HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 27 : (Season 2)



"Botol kecap ngapain ke sini?" gumam Cilla sesaat setelah ia keluar dari kamar utama Farhan dan Lisa.


Cilla baru bangun dari tidurnya. Ia sangat murka begitu Melihat Bunda kesayangannya sedang mengobrol asik dengan Malika di ruang keluarga. Seakan ada yang membakar-bakar diri, anak itu langsung pergi mencari kakaknya tanpa menegur Lisa dan Malika terlebih dahulu.


Cello sedang belajar di kamar saat Cilla menghampiri. Lisa sengaja menyuruh anak itu ke kamar karena ingin mengintrogasi dan berbincang dengan Malika mengenai sikap Cello yang berubah akhir-akhir ini. Wanita itu ingin menelaah lebih dalam tentang kasus tidak wajar ini dengan hati-hati. Setelah melihat dari sudut pandang Malika, baru ia mengintrogasi Cello mengenai rencananya yang ingin menikahi Malika kalau sudah besar.


Tanpa Lisa tahu, bahwa Cello dan Malika sudah sepakat untuk tidak berteman lagi.


"Kakak!" Suara Cilla memekik. Bibirnya terlipat dalam dengan wajah lesu khas bangun tidur. "Kenapa ada botol kecap di rumah kita?" lanjutnya.


Cello meletakkan pensil biru di tangannya ke atas buku. Kemudian menoleh pada sang adik yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan wajah tak senang. "Yang bawa ke sini ayah Hanhan. Kamu marah sama ayah aja gih," ujar anak itu cuek.


"Ngapain ayah Hanhan bawa Malika ke sini?" tanya anak itu merasa tidak terima karena Malika sudah bukan lagi teman mereka


Seandainya ayahnya memang sengaja mengajak Malika pulang, yang Cilla mau anak itu menolak tawarannya, bukan malah ikut ke rumah dengan tidak tahu diri seperti itu. Kan yang memutus pertemanan di antara mereka Malika sendiri. Harusnya Malika yang menjauh dan tidak usah datang ke rumahnya.


"Kata Malika orang tuanya masih di perjalanan dari Bandung ke rumah sakit. Jadi ayah ajak dia ke sini karena di sana gak ada yang jaga. Mungkin ayah kasian," terangnya.


Cilla tetap tidak mau menerima alasan itu.


"Huh!" Gadis kecil itu mendengkus kesal. Tangannya sudah terlipat di depan dada dengan lipatan-lipatan yang mulao timbul di sekitar dahinya. "Botol kecap itu emang gak tau diri! Udah ngatain ayah Hanhan jahat, tapi malah ikut sama ayah. Pokonya Cilla nggak suka ada anak itu di sini Kak," geramnya.


Bibir anak itu juga ikut manyun-manyun. Persis seperti ekspresi aktris cilik ketika sedang bersandiwara di depan layar teve.


Anak jaman sekarang memang luar biasa. Mereka cepat tanggap jika itu mengenai hal-hal yang berbau hiburan. Gaya bicara dan pembahasannya pun suka nyeleneh dan acap kali aneh. Kadang membuat orang dewasa mendadak tercengang dengan tingkahnya yang menyalahi aturan anak di bawah umur.


Contohnya seperti Cello saja. Masih delapan tahun tapi sudah membicarakan pernikahan dan bahkan mengajak gadis orang tunangan tanpa sepengetahuan orang tua.


Tapi ya begitulah kelakuan bocah yang suka panggil dengan sebutan familiar 'Anak Jaman Now'. Orang tua sekarang harus benar-benar waspadah. Lengah mendidik sebentar saja anak kita bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang berbau negatif. Maka dari itu Farhan dan Lisa sangat ketat membatasi segala pergaulan si kembar. Tak terkecuali media online yang kerap menjadi tujuan para anak belum cukup umur.


***


"Oh ... jadi Cello ngajakin kamu kabur karena dia gak terima liat kamu digalakin sama kakak kamu?" Lisa tersenyum-senyum geli mendengar setiap penjelasan Malika. Gadis itu sudah menceritakan semuanya pada Lisam Termasuk surat-surat pendek yang sering Malika dapatkan dari Cello.


Gadis kecil itu terus bicara asik sambil sesekali menyendok es krim cup di tangannya.


"Sebenernya dia gak liat. Tapi dia liat aku nangis di belakang sekolah. Ello juga denger pas aku bilang mau kabur gara-gara berantem sama kakak, Tan," ujar Malika. "Padahal aku nggak serius dan cuma lagi ngomong sendiri. Gak taunya Ello denger dan liat aku," lanjutnya kemudian.


Lisa bertanya, "Kakak kamu memang galak banget sampai kamu gak tahan?"


Malika menggeleng pelan. "Engga galak, tapi mereka kurang suka liat ayah dan ibuku lebih sayang aku daripada mereka. Satu-satunya kakak yang beneran sayang aku cuma mas Rama. Tapi dia udah nikah dan tinggal di luar kota."


Rama adalah anak pak Farik yang pertama. Umurnya sepantaran dengan Reyno. Maka dari itu dulu pak Farik sangat menyukai Reyno lantaran anak itu sepantaran dengan anak kandungnya sendiri.


"Sabar ya ... kalau ada apa-apa bilang ke ayah dan ibumu. Jika kakakmu nakal atau berani memukul harus dilaporkan, jangan sampai dipendam sendiri," ujar Lisa menasehati.


Ia tidak ingin Malika tumbuh menjadi pribadi yang suka memendam rasa sepertinya. Gadis kecil itu pun mengangguk, mengiyakan ucapan Lisa barusan.


"Kamu mau nambah es krimnya lagi ngga?" Lisa sudah berdiri dan meraih gelas cup di tangan Malika yang sudah kosong.


"Ngga usah Tante. Lika udah kenyang," ucapnya malu-malu, padahal ia masih ingin nambah kalau bisa dua atau tiga cup lagi.


"Ngga usah sungkan, Tante ambilin dulu ya!"


Lisa tersenyum melihat tingkah Malika yang tampak malu-malu. Wanita itu pun lekas pergi ke dapur untuk mengambil es krim. Lisa kembali dengan membawa tiga cup es krim di atas nampan. Ia berjalan ke kamar Cello untuk mengajak makan es krim bersama.


Terdengar suara cempreng Cilla dari balik bingkai pintu. Pertanda bahwa anak itu sudah bangun dan sedang berada di kamar kakaknya.


Saat Lisa sedang memutar handle pintu. Tiba-tiba pandangannya terasa kabur. Semuanya berubah kuning dan perlahan berubah menggelap. Lisa memegangi kepalanya yang mendadak sakit sampai tak bisa ia tahan lagi. Perlahan tubuhnya melemas dan terasa ringan seperti sedang melayang.


Brughhh!


Lisa ambruk di depan kamar Cello dengan nampan es krim yang tumpah kemana-mana.


***


Ada yang tau Lisa kenapa?


Kira-kira seperti apa ekspresi Farhan?


Jangan lupa kacih hadiah bunga bunga dan kopi biar aku kuat nulis lagi ya. Hehehe.


Met saur ya. Aku bobo dulu, ngantuk nih bergadang.