
"Ibu, haruskah kita menyamarkan statistik?"
Ah, itu benar, akan terjadi kehebohan jika mereka melihat murid dengan level 1000. Aku sudah mendapatkan kembali secuil dari kekuatanku, apa aku bisa merubah statistik sendiri?
"Menu."
Tak ada jendela status muncul.
"Menu."
Masih belum muncul. Aku tidak bisa melihat statistikku sendiri.
"Delila, coba lihat statistik milikku,"
"Baik."
Delila melihatku dengan seksama, tanda bahwa dia sedang melihat statistikku. Anehnya, aku tak merasakan apa pun, biasanya tubuhku akan terasa aneh jika seseorang melihat statistik milikku. Namun, aku tak merasakannya kali ini.
"Ibu, Saya sama sekali tidak bisa melihatnya,"
"Apa?"
Seharusnya semua statistikku kosong, tapi sekarang tidak muncul sama sekali. Apa yang terjadi sebenarnya?! Tenang, tenang ... apa karena kekuatanku mulai pulih? Jika tebakanku benar, sepertinya ini dimulai ketika Saintess memberikanku buff sebelumnya. Jika itu benar, besar kemungkinan statistikku akan muncul saat kekuatanku sepenuhnya kembali. Mungkin sistem tak bisa membaca statistikku karena debuff ini.
"Erish, apa ada kasus seperti statistik tidak bisa dibuka?"
"Hal ini baru pertama kali terjadi, Yang Mulia, tapi Anda tidak perlu khawatir, banyak yang belum memiliki statistik, namun bisa menggunakan sihir-sihir dasar. Hal itu karena mereka belum bangkit sepenuhnya, kebangkitan terjadi jika seseorang membunuh monster tertentu,"
Huh? Belum ada statistik, namum bisa menggunakan sihir? Terlebih lagi mereka harus membunuh monster untuk mengaktifkan jendela status. Jadi seluruh orang di dunia ini memiliki kemampuan dasar, namun mereka tidak memiliki keinginan untuk mengaktifkan jendela status? Tidak, tidak, aku yakin penjelasan Erish keliru.
"Erish, apa yang kau ketahui tentang mereka yang belum membuka statistik mereka?"
Erish terlihat kebingungan. "Mereka yang belum memiliki statistik atau belum bangkit memiliki level di bawah 10, kemampuan mereka akan terlihat jika telah menaikan level di atas 10,"
"Huh ...." Aku mengusap-usap keningku.
"Ya-yang Mulia?"
Dugaanku benar, pemikiran kami berbeda. Baginya statistik itu merupakan kebangkitan ketika melewati level 10.
"Biasanya mereka yang belum bangkit tidak akan bisa dibaca oleh item penilaian," sambung Erish.
Ah, jadi begitu, ini semakin memudahkanku.
"Baiklah." Aku berbisik pada mereka berdua. "Saat ini, namaku ada Alissia, bukan Alissa, dan kalian tetap menggunakan nama kalian masing-masing. Delila, berikan item pengubah statistik pada Erish,"
Walaupun dengan item itu, aku tetap tak bisa menggunakannya jika statistikku tak muncul.
"Ibu!" Selene yang sebelumnya terduduk lemas kini berlari menghampiriku.
"Kebetulan sekali, Selene, sampaikan pada saudara dan saudarimu yang lainnya, aku akan pergi cukup lama, lindungilah Kerajaan ini. Aku menunjuk Elina sebagai orang yang berwewenang selama aku tidak ada di sini,"
Selene terlihat sedih, ia tak merelakanku untuk pergi.
Hei, aku tidak mati!
Dan sekarang, satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada dua pria di belakang Selene. Aku ingin mempercayakan sesuatu yang besar pada mereka.
"Glenn, Pahlawan, aku ingin memohon pada kalian,"
"Apa yang Ibu lakukan?!" Rayna langsung menyela perkataanku.
Vampir kecil ini memang merepotkan!
*Plak!
Sesuatu memukul kepala Rayna dari belakang. Aku tak tahu siapa pelakunya, namun berkat itu aku bisa meneruskan perkataanku.
Keduanya perlahan mendekatiku.
"Aku mempercayakan masalah perkembangan Kerjaan ini pada kalian, terutama padamu, Pahlawan, aku akan membayarmu sangat mahal, tuangkan semua hal yang ada di kepalamu,"
Pahlawan terlihat ragu menjawab tawaranku.
Penguntit membisikkan sesuatu di telinga Pahlawan.
Aku menghadang ketiga putriku yang ingin menyerang mereka.
Mereka telah selesai.
"Baiklah, aku menerimanya. Sebelum itu, tolong jangan panggil aku Pahlawan, namaku Zain,"
"Terima kasih, Zain, kalian bisa menghubungiku dengan item komunikasi untuk membahas hal apa saja yang bisa kita aplikasikan di Kerajaan ini,"
Keduanya terlihat terkejut dengan perkataanku.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku?"
"T-tidak, Yang Mulia. Hanya saja Saya merasa sepertinya Anda telah mengetahui apa yang ingin kami lakukan pada Kerajaan ini,"
Aku tahu Pahlawan berasal dari dunia lain, kemungkinan dunia yang sama denganku. Namun kecurigaanku mengarah pada Penguntit. Jika mereka memiliki ide yang sama ke depannya, sudah dipastikan Penguntit juga berasal dari dunia lain.
"Hanya itu saja, aku menunggu hasil kerja keras kalian."
Mereka berdua membungkukkan badan dan hanya terdiam. Masih terlihat wajah kebingungan dari keduanya, mereka terlihat sedang memikirkan apa yang harus dilakukan ke depannya untuk memajukan Kerajaan ini.
Delila menyiapkan portal dimensi untuk teleportasi jarak dekat.
Ini hampir sama seperti Perfect Move yang bisa berpindah tempat sejauh mata memandang. Portal dimensi ini memiliki kemampuan yang sama, hanya saja kami bisa pergi secara bersamaan. Dengan ini kami bisa bersantai di dalam ruang dimensi dan membiarkan portal berubah menjadi tak kasat mata dan terus berpindah setiap beberapa kilometer. Kemungkinan kami akan tiba 2-3 hari.
Bisa saja kami berteleportasi ke Wilayah Iblis, karena Kerajaan Mystick berada tepat di perbatasan Wilayah Iblis. Aku hanya ingin sedikit melakukan beberapa persiapan dan memperbaharui tanda. Saat ini koneksiku dengan Ray telah terputus.
Aku memasuki portal dimensi.
Ini pertama kalinya aku masuk ke ruang dimensi. Jika di game, ruang dimensi digambarkan hanya dalam bentuk iventory slot.
Sebisa mungkin aku ingin cepat-cepat kembali ke sini. Jika mendesak, aku akan menyuruh Delila menghancurkan tempat itu dan merebut itemnya. Aku berusaha agar hal itu tak terjadi.
Suasana di dalam portal dimensi begitu hening.
Terbaik?
Hanya kegelapan di mana-mana. Kami memang masih bisa melihat satu sama lain, hanya saja tempat ini seluruhnya berwarna hitam.
Terbaik dari mananya?!
"Ibu, Erish, duduklah di kursi,"
Tiba-tiba ada kursi di belakangku.
Aku masih ingat perkataan Delila tentang ruang dimensi yang di mana ia menyebut dirinya sebagai Dewa.
"Ibu, ulurkan tangan Anda dan bayangkan tempat yang paling berkesan bagi Anda,"
Aku mengulurkan tanganku. Delila menggenggam lembut tanganku.
Memikirkan tempat yang bekesan?
Aku memejamkan mataku.
Pikiranku terasa jernih. Aku membayangkan air. Jiwaku bercahaya. Aku membayangkan tempat yang sangat cerah. Indera penciumanku rasanya sangat segar. Aku membayangkan angin yang berhembus melewati rambutku. Orang-orang berlarian, dan ada juga yang berbaring menikmati suasana.
Hanya satu kata, pantai.
*Blurb
Terdengar suara guyuran ombak yang terasa familiar di telingaku.
"Wah, bangunan jenis apa itu? Mereka semua menjulang tinggi ke atas, bahkan jumlahnya lebih dari satu," ucap Erish.
Gedung?
Aku langsung membuka mata.
Suara burung camar langsung menyambutku.
Tidak mungkin.
Orang-orang berlalu-lalang di depanku mengenakan pakaian renang.
"Nona Delila, tempat apa ini?! Orang-orang di sini sangat aneh!"
"Aku juga tidak tahu, ini yang kutemukan di dalam pikiran Ibu,"
Aku sangat merindukan suasana ini.
"I-ibu, Anda menangis?"
Ah, bahkan aku tak bisa mengontrol emosiku. Aku ingin berteriak "Aku kembali!", namun itu tidak mungkin.
"Ah, tidak, aku hanya teringat sesuatu,"
Delila mengelus punggung tanganku. "Saya tidak tahu tempat apa ini, mungkin Ibu pernah ke sini dan memiliki kenangan indah di tempat ini,"
Benar, hanya pantai tempatku melepas semua beban setelah bekerja di akhir pekan.
"Ibu, apa Anda ingin berjalan-jalan melihat tempat ini?"
Apa itu bisa dilakukan?
"Ya, ayo kita berkeliling."
Kami berjalan menuju perkotaan.
Jalanan dipenuhi oleh kendaraan seperti mobil, sepeda motor, dan juga pesawat di langit-langit.
"Monster jenis apa itu?!" Erish begitu panik melihatnya.
Delila juga menunjukan ekspresi yang serupa, namun ia enggan mengatakan hal itu.
"Itu kendaraan yang bisa membawamu dengan cepat ke mana saja,"
"Luar biasa, sepertinya mereka terbuat dari logam, apa Kerajaan kita bisa memilikinya?"
Karena hal itu aku menyuruh kedua pria itu, jadi bersabarlah, huhu.
Kami berhenti di lampu merah.
"Apa benda itu dialiri sihir? Saya tak melihat batu sihir atau penyihir di sekitar sini,"
"Di tempat ini tak ada yang namanya sihir, semua dijalankan secara otomatis, benda-benda ini tercipta dari kemampuan otak manusia yang telah berkembang pesat."
Kami berdiri tepat di sebuah gedung megah yang sangat tinggi. Terlihat orang-orang berpakaian rapi dari balik kaca.
Huwaa, lihatlah para budak korporat itu, mereka membuatku mual!
"Delila, apa aku bisa makan di tempat ini?"
"Tentu saja, apa yang Ibu inginkan semuanya ada di sini,"
Dia menyebut dirinya sebagai Dewa di ruang dimensi. Itu bukan sekedar lelucon. Artinya Delila juga bisa menciptakan dunianya sendiri. Aku harus berpikir ulang tentang siapa yang terkuat antara Delila dan Asmodeus.
"Kita akan makan enak kali ini."
Sepertinya aku bisa meminta Delila melakukan hal ini sesering mungkin, terutama saat jam makan, banyak makanan yang ingin kucoba di sini!
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.