HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kumat



"Pagi!"


Farhan menyapa, Lisa langsung pura-pura memejamkan mata. Masih malas gara-gara tragedi pempers tadi malam.


Dia sedang kumat rupanya, batin Lisa. Ucapan selamat pagi yang Farhan katakan terdengar seperti mimpi, atau mungkin pria itu sedang mengigau.


"Hei!"


Farhan teriak. Membuat jantung Lisa nyaris copot. Untung tidak mati. Kenapa teriak pagi-pagi buta begini? Dasar suami!


"Eugh, ada apa, Tuan?" tanya Lisa. Masih dengan mata terpejam seolah ia masih tidur.


"Aku sedang berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Apa kau tidak dapat menghargai sapaan pagiku? Aku tahu kau sudah bangun, Lisa!"


Farhan menggerutu kesal. Padahal dia harus membuka media sosial dulu untuk melakukan hal yang menurutnya romantis banget.


"Pagi juga," lirih Lisa sambil mengusap telinga yang berdengung karena mendengar teriakkan Farhan. Sementara Farhan nampak merasa tidak bersalah karena telah membuat telinga Lisa memekak sakit.


Otak suamiku memang perlu diservis! gerutu Lisa dalam hati.


"Hari ini mau kemana?" tanya Farhan membuka obrolan.


Hujan rintik-rintik masih terdengar di luar sana. Membuat Lisa menguap sekaligus terpejam lagi. Tentunya ia ingin di rumah saja. Menikmati libur kerja sambil menonton drama. Hal yang sering dilakukan oleh wanita pada umumnya.


"Aku mau tidur seharian," ujar Lisa.


"Kau tidak ingin menemui si kembar?" Farhan melipat dahinya dalam-dalam. Kesal mendengar jawaban Lisa.


"Aku takut pada anak gadis itu."


Memang nyata, tidak semua ibu tiri kejam. Ada juga anak tiri kejam. Contohnya Cilla. Beruntung gadis itu masih kecil; masih bisa diperbaiki otaknya agar tidak jadi bawang merah.


"Sekarang dia adalah anakmu!" telak Farhan. "Rico sudah mendapatkan ikan emas yang mereka mau, kau dapat membawanya sebagai hadiah untuk mengambil hati Cilla."


Mau tidak mau Lisa mengangguk setuju.


"Baiklah. Jam delapan aku mandi, sekarang mau lanjut tidur dulu." Lisa kembali menarik selimutnya yang sempat tersingkap, lantas berbalik badan memunggungi Farhan.


"Kau berani memunggungiku? Kembali," gertak Farhan kesal.


Lisa memijit pelipisnya yang terasa berat, lalu berbalik kembali menghadap Farhan. Gadis itu melingkarkan kedua tangan sambil merapatkan tubuhnya dengan Farhan.


"Siapa yang membolehkanmu memelukku?" seru Farhan dengan tubuh kaku.


"Tidak ada yang bisa melarang, aku istrimu!" tandas Lisa tak mau kalah. Di mana Farhan tak dapat menjawab ucapannya.


"Badanmu bagus sekali ya, Tuan." Jari-jemari Lisa bermain cantik di balik sana. Menyelusup jahat pada balik piyama Farhan dengan lihainya.


"Hei, mau apa kau?"


"Cuma pegang-pegang."


"Jangan macam-macam, Lisa."


Gadis itu mulai menyentuh apa saja yang ia mau. Membuat Farhan menggeliat seperti ulat bulu. Pagi yang tidak cerah ini mendatangkan ide briliant di otak Lisa. Ia hendak membalas perbuatan jahat Farhan dengan perlakuannya kali ini. Agar pria itu tahu, seperi apa rasanya kepalang tanggung.


"Lisa, stop!" Pria itu semakin tidak karuan. Di mana Lisa semakin gencar mengerjainya. Apapun ia raba dengan ganasnya.


"Lisa!" Farhan teriak. Gadis itu pura-pura tersentak.


"Maaf, kalau begitu aku mandi dulu."


Lisa langsung berlari ke kamar mandi. Meninggalkan Farhan dengan kilatan gairah membara di dalam jiwa. Kepala pria itu mendadak berdenyut ngilu. Tubuhnya terasa tidak enak.


"Dasar istri tidah tahu diri." Farhan menggeram kesal. Andai Lisa tidak sedang kedatangan tamu, Farhan tidak perlu merasa tersiksa seperti ini.


***


"Bisa-bisanya, Lisa?" pria itu menggerutu kesal. Berjalan keluar tanpa menyisir rambutnya.


"Ya, maaf. Tadinya kupikir sudah mengemasi barang-barang Tuan dengan rapih."


Ia masi terbawa tempo dulu, di mana Lisa hanya menyiapkan baju tanpa dalaman.


"Bodoh!" Farhan menyambar roti tawar dengan selai strawberry miliknya. Mengunyahnya dengan hati bersungut-sungut karena mandi tidak ganti dalaman.


"Nanti ganti di rumah saja, tahan dulu." Lisa ikut bergabung untuk sarapan. Mereka mulai sarapan dengan tenang tanpa bersuara lagi.


Terkadang, Lisa selalu membayangkan rumah tangganya bisa semanis tokoh-tokoh di cerita novel. Entah mengapa, walau ia sudah dihadapkan dengan kenyataan hidup, Lisa tetap berharap hidupnya masih bisa semanis cerita romantis. Asal jangan berakhir tragis apalagi ending-nya mati.


Tapi sekali lagi, jalannya menuju roma masih panjang. Sementara ini ia harus main rumah-rumahan dulu dengan Farhan sebelum memiliki rumah sungguhan.


Percayalah, akan ada masa di mana Lisa dan Farhan merubah panggilannya menjadi aku-kamu. Atau setidaknya panggilan 'Tuan' akan berubah jadi sayang. Mereka saling bermesraan tanpa harus ada benteng kecanggungan yang membatasi.


Selesai sarapan ... Farhan dan Lisa melanjutkan niatnya awalnya pulang ke rumah. Di mana ada si kembar dan bunda yang sedang menunggunya. Mobil melaju dengan kecepatan normal. Perjalanan sedikit lebih jauh dari biasanya, Farhan harus mencari jalan alternatif karena jalan utama digunakan untuk car free day.


"Dumbo itu ikan peninggalan mendiang Reyno ya, Tuan?" Lisa bertanya sambil mengamati ikan besar yang berada di jok belakang. Sedang kebingungan karena air di aquariumnya tergoncang-goncang.


"Iya, dan akhirnya ikan itu ikut mati. Menyusul pemiliknya mungkin."


Terdengar aneh, tapi hal seperti ini beberapa kali terjadi. Di mana peliharaan ikut mati saat sang pemilik meninggalkan dunia. Mungkin itu yang dimaksud sebagai ikatan hati antara peliharaan dan tuannya.


"Apa tidak sebaiknya kita tidak usah memberikan ikan palsu itu? Dumbo yang asli sudah mati, kalau kita menggantikannya, sama halnya kita membohongi dua bocah polos itu. Bagaimana kalau kita ganti hewan lain saja?"


Farhan sedikit tergegun mendengar penuturan Lisa. Pria itu menoleh, menunggu solusi dari anak itu.


"Kita belikan mereka kucing. Lalu berikan edukasi tentang kepergian Dumbo. Bagaimana?"


Tak ada jawaban, tapi Farhan mengangguk seraya memutar balikkan mobilnya tepat di tikungan.


"Mau kemana?"


"Ke toko hewanlah."


"Jadi mau beli kucingnya?" Mata Lisa melotot sempurna. "Aku kira Anda tidak berminat." Lisanya manyun.


"Idemu bagus, aku setuju!" Farhan tersenyum puas.


"Dasar tuan BMKG."


"Ya?"


"Badan meteorologi, klimatologi, dan geofisikan." Lisa menjelaskan bila mungkin Farhan tidak tahu. "Apa anda tidak tahu?"


"Aku tahu, tapi kenapa kau menyamakanku dengan BMKG."


"Karna Tuan Farhan aneh. Kadang cerah, mendung, dan kadang juga seperti hujan badai."


"Beraninya kau menyamakanku dengan BMKG. Apa tidak ada kata lain?" Farhan melengos kesal setelah melirik ke arah Lisa. Kembali fokus mengemudi.


"Ya memang seperti itu adanya."


"Cih!" Farhan berdecih sebal.


Sepertinya mereka harus dimasukkan ke dalam kelompok pasangan non romantis bernasib tragis.


Selalu ada saja ulah mereka yang memancing gigi bergemeretak.


***


Maaf gak menarik ceritanya. Aku lagi gak mood nuliss😂.Jangan lupa, bagi-bagi poin. kwkwkw. Biar aku semangat lagi