
"Tante Caca!"
Cilla tersenyum lebar saat mendapati wanita bertubuh langsing itu tengah naik ke atas pelaminan untuk menemui mereka berdua. Wajahnya yang sejak tadi cemberut berubah sumringah. Apalagi melihat buah tangan bergantung di tangan wanita itu. Membuat matanya lapar ingin merebutnya saat ini juga.
"Tante Caca!" seru Cello ikut nyaris berjingkrak.
"Hai sayang, Tante kangen banget sama kalian. Duh, udah besar banget ya sekarang ...."
"Iya Tante, udah disunat dong," pamer Cello bangga.
Bianca terkekeh, lantas memeluk dua bocah itu secara bergantian.
Saat kulit mereka saling bersentuhan, rasa rindu dan haru datang menyeruak di antara jantung dan hati. Walau tidak ikut memberi makan, Bianca merasa bangga melihat dua bocah itu tumbuh sehat dan ceria.
Ia menyerahkan dua paper bag yang sedari tadi menghiasi tangan kanannya kepada bocah itu. "Ini hadiah buat kalian. Wajib dipakai ya!"
"Ini apa Tante?" tanya mereka kompak berbasa-basi sambil melongok ke dalam paper bag tak sabaran.
"Ini sepatu, Sayang! yang biru untuk Kakaknya, dan merah muda untuk Adiknya yang cantik." Sambil mentowel dagu gadis kecil itu gemas.
"Terima kasih Tante, Cha!" jawab mereka dengan kompak. Sekompak Sisca Khol dan adiknya yang suka membuat konten masak di dalam kamar.
Bianca tersenyum saat melihat Cilla memeluk sepatu mewah seharga lima belas juta itu dengan wajah terkagum-kagum. Ia yakin orang tua angkatnya lebih dari mampu membelikan barang lebih mahal, tapi yang namanya anak-anak, sejatinya tetap anak-anak.
Mahal dan tidaknya barang yang kita berikan bukanlah sebuah perkara. Yang mereka tahu, hadiah yang kita berikan adalah bentuk kepedulian dan kasih sayang orang dewasa terhadap mereka.
"Tan, aku mau coba sepatunya sekarang boleh, 'kan? Aku gak sabar pengin cobain." Cilla berdiri, masih memeluk paper bag berisi sepatu itu di dadanya erat-erat.
Bianca mengangguk pelan disertai senyuman. Menatap teduh anak kecil yang tengah digandeng bodyguard-nya untuk mencoba sepatu pemberianya. Sesenang itukah reaksi Cilla?
Di saat hatinya sedang terenyuh-enyuh, tiba-tiba Cello menarik dan menggenggam satu tangannya. Mata polos itu menatap Bianca penuh rasa syukur dan haru.
"Makasih banyak ya Tante. Adik aku jadi seneng lagi sejak kedatengan Tante. Apagi Tante bawa hadiahnya dua. Di seneng banget, karena cuma Tante yang peduli dan ngasih dua hadiah untuk kita."
"Aduh, jangan ngomong gitu dong! Tante Cha mau nangis nih!" Bianca mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar mata tak kuasa.
"Emang iya, dari tadi aku sedih liat adek aku cemberut terus karena gak ada yang kasih hadiah ke dia. Mendingan aku gak usah dikasih kalau bikin adek jadi gak seneng! Biasanya kalau ulang tahun kita selalu dikasih kado masing-masing, tapi karena aku doang yang disunat, jadi mereka pada ngasih kadonya cuma ke aku!"
"Aduh!" Bianca mengeluh. Sudut matanya sudah benar-benar mengeluarkan cairan bening yang sedari tadi ditahan-tahan. Ia lekas menyusutnya secepat kilat sebelum dilihat suaminya.
Wanita itu masih tidak menyangka hadiah sederhana yang ia berikan akan sangat berarti bagi mereka berdua.
Membuat Bianca terpaksa berdiri saat tangan kekar Skala menariknya.
"Hy Om Sky!" sapa Cello sok mendongak.
"Ska! Skala Prawira! Jangan mengganti nama orang sembarang kamu!" tukasnya.
"Galak banget sih sama anak kecil. Katanya kangen mereka?" bisik Bianca kesal.
Skala mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca. "Iya kangen, tapi setelah melihat aku jadi bernostalgia pernah cemburu pada anak itu! Dia pernah menyentuh benda favorit yang suka menjadi bahan rebutan aku dan Rain. Bahkan kedudukannya masih lebih unggul karena dia lebih dulu merasakan dibanding anak kita."
"Astaga! manusia ini ya?" Merasa tidak enak dengan obrolan meresahkan itu, Bianca menarik lengan suaminya sedikit kasar. "Tante sama Om Skala ambil minum dulu ya, nanti ke sini lagi."
"Iya Tante."
"Apaan sih, Cha? Aku belum puas mengobrol dengan anak itu tahu!" Skala menyentak lengan Bianca saat jarak mereka sudah agak jauh dari tempat duduk Cello tadi.
"Kalau ngomong sama anak kecil yang bener. Kamu sudah jadi bapak-bapak Ska. Jangan asal mulutnya!"
"Aku hanya berbisik!
"Kalau dia denger gimana?"
Skala tak menjawab. Tiba-tiba pandangannya teralihkan begitu saja. Mata pria itu tertuju lurus pada Farhan dan Lisa yang tengah berdiri di dekat stand minuman. Tanpa peduli, pria itu melangkah menuju tempat mereka berada.
"Ska!" panggil Bianca.
"Aku mau menemui si tuan rumah dulu." Pria itu tersenyum miring penuh arti.
"Kamu mau apa, Ska?" Bianca tampak frustrasi. Langkahnya yang tidak lebar ditambah gaun malamnya yang panjang membuat ia kesulitan mengejar suaminya.
"Skala! Ingat pesanku atau—"
Terlambat. Sekarang pria itu telah sampai di hadapan Lisa dan Farhan.
***
Kasih komen yang banyak dong. Lagi gak mood nulis ini. kwkwkkw