
Beberapa menit sebelum kedatangan helikopter.
"Ini apa, Om?" Cello mendongak heran, menatap bingung ke arah Zian yang datang seorang diri sambil memberikan selembar gambar rumah kepadanya.
Sementara tadi, ia sempat melihat Zian sahabat karib ayahnya itu memberikan sebuah map berisi dokumen kepada Farhan.
Ayah angkatnya yang satu itu bahkan memasang wajah terkejut begitu Zian memberikan map tadi. Cello sampai penasaran hal apa yang diberikan Zian kepada Farhan hingga reaksi Farhan si datar seheboh itu.
"Lihat gambarnya dong, Sayang!"
"Gambar rumah!" ujarnya. "Kenapa Om kasih aku gambar rumah, doang. Buat apaan?" tanya anak itu.
Zian tersenyum gemas ke arah pria kecil itu. Lantas mencubit pipinya hingga menimbulkan bekas merah di sana.
"Ini gambar bukan sembarang! Ini adalah rumah dengan pemandangan asri! Yang terletak di antara pegunungan dan pantai. Om membawakan gambarnya saja karena tidak kuat menggotong rumahnya. Gimana ... kamu suka 'kan dengan hadiah, Om?"
Pria kecil itu sempat mengerjap beberapa saat. Andai Cilla belum pamit tidur, pasti anak itu akan iri mendengar ini. Sayangnya Cilla sudah kelelahan dari jam delapan tadi sampai tidur di kursi pelaminan segala.
Cello sedikit mengernyit tak enak hati. "Jadi Om kasih aku rumah ... terus ini gambar rumahnya. Begitu, 'kan maksudnya, Om?"
"Yups, betul sekali anak manis!"
"Tapi aku masih kecil Om! Sebenarnya aku nggak butuh rumah, aku juga nggak berani ninggalin rumah itu sendirian!"
Ck. Zian tergelak gemas mendengar ucapan Cello. Anak satu ini ya, pikirnya.
"Om memberikan rumah itu tidak sekarang. Tapi nanti ketika kamu sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Kamu bisa menggunakan rumah itu untuk melamar calon istrimu, untuk berlibur, atau untuk ditinggali jika keluarga kalian menyukai kehidupan desa yang indah dan asri. Mengerti?"
"Ohh ... begitu ya, Om!" Cello melirik Malika yang sejak tadi tertunduk di samping Cello. "Kamu denger gak, Lika? Sekarang aku punya rumah dari Om Zian dan Mobil dari Om Rico. Kamu gak perlu repot mikirin mau tinggal di mana kalau kita udah nikah nanti!"
Anak sultan itu bicara sombong dengan percaya dirinya. Tak peduli ada Zian yang sedang berdiri di hadapan mereka sambil mendengarkan.
"Kalian berdua pacaran, nih?" Zian sedikit melipat bibirnya ke dalam demi menahan tawa.
"Engga pacaran ... tapi kalau udah gede mau nikah! Nikah tanpa pacaran itu baik! Jadi pacarannya kalau udah nikah."
"Kata siapa?" ledek Zian penasaran.
"Kata yutuber lah, Om! Om gak pernah nonton yutup apa?"
Kurang ngajar sekali anak sultan ini. Tapi kok sedikit mirip denganku ya, batin Zian sambil membayangkan wataknya kalau sedang gila.
"Oh begitu ya. Om jarang menonton seperti itu. Apa tadi ... youtube 'kan namanya? Nanti biar Om tonton di rumah biar bisa pacaran setelah nikah." Zian semakin ingin ngakak-ngakak ria.
Apa anak kecil jaman sekarang seperti ini? Belum mengerti cinta tapi sudah banyak terkontaminasi hal-hal di luar jangkauan anak-anak, pikirnya.
"Oh ya, anak dan istri Om kok gak diajak ke sini?" Cello balik bertanya. Malika tentunya masih diam mendengarkan di samping pria kecil itu. Ia sebenarnya malu duduk di samping Cello. Tapi Cello terus memaksa tanpa henti.
Zian menjawab dengan bahu setengah mengedik. "Biasalah, wajah istri Om kecipratan minyak panas saat sedang menggoreng ikan. Jadi Om suruh dia perawatan di Korea sekalian jalan-jalan. Habis dari sini, om juga akan nyusul mereka ke Korea," canda pria itu agar tidak terlalu dianggap sebatang gedebong pisang oleh Cello .... maksudnya sebatang kara.
Sialan sekali anak ini.
"Istri Om adalah istri idaman yang sangat berbakti pada suaminya. Khusus masak untuk Om, dia tidak suka menggunakan pembantu."
"Gitu ya, Om! Entar kamu gitu juga ya Lika." Cello tersenyum sambil melirik Malika. Memamerkan deretan gigi putih yang tengahnya ompong satu karena baru copot kemarin.
"Iya begitulah!" Mata Zian jelas menangkap tanda-tanda risih di wajah Malika. Cello itu pemaksa sejak dini, pikirnya. Tak mau berlama-lama jadi obat nyamuk. Akhirnya Zian undur diri sejenak dari dua bocah itu.
"Kalau begitu Om mau ke ayahmu dulu. Ok. Baik-baik kalian berdua, jangan bertengkar!"
"Baik, Om!" Zian berlalu meninggalkan mereka berdua. Lantas Cello memberikan gambar rumah tadi pada bodyguard yang berdiri di belakangnya.
"Sapu tangan kamu bagus! Ini yang buat kamu sendiri ya?" Bertanya pada Malika, sambil menatapi kotak berisi sapu tangan yang sejak tadi ia jaga dalam pangkuan.
"Iya," jawab gadis kecil itu malu. "Aku udah boleh pergi belum si ... aku malu duduk di sini. Ini kan buat kamu."
"Aku bete, temenin aku ya ...."
Bibir Malika maju lima senti. Sejak satu jam yang lalu ia datang, ia langsung di suruh menemani Cello oleh ayahnya.
"Aku pengin keluar. Aku mau lihat acara festival rakyat," izinnya pelan-pelan dan penuh kehati-hatian seperti istri yang hendak ikut arisan berlian agar diberi izin oleh suaminya.
"Aku ikut ya! Aku juga penasaran kayak apa acara di luar."
Sontak Malika menggeleng tidak setuju.
"Kamu kan belum bisa jalan-jalan dulu. Itu kamu belum sembuh, kan?" Malika melihat ke arah sarung Cello di mana ada burung cicit cuit yang tengah terluka di balik benda tipis tersebut.
"Pake kursi roda, dong. Minta izin dulu sama ayah!"
"Ya udah, ayo kita izin keluar. Kamu sini dulu, biar aku yang minta izin ke ayah kamu kalo kamu mau ikut aku ke luar ...." Malika berlari menghampiri Farhan yang tengah berdiri mengobrol dengan ayahnya dan juga Zian. Cello sedikit meringis karena tas selempang Malika sempat menghantam bagian anunya.
"Sakit banget Dasar tutup botol kecap!" gerutunya kesal.
*
*
*
Lagi gak lagi gak???? Kasih sumbangan poin donk ke novel aku . Biar makin banyak yang dukung. Buka aplikasi noveltoon terus lindungi karyaku
Dijual Suamiku dan Dibeli Mantan Pacarku.
Poinnyaa lempar ke sana aja. soalnya di sini g guna. Gak akan nampang di ig NT kalo g 20 besar. kwkwwk. maciih. sayang sayangnya Parlan.