HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 55 (Season 2)



Cello setengah berlari melewati deretan kelas empat dan lima. Ia menuju ruang di mana adiknya tengah melangsungkan sebuah pemotretan bersama anak yang terpilih lainnya. Dengan penuh kesabaran ia duduk di bangku luar seraya memegang botol minum dan sekotak roti lapis di tangannya. Kepalanya sampai tertunduk-tunduk karena matanya sudah bosan dan sedikit mengantuk.


Ruangan yang dekat dengan kelas Malika itu tak membuat Cello ingin menyelusup ke kelasnya. Hari ini mood anak itu sedang tidak bagus untuk dibawa menggoda kakak kelas pujaan hati.


Selang beberapa lama kemudian, guru dan fotografer keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan beberapa murid yang juga sedang istirahat di dalam.


"Bu, saya mau nganterin makanan untuk adik saya," seru Cello mendekati. Guru cantik dengan lekuk tubuh bak model itu mengusap kepala Cello lembut. "Masuklah," ujarnya dengan senyuman.


"Terima kasih Bu." Namun Cello tak kunjung masuk. Ia mengintip dari balik jendela terlebih dahulu. Mencari sosok adiknya yang ternyata sedang memainkan gawai di ponselnya.


Anak-anak SD yang terpilih menjadi model memang diberi keistimewaan khusus di sekolah. Mereka diperbolehkan membawa gawai di waktu-waktu tertentu, dan diperbolehkan memanjangkan rambut hingga sebahu untuk model visual laki-laki.


"Kak!" teriak Cilla dari dalam. Cello segera masuk ke dalam lantaran sudah terlanjur ketahuan.


Ia melihat Evan yang sepertinya juga ikut pemotretan. Anak itu segera lari keluar ruangan begitu melihat Cello masuk. Cello tak menghiraukan apalagi menegur, ia lekas menghampiri sang adik yang tengah duduk di bangku terpojok.


"Dasa manusia filter," cibir pria kecil itu sinis. Matanya tertuju pada tangan Cilla yang sibuk memilah-milah filter di ponselnya untuk melakukan swafoto (foto sendiri menggunakan kamera ponsel/digital).


Cilla mencebik sebal. "Memangnya kenapa kalau aku foto pake filter? Masalah buat kakak?"


"Ngga papa sih, itu 'kan hak kamu. Lanjutin aja. Lagian kata bu guru itu bakat terpendam anak perempuan dari masa ke masa. Sayang kalau ngga dilestarikan," cibirnya lagi.


"Kaaak!" decak Cilla melotot sebal.


Cello tertawa jenaka. Ia membuka penutup botol air minum Cilla dan menyodorkannya pada sang adik. "Minum dulu, nanti kalo tenggorokannya kering hasil fotonya jelek."


"Aku bukan penyanyi," salaknya sengit. "Ngga ada hubungannya tenggorokan sama fotoku."


"Iya-iya, udah minum aja dulu. Aus, 'kan?"


Cilla meneguk sebotol air putih pemberian Cello barusan. Matanya melirik paper bag yang terjaga erat di tangan Cello. "Itu apaan, 'kak?"


"Ini roti lapis buatan bunda. Tadi ayah yang nganterin ke sini."


"Terus ayah nyuruh kita pulang, nggak?" tanya anak itu antusias. Delapan puluh persen mainan yang masih ada di rumah membuat Cilla tak betah tinggal di tempat nyonya Lynda dan pak Hermawan. Ia ingin kembali memeluk koleksi boneka yang banyak di kamar pribadinya.


"Tadi ayah nyuruh kita pulang. Tapi aku tolak dulu." Cello tertawa sambil membuka kotak roti. Lalu menyodorkannya pada Cilla agar anak itu segera mengambilnya.


Cilla menyomot satu roti dengan tatapan yang masih mengarah pada kakaknya. "Loh kok gitu sih, Kak? Aku 'kan udah ngga betah tinggal di rumah nenek. Ayah dan bunda pasti bakalan baik lagi. Aku bisa nebak kalo mereka nyesel udah nelantarin kita. Bunda aja setiap hari telpon aku, ngomong kangen dan pengin ketemu kita."


"Duh, sekali-kali kamu harus ngertiin aku, sebentar lagi aku bakalan disunat. Aku ngga mau. Makannya aku mau ngambek dulu. Kita kembar, jadi harus kompak."


"Emangnya kalau kakak gak pulang ayah bakalan batalin rencana sunatnya?" sinis anak itu kesal.


"Ya engga, tapi aku mau usaha dulu. Siapa tahu bisa."


"Udah dulu deh, nanti bahas lagi kalo kamu udah di kelas, aku mau ke kelas dulu! Jangan kebanyakan pake filter Dek, takut aku ngga kenal adik sendiri." Lantas berlari keluar ruangan demi menyusul sosok mahluk imut incarannya.


Kaki itu berlari tergesa-gesa menyusul Malika, namun sedetik kemudian senyum cerahnya terlebur saat ia menghentikan langkahnya di sebelah gazebo dengan jarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri sekarang. Mata anak itu membelalak saat mengetahi Malika tengah duduk berdampingan dengan Evan. Wajah Malika terlihat begitu antusias saat ia menyodorkan sekotak bekal pada Evan.


Cello langsung bersembunyi di balik tiang agar dapat menguping pembicaraan mereka berdua.


"Kamu beneran nggak suka sama Cello, 'kan Lika?" tanya Evan mengintrogasi dengan serius.


"Beneran. Dia itu anak dari bossnya orang tua aku. Makannya aku selalu baik ke dia. Lagian aku nggak mungkinlah, pacaran sama anak kelas dua," ujar Malika penuh pembenaran. "Ayo cobain, tadi aku juga ikut bantuin ibu bikin nasi goreng itu."


Tangan Malika menyodorkan sekotak nasi goreng itu. Evan menerima dan menyendok hingga kumpulan nasi itu masuk sempurna ke dalam mulutnya. Membuat otak Cello yang sedang menintip jadi mengepul dadakan tidak terima. Lebih tepatnya ia tidak terima dengan ucapan Malika barusan.


"Terus masalah nikah gimana? Beneran kalian mau menikah?"


"Engga tau, lagian dia itu masih anak kecil, kata ayah omongan anak kecil ngga bisa dipercaya, paling kalau udah gede juga lupa sama aku."


Saat itu juga Cello berjanji bahwa ia tidak akan melupakan Malika untuk selamanya. Tekad yang tadinya maju mundur tidak jelas, menjadi semakin bulat. Bahwa Cello akan menikahi Malika suatu saat nanti jika sudah besar. Bagaimanapun juga, ia telah mengantongi izin penuh, baik dari keluarganya sendiri, maupun orang tua Malika.


"Terus gimana, kita mau pacaran apa engga?"


Belum sempat Malika menjawab pertanyaan Evan, Cello yang sudah terlalu kesal berteriak sambil berlari.


"Likaaa!" teriaknya sampai memekakkan telinga. "Aku mau ngomong sama kamu," ujarnya cemberut.


Evan langsung memasang wajah permusuhan begitu melihat kemunculan Cello.


"Ada apa Ell?" Malika mengerjap gugup. Duduknya sedikit berangsur ke belakang seakan ia sedang dilanda segan.


Wajah Malika tampak canggung. Padahal ia tidak sedang berselingkuh dari suaminya.


"Aku mau ngomong sama kamu, tapi nggak di sini." Cello fokus menatap Malika dengan bibir yang sudah mengerucut penuh ancaman. Ia menganggap Evan sebagai mahluk tak kasat mata hingga tidak perlu dianggap ada.


"Van, aku pergi dulu ya." Malika mengikuti langkah Cello. Berjalan beriringan meninggalkan Evan dan nasi goreng yang sedang ia nikmati.


Mereka berdiri tepat di samping kelas lima yang sedikit sepi lantaran murid kelas lima tengah melangsungkan pelajaran olahraga.


***


Yang protes updatenya lama jangan lupa kasih hadiah poin gratisnya ya. Biar aku semangat. Dan up bisa lancar setiap hari. Sedih tau, kalau dukung engga, semangatin engga, tapi ngatur-ngatur pake kata-kata gak enak seolah aku ini budak. Aku juga butuh makan iskh, butuh kerja di dunia nyata, biar bisa beli kuota untuk nulis. Tolong nikmatilah cerita gratis ini dengan penuh kesabaran. Kita sama-sama butuh finansial untuk hidup. Kamu butuh kuota untuk baca, akupun butuh cari uang untuk beli kuota biar bisa nulis.


Untuk bisa beli sepiring gado-gado aku harus kerja banting tulang di dunia nyata dari pagi sampe malem. Tolong ngertiin. Ok.


Makasih atas pengertiannya sayang.