HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Doa Kecil



Malam berganti pagi, menyisakan titik-titik embun bekas hujan tadi malam. Kegiatan menyiram bunga matahari layu juga sudah terlewati dengan baik—berjalan lancar tanpa adanya hambatan. Mereka juga menambahkan gaya cicak merayap dan kuda kepang yang merupakan gaya favorit sejuta umat. Keduanya berpacu dan menikmati segala bentuk permainan hingga terbang bersamaan. Efek bahagia mewakili hati mereka, seperti berhasil naik-naik ke puncak gunung yang banyak pohon strawberrynya.


Pergulatan yang mereka mulai dari pukul sembilan malam itu, akhirnya mereka sudahi sekitar jam dua pagi. Ada Jeda setengah jam, karena Lisa tiba-tiba lapar dan ingin makan indihomie rebus dua bungkus sekaligus.


Meskipun begitu, ribuan kecebong sudah ikut berpartisipasi dalam acara mereka kali ini. Lomba Lari berlanjut dengan empat babak yang semua pesertanya begitu antusias. Lisa berperan sebagai wasit dan Farhan menjadi ketua panitia lomba.


Usai acara, tak Lupa Farhan dan Lisa memanjatkan doa-doa kecil. Berharap ada salah satu kecebong yang lolos dan berhasil menjadi batu bernapas junior. Atau si barbar mini juga boleh. Tidak perlu menceritakan pada dunia betapa indahnya tadi malam. Setiap insan akan merasakan bila waktunya telah tiba.


Bosan menunggu, Farhan menarik tubuh kecil sang istri ke pelukkannya lebih dalam. Ia mengecup wajah kuyu itu hingga pemiliknya sedikit tersadar. Sengaja, karena Farhan sudah bangun setengah jam yang lalu.


"Eunggg ...." Lisa mengerang halus. Tangannya merabah gagang gayung Farhan di balik boxer spongebob yang ia kenakan. Benda itu kembali online karena dinginnya cuaca pagi ini. Lisa sampai berpikir kotor, kenapa pria tidak memiliki rasa lelah? Bisa on kapan saja meski sudah bertempur habis-habisan tadi malam.


Hihihi. Lisa tertawa geli dalam hati. Lalu menatap ke bawah untuk melihat sesuatu.


"Pagi si jeleknya aku!" Lisa mengusap benda itu pelan-pelan. Mengabaikan si pemilik yang sedari tadi sudah bangun menunggunya—ingin di manja juga.


"Lepaskan tanganmu," bentak Farhan sedikit kesal. Pria itu berbalik memunggungi Lisa. Ia paling tidak suka diperlakukan mesum dalam tingkat kesadaran penuh. Agak lucu, tapi sikap Farhan yang persis anak perawan membuat Lisa ingin lagi dan lagi.


"Pagi-pagi sudah ngambek aja, Mas. Kayak si kembar."


"Siapa yang ngambek, aku mau mandi. Banyak pekerjaan yang harus kuurus hari ini." Farhan sudah mendudukkan tubuhnya. Menjuntaikan kaki dan hendak meninggal Lisa di ranjang sendirian.


Mendengar itu, wajah lisa tertekut lesu. "Memagnya kita tidak jadi bulan madu, Mas? Padahal kemarin aku sudah cerita kalau ini permintaan si kembar. Nanti mereka kecewa loh," protes Lisa mengingatkan jika Farhan lupa.


Farhan nampak mendesah pasrah. Pria itu kembali mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Ia sedikit memijit pelipisnya, lalu mengambil posisi tidur menghadap Lisa. "Untuk masalah bulan madu, kita harus izin dulu pada Rico. Dia yang berwenang penuh atas waktuku. Aku tidak bisa sembarangan memgambil cuti seperti kamu. Apalagi menjelang pertengahan bulan seperti ini."


"Pak Rico lagi?" Wanita itu menggemeretakkan giginya kesal. Nama Rico selalu tidak ketinggalan di hidup Farhan. "Kenapa sih? Aku selalu jadi nomer sekian. Selalu saja Rico yang jadi nomer satu."


"Ya kasihan, tapi gimana dengan si kembar? Kamu 'kan tahu kalau mereka berdua tidak suka dibohingi. Apalagi aku sudah berjanji." Lisa terus membantah sampai tujuan utamanya berhasil tercapai. Setidaknya ia harus jalan-jalan untuk melepas penat. Seperti ibu-ibu yang sedang melakukan transaksi di pasar tradisional, maka Lisa menawar lagi.


"Kalau begitu tiga hari? Aku mau kamu meluangkan waktu tiga hari, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Cukup Jogja saja aku sudah senang."


"Kamu ingin ke Jogja?"


"Yaps, aku belum pernah ke sana. Aku ingin jalan-jalan dan menikmati surganya kuliner di tempat itu. Mau ya, Mas?" Lisa memohon penuh penekanan. Ada binar polos dengan sejuta harapan agar Farhan mau menuruti keinginannya. "Kalau aku izin sama pak Rico, sama saja bohong. Dia hanya mau menuruti permintaanmu seorang."


Farhan terdiam sejenak, lalu berbicara setelah menemukan ide berlian. "Sepertinya semesta sedang berpihak padamu. Kebetulan aku sedang ada pekerjaan di daerah sana. Jadi kita bisa bekerja sekalian jalan-jalan. Gimana?"


"Berarti bulan madunya bertiga? Threesome sama pak Rico?" Lisa menatap Farhan tidak senang. "Gak mau kalau ada pak Rico. Mending gak usah sekalian."


"Aku dan Rico hanya melakukan pertemuan bersama klien sebentar. Habis itu Rico kembali ke Jakarta, dan aku tetap bersamamu di kota itu. Bagaimana?"


Daripada tidak ada bulan madu. Akhirnya Lisa mengangguk setuju. "Tapi pastiin pak Rico jangan ikut. Aku mau uwu-uwu sama kamu. Pokonya jangan ada setan yang satu itu."


"Iya reweel!"


***


Mohon pengertiannya, demi novel ini agar tidak dihapus. Nana tidak bisa menulis detail rinci gaya menyiram bunga matahari layu. Sekali lagi Ana minta maaf dari segenap hati atas alur yang tidak sesuai dengan keinginan semua pembaca.


Wellcome to Jogja, abis itu kita ke konflik ya... Di tunggu aja konfliknya apa. 🙏🥰🥰


Terima kasih untuk yang sudah menemani perjalanan receh Farhan dan Lisa sampai sejauh ini.