
Kerusakan hanya terjadi di hutan ini saja, sama sekali tidak menyentuh kota karena ada penghalang yang dibuat Hela.
"Master." Daisy tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kondisi Daisy sedikit berantakan.
"Daisy, apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
Daisy menunjuk ke atas. Ada dua orang yang sedang saling berhadapan satu sama lain, mereka adalah Delila dan Abigail.
"Semua berawal dari perdebatan kecil," ucap Daisy.
"Ceritakan padaku, Daisy."
-----------------------------------
Beberapa saat setelah Keres pergi.
Delila, Abigail, dan Daisy diam tak berbicara sepatah kata pun. Semuanya menjadi asing ketika Sang Bos pergi.
Abigail menutup portal yang sebelumnya hendak mereka masuki, dia berinisiatif membuka percakapan sembari menunggu Keres.
"Sudah berapa lama kalian bersama dengan Yang Mulia?"
"Aku tak ingat berapa lama, mungkin sudah lebih dari seratus tahun," jawab Daisy.
Delila hanya diam memalingkan wajahnya dari Abigail. Delila merasa risih dengan keberadaan Abigail.
Abigail mulai terpancing dengan sikap acuh Delila, walau Delila lebih kuat, namun Abigail merasakan aura Delila yang sedang melemah.
"Andai aku berada di tempat para vampir waktu itu, mungkin Yang Mulia tak akan mengalami hal menyedihkan seperti ini." Abigail mulai memancing reaksi Delila.
"Apa maksudmu?" jawab Delila yang mulai terpancing.
"Kalian harusnya malu, tidak bisa menjaga Yang Mulia adalah sebuah dosa yang teramat besar."
Delila terdiam. Perkataan Abigail langsung menyerang batinnya, tak ada yang salah dari perkataan Abigail, namun ....
"Sayap hitam, kau sedikit keliru."
"Keliru?"
"Pertama, kami tidak membuat banyak kekacauan agar tidak menimbulkan banyak guncangan ke dunia atas."
"Tapi, vampir kecilmu sudah menimbulkan bencana di dunia atas."
"Itu terjadi tanpa campur tangan Ibu, Rayna hanya membalaskan dendamnya. Dan kedua, Ibu tidak terluka sedikit pun selama pertarungan itu." Delila tidak menghiraukan luka gores yang Keres terima akibat Vlad.
Abigail menyeringai sambil menggetarkan sayap hitamnya. "Aku baru tahu ada orang yang membanggakan kegagalannya."
"Hentikan itu, Nona Abigail, Master tak ingin ada keributan di sini." Daisy juga terlihat kesal dengan perkataan Abigail.
Daisy tidak bisa berbuat banyak. Dulu dia bisa bertarung imbang melawan Abigail, namun saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk mengalahkan Abigail.
"Kukuku, aku hanya mengatakan yang se--" Abigail berhenti berbicara ketika melihat Delila sudah berada di depannya dengan tatapan kosong.
Tangan kanan Delila mengepal dengan sebuah portal kecil di ujungnya.
Abigail langsung menutup tubuhnya dengan sayap hitam.
*Dum!
Abigail terkena pukulan Delila. Tubuhnya langsung terhisap oleh portal kecil. Karena ukurannya yang kecil, hal itu sangat menyakitkan karena portal itu langsung menghisap paksa dirinya. Pukulan Delila menimbulkan suara dengungan yang menyakitkan telinga.
Tak lama kemudian, sebuah portal kecil muncul, portal itu berada dua meter di atas permukaan tanah. Abigail melesat keluar dari portal itu dalam posisi kepala di bawah, lesatannya seperti sebuah tembakan peluru.
*Duaar!
Dataran hancur seketika ketika kepala Abigail menghantam tanah. Seketika daerah itu dipenuhi kepulan asap tebal akibat serangan tadi.
Abigail langsung keluar dari kepulan asap itu, ia terbang menuju Delila. Dia sempat melindungi tubuhnya dengan sayap hitam. Sihir hitam muncul di tangannya, begitu juga dengan Delila, portal kecil masih berada di kepalan tangannya.
Begitulah pertarungan ini berlangsung.
-------------------------------
Aku tak berpikir mereka akan bertarung karena masalah sepele seperti itu. Ini kesalahanku karena meninggalkan mereka tanpa pengawasan.
Seharusnya Hela menyadari keributan ini, karena berada tidak jauh dari wilayahnya. Huh, sekarang aku harus menghentikan mereka.
"Phsycal Boost." Aku meningkatkan kekuatan fisikku untuk sementara waktu.
Sepertinya ini cukup.
Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat, pijakanku juga hancur karena aku mengerahkan seluruh tenagaku.
*Bush!
Aku langsung melompat ke tempat dua orang itu dengan kecepatan penuh.
Dalam sekejap aku sampai di tengah mereka. Karena aku tidak bisa berhenti, aku mengakalinya dengan menarik telinga mereka berdua.
"I-ibu?!"
Aku menarik mereka turun ke bawah dan melempar keduanya saat hampir mencapai daratan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"Ibu, si sayap hitam ini menghina kita!"
"Tidak, Yang Mulia! Saya hanya memberi anak itu sedikit nasihat!"
"Dasar sayap hitam pendusta!"
Mereka benar-benar seperti anak kecil.
Aku manarik tongkatku dari ruang dimensi, dan ....
*Bugh
Aku memukul kepala mereka berdua secara bersamaan. Kini keduanya tenang.
"Kalian berdua membuatku kecewa, terutama kau, Delila, kekuatanmu bahkan belum pulih. Apa kau sudah tidak mendengarkanku lagi sekarang?"
Dia menggunakan Gate Punch, skill bertarung yang sangat merepotkan. Tapi dia menggunakan itu dalam kondisi yang tidak memungkinkan.
"M-maaf, Ibu."
"Dan kau, Abigail, aku tak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya, berhentilah mencari masalah dengan anak-anakku."
"M-maafkan Saya, Yang Mulia."
Aku tak tahu kenapa dia mengatakan itu pada Delila dan Daisy, sepertinya dia punya niat tersembunyi.
"Ayo kita pergi."
Kami berpindah ke menara yang ada di Sekte Hitam.
Tak ada perubahan sejak aku datang terakhir kali ke tempat ini.
"Hanya Saya, Sharah, dan Ard yang memiliki akses ke tempat ini," ucap Abigail.
Ard?
"Hmmm ... Abigail, kalian bisa meninggalkanku di sini. Bawa mereka berdua berkeliling wilayah Sekte Hitam, jangan membuat kekacauan."
"Baik, Yang Mulia." Ketiganya pergi meninggalkanku.
Sekarang, aku harus mulai dari mana? Ada beberapa rak buku, hmmm ... di mana buku yang waktu itu?
Aku mulai mencari dari rak ke rak lain untuk mencari buku yang ditulis Keres.
Buku itu pernah memicu kekuatan Keres, itu terjadi saat aku tertidur. Walau isinya membosankan, tetap saja aku sangat penasaran dan ingin membacanya lagi.
Perhatianku tertuju pada sebuah pintu di sebelah rak buku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendorong pintu itu. Energi sihir terasa di tanganku ketika hendak mendorong pintu itu.
Aku memaksa masuk, namun energi sihir memahan pintu ini.
Sepertinya aku tahu masalahnya.
Aku mengalirkan energi sihirku pada pintu. Tak selang beberapa lama pintu perlahan terdorong.
Sepertinya hanya bisa dibuka olehku atau Abigail dan Putri Sharah. Waktunya masuk!
Perlahan ruangan mulai terlihat, sampai akhirnya terbuka sepenuhnya.
Tempat tidur, rak buku, meja kerja, lemari pakaian.
Apa ini kamarku? Aku tidak asal mengklaim, karena aku merasakan energi sihir dari beberapa barang yang sama denganku.
Aku langsung menuju tempat tidur dan perlahan berbaring di atasnya.
Sangat nyaman. Ah, kebiasaan lamaku lagi-lagi muncul, sangat berat jika aku melihat tempat tidur.
Ada sesuatu yang keras di balik bantal. Aku langsung mengambil benda yang ada di balik bantal. Sebuah kotak hitam kecil, mirip seperti kotak kacamata, mari kita buka.
Di dalam kotak itu terdapat pil aneh berwarna hitam kecoklatan, jumlahnya ada tiga buah. Tak ada hal aneh dari pil itu, bahkan keberadaan energi sihirnya nol.
Tapi, aromanya sangat menarik perhatianku, bahkan perutku langsung berbunyi ketika menghirup aromanya.
Tidak, tidak! Pil ini sudah ratusan tahun! Sudah kadaluarsa. Tapi, tak ada salahnya jika aku makan satu, 'kan?
Aku langsung memasukkan pil itu ke mulutku. Lidahku terasa manis, aku langsung mengunyahnya saat itu juga.
Ini terasa seperti coklat, tapi tingkat kemanisannya sangat normal, tidak terlalu manis, dan tidak terlalu pahit. Apa aku bisa memakan satu lagi?
"Eh?" Kepalaku tiba-tiba pusing, pandanganku langsung gelap.
Sialan, jangan lagi!
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! TONTON IKLAN DI HADIAH JUGA.