HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Curhat



Lisa ingin sekali ikut bergabung dengan Farhan dan kawan-kawan, tapi ia kasihan pada Shea jika ikut bergabung mengawasi suaminya. Terpaksa, ia memilih tinggal di kamar bersama dengan Shea dan anaknya meski hati kecil Lisa nyaris mati penasan.


Untuk mengalihkan rasa bosan, Lisa mencoba melakukan tutorial menidurkan bayi untuk pertama kalinya. Ia menggendong baby El yang baru saja selesai minum susu. Lisa tersenyum gemas melihat tingkah bocah imut yang merem melek menahan kantuk.


Antara ingin bercanda dengan Lisa, tapi matanya sudah tidak tahan lagi menahan beban kantuk dan perut kenyang khas bayi yang selalu ingin tidur sehabis minum susu.


"Kamu belum ada rencana menjadi sepertiku, Lis?" tanya Shea sambil merapikan tempat tidur untuk baby EL. Tangannya cekatan menyibakkan selimut dan bantal untuk anaknya, tidak mau ada debu atau kotoran kecil sedikit pun agar buah hatinya merasa nyaman.


"Rencana apa, Kak?" tanya Lisa agak canggung. Bagi Lisa yang barbar, mendengar gaya bicara lembut Shea seperti disetrum listrik.


"Eh, jangan panggil aku kakak. Panggil Shea saja." Wanita itu berjalan ke arah Lisa setelah box tempat tidur milik baby El siap.


Lisa tersenyum memamerkan deretan giginya, sifat kalem dan anggun yang ada di dalam diri Shea membuat wanita itu semakin kikuk. "Iya Shea. Maaf ... tadi maksudnya rencana apa?" ulang Lisa sekali lagi.


"Tentu saja rencana memiliki bayi dengan suamimu. Dari caramu memperlakukan El, aku lihat kamu sangat menyayangi anak kecil. Pasti kamu akan senang jika ada bayi di antara kalian," ucap Shea menyarankan. "Atau jangan-jangan kamu sengaja menunda ya?" tambahnya menebak-nebak.


Lisa tertunduk sambil melipat bibirnya dalam-dalam. Wajahnya bersemu-semu, malu. "Aku tidak menunda, sedikasihnya saja, tetapi jika boleh minta, aku ingin fokus bekerja dulu sampai pernikahan kami genap setahun."


Sekalian merawat si kembar yang masih butuh perhatian dan kasih sayang.


"Oh begitu. Memangnya kamu sudah menikah berapa bulan, Lis?"


"Baru dua bulanan. Masih seumur jagung."


"Ah, pengantin baru ya? Sudah bulan madu ke mana aja?" tanya Shea iseng-iseng.


"Bulan madu?" Lisa menatap Shea, jengah. Pikirannya melayang memikirkan bulan madu, merencanakan saja tidak berani.


"Hmm ...." Shea mengangguk, menunggu jawaban Lisa berikutnya. Wanita itu duduk di atas kepala baby El sambil ikut mengelus-elus kening anaknya yang sedang dipangku Lisa.


"Suamiku sibuk, Shea. Mana mungkin ada waktu bulan madu."


"Waah ... padahal kamu belum punya anak kecil yang merepotkan seperti aku begini. Kamu tahu tidak, dari dulu aku ingin sekali bulan madu, tapi terkendala oleh kehadiran si El," ucap Shea dengan muka sedihnya.


"Hah? Kok bisa begitu, memangnya El langsung jadi, Se." Mode mulut bobrok Lisa diaktifkan. Shea terkekeh melihat ekspresi Lisa.


"Bukan begitu, aku dan Bryan menikah karena insiden kecelakaan. Bayi kami sudah hadir sebelum kami menikah. Bryan membuat aku hamil karena kebodohannya." Wajah Shea berubah sedih kembali.


"Oh begitu ...." Lisa tersenyum dengan tatapan hangat. Dia tidak menyangka bahwa Shea akan sejujur ini pada orang baru sepertinya. "Bulan madu tidak penting Shea, melakukan bisa di mana saja. Rasanya pun sama saja," ucap Lisa menggoda Shea.


"Dasar! Kamu bisa saja."


"Belum, dia akan bangun kalau sudah di taruh di box bayi. Apa kamu lelah, biarkan aku saja yang memangkunya," tawar Shea.


"Tidak usah, aku suka memangku anak ini." Mengelus rambut El dengan penuh kasih sayang.


"Makannya cepat buatlah yang seperti itu."


"Sudah setiap saat, tapi belum jadi-jadi." Lisa tergelak. Hilang sudah janjinya pada Farhan agar menjadi wanita anggun selama satu hari.


Sementara itu, Shea juga ikut-ikutan tertawa, rasanya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Karakter Lisa begitu lucu dan menghibur.


"Oh ya, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Mau tanya apa?" Shea memangku dagu dengan antusias.


"Apa kamu kenal dekat dengan Helena? Aku penasaran sekali, secantik apa wajahnya."


Helena? Shea sedikit bingung kenapa Lisa tiba-tiba menanyakan tentang Helena.


"Aku tidak kenal dekat, tetapi karena Bryan ada kerja sama dengannya, aku sempat bertemu beberapa kali dengannya. Dia wanita yang cantik, berkulit putih, tinggi semampai dan tubuhnya langsing," jelas Shea.


"Apa seperti model?" tanya Lisa.


"Bryan bilang dia memang seorang model," jawab Shea, "memang kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku hanya penasaran saja pada wanita yang pernah membuat suami kita jadi cekcok."


"Ah, gara-gara Farhan lebih terlihat perkasa dan memuaskan dari pada Bryan?" Shea terkekeh geli.


"Rupanya kamu tahu juga cerita ini." Lisa seperti menemukan jantung hatinya yang hilang setengah.


"Tentu saja aku tahu jelas sejarah itu, gara-gara Helena, suamiku berubah menjadi seorang cassanova. Tapi aku tidak marah ataupun menyesal, karena kelakuan Bryan yang seperti itulah yang akhirnya mempertemukan kami berdua."


Saat membahas masalah Helena, Shea teringat dengan alasan Helena memilih Farhan dari pada Bryan. "Lisa, boleh aku tanya hal pribadi?"


"Apa?"


"Seberapa hebat Farhan di ranjang?" tanya Shea ragu-ragu. Dia ingin tahu suaminya yang membuatnya kewalahan itu bisa kalah dengan Farhan.


Seketika wajah Lisa merona. Ia sungguh tidak percaya bahwa Shea memiliki sisi barbar di balik wajah kalemnya. Sampai penasaran ingin tahu kehebatan gagang gayung suaminya.