
Dengan tubuh gemetar, Lisa mengulurkan satu butir obat aneh yang ia ambil di tas kerja Farhan. Kesadaran pria itu berangsur-angsur pulih. Mata merah dan pikiran kalutnya perlahan menghilang saat obat yang baru ditelannya mulai beraksi.
Beruntung, Lisa sigap menghubungi Rico ditengah kepanikannya. Ia langsung laporan bahwa Farhan berubah aneh seperti kesurupan aing macan. Lisa nyaris kabur membawa anak-anak ketika melihat perlakuan Farhan ternyata semengerikan itu. Persis seperti orang kesetanan, Farhan nyaris membuat Lisa mati kehabisan napas.
Dari balik telepon, Rico langsung menyuruh Lisa mencari botol obat persediaan Farhan. Wanita itu mengacak-acak semua barang bawaan suaminya. Sampai akhirnya Lisa menemukan obat yang diintruksikan Rico di cela-cela tas kerjanya. Farhan memang selalu membawa tas kerja kemanapun ia berada.
Obat sudah ada di tangan. Namun, Lisa masih belum memiliki keberanian untuk melihat keadaan Farhan di luar. Sampai akhirnya Rico panik dan mengancam Lisa. Dua manusia yang wataknya sama persis. Rico mengancam akan menembak Lisa hidup-hidup jika ia tidak segera memberikan obat itu pada Farhan.
'Jangan membuatku ikut marah, Lisa. Berikan obat itu pada tuan Farhan sebelum ia mati di tempat.' Ancaman Rico dari balik telepon sampai memekakkan telinga.
Gemetar-gemetar takut, akhirnya Lisa memberanikan diri untuk keluar kamar. Wanita itu langsung memapah Farhan agar duduk di sofa. Semenjak ia kabur, Farhan terus terpuruk tanpa bergerak sampai akhirnya Lisa datang menolong.
Seberkas rasa bersalah merundungi hati Lisa saat ini.
***
Lima belas menit berlalu, Farhan sudah berubah kebali menjadi si batu bernapas. Matanya yang sempat merah telah kembali ke keadaan sempurna.
Lisa memberanikan diri untuk duduk dan bertanya, "Sebenarnya kamu kenapa sih, Mas? Obat apa yang kamu minum barusan. Jangan-jangan kamu mengkonsumsi narkoba ya?"
Lembut Lisa bertanya. Namun, bibir nyinyirnya tetap melekat dalam diri wanita itu.
"Ini yang sebenarnya aku takutkan. Akhirnya kamu mengetahui sisi lain dari diriku. Maafkan yang tadi, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri." Teduh, mata Farhan memandangi Lisa dengan aura putus asa. Ia ingin menyentuh wajah wanitanya yang tengah kebingungan. Namun, Farhan takut Lisa pergi menjauh seperti tadi.
"Tidak bisa mengontrol diri gimana? Jadi benar dugaan aku, kamu kesurupan 'Aing macan?" Karena hanya hal itu yang Lisa tahu.
Orang yang tidak bisa mengontrol diri hanyalah orang gila tidak waras dan orang kesurupan setan. Itu menurut Lisa pribadi.
"Aku tidak kesurupan. Hanya saja, aku mulai berubah aneh sejak aku kehilangan dua adikku. Kecelakaan pesawat yang menimpa mereka, merubah diriku menjadi mudah cemas, gampang marah, dan tidak dapat mengontrol diri sendiri di saat-saat tertentu. Seperti saat kamu bilang menggunakan lisptick kedaluwarsa, aku langsung panik. Karena aku pernah mengkonsumsi obat kedaluwarsa, aku tahu persis seperti apa menderitanya."
"Kan lipstick-nya gak dimakan!" Lisa mengernyitkan dahinya tidak senang. Kalimat Farhan seolah sedang menyalahkan dirinya selaku pelaku utama yang meracuni Farhan dulu kala.
"Maaf ya, Mas. Aku gak tahu trauma kamu separah itu. Malahan aku nuduh kamu kesurupan aing macan." Lisa menarik kepala Farhan. Mendekap kepala itu di dadanya, erat. Sayup-sayup terdengar hembusan napas berat di telinga Lisa—seperti Farhan sedang meratapi nasib hidupnya sendiri.
"Apa sudah pernah diperiksa ke dokter atau psikolog? Takutnya penyakitmu akan berdampak lebih parah lagi, Mas." tanya Lisa dengan hati-hati. Tanganya menepuk-nepuk punggung Farhan seperti bayi.
"Sudah satu kali, psikolog bilang aku menderita stres pascatrauma karena tidak rela kehilangan keluarga, tapi aku menyangkal semua itu agar penyakitku tidak berdampak buruk pada citra perusahaan. Rico memberikan obat yang tadi sebagai alternatif, selama ini baik-baik saja asal aku rutin mengkonsumsinya."
"Kalau begitu, sekarang kamu harus mulai terapi lagi ke psikolog, Mas. Aku tahu, kekhawatiranmu terjadi karena kamu takut kehilangan orang-orang di sekitarmu. Tapi, sikapmu yang kasar seperti itu juga akan membahayakan orang lain. Terutama anak-anak. Sudah psikopat, ditambah trauma. Aku yang pemberani pun akan lari kalau kayak gitu caranya."
"Kau akan pergi dariku?" Farhan menanggapi gurauan terakhir Lisa dengan serius.
"Tidak. Asal kamu mau melakukan terapi psikologis."
Farhan kembali lagi mendesah berat. "Baiklah, aku akan menyuruh Rico mengatur jadwal terapiku mulai besok."
"Begitu dong. Ini baru namanya Farhan budiman."
Lisa tersenyum senang. Satu kecupan tanpa sadar melayang ke bibir Farhan. Pria itu membalasnya dengan semangat. Menganggap itu sebagai sinyal untuk adegan sofa bergoyang.
Hot-hot pop akan segera terjadi. Lisa membiarkan Farhan bergerilya sesuka hatinya. Mata Lisa melirik ke kamar, memastikan si kembar masih tidur dengan tenang. Setelah dirasa aman, mereka mulai melanjutkan kegiatan suami istrinya.
Sofa berdecit sampai pagi.
***
Aku upload visual Rico di story Ig. Buat yang mau tahu, follow akun @anarita_be ya...
foto akan dihapus kalau yang liat udah lebih dri 1000 orang. Wkkwwk. Bruan liat.... si seksi and ganteng, Rico.