
"200 Milyar?" Shea melongo takjub. Matanya membola mendengar nominal itu disebut. Buru-buru ia menyodorkan map coklat itu kembali. "Maaf, saya tidak bisa menerimanya, Pak Rico. Hadiah ini terlalu banyak untuk El."
"Terimalah, saham itu sudah dijanjikan oleh tuan Farhan sejak bayi Nona belum lahir. Tuan Farhan berjanji, jika suami Nona berhasil menghentikan kebiasaannya meniduri setiap wanita, tuan Farhan akan memberikan kado itu untuknya. Tuan Farhan rasa, bayi kalian adalah bukti taubatnya suami Anda, Nona."
Mungkin Shea dan Bryan memang tidak menyalahkan Farhan, tapi pria itu merasa bersalah terhadap temannya. Gara-gara Helena yang lebih memilih Farhan di masa lalu, Bryan sampai berubah menjadi seorang cassanova. Untuk membuktikan bahwa ia seorang yang perkasa. Wajar jika Farhan adalah orang pertama yang berharap Bryan kembali seperti dulu; seperti teman yang Farhan kenal saat pertama kali bertemu.
Shea masih nampak ragu-ragu. "Tapi—"
Rico menyela cepat. "Kado itu sudah disepakati secara bersama. Nona tidak perlu sungkan menerimanya."
Shea tepat menimbang hadiah yang diberikan oleh Farhan. "Sebaiknya saya tanyakan dulu kepada suami saya." Shea tidak mau menerima tanpa seizin Bryan.
"Baiklah." Rico mempersilahkan tanpa banyak berkomentar.
Shea berdiri, lalu menuju ke paviliun melalui taman belakang untuk mencari Bryan.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat taman belakang sudah porak-poranda. Kulit kacang tercecar di mana -mana. Botol minuman yang sudah kosong pun berada di meja dan beberapa berada ada di lantai.
Mereka bertiga sungguh keterlaluan. Seketika itu juga, darah Shea naik hingga ke ubun-ubun.
"Apa-apaan ini?" teriaknya bingung. Yang lebih membuat Shea terkejut adalah tiga pria yang terkapar tak berdaya di atas gazebo.
Matanya semakin membulat sempurna saat melihat Bryan yang tidur mendekap Farhan. Juga Felix yang tidur di rerumputan tanpa berpakaian.
"Bibiiiii," pekik Shea pada asisten rumah tangganya.
Asisten rumah tangga itu datang dengan tergopoh-gopoh saat mendengar suara Shea yang terkesan murka.
"Bawa El ke kamar bayi, dan ajak anak kembar tadi bermain di sana juga." Shea tidak mau suara yang akan menggelegar akan di dengar oleh anak-anak.
"Baik, Bu." Asisten rumah tangga itu segera pergi untuk membawa El dan dua anak kembar yang masih berada di ruang tamu.
Lisa dan Rico bingung saat mendengar Shea meminta si kembar untuk ke kamar bayi. Wanita itu masuk ke dalam rumah lagi, lalu menggiring anak-anak masuk ke ruang bermain.
"Kalian main dulu ya sama dedek El," ucap Lisa pada si kembar.
Dua anak kembar itu pun senang, dan tidak menolak. Mereka mengikuti asisten rumah tangga masuk ke dalam kamar bayi.
"Apa yang terjadi?" Lisa langsung mengikuti Shea ke ruang belakang. Sementara Rico yang sudah tahu bentuk kacaunya seperti apa hanya mengedikkan bahu. Ikut ke ruang belakang dengan gaya santai.
"Bryan … Bryan ... bagun kamu!" Tangan Shea mengoyang-goyangka tubuh Bryan. Tak ada panggilan sayang karena Shea benar-benar kesal.
Tidak ada satu pun yang tidak tercengak kecuali Rico. Rasakan, wibawamu yang berharga hancur lebur karena kebodohanmu sendiri, Tuan. Rico memalinhkan wajahnya geli. Ingin muntah melihat bibir Bryan yang menempel di pipi Farhan.
"Bryan ... bangun!" Teriakan Shea semakin meninggi.
Lisa yang mendengar Shea berteriak sampai terkejut. Dia tidak menyangka orang kalem kalem seperti Shea bisa berubah garang seperti macan beranak.
Sekeras apapun Shea teriak, sama sekali tidak membuat Bryan terbangun. Apalagi Farhan yang nampak nyaman di pelukan Bryan. Akhirnya, dia yang sudah hilang kesabaran mengambil ember bekas pel, mengisi dengan air kolam yang berada di sebelah taman. Lalu menyiramkannya dengan bengis.
Bryur ....
Shea menguyur tubuh Bryan. Karena Farhan ada di sebelah Bryan. Pria itu pun terkena siraman air.
Mereka berdua terbatuk-batuk. Namun Farhan dan Bryan sama sekali tidak mampu bangun lagi. Hanya mengerjap-ngerjap dan kembali tidur lagi.
"Percuma saja Nona, mereka sudah mabuk berat. Persiapkan saja kamar khusus yang jauh dari jangkauan anak-anak, saya akan membawa suami Anda dan si biang kerok itu." Mata Rico memicing sinis ke arah Felix.
Pandangan tidak senang sangat kentara. Bagaimapun juga, Rico pernah memiliki pengalaman buruk dengan Felix. Beberapa tahun silah saat ikut menemani Farhan menghadiri acara seperti ini, Felix tak sengaja mencium pipi Rico karena mengira dia adalah wanita bayaran. Saat itu juga, Rico langsung menampar Felix murka.
Kejadian itu hanya Rico yang tahu. Karena tiga orang itu sudah mabuk dan tidak ingat apa-apa lagi.
Shea menatap Rico heran. "Apakah Anda sudah sering melihat kejadian ini? Sepertinya Anda sudah paham betul tentang kegiatan tahunan mereka bertiga. Aku pikir hanya pesta biasa, tidak sampai segila ini." Shea mengepalkan tangannya kesal. "Semua ini pasti ulah Felix," lanjutnya murka.
Rico menghela pelan seraya berkata, "Tidak ada yang perlu disalahkan, Nona. Mereka memang sama-sama berubah jadi gila kalau sudah berpesta seperti ini."
Shea menatap Rico dengan semangat berkobar. "Kupastikan ini yang terakhir kalinya!" geram Shea.
Wanita itu beralih menatap Lisa yang sepertinya tidak marah dan terlihat santai dengan ponsel di tangannya. "Kamu tidak kesal, Lis?" tanya Shea penasaran.
"Untuk apa aku marah pada orang yang tidak sadar! Lebih baik aku membuat dokumentasi. Video gila ini bisa kujadikan senjata kapan saja," ucap wanita muda kelulusan universitas Harvard itu.
"Kalau begitu kirimi aku videonya juga. Aku benar-benar kesal." Shea membanting ember di tangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai seperti bocah.
Benar yang dikatakan Lisa, marah pada orang mabuk tidak ada gunanya sama sekali. Sia-sia tenaga Shea terbuang pagi-pagi hanya untuk memarahi orang yang tidak sadar.
***
Yeay ... udah empat bab hari ini ... jangan lipa bagi-bagi votenya ya 😢
Written by: Myafa & Anarita