
***
Sementara itu.
Dua makhluk Amazon yang baru saja tiba di tempat pesta mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling acara.
Skala tampak mengernyit saat melihat panggung dangdut megah yang menjadi pusat hiburan utama di area luar.
"Ini acara apaan, sih? Kenapa ada dangdutan segala?" tanya Skala menoleh sebal pada istrinya. Baru pertama kali ia menghadiri acara orang kaya tapi penampilannya seperti pasar malam.
"Hiburan yang didepan ini disediakan khusus untuk masyarakat biasa. Katanya siapa pun yang datang boleh menikmati hiburan dan makanan yang ada di luar secara gratis. Kalau untuk kita ada di dalam, khusus tamu undangan," terang Bianca.
"Oh!" Skala melipat bibirnya ke dalam. "Keluarga yang satu ini memang beda dengan yang lain, sih. Konsep acaranya selalu out of the book. Di luar nalar manusia!"
Otak Skala terbagi pada momen terakhir kali ia menghadiri acara pernikahan Farhan dan Lisa. Acara nikah luar biasa yang katanya bertema surprise untuk si mempelai pria. Sempat Skala berfikir mempelai prianya kabur karena berjam-jam melihat mempelai wanita duduk dipelaminan sendiri. Ternyata mereka sedang menunggu kedatangan si pria. Buang-buang waktu saja, pikir Skala kala itu.
Bianca menepuk pundak Skala. "Ayo kita masuk ke dalam. Ingat pesanku, jangan sampai kamu merusuh lagi di tempat ini karena kamu sendiri yang menginginkan datang tanpa di undang!"
"Iya Cacamarica sayang. Bagian itu tidak udah disebut! Bilang saja kita mewakili kakek." Skala menarik tangan Bianca agar bergelayut di lengannya.
Seperti yang dibilang istrinya, ia memang berniat datang ke sini hanya untuk melihat si kembar yang pernah menyelinap ke mobilnya dulu. Tentu saja ia meminjam undangan milik kakek Prawira dengan alasan istrinya sedang ngidam ingin bertemu si kembar. Padahal ia sendiri yang rindu pada dua anakan piranha itu. Buru-buru Skala menemui kakeknya saat mendengar Farhan akan membuat acara megah untuk sunatan anak asuhnya.
Dan di sinilah duo mahluk Amazon itu berada ....
"Wah, mereka berdua lucu sekali ya, Ska!" Bianca berdecak kagum menatap kursi pelaminan mungil di mana ada sepasang makhluk kembar imut-imut sedang duduk menggunakan kebaya dengan ciri khas Indonesia. "Konsepnya kayak pengantin cilik gitu. Jadi gini ya kalau anak kembar, apa-apa harus samaan biar adil. Mereka jadi mirip raja dan ratu."
"Raja dan ratu Sunda Empire maksud kamu?"
Membuat Bianca mendesis seraya memukul bahu suaminya kesal. "Jangan bercanda! Ingat siapa yang tadi bilang kangen sama mereka?"
Skala tersenyum. "Ya aku, tapi gara-gara liat ayah angkatnya yang amit-amit, mood-ku jadi rusak!" Bola matanya melirik ke pojok. Mencuri pandang di mana ada Farhan yang tengah mengobrol dengan kolega bisnisnya. Tsk. Membuat Skala merinding karena pernah bersilaturahmi bibir dengan pria itu secara tidak sengaja.
"Nanti kita mampir ke hotel dulu sebentar untuk mengembalikan mood kamu supaya baik lagi. Tapi janji jangan mengacau," goda Bianca genit.
"Iya Ska! Ayok kita temui mereka dulu, aku sudah tidak sabar ingin memegang pipi gembil mereka. Katanya kamu kangen juga?"
Skala menarik lengan Bianca. "Nanti dulu deh, masih ramai di sana, aku tidak mau perut kamu disenggol sikut orang. Kita tunggu dulu sampai agak reda para manusia itu.”
Bianca mengangguk patuh seraya menyandarkan kepala di pundak suaminya. Pandangannya menatap lurus, memperhatikan tingkah dua bocah manis itu. “Mereka terlihat kompak dan selalu menyayangi satu-sama lain. Kira-kira kalau sudah besar, apakah mereka akan terus kompak seperti itu ya, Ska?”
“Bisa jadi. Tapi menurut ramalanku, mereka tidak sama dengan anak kembar lain! Konsep hidup persaudaraan mereka sedikit berbeda.”
“Tidak sama gimana?” Wanita itu mendongak, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Skala.
“Bagaimana ya, semacam brother dan sister complex, gitu. Semisal salah satu dari mereka ada yang menikah, dan satu lagi belum mendapatkan cinta, bisa jadi yang tidak mendapatkan cinta itu akan gila. Bunuh diri bahkan mati!”
Cetak!
Satu jitakan mendarat di kepala pria itu. “Sakit Cha! Kenapa kamu memukul suamimu? Aku bisa menuntutmu!”
Bianca melempar tatapan garang pada suaminya. “Ramalanmu gila, Ska! Psikopat! Kamu saja sana yang mati bunuh diri, tidak usah mendoakan anak orang seperti itu!”
“Kamu sudah siap menjadi janda?”
Bianca yang kesal menghentakkan kakinya ke lantai. “Tenang saja, begitu kamu mati semua lelaki akan berhamburan mengejarku. Berdamailah bersama cacing di kuburan!”
Sialan! Awas saja kau nanti, Cha! Kupastikan anakondaku mengamuk sampai gigi di mulut piranhamu rontok semua!
Skala bersungut dalam hati. Bianca mencibir dan berjalan tak acuh menuju si kembar yang tengah duduk.
***
Kasih komennya ya, yang nunggu part Farhan dan Lisa sabar ya. Yang nunggu Novel Cello juga sabar. Insya Allah bulan ini rilis, sebelum hello my boss tamat, novel itu udah rilis. Pantengin dulu, jangan kabur. kwkwk