dua bab sekaligus, jangan lupa like dan komen setiap partnya ya.