
Cello langsung kembali ke kelasnya setelah membelikan bakso untuk Malika. Sebagai pria kecil yang belum memiliki ketertarikkan pada wanita, anak bandel itu sebenarnya juga malas menemui gadis galak seperti Malika. Kalau bukan karena papahnya suka pada anak itu, Cello tidak akan sudi mendekati kedelai hitam jutek seperti Malika.
Ump, wajar sih!
Pria kecil berhati polos itu memang sangat terobsesi dengan segala tindak tanduk orang tuanya. Ingat saat Cello bersikeras meminta Lisa menjadi bundanya kepada Farhan hanya karena perihal mimpi didatangi Jennie, kira-kira seperti itulah Cello saat ingin menikahi gadis kecil bernama Malika tanpa pikir dua kali.
Meskipun tidak ada wasiat atau pesan langsung, Cello tetap ingin melakukannya. Membuat papanya bangga di atas Surga sana. Ah, ngomong-ngomong ia sendiri saja tidak paham apa itu menikah, Cello hanya tahu bahwa menikah adalah menjadi ayah ibu, punya anak, lalu boleh tidur bersama seperti apa yang ia lihat di kehidupan nyata. Untuk masalah pengertian menikah, tentu saja ia belum mendapat edukasi lebih ke arah sana dan hanya sebatas menduga duga layaknya anak kecil lain.
"Kakak dari mana, sih?" Cilla melotot sebal saat Cello datang dan mengagetkan dirinya. Anak itu menarik kursi, kemudian duduk tepat di samping Cilla.
"Dari kantin," jawab Cello cengengesan. Ia segera mengalihkan topik pembicaraan saat melihat wajah adiknya yang tampak resah. "Adek lagi ngapain, sih? Mukanya asem gitu," tanya pria kecil itu pada adiknya.
"Lagi ngapain lagi kalo bukan menghafal Pancasila? Emang Kakak udah apal? Besok kita bakalan dites satu-persatu sama bu Dian, tapi Cilla belum hafal juga," ketus anak itu sambil menaruh dagunya di bawah meja. Wajah Cilla tampak frustrasi mengulang hafalan kata demi kata yang tak kunjung tembus di kepala. "Susah banget, tau!"
"Aku sih udah hafal." Cello menyeringai jenaka. Melemparkan kesombongan yang membuat adiknya semakin panas kebakaran jenggot.
"Ajarin dong Kak, nomer empat sama nomer lima sering ketuker. Cilla pusing," keluhnya lagi.
"Makannya, jangan kebanyakan unboxing squisy. Mau aku kasih trik gak, biar cepet ngerjainnya?"
"Gimana?" Wajah Cilla langsung berubah antusias mendengar kata 'trik' tanpa peduli ejekkan kakaknya.
"Kamu tulis di buku berulang-ulang. Ngga perlu dihafalin, nanti lama-lama hafal sendiri." Cello membuka lembaran buku kosong milik adiknya. Kemudian menaruh pensil di tangan Cilla agar anak itu segera menulis. "Tulis sekarang gih."
"Nanti aja, bentar lagi masuk. Tapi beneran bisa langsung hafal?" tanya Cilla agak ragu-ragu.
Cello mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya beneranlah. Kalau aku sih lima kali nulis bisa langsung hafal. Tapi kalau kamu mungkin 200 kali nulis baru hafal," ejek Cello dengan wajah tengil ciri khasnya. Ia sudah paham watak sang Adik dengan gamblangnya. Karena si cantik kembarannya memang bodoh maksimal, bahkan Cello sering gila sendiri saat belajar bersama anak itu.
"Kok banyak banget sih? Nanti kalau aku udah nulis 200 Kali tapi gak hafal juga gimana?" Cilla berbicara lagi, kali ini mata bening itu menatap kakaknya serius. Ada jejak keraguan di dalam sorot mata anak itu saat harus melakukan hal berat yang belum jelas kebenarannya.
"Kalo kamu udah nulis 200 kali gak hafal juga, itu namanya usaha yang menghianati hasil!" Anak itu terbahak penuh ejekkan.
"Isk! Kakak!" Cilla memukul bahu Cello sebal. Bola matanya melotot sampai mau copot.
Cello masih tidak mau berhenti tertawa. Menulis Pancasila sebanyak 200 kali saja belum tentu sanggup, tapi Cilla sudah mengeluh duluan.
"Jangan ketawa mulu. Pulang sekolah nanti Cilla mau serius nulis tauuu!" Bibirnya langsung monyong otomatis melihat kakaknya tak mau berhenti tertawa.
"Iya abisnya, nulis sebanyak itu gak hafal juga. Kan, aneh!" Cello mengusak kepala sang adik hingga gadis kecil itu memekik,
"Apaan sih? Kunciran aku jadi rusak!" Cilla berteriak cukup keras. Untung anak-anak lainnya masih menghabiskan waktu istirahatnya di luar sana, jadi kelas masih kosong dan hanya sisa mereka berdua saja.
"Lagian kamu itu bodoh banget sih, Dek. Padahal aku pinter," ujar Cello membanggakan diri. Kali ini tidak ada nada mengejek, namun yang Cello katakan membuat Cilla ingin mengamuk pada anak berlagak tengil itu.
"Kata bunda Lisa juga karena Kakaknya aja yang beruntung lahir duluan. Jadi kepintarannya udah diserap habis ama kakak. Harusnya kita bagi dua, dasar serakah!" serang anak itu tak mau kalah debat.
"Ck. Udah oon nyalahin orang pula."
"Ikk ... Ikkh, sana pergi! Males Cilla sama Kakak!" Anak itu mendorong tubuh Cello sebal. Lalu memukul bahu sang kakak dengan buku tebal.
"Jangan galak-galak. Aku mau tanya sama kamu."
"Mau nanya apa? Ngapain juga nanya sama orang oon!" pekik Cilla sambil memutar bola matanya ke atas. Tangannya sudah bersidekap di depan dada sambil menyandar ke belakang.
"Ya apaan?" Cilla yang mulai penasaran pun membentak kakaknya kembali. Matanya melirik sekilas, kemudian menatap ke arah buku-buku yang ditumpuk di atas mejanya.
"Apa ya .... Hehehe." Cello menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tersenyum bodoh kemudian bertanya dengan tak tahu dirinya. "Gimana sih, caranya ngajakin kakak kelas nikah? Aku udah berusaha, tapi kok gagal mulu?"
"A--apa?" Sontak Cilla tertohok. Otaknya yang minimalis langsung bergetar mendengar kalimat yang Cello ucapkan.
"Kakak gila ya, mana ada anak SD nikah!" teriak anak itu dengan bahasa persis seperti yang diucapkan Malika. Cello langsung membekap mulut Cilla saat itu juga.
Lalu berbisik, "Jangan keras-keras. Aku tuh nikahnya kalo udah gede, tapi aku bingung, gimana caranya ngomongnya. Soalnya ya gitu, Malika juga ngatain aku orang gila, padahal aku serius mau nikahin dia."
Manis-manis gemas Cello becerita bagai santan tak disaring. Cello memang cukup terbuka pada adiknya, dan Cilla juga tahu persi alasan sang kakak mau menikahi gadis itu. Masalahnya, umur yang belum sesuai membuat pembahasan itu jadi tak lazim dibicarakan oleh keduanya.
Cilla pun berkata, "Emang kakak beneran suka sama si Malika Malika itu? Kata nenek nikah 'kan harus suka sama suka."
"Engga lah, tapi kan papah kita suka sama dia." Cello berujar kembali mengatasnamakan almarhum ayahnya. Beruntung tidak ada orang dewasa yang mendengar percakapan mereka, kalau ada mungkin ginjal Cello sudah dipelintir saat itu juga.
"Uhk, kalo ayah Hanhan tau kakak mau nikah sama Malika, nanti aku pasti kena marah juga. Lagian Malikanya juga gak mau 'kan sama kakak? Jadi ya udahlah, nikah sama yang lain aja nanti kalo udah gede."
Kali ini gantian Cello yang menaruh dagunya di atas meja. "Kamu tuh bantuin kakak mikir biar Malika mau nikah sama kakak, bukannya nyuruh cari yang lain!" gerutu anak itu seperti orang dewasa kalau lagi putus asa.
"Bantu gimana? Orang kita masih kecil gini udah ngomongin nikah!"
"Tapi kakak mau bikin papah seneng. Emangnya kamu gak mau ikutan bikin papah seneng juga?" Nada sedih pun ia lontarkan. Hingga Cilla ikut tak enak hati mendengarkan ucapan kakaknya.
"Ya mau, tapi 'kan .... Ahaaaa!" Cilla menjentikkan jempol dan telunjuknya di depan muka. "Kakak inget gak, waktu itu kita pernah diajak kondangan sama ayah dan bunda?"
"Kondangan apaan? Yang banyak makanannya itu?" tanya Cello agak bingung dengan istilah adiknya.
"Iya itulah! Cilla denger-denger mereka gak nikah walau acaranya kayak orang menikah, katanya mereka mau tunangan dulu, tapi nikahnya masih lama. Biar sama-sama bisa memantaskan diri atau apa, gitu!" tutur Cilla menjelaskan tapi setengah lupa juga.
Maklum. Namanya juga anak-anak.
Cello berceletuk, "Tunangan itu yang tukeran cincin ya?"
"Iya ... iya! kalau udah tunangan, Malika tetep bakalan nikah sama kakak nantinya. Kan udah dikasih cincin. Mending Kakak kayak gitu aja. Kasih cincin ke Malika, tapi nikahnya kalo udah gede," ujar Cilla agak berbelit-belit.
Begitu antusiasnya Cilla menerangkan. Tanpa mereka tahu, kalau menjalin hubungan serius tak semudah itu konsepnya.
"Tapi dia mau gak? Kan dia benci banget sama kakak."
Masalah kembali datang. Namun Cilla yang memiliki segudang solusi tak mempermasalahkan itu. Selain pelajaran, Cilla memang handal dalam hal apa pun.
"Kita harus beli cincinnya dulu. Nanti aku bantuin biar Malika mau tunangan sama kakak."
"Beneran, nih?"
"Hmmm. Tapi kasih contekan nomer 7 sampe 10 dulu, nanti Cilla bantu beliin cincin juga deh. Di toko squisy langganan Cilla juga banyak cincin bagus." Gadis kecil itu menyeringai diikuti suara bel yang berbunyi nyaring. Cello memberikan buku PR matematikanya. Biasanya Cello tidak suka dicontek, tapi kali ini tidak masalah asal dapat bantuan. Di otak Cello pun sudah terbayang tentang langkah yang akan ia lakukan selanjutnya.
***
Kasih hadiah kopi bunga dunkk. Untuk part mereka. wkwkw