
Duel terus berlanjut. Bantal dan guling terkoyak hingga hotel itu nyaris tak berhentuk.
Bianca yang sudah menyerah segera berlari keluar kamar, ia berteriak sampai beberapa petugas datang menghampiri. Barulah, kedua manusia yang sedang bergelut di ranjang dengan panas itu dapat terpisahkan. Dengan bantuan tujuh satpam yang melerai keduanya.
Baju Farhan dan Skala sudah tidak berbentuk. Kancing kemeja yang Skala kenakan lepas semua, begitupun kaos polos Farhan yang sobek di mana-mana.
"Apa yang kalian lakukan?" Rico datang dari kamar sebelah, pria itu menatap murka dua manusia yang sedang dipegangi beberapa satpam. "Aku baru saja tidur sebentar. Mengapa bisa sekacau ini?"
Mata frustrasi Rico mengindahkan seluruh isi ruangan. Astaga! Dia sangat bekerja keras dalam mempersiapkan pesta mewah ini. Rasanya ingin pingsan melihat kamar pengantin yang porak poranda. Sia-sia usaha Rico yang tidak tidur sehari selamam demi membangun ini semua.
"Dia menyusup ke kamarku duluan. Memangnya apa?" Farhan membentak Rico. "Aku tidak akan memulai jika tidak ada apinya. Bukannya kau sudah paham sifatku?"
"Maafkan kesalahan suami saya, Tuan Rico. Mungkin suami saya salah masuk kamar, dan mengira kamar ini adalah kamar yang kami pesan." Bianca yang agak mengenal Rico menunduk minta maaf. Skala ngambek dan langsung menyergah.
"Jangan minta maaf padanya, Cha! Aku tidak terima. Kalau pun harus meminta maaf, itu adalah tugasku. Dia tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara, bagaimana aku bisa menjelaskan kalau ini adalah kesalahpahaman?" teriak Skala dengan sisa tenaga yang ada. Bibir dan matanya terus menatap Farhan bengis, mencoba membunuh pria itu dengan pandangan.
Berdecak sebal, Bianca menarik baju Skala agar segera pergi dari kamar Lisa.
"Sebaiknya kami permisi dulu. Mohon maaf sekali lagi." Lantas segera pergi dan meninggalkan tempat itu.
Bianca sungguh malu, kamar pengantin yang seharusnya menjadi tempat istimewa bagi kedua mempelai hancur gara-gara ulah Skala. Dalam garis besar, ada pelestarian kecebong yang terpaksa harus ditunda karena tragedi Skala salah masuk kamar.
Di tambah, kamar yang ia masuki adalah milik sekutu bala-bala. Lengkap sudah kekacuan hari ini. Bianca menyesal menuruti kemauan kakek Prawira yang mungkin sedang uwu-uwu bersama kekasihnya. Kalau tidak ingin bertemu si kembar, Bianca tidak mungkin mau datang ke acara musuh bebuyutan suaminya.
"Kamu tidak papa, Mas?" Lisa berlari ke arah Farhan setelah semuanya pergi dari kamar mereka. Ia memeriksa tubuh Farhan. Untung masih sempurna, tidak ada cacat atau tanda-tanda keburikkan di tubuh pria itu.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Setan terkutuk itu tidak menyentuhmu, kan?"
"Ya ampun, Mas! Mana mungkin dia bernafsu menyentuhku. Kamu tidak tahu istrinya secantik Marian Jolla," umpat Lisa kesal.
Semua orang sudah pergi. Menyisakan Rico yang masih terpaku dalam rasa marah yang berkecamuk. "Nona Bianca sudah menjelaskan, bahwa Tuan Skala hanya salah masuk kamar," ucap Rico sambil mengulurkan obat dan air putih ke arah Farhan.
Farhan langsung meminum obat pemberian Rico agar emosinya cepat stabil kembali.
"Nona, tolong pastikan tuan Farhan meminum obatnya dengan rutin. Agar tempramen emosinya tidak sampai menggila seperti ini." Kini Rico beralih pada Lisa. Agak kesal saat mengatakannya.
"Baik Pak Rico! Setelah makan juga niatnya mau kasih obat, kok." Lisa menatap Rico, sedikit merasa bersalah karena pria itu yang paling frustrasi melihat kejadian ini. Kemudian ia bicara kembali, "Lalu bagaimana dengan kamar pengantin kami ya, Pak?"
"Bagaimana?" Mata Rico memicing sinis. "Kamar pengantinnya sudah hancur, tentu saja kalian harus pindah ke kamar biasa."
"Yaaaaah ... berarti aku tidak akan pernah merasakan tidur di kamar yang dihiasi bunga-bunga indah begini." Wajah Lisa berkamuflase menjadi manusia yang paling tertindas sedunia.
"Buatkan satu lagi kamar yang seperti tadi." Farhan memerintah Rico. Ketus dengan mimik wajah penuh penekanan.
"Tapi, Tuan ... membuat kamar penganti seperti ini butuh waktu yang cukup lama."
"Kau berani menolak keinginan Lisa? Apa kau tidak menghargai aku sebagai suaminya?"
Susah ... susah ... orang jika sudah bucin akan susah kembali ke jalan lurus. Di mana otakmu si, Tuan? Umpat Rico dalam hati, sambil menahan kesal.
"Huuuuh. Saya tidak berani melawan Anda, Tuan. Tapi—" Farhan menatap Rico tajam. Pertanda pria itu tidak mau ada penolakan. Rico menghempaskan napas kasar. Masih dengan posisi berkacak pinggang dengan muka menahan lelah. "Baiklah, saya akan memerintahkan semua staf**f untuk membuat kamar pengantin yang baru. Kalian boleh memakai kamarku dulu untuk sementara waktu."
Tak ada penolakkan ketika Farhan sudah memberikan perintah. Rico langsung keluar dari kamar Farhan, melawan mata kantuknya yang baru diistirahatkan selama dua jam untuk memanggil para staff yang mengatur dekorasi.
***
Tetep ya? Rico yang kena imbasnya. Kwwkkw.