
"Nemeninnya nanti aja abis disunat. Aku gak mau kamu liat. Pergi sana, ah!"
Membuat mata gadis itu merambang, lantas mengelap sudut matanya dengan bibir setengah memble. "Kakak jahat banget, padahal aku cuma mau di deket Kakak! Mau mastiin Kakak baik-baik aja selama disunat. Gak mau liat itu kamu!" tukas gadis itu mengiba.
"Aku takut kakak kenapa-napa. Aku nggak bisa ninggalin kakak!" Begitu takutnya Cilla meninggalkan sang kakak. Seolah sunat merupakan ajang audisi menjelang sakratulmaut.
"Ehem!" Dokter masuk kembali dengan wajah lebih segar setelah disuguhi kopi. "Ya sudah kalau di sini nggak papa, tapi Adeknya jangan berisik ya, jangan ngintip itunya Kakak! Pak dokter minta waktu sepuluh menit saja!"
"Iya Dok," jawab Cilla mengangguk. "Aku mau di sini ya, Kak," pinta gadis kecil itu untuk kesekian kali.
Akhirnya Cello mengangguk penuh rasa terpaksa daripada acara sunatan sekali seumur hidup itu berakhir kegagalan.
"Matanya lihat ke kakak dong! Sarungnya mau dokter buka nih," perintah dokter dengan name tag bertuliskan Dr Fikri Nasution SpBS itu selembut mungkin.
Cilla menurut.
Matanya beralih memandang wajah tegang sang kakak yang sudah berposisi terlentang dengan balutan sarung di bawah sana. "Jangan takut ya, Kak!" ucap Cilla menyemangati.
Padahal semua yang ada di sana tahu bahwa Cilla yang paling penakut. Terbukti tubuh gadis kecil itu meremang dan sedikit berguncang.
Dokter itu tersenyum seraya menusukkan jarum ke botol anestesi yang diberikan asistennya barusan.
Cello terpejam takut saat melihat alat suntik sudah mengacung ke udara. Siap dipakai untuk menusuk burung minimalis keriput di bawah sana. "Gak usah liat ke mana-mana. Liat ke aku aja, aku cantik 'kan, Kak?" tanya Cilla dengan suara sedikit serak seperti menahan tangis.
"Iya, cantik!" Anak itu meringis ngilu saat sebuah jarum runcing menusuk tubuhnya di bawah sana. Dahi Cello mulai mengembun. Di mana Cilla langsung sigap mengelap titik-titik keringat itu dengan ibu jarinya. Melakukannya dengan telaten seperti seorang ibu.
Dokter mulai melancarkan aksinya selagi Cilla mengajak ngobrol kakaknya untuk mengalihkan perhatian. Berbeda jauh dengan yang tadi, kali ini gadis kecil itu sangat mudah diajak bekerja sama.
Tak berapa lama kemudian, tercium bau gosong yang menyengat hidung. Sepertinya pemotongan menggunakan laser itu sudah mulai berjalan.
Cilla melirik ke bawah sedikit, tampak keadaan di bawah sana sangat mengerikan baginya. Buru-buru gadis itu memandang wajah tegang kakaknya kembali.
"Aku gak papa, yang takut itu kamu. Sini peluk!"
Mereka berdua saling merangkul untuk menguatkan satu sama lain. Kejadian ini persis seperti saat keduanya ditinggal pergi orang tua beberapa tahun silam.
Hampir setiap hari mereka berpelukan di saat rindu kepada orang tuanya datang melanda. Dengan begitu mereka menjadi kuat, merasa masih memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk dijaga.
"Sudah ya! Sekarang bentuknya sudah bagus, tidak keriput lagi kayak kata adiknya," ucap dokter itu tersenyum.
Sarung telah turun ke bawah kembali setelah burung minimalis cicicuit itu dibalut sangkar pengaman agar tidak lepas.
"Makasih, Dok!" ucap Cello dan Cilla kompak.
Cilla sedikit terperanjat karena prosesnya tak semengerikan yang ia pikirkan. Bahkan tadi malam ia gelisah dan tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana nasib kakaknya besok. Ia takut terjadi hal mengerikan dan membuatnya harus kehilangan kakak satu-satunya. Ternyata sunat tidak semengerikan yang Cilla bayangkan.
"Sebentar ya, pak dokter mau ke kamar mandi." Dokter Fikri mengelap sudut matanya yang mengenang. Sang asisten masih tampak sibuk membersihkan sisa-sisa peralatan bekas eksekusi burung tadi.
"Dokternya kenapa nangis itu, Kak?"
"Nggak tau, tangannya kepotong kali!" jawab Cello asal.
Mereka tidak tahu bahwa dokter itu sedang terenyuh dengan kelakuan manis keduanya.
Di kamar mandi, dokter itu terduduk lemas seraya menetralkan hati yang sudah berubah melow sejak tadi.
Ini adalah sejarah sepanjang karirnya. Untuk pertama kali, bukan pasien anak-anak yang menangis saat sunat, tapi dokternya yang menahan tangis sejak proses pemotongan itu berlangsung karena terharu dengan kedekatan kakak beradik yang sudah ditinggalkan orang tuanya itu.
Dan saat kewajibannya sebagai dokter selesai, air matanya tumpah tak tertahankan lagi. Ia merasa menyesal karena sempat kesal pada si adik yang sejak tadi merajuk-rajuk. Padahal jika ditelaah lebih dalam, ia hanyalah anak kecil yang takut kehilangan kakak berharga satu-satunya.
***