HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Hancurnya Harga Diri Farhan



Jam makan siang menjadi hal yang paling di tunggu-tunggu semua kariawan. Di mana mereka akan berkumpul di lantai empat untuk menikmati santapan istimewa yang disediakan oleh koki-koki kepercayaan Revical Grup. Melepas penatnya aktifitas pagi dan mengisi amunisi yang sudah terbuang setengah hari. Dari kariawan jabatan tinggi, hingga anak magang sekalipun, semuanya berkumpul di lantai empat. Mereka mendapat jatah menu makanan yang sama tanpa ada perbedaan, sekalipun itu Farhan dan Rico.


"Tumben mau makan di sini, Tuan? Bukannya Anda lebih suka makan di ruangan Anda?" Rico mengedarkan pandangannya. Melihat meja yang nyaris penuh dipadati kariawan.


"Yakin mau makan di sini?" ulang Rico sekali lagi.


"Hmmm, ayo!" ucap Farhan yang sudah melangkah terlebih dahulu.


"Eh, Tuan duduk saja, biar saya yang ambilkan makanan."


"Kau menyuruhku menyari tempat duduk?" gertak Farhan kesal. Pria itu mengeluarkan kedua taringnya. Tentu saja hanya mata batin Rico yang dapat melihat seramnya Farhan seperti apa.


"Saya yang akan cari, ayo kita ambil makanan dulu." Sambil menelan saliva gugup.


Rico bergegas mengambil dua nampan dan perlengkapan makanan lainnya. Pria itu memilih jamur, brokoli, dan berbagai lauk pauk yang tidak menggunakan kecap untuk Farhan. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Rico sudah tahu semua selera Farhan. Bahkan pria itu jauh lebih paham semua tentang Farhan daripada Lisa. Termasuk ekspresi dan merasakan perasaan tuannya. Anggaplah Rico sebagai sekertaris cenayang.


"Ayo Tuan, kita cari tempat duduk."


Rico memfokuskan netra penglihatannya. Mencari dua kursi kosong untuk dirinya dan tuan Farhan. Sungguh merepotkan, biasanya juga Farhan selalu makan di ruang kerjanya. Citranya sudah baik di depan para kariawan, tidak perlu melakukan pencitraan lagi dengan makan bersama.


"Ah, itu ada Lisa! Bagaimana kalau kita ikut bergabung," seru Rico antusias.


"Cari meja kosong yang hanya berdua saja," balas Farhan dengan tanggapan datar.


Kalau mau berduaan, kenapa tidak makan di restaurant saja, Tuan. Merepotkan! gerutu Rico dalam hati.


Pria itu menghela lemas dengan otak frustasi. Ia mengedarkan pandangannya kemanapun, tapi tak didapatinya meja kosong sama sekali.


"Tidak ada, Tuan. Apa sebaiknya kita kembali saja ke ruangan Anda?"


"Tidak usah."


Farhan berjalan mendahului Rico. Lantas bergabung di meja Lisa tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Eh." Lisa sedikit terlonjak dengan kehadiran Farhan. Terasa asing walau sudah sering bersama di luar pekerjaan.


"Selamat siang, Tuan!" Mbak Vivi yang duduk di samping Lisa menyapa.


"Selamat siang juga." Farhan membalas. Tanpa ada senyum seperti biasa. Sementara Lisa hanya diam sambil mengingat ucapan Farhan,


'Di rumah kau adalah adalah istriku, di kantor kau adalah kariyawanku. Jangan pernah lupa akan hal itu.'


Lisa cukup tahu diri, posisinya memang belum bisa disebut sebagai nyonya Farhan meski sudah resmi menikah. Di mata publik Farhan adalah pria single berkarisma. Dan posisi Lisa tak beda jauh dengan wanita simpanan. Harus hidup tersembunyi.


Melangkan cepat, Rico yang membawa nampan juga ikut bergabung bersama Lisa. Duduk di samping Farhan sambil menyodorkan nampan milik tuannya.


"Selamat siang Pak Rico!"


Kali ini Lisa dan mbak Vivi menyapa dengan kompak. Membuat Farhan merasa iri karena Lisa tak mau menyapanya tadi.


"Selamat siang juga," balas Rico. Tak lupa juga ia melempar senyum manis secerah matahari.


"Apakah saya harus pindah?" Mbak Vivi yang cukup tahu diri sudah mengangkat nampan makanannya. Tidak mau bergabung dengan boss dan para sekertarisnya.


"Tidak perlu, lakukan sesuka hati kalian. Anggap kami tak kasat mata. Jangan sungkan," ucap Rico sambil meraih sendok dan garpu. Bersiap untuk mengisi perutnya yang terasa kosong.


"Benarkah Pak Rico? Tapi kami tidak enak jika mengobrol di depan atasan." Secara mbak Vivi suka kemana-mana jika sudah ngobrol. Khas emak-emak tiga puluh tahunan yang suka kebablasan mulutnya.


Rico menjawab lagi, "Silahkan, ini adalah jam istirahat. Semuanya bebas mengobrol selama tidak mengandung unsur sara dan politik."


Mbak Vivi mengelap bibirnya dengan tissu. "Aku mau duluan ya, Lis. Oh ya, ini buat kamu." Ia mengambil sebuah kartu nama, lantas mengulurkannya pada Lisa. Sementara Lisa menyerngit bingung seraya bertanya,


"Ini kartu nama apa, Mbak? Kok klinik, aku 'kan ngga sakit." Lisa memperhatihan kartu nama bertuliskan 'Klinik Mr. Tongjay' dengan seksama.


"Simpan saja, itu sangat berguna untuk kelangsungan hidup kamu. Kalau suamimu masih payah di ranjang, ajak dia kesana."


"Uhuk!" Rico tersedak biji jagung manis. Bahkan sampai masuk ke hidung. Pria itu tak berani menatap boss yang ada di depannya. Membayangkan saja sudah membuat Rico jadi gila.


"Mbak, aku gak perlu!" Tolak Lisa ketakutan.


Mati aku, gumam Lisa frustasi.


Sama halnya Rico, kedua tangan Lisa gemetar ketakutan. Wanita itu melirik ke arah Farhan sedikit. Di mana wajah itu terlihat merah padam. Antara malu dan emosi yang blender jadi satu.


"Jangan bilang gak perlu, ini bisa menambah durasi dari tiga menit jadi tiga jam. Bisa membesarkan juga, pokonya sangat ampuh dan terkenal."


Lenyap sudah harga diri Farhan. Napas pria itu mulai naik turun menahan emosi yang tak tertahankan. Sendok di tangannya sampai bengkok dan nyaris patah.


"Mbak, aku gak perlu sumpah!" Kepala Lisa mendadak berdenyut ngilu, namun mbak mulut mbak Vivi terus membuat onar dengan teganya.


"Datang saja, Lis! Aku serius, banyak yang sudah mencoba dan berhasil. Mister Tongjay adalah penyelamat hidupmu, Lis! Kau harus segera menghempaskan tutorial makan oreo suamimu itu."


Pikiran Rico langsung fasih. Tiga menit, tutorial oreo? Pasti jawabannya; diputar, dicelupin, lalu dimakan. Astaga! Terlalu menggelikan untuk dibayangkan.


"Mbak, temenin aku ke toilet, yuk!" Lisa langsung menarik mbak Vivi sebelum mulut embernya semakin luber. Meninggalkan Rico yang sedang duduk ketakutan sambil sambil merasakan hidungnya yang tersumbat biji jagung.


Pergilah ke ujung dunia, Lisa! Aku mendoakan keselamatanmu, batin Rico yang masih tertunduk pura-pura makan.


"Rico!" panggil Farhan dengan suara menggeram seperti macam lapar. Membuat Rico ketakutan dengan gaya bicara horor itu.


Nyawaku di ujung tanduk, batin Rico sambil berpikir dan mencari alasan.


"Tuan, aku tidak mendengar apapun. Sungguh, aku begitu lapar dan hanya fokus makan. Aissskh!" Rico menjerit saat tatapan Farhan begitu menyeramkan. Alasan pura-pura tuli terlalu bodoh dan tidak masuk akal.


"Tuan," lirih Rico ketakutan.


Pria itu sudah menjadi monster dengan baground neraka di sekelilingnya. Nyali Rico langsung menciut dadakkan.


"Baiklah ... baiklah. Aku mendengarnya, menurutku 3 menit sangat lama, aku bahkan dapat menuntaskan dalam waktu 30 detik saat main solo. Jangan khawatir, semua pria memiliki rahasia masing-masing," bohong Rico yang terus menyelamatkan harga diri Farhan. Karena harga diri Farhan setara dengan nyawanya sendiri.


Kalau boleh berkata, Rico juga nyaris tidak percaya bahwa Farhan selemah itu di atas ranjang. Sama sekali tidak cocok dengan pribadinya yang terlihat perkasadan dengan tubuh kekar.


Farhan masih menatap Rico dengan pikiran yang tertuju pada Lisa seorang. Rico hanya bisa pasrah dengan situasi mencekam yang terjadi saat ini. Sambil mengutuki Lisa dalam hati. Berani sekali anak itu membicarakan aib suaminya pada orang lain, apalagi sekelas mbak Vivi yang hobi nyablak.


Sendok dan garpu di tangan Farhan bengkok semua. Pria itu mengepalkan kedua tangannya emosi.


"Siapkan tambang, mari kita gantung istriku."


Farhan bangkit hingga kursinya jatuh. Meninggalkan Rico yang masih gemetar ketakutan sambil merenungi kesialannya.


Kenapa aku harus ikut menjadi saksi durasi tiga menit itu? Aku lebih baik menjadi orang yang tidak tahu apa-apa daripada mengetahui aib tuan Farhan. Aib ini membunuhku. Aku bahkan tidak berani bertemu dengan tuan Farhan saat ini.


***


Jangan lupa vote ya, kalau masih mau lanjut. Biar aku gak males-males nulisnya. 🤣