
Hujan rintik-rintik dari jam dua pagi membuat acara pergulatan mereka semakin menghangat. Farhan dan Lisa begitu gila dalam mengeksekusi permainan pada malam itu. Ada macam-macam gaya mereka coba hingga tanpa sadar hari sudah menjelang pagi. Keduanya kelelahan dan sama-sama tertidur pukul lima pagi.
"Astaga!" Lisa teriak bukan main. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Di mana mereka sudah sangat telat untuk berkemas dan berangkat ke kantor.
"Mati aku, tuan Farhan pasti akan murka jika tahu aku lupa membangunkannya," gumam Lisa panik. Wajahnya semakin pucat saat membayangkan kemarahan Farhan jika bangun nanti.
Lisa memberanikan melirik ke samping. Memandangi Farhan yang terlelap dengan nafas halus dan teratur.
"Bangunkan tidak ya?" pikir Lisa gunda.
Akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf. Bilang saja ia lelah karena meladeni kegilaan Farhan tadi malam. Jadi Lisa dapat terbebas dari ancaman kejam si batu prasasti bernyawa itu.
"Tu-Tuan, bangun, sudah jam sepuluh, apa Anda tidak ingin bekerja?" Lisa menggoyang-goyangkan badan Farhan.
Setelah cukup lama, pria itu baru merespon dengan kerjapan mata pelan. Lalu membuka matanya sedikit dan terpejam lagi. Masih belum mau beranjak dari alam mimpi.
"Tuan, maafkan aku." Lisa mendekatkan wajahnya lebih lekat lagi. Hingga ia dapat merasakan napas hangat Farhan yang menerpa permukaan kulitnya.
"Eugh!" Farhan merenggangkan badannya. Meraih tubuh kecil Lisa hingga membentur dada bidangnya. "Kau berisik sekali, aku masih lelah." Farhan mendekap Lisa erat, semakin erat hingga Lisa kesulitan untuk bernapas.
"Kita sudah telat ke kantor. Ini sudah siang, Tuan!" Gemetar-gemetar takut Lisa menjelaskan. Ia menunggu reaksi murka Farhan dengan perasaan berkecamuk.
"Tidak apa-apa, tidurlah lagi saja. Aku sudah menghubungi Rico, hari ini kita tidak berangkat kerja.
"Apa Anda serius, Tuan?" Lisa mencari raut kemarahan dari wajah letih itu, namun sepertinya Farhan sudah berniat bolos kerja. Sama sekali tidak ada rona marah di wajah Farhan saat ini. Hanya saja Lisa merasa aneh, Farhan yang biasanya gila kerja mengajaknya bolos tiba-tiba. Sungguh momen langka yang harus ia abadikan sepanjang mengenal seorang Farhan.
"Aku tahu kau juga lelah, tidurlah kembali," ujar Farhan sambil menepuk halus bahu Lisa.
Lebih dari lelah, Lisa merasa tulang-tulangnya rontok semua setelah digempur durasi dari malam sampai pagi. Merinding ngeri jika diingat-ingat.
"Anda sungguh tidak marah padaku?" ulang Lisa sekali lagi.
Farhan mendengkus sambil mencubit perut Lisa yang tanpa sehelai benangpun. "Kau sungguh bawel Lisa! Jika aku sudah bilang tidak masalah, itu artinya aku tidak marah."
"I-iya! Maaf Tuan."
"Sudah sana tidur lagi."
"Tapi aku tidak enak sama Bunda dan anak-anak. Kita tidak keluar kamar sejak pagi," ucap Lisa malu. Ia mendudukkan tubuhnya. Mau tidak mau Lisa harus bangun agar tidak dicap sebagai menantu tidak berguna.
"Bunda dan anak-anak sudah berangkat ke sekolah, nanti juga mereka tidak akan pulang ke sini. Katanya ayah masuk angin, jadi bunda pulang," ujar Farhan menjelaskan.
"Kok Anda bisa tahu?" Lisa bertanya karena merasa aneh.
"Karena aku tidak langsung tidur seperti dirimu. Aku menyempatkan diri keluar kamar untuk sarapan, baru tidur lagi."
"Ya ampun!" Lisa menepuk jidatnya. Ia benar-benar malu karena tidur seperti orang mati. "Apa bunda dan anak-anak menanyakanku?"
"Tentu saja ia," jawab Farhan apa adanya.
"Lalu Anda menjawab apa, Tuan?" tanya Lisa tidak enak.
"Aku bilang kamu masih tidur."
"Apa bunda tidak bertanya hal lain?" tanya Lisa lebih rinci. Farhan menyipitkan matanya seolah sedang berpikir.
"Bunda bilang kamu doyan tidur. Dan aku tidak boleh kaget jika kamu selalu telat bangun pagi. Sepertinya bunda sangat mengenalmu," ucap Farhan.
"Ya, bunda lebih dari sekedar mengenalku. Kami akan seperti ibu dan anak meski kita berdua tidak menikah." Lisa berujar bangga.
"Ya, tapi tetap saja bunda menjulukimu beruang kutub yang suka tidur," ejek Farhan sambil mencubit hidung Lisa keras-keras.
"Maaf Tuan, lagian Anda tidak mau membangunkan aku, sih! Aku jadi tidak enak pada bunda tahu, aku malu!"
"Bukankah kau selalu tampil memalukan di manapun kau berada. Untuk apa malu? Lagian tidurmu seperti kerbau pingsan. Percuma aku membangunkanmu," ejek Farhan lagi
"Dasar menyebalkan! Itu salahmu, Tuan. Kau yang membuatku tidak bisa tidur semalaman."
"Kau yang menggodaku duluan, wajar jika aku terpancing. Farhan tak mau kalah. Mereka berdua bercengkrama di balik selimut yang menutupi tubuh polos Lisa.
***
Mohon maaf atas keterlambatan update yang tidak sesuai janji. Ada kendala pribadi. Doain aja nanti bisa up lagi. Makasih buat yang sudah mau dukung aku lewat vote, komen, dan like. 🥰