
Selamat datang di dunia nyata, Lisa. Di mana hidup penuh perjuangan dan persaingan ketat. Seseorang yang tidak suka denganmu, akan menghantam dirimu dengan telak baja saat kau melakukan sedikit kesalahan.
Mereka bilang, itu adalah kritik yang baik sekaligus membangun. Nyatanya, semua itu tak ubah dari kata penghinaan yang disembunyikan rapih dalam bentuk kritik dan saran. Di mana perkataan mereka menegaskan,
'Saya lebih layak darimu, harusnya bukan kamu yang berada di sana. Kinerja saya lebih bagus. Kamu tidak layak mendapat gelar itu'
Ah, sungguh sangat menyakitkan. Setiap orang dewasa pasti paham, mana kritik yang membangun dan mana yang terkesan menjatuhkan. Lisa sungguh tertekan berada di kantor ini. Apalagi semua orang memandangnya sebagai manusia beruntung sejagat raya. Si pemula yang mendapat medali emas. Yaitu orang kepercayaan Farhan ketiga setelah Rico dan Katy.
"Saya akan meng-cross check data ini kembali, Bu." Lisa menunduk dengan hati yang dibuat setegar mungkin.
"Jangan pikir jabatanmu sekertaris muda, kau akan mendapat hak istimewa dari kami. Sejatinya, kau belum layak dengan jabatan ini."
"Saya akan berusaha menjadi layak." Lisa menjawab sesabar mungkin. Padahal, kesalahan yang ia buat tidak seberapa. Tapi jabatan istimewa itulah yang membuat Lisa dianggap melakukan kesalahan fatal. Orang-orang menuntut Lisa harus sempurna karena berani loncat jabatan. Menyalip orang-orang yang lebih lama bekerja di perusahaan itu. Tanpa mereka tahu, bahwa Lisa jauh lebih digembleng keras oleh Farhan di Amerika.
Hanya karena kesalahan kecil ... ah, sudahlah. Anggap saja ini ujian.
Lisa kembali ke meja kerjanya. Merenung sembari mengecek ulang beberapa data yang salah. Ia tak habis pikir bahwa dunia kerja sekejam ini. Mengapa mereka senang sekali menjatuhkan orang lain?
Kata pepatah, semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya. Akan tetapi, Lisa merasa belum menjadi pohon. Dia hanya biji yang baru tumbuh tunas. Lalu diinjak sebelum bisa merasakan tumbuh menjadi pohon.
Bagaimana dengan Farhan? Apakah dia tidak membela istrinya? Tentu saja jawabannya adalah tidak.
Rico berjalan pelan ke arahnya. Menaruh laporan sambil menatap pria itu dengan mimik wajah serius.
"Nona Lisa dimarahi manager dari bagian keuangan. Apa Anda tidak ingin membelanya, Tuan?"
"Tidak."
Farhan menjawab tanpa rasa beban.
"Tapi dia istri Anda. Apa tidak sebaiknya Anda membelanya? Apalagi kesalahan nona Lisa tidak seberapa."
"Tidak perlu. Dia tidak akan berkembang jika aku membela kesalahannya. Biarkan saja dia dimarahi, agar Lisa tahu seberapa kejamnya bertahan di hidup di lingkungan pekerjaan. Kau 'kan tahu, bahwa aku tidak pernah menyangkut pautkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi."
"Baik, Tuan."
Rico memilih untuk kembali duduk. Ucapan Farhan ada benarnya juga. Pria itu memang tidak suka mencampur tangani urusan pribadi dan pekerjaan. Selama itu wajar, Farhan tidak akan membela kesalahan Lisa. Semua karyawan mendapat perlakuan yang sama. Sebagai boss besar, Farhan lebih memilih untuk tidak mencampuri urusan karyawannya yang berbagai macam. Meskipun ia tahu ada beberapa karyawan yang lebih mengutamakan cari muka dibandingkan kinerja kerja.
***
Merengut masam, Lisa menaruh sepiring nasi goreng di hadapan Farhan. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Di mana Farhan datang secara mendadak setengah jam lalu. Pria itu mengeluh kelaparan karena tidak sempat makan siang dan juga melewatkan jam makan malam.
"Kenapa Anda tidak bilang kalau mau ke sini?" Lisa memangku dagu. Menatap sebal pria yang tengah sibuk menikmati satu piring nasi goreng buatannya.
"Aku sudah bilang, kalau aku akan menginap di sini dua hari sekali. Jika kemarin aku di rumah, artinya sekarang aku di sini." Kembali menyantap nasi goreng hangat itu. Nasi yang hanya digoreng asal menggunakan bawah putih, bawah merah, dan juga garam secukupnya. Warnanya pucat dan tidak ada menarik-menariknya. Herannya Farhan sangat menyukai, dan bahkan ...
"Buatkan aku satu lagi." Farhan menyodorkan piring kosong hingga mulut Lisa menganga lebar. Sebanyak itu nasi goreng yang Lisa buat. Ternyata masih kurang. Apa perut itu karung beras?
Lisa berdecak sebal. "Apakah kantung perutmu mampu menampung apa saja Tuan? Kupikir wajahmu tidak seimut Doraemon." Lisa mengambil piring, menggerutu kesal tapi tetap pergi ke dapur untuk membuatkan nasi goreng satu piring lagi.
Derita seorang istri. Harus serba bisa dan selalu ada.
Tak lama kemudian, nasi goreng piring kedua buatan Lisa telah jadi. Farhan langsung menyambar nasi goreng itu dari tangan Lisa secepat kilat. Menyantap dengan lahap seolah itu makanan terenak sedunia.
"Apa itu enak?"
Pokoknya persis seperti hidup Farhan yang hambar dan tidak berwarna.
"Ya, sudah ... makan dulu, aku mau ke kamar. Oh ya, hari ini aku sedang datang bulan."
"Uhuk!" Pria itu tersedak kerupuk kulit. "Datang bulan?" Farhan nampak terkejut. Wajahnya merah padam seperti kepiting di bakar.
"Anda kenapa, Tuan? Jangan bilang Anda tidak tahu istilah datang bulan?" tanya Lisa sok dibuat heboh.
"Tentu saja aku tahu. Kenapa kau tidak bilang?"
"Untuk apa saya bilang?" Lisa menyipitkan matanya tidak paham.
"Tentu saja aku tidak akan ke sini kalau kau sedang datang bulan,"gerutu Farhan kesal.
Tidak mau munafik. Farhan memang sengaja ke apartemen Lisa hanya untuk melancarkan aksi ritual aye-ayenya. Secara pengantin baru, gitu lo! Akan tetapi, kalau si lembah sedang banjir bandang, untuk apa dia kesini?
"Maaf, aku lupa."
Lisa tertawa jahat dalam hati. Ada tanduk di kepalanya karena sukses melancarkan aksi membohongi Farhan. Pria itu langsung muram seketika.
"Aku siapkan kamar untuk kita tidur dulu." Lisa buru-buru lari ke kamar sebelum Farhan protes macam-macam.
Sepuluh menit berlalu begitu saja.
Oh betapa malangnya, karma datang pada Lisa begitu cepat. Anggap saja ini merupakan bentuk durhaka seorang istri pada suaminya. Meskipun Farhan hanya mampu bertahan tiga menit sepuluh detik terakhir kalinya, tak seharusnya Lisa membohongi Farhan seperti itu. Jangan ditiru. Apa gunanya Tuhan membuat peraturan agar suami istri tidur bersama kalau bukan untuk saling terbuka satu sama lain dalam hal apapun.
"Kamu kenapa?" Farhan menyerngit heran. Dilihatnya Lisa sedang mondar-mandir tidak jelas sambil kepusingan sendiri.
"A-a-aku." Bicara gadis itu sedikit terbata. Wajahnya pucat menahan sakit di perutnya. "Aku datang bulan," lirihnya memelas iba.
"Aku sudah tahu," jawab Farhan. "Terus kenapa?"
"Aku tidak punya pembalut." Secara ia baru datang dari Amerika beberapa hari yang lalu. Lisa bukan orang telaten yang sudi membawa pembalut kemana-mana.
"Lalu?"
"Tolong belikan," lirihnya lagi.
"Kenapa tidak beli sendiri?" Farhan melengos. Malu mendengar pembahasan sensitif seperti itu.
"Memangnya kau tidak bisa jalan sendiri?"
"Tidak bisa. Baru saja keluar dan langsung deras. Perutku juga sakit." Lisa menjatuhkan lututnya di depan Farhan.
"Tuan, maafkan kesalahanku. Sebenarnya yang tadi aku berbohong, aku tidak sedang datang bulan."
Lisa menjatuhkan lutuhnya seperti pelaku tindak kejahatan. Dia tak berani menatap Farhan yang pastinya murka luar biasa.
***
Siapa yang udah liat visual? di ig @anarita_be Nanti juga akan ada bentuk video...
Jangan lupa bagi poin ya, biar ranknya gak turun terus😢.