
Seonggok daging di dalam tubuh Farhan masih terluka parah. Walaupun tidak pernah diperlihatkan, tapi Rico dapat merasakan betapa terpukulnya pria itu saat ditinggalkan olehnya. Rico tahu bahwa setengah jiwa Farhan limbung karena mendadak kehilangan batu pijakkan. Namun pria itu yakin, ini bisa menjadi awal dari kebaikan untuk hubungan mereka berdua kedepannya.
Di sebuah ruang VIP, tiga manusia sedang berkumpul bersama. Lisa, Rico, dan Farhan duduk di atas sofa dengan suasana yang mencekam. Penuh dengan aura menghintam di sekeliling mereka yang di mana sumbernya berasal dari tatapan membunuh seorang Farhan.
"Jadi kalian berdua sudah tahu kalau Wicaksono sengaja mengancam, dan kalian berdua malah menyembunyikan semuanya dariku?" Lisa baru saja menceritakan semua itu pada Farhan. Lisa pikir waktu yang berjalan sudah cukup untuk membicarakan hal ini. Ternyata pria itu malah semakin murka mendengar penjelasannya.
Tatapan Farhan beralih pada Lisa seorang. "Kau adalah istriku Lisa! Aku tidak menyangka kau menyembunyikan semua ini dari suami sendiri!" Kembali terdiam, tarikan napasnya begitu kasar hingga dua orang itu bisa merasakan betapa emosinya Farhan saat ini. Ruangan yang suhunya sudah diatur sedemikian rupa tak bisa menghentikan peluh ketakutan yang keluar dari tubuh Lisa saat mendapat serangan batin dari suaminya.
Gemetar-gemetar takut, Lisa mendongak, memberikan jawaban atas kemurkaan Farhan. "Pak Rico melarangnya, Mas! Dia tidak mau terjadi peperangan yang merugikanmu atau dirinya sendiri. Dalam arti, dia rela berkorban untuk keutuhan keluarga kecil kita."
"Apa kau pikir aku tidak bisa mengatasi semua ini?" balas Farhan dengan suara bengis. "Aku kecewa dengan kalian berdua yang berani memutuskan suatu masalah secara sepihak! Apa gunanya aku ada kalau tak dianggap?"
Kesalahpahaman semakin melebar. Pengorbanan yang Rico lakukan tidak tampak sedikit pun di mata Farhan. Pria itu hanya mau satu, Rico kembali ke sisinya.
Merasa suasana semakin panas, akhirnya Rico angkat bicara. "Tidak seperti itu Tuan. Anda salah paham jika berpikir saya hanya memutuskan ini secara sepihak. Semua ini sudah saya pikirkan matang-matang dengan rinci. Saya melakukan ini bukan hanya ingin berkorban untuk keluarga Tuan saja. Kedepannya, saya akan berusaha mendamaikan Revical dan Burning Sun dengan kemampuan saya. Maka langkah yang saya ambil adalah kembali pada Burning Sun. Saya akan terus berusaha melakukan itu sampai yang menjadi tujuan awal terwujud. Mungkin tidak akan langsung berhasil, tapi setidaknya beri waktu dua tahun agar saya bisa melaksanakan tujuan saya," ucap Rico panjang lebar.
Farhan diam sejenak seraya memasang wajah suram. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Kau yakin mampu mewujudkannya? Apa kau tahu seberat apa permusuhan dua grup itu?"
Dia menggelengkan kepala dengan bahasa tubuh meremehkan. Seolah apa yang menjadi cita-cita Rico adalah hal yang sia-sia. "Revical Grup dan Burning Sun adalah musuh yang kekal, tidak hanya tentang aku dan kamu, tapi semuanya! Grup bisnis dari dua perusahaan itu saling membenci. Apa kau bodoh ingin melakukan hal yang sia-sia?"
"Aku akan berusaha, Tuan!"
Jangan panggil aku Tuan! Aku bukan tuanmu lagi!" ketus Farhan. Pria itu berdiri, hendak beranjak meninggalkan ruangan yang terasa pengap dan mencekik. Bahkan Farhan tak peduli pada Lisa yang duduk anteng. Dia sudah berbalik menuju pintu keluar tak mau tahu. Namun, ucapan Rico berikutnya membuat Farhan tertohok.
Rico bangkit dan menyusul Farhan dari belakangnya. "Kalau begitu panggilah aku, kakak. Status kita bukan boss dan bawahan lagi. Kau bisa memanggilku dengan sebutan kakak seperti apa yang kau harapkan di masa remajamu dulu."
Dengan napas memburu, Farhan berbalik dan melayangkan satu tonjokkan, di mana Rico langsung menangkap kepalan itu dengan tangannya.
"Aku sangat membencimu, Kakak sialan!"
"Sialan kau!" Keegoisan Farhan meleleh. Rangkulan kuat pria itu menutup kisah haru dua manusia yang sedang bersitegang. Akhirnya Rico mengizinkan pria itu memanggilnya dengan sebutan kakak setelah saling mengenal lebih dari 10 tahun. Lisa sampai menitikan air mata melihat kedekatan mereka berdua yang tak bisa dijelaskan menggunakan lisan.
Rico menepuk bahu Farhan beberapa kali. Sesat keduanya masih saling merangkul seolah sedang melampiaskan segala rasa yang berkecamuk. "Kau sudah kuanggap seperti adiku, sampai kapanpun kau akan terus menjadi adik kesayanganku."
Buliran air mata Rico jatuh bersamaan dengan isakkan Farhan yang terdengar cengeng. Tidak ada batu bernapas ataupun karakter dingin. Farhan tampak kembali menjadi sosok remaja rapuh yang bertemu Rico beberapa tahun silam. Pria kecil yang sangat berobsesi memiliki seorang kakak.
"Jangan menangisi kepergianku, sebentar lagi kau akan menangisi hal lain." Seringai mengejek tersungging sempurna di bibir Rico begitu keduanya melepas pelukkan.
"Apa maksudmu?" tanya Farhan agak bingung.
Rico melirik Lisa penuh arti.
"Biarkan kakakmu yang baik hati ini beraksi," Dia tertawa, lalu kembali duduk tepat di samping Lisa.
"Sebenarnya ada apa, sih?" tanya Lisa kebingungan. Ditatapnya sang suami yang tampak memucat, lalu beralih pada Rico yang menyeringai licik ke arahnya.
"Ya, apa kau ingin aku menembakmu sampai mati?" Farhan yang sudah tahu maksud dari tujuan Rico langsung menghalau mulut sialan itu agar jangan terbuka.
Ada apa ini? Bisa-bisanya mereka petakilan setelah menciptakan ketegangan dan keharuan. Lisa terbong-bengong, heran.
***
Taraaa ... mau jawab, julukan batu bernapas adalah julukkan yang diberikan oleh si pencuri rendang karena melihat sikap Farhan yang dingin dan irit ngomong. Jadi si pencuri rendang adalah authornya sendiri yang akan masuk ke novel Rico. Dia jadi musuhnya Rico. Banyak yg bisa nebak, berarti mereka udah baca dan ketemu Ana di novel Terpana Asmara Tuan Perkasa.
Makasih ya, semuanya. 🤠Novel masih di aplikasi WP karena slow update, nanti dibawa ke sini kalau bimbim udah tamat.🥰