HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 29 : ( Season 2)



“Kamu apain bundaku sampe bisa pingsan begitu?” Suara cempreng Cilla sudah menggelegar selagi para orang dewasa berkumpul di kamar untuk mengecek keadaan Lisa. 


Malika meremas pergelangan tangan untuk menutupi rasa kegugupan. Ia juga tidak tahu kenapa Lisa bisa pingsan begitu, dan nahasnya hanya Malika yang melihat kejadian itu. Ia berteriak-teriak histeris sampai akhirnya Farhan dan yang lainnya keluar dari kamar.


“Aku gak melakukan apa-apa. Mana mungkin anak kecil berani menyakiti orang dewasa,” tukas Malika logis. Mencoba membela dirinya sebisa mungkin.


Sebenarnya Cilla sudah tahu kalau Malika bukan penyebabnya. Hanya saja ia sengaja ingin cari gara-gara agar Malika tidak betah di rumahnya. Siapa suruh anak itu datang ke sini.


Cello kembali dari arah dapur sambil menyedot susu kotak rasa strawberry yang baru ia ambil di mesin pendingin.


“Adek!” teriaknya kepada Cilla karena mendengar perdebatan mereka berdua. “Jangan suka nuduh orang sembarangan!”


Cilla menatap Cello yang sedang mendekat ke arah mereka dengan muka protes tidak terima. “Botol kecap juga gitu! Dia duluan yang udah nuduh ayah Hanhan nyelakain ayahnya dia. Kenapa Cilla nggak boleh ikut juga?”


“Cukup dia aja, kita nggak usah ikut-ikutan melakukan perbuatan nggak baik.”


Sontak Malika tertohok mendengar kalimat yang Cello ucapkan tadi. Terdengar santai, tapi bisa langsung tembus ke dalam mental. Persis seperti sang papah kalau sudah bicara.


Malika tertunduk malu sekaligus merasa bersalah. “Maafin aku. Aku tau aku salah karena udah main nuduh ayah kalian sembarangan, tapi aku beneran nggak ngapa-ngapain tante Lisa."


Malika sampai mengangkat dua jarinya dengan sungguh-sungguh.


Di tengah-tengah perdebatan para anak kecil yang panas-panas menggemaskan, Sashi keluar dari kamar utama. Gadis itu langsung mengernyit begitu ada tiga anak kecil sedang menunggu di depan pintu. Yang dua ia kenal, tapi satu lagi tidak tahu.


"Gimana keadaan Bunda Tante?" Sergah Cilla dengan wajah khawatir. Malika hanya tertunduk tanpa berani melihat Sashi yang tak dikenalnya sama sekali.


Sashi mengelus puncak kepala Cilla yang sudah nempel-nempel manja kepadanya. "Bunda kalian nggak papa, dia baik-baik saja. Tadi cuma kelelahan sedikit," tutur Sashi.


 Cello mengangguk-anggukkan kepala. "Tuhkan apa yang aku bilang bener, Dek! Bunda pasti cuma kelelahan! Apalagi aku pernah denger langsung bunda marahin ayah karena disuruh lembur malem-malem.”


Eh! Kok jadi begini pembicaraannya? Dua pasangan itu benar-benar membahayakan, ya. Bisa-bisanya perdebatan area kandang buaya sampai terdengar di telinga anak kecil begini. Sashi sampai memegangi dadanya lantaran terkejut mendengar ucapan Cello. Untung anak itu menanggapi dengan pikirian bersih dan positif.


"Ayah memang harus diomelin ama kita biar gak bikin susah bunda!" ujar Cilla ikut-ikutan. Sashi tersenyum geli. Kali ini dia setuju dengan pendapat Cilla.


"Sudah-sudah, ayo kita ngobrol di ruang teve saja. Tante punya berita bagus buat kalian!" Sashi menggiring ketiga bocah itu dari depan kamar Lisa.


"Berita apa Tante?" tanya Cilla dan Cello kompak. Sementara Malika memilih diam dan menjadi pendengar setia.


"Ada deh." Sashi beralih menatap Malika yang berjalan pelan di samping Cello. "Ngomong-ngomong yang ini siapa? Temen kalian?" Tangannya sudah mendarat di pipi gembil Malika. Mencubit gemas hingga mentowel dagunya yang imut-imut.


"Dia kakak kelas kita. Panggil aja Botol Kecap," sahut Cilla ketus.


"Botol kecap? Gak boleh sembarangan ngatain gitu loh Cilla!"


Mereka bertiga sudah duduk rapi di ruang teve.


"Nama saya Malika Dewi Alfarik Tante. Biasanya dipanggil Malika aja!"


"Oh, burung bangau?" Sashi tergelak dengan lawakannya sendiri. Padahal baru beberapa detik tadi ia menegur Cilla, malahan ia yang reflek menjuluki. Sontak hal itu membuat Cilla kesal dengan wajah yang sudah merengut masam.


"Tante, gak boleh ngatain orang sembarangan!" Cilla mengulang lagi ucapan Sashi tadi. Membuat semuanya jadi tertawa melihat ekspresi marah Cilla.


Kegiatan pun berlanjut. Sashi menceritakan kehamilan Lisa hingga membuat dua anak itu senang.


***


Hari berganti malam. Semuanya sudah tidur di kamarnya masing-masing. Sashi juga turut menginap dan tidur di kamar tamu bersama Malika lantaran Cilla tidak mau tidur sekamar dengan botol kecap.


Karena besok masih weekend, jadi Cilla dan Cello akan diajak ke rumah sakit. Mengantar Malika sekaligus memeriksakan kandungan Lisa lebih lanjut.


"Aku bosan karena sejak tadi siang tidak boleh turun dari ranjang. Jadi aku mau liat-liat foto kamu."


Lisa mulai membuka lembaran foto itu satu persatu. Ada foto kecil Farhan saat di panti asuhan. Juga beberapa foto sekolah Farhan dari SD hingga ia kuliah.


Yang paling menggemaskan adalah foto hitam putih Farhan dengan gigi ompong dua. "Aku mau simpan ini di dompet," ujarnya.


"Untuk apa?" Farhan mengernyit kesal.


"Biarkan dia di sini. Kamu boleh memandangnya sampai puas asal jangan diambil."


"Huh pelit!" Lisa mencubit pipi Farhan. Namun sejurus kemudian pandangannya meneliti foto pria asing berwajah Turki yang sedang tersenyum manis ke arah kamera.



"Siapa pria tampan ini, kok aku belum pernah liat?" Lisa menunjuk foto bule tersebut. Meskipun wajah Farhan Asia, tapi rata-rata temannya berwajah bule seperti Bryan dan Felix, namun untuk yang satu ini Lisa tidak kenal sama sekali.


Farhan yang sedang bergumul di pundak Lisa langsung melirik sedikit. "Itu sensei-ku! Nama Zian."


"Oh, yang kamu bilang hidup di dunia gelap? Jadi pria ini yang menciptakan bibit singa di otakmu?" (Maksudnya seram dan garang).


"Ya, kurang lebih seperti itulah. Dia yang menunjukkan padaku betapa kerasnya dunia. Dari dia aku banyak belajar bahwa memiliki otak yang cerdas saja tidak cukup untuk melawan dunia."


"Lalu harus punya apa?"


"Kekuatan, kekejaman, yang membuat semua orang segan terhadap kita."


"Begitu ya?" Lisa sedikit merinding mendengar cerita itu. Tapi tak dipungkiri, wajahnya yang tampan dan mirip mantan membuat Lisa merasa terdesak ingin sekali bertemu dengan pria itu. Entah ini dorongan bayi, atau hanya naluri. Yang jelas Lisa tidak ingin melihat mantan yang mirip Zian, tapi dia ingin melihat Zian secara langsung.


"Bisakah kamu mengundang temanmu yang satu ini?" tanya Lisa hati-hati.


"Tidak!" jawab Farhan seolah sudah tahu isi pikiran Lisa.


"Memangnya kenapa? Aku hanya penasaran, seperti apa orang yang telah membuat suamiku jadi seram dan menakutkan begini." Sambil mengelus pipi Farhan dan mengecupnya dua kali agar pria itu senang. "Ayolah Mas! Aku penasaran," ujarnya lagi.


Farhan tampak berpikir sejenak. "Aku sudah jarang sekali komunikasi dengannya. Nanti kalau ada waktu luang," jawab Farhan setengah malas.


"Mau secepatnya Mas! Sepertinya ini keinginan anak kita deh." Sebenarnya Lisa tidak tahu keinginan siapa. Tapi biarlah ia membawa nama anak yang ada di dalam sana.


Farhan menghela napas lemah. "Apa boleh buat keinginan anak. Aku akan menghubunginya, kalau dia tidak mau jangan dipaksa, nanti kamu ditembak mati!" ledeknya.


Namun, Lisa menanggapi ucapan Farhan dengan serius. "Semengerikan itu?"


"Setauku dulu dia tidak pandang bulu terhadap manusia. Tidak peduli jenis musuhnya seberbahaya apa, dia akan tetap menghabisi. Dia hanya bringas pada mafia jahat, bukan orang biasa, tapi mungkin saja sekarang sudah taubat. Aku juga kurang tahu, selama ini aku hanya belajar padanya, tidak pernah ikyt campur urusan pria itu sama sekali," ujar Farhan.


Lisa merinding takut mendengarnya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa pikirannya terus mengingin bertemu Zian.


Entah kenapa.


***


Zian # Novel: Penjara Cinta Sang Mafia


Next time kalau ada waktu baru kolaborasi lagi. Tapi jangan lupa dukungan poinnya ya? Biar novel ini masuk rank. Kan gak ada salahnya nyenengin authornya. gitchu.


Wkwkw. See u next update.