
Apa Yang Mulia tidak dikendalikan? Tapi, kenapa Beliau melakukan hal semacam ini? Aku tidak mengerti maksud perkataannya itu. Ini aneh.
Beliau sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dibuat oleh bawahannya, karena pandangan Beliau terus menghadap ke depan, dan memikirkan masa depan Wilayah Iblis.
"Tidak ada di antara bawahanku yang berhubungan dengan 'Dia',"
Yang Mulia mengalihkan pandangannya ke arahku.
*Wush!
Beliau berada tepat di depanku.
"Kuhk!"
Sama seperti Abbadon, Beliau menyentuh keningku. Tubuhku tidak bisa bergerak karena tertahan oleh sesuatu di keningku.
Sakit!
Kepalaku seperti akan pecah.
Energi sihir memaksa masuk ke kepalaku. Ini benar-benar menyakitkan. Tunggu, apa ini sihir pembaca pikiran? Beliau bisa menggunakan sihir semacam ini?!
Aku hanya terduduk lemas. Penglihatanku tertutup oleh tangannya.
Beliau melepasku.
Tubuhku benar-benar sulit digerakan.
"Bukan Maryna. Berarti yang tersisa hanya Azazel, dia kabur,"
Aku sama sekali tidak mengerti ucapannya. Mencari seorang penghianat dengan cara seperti ini ... terlalu berlebihan.
Seorang pria mendatangi kami.
Pria dengan senjata aneh yang dilawan Azazel.
"Apa kau mencari pria Swordman yang melawanmu sebelumnya, Raja Iblis?"
"Benar,"
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali, dia sangat kuat, aku kehilangan jejaknya,"
"Begitu, ya, aku minta tolong rawat seluruh bawahanku,"
"Saya akan melaksanakannya,"
Apa ini? Kenapa Yang Mulia berkerja sama dengan mereka?
Kesadaranku menghilang.
----------------------
Aku membuka mataku secara perlahan.
Apa aku tertidur?
Aku melihat ke sekelilingku.
Melihat tampilan tempat ini, sepertinya aku berada di kamar. Aku sendirian menggunakan kamar ini? Di mana yang lainnya?
Aku bangkit dari tempat tidurku.
Tubuhku terasa sedikit lemas, namun tidak ada tanda-tanda sakit karena luka.
Aku memeriksa lukaku yang kuterima dari pria aneh itu.
Menghilang?! Bahkan Deep Heal membutuhkan waktu seminggu untuk menghilangkan keseluruhan bekas luka seperti ini. Ngomong-ngomong, aku berada di rumah siapa?
Aku keluar dari kamar.
Ruang tamu? Sedikit kuno dan terlihat miskin.
"Hei, kau sudah bangun?" Seseorang datang menyapaku.
Seorang wanita berambut panjang berwarna hitam dengan mata biru, sebiru lautan. Warna kulitnya yang sedikit coklat sangat cocok dengan matanya. Dia terlihat bersinar.
"Di mana aku?"
"Saat ini, kau berada di Desa Liche, sudah lima hari sejak kau dibawa ke sini,"
Lima hari?! Apa yang terjadi sebenarnya?
"Lalu, di mana Yang Mulia Arys?!"
"Mohon tenanglah,"
Wanita ini, auranya setara denganku. Siapa dia sebenarnya?
"Aku akan membawamu keliling desa,"
"Baiklah, mohon bantuannya,"
Dia membawaku mengelilingi Desa Liche. Desa ini berada di bagian terdalam Hutan Hijau. Penampilan rumah-rumah di sini sangat mirip dengan Desa para Dark Elf. Penduduk Desa Liche memang sangat misterius. Dikatakan mereka sudah ada sejak Dewi menyebarkan karunia sialannya itu ke penjuru dunia.
"Hmmm ...." Aku tidak melihat rekan-rekanku.
"Apa kau mencari sesuatu?"
"Tidak ada,"
Kami terus berjalan sampai keluar dari Desa Liche.
Ke mana dia akan membawaku?
"Kau bisa terbang, 'kan?" tanya wanita itu.
"Bisa,"
Kami terbang menuju ke suatu tempat. Aku mengikutinya dari belakang.
Kondisi hutan ini jauh lebih bagus dari kondisi hutan tempat pertarunganku sebelumnya. Hutan di sini, seperti tidak tersentuh.
Dia memperlambat lajunya dan berada di sebelahku.
"Area ini dipenuhi Beast rank B hingga A. Karena kau bukan orang asli sini, aku tidak bisa membiarkanmu menyentuh sehelai daun pun di area ini,"
Jadi begitu, mereka hanya jinak kepada orang-orang Liche. Tunggu, jadi kenapa mereka memburu Beast?
"Kita sampai,"
Kami keluar dari hutan dan sampai di sebuah kota kecil.
Tidak, ini masih di wilayah Hutan Hijau. Mereka menebangi pohon-pohon di area ini untuk dijadikan kota. Jangan bilang ini ...?
"Kita telah sampai di Ibukota Kerajaan Penyihir Maphas,"
Jadi benar, tempat ini Ibukota Kerajaan. Dilihat dari banyaknya orang
"Eh?"
Undead?!
"Mereka adalah Undead yang dipanggil oleh Yang Mulia Ratu Daisy,"
Undead-undead ini terlalu banyak. Bagaimana dia bisa memanggil ratusan Undead ini? Seorang Necromancer tingkat tertinggi pun hanya bisa memanggil 20 Undead saja. Dan itu hanya tingkat terbawahnya, semakin tinggi tingkatnya, semakin sedikit yang bisa dipanggil. Orang-orang ini benar-benar sangat berbahaya.
Kami berjalan melewati kota.
Sepertinya mereka belum memiliki banyak penduduk tetap di Ibukota. Berarti orang Liche satu-satunya penduduk asli sini. Desain bangunannya terlihat sama seperti di Kekaisaran.
Eh?
Aku berjalan cepat mengikuti sumber energi suci tersebut.
Mataku melebar saat melihat sebuah bangunan yang harusnya tidak berdiri di tempat seperti ini.
Bentuknya, sepeti Gereja. Energi suci berasal dari bangunan ini, apa mereka juga membentuk aliansi dengan Gereja Suci?
"Semua pertanyaan yang ada di pikiranmu itu, jawabannya 'tidak'," ucap wanita yang mendampingiku.
"Apa maksudmu?"
"Orang-orang yang ada di dalam bangunan ini, mereka memang orang dari Gereja Suci, tapi, itu hanya masa lalu,"
"Masa lalu?"
"Mereka saat ini membelot dari Gereja Suci karena suatu hal. Di antara orang-orang itu, Saintess salah satunya,"
"S-saintess?!"
Tindakan bodoh macam apa yang Gereja Suci ambil?! Saintess merupakan salah satu kartu as mereka. Kakak, kau sangat bodoh! Tapi, di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa lega. Melepas Saintess sama saja dengan kehilangan kaki. Pondasi Gereja Suci sudah mulai hancur. Aku harap dengan ini Kakak akan berhenti terobsesi kembali menjadi ras Malaikat.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan,"
"Baik,"
Wanita ini, namanya siapa?
-------------------------
Kami sampai di depan bangunan yang terlihat seperti Istana.
Istana ini terlihat kecil.
"Sedikit lagi, ikuti aku,"
Kami berjalan memutari Istana dan menuju ke bagian belakang.
Di belakang Istana, terdapat lapangan rumput yang tidak terlalu luas. Di lapangan itu ada tenda-tenda kecil yang dibariskan secara sejajar. Beberapa orang lalu-lalang keluar masuk tenda.
Mereka ... para Prajurit Iblis.
"Master!"
Seseorang memelukku dari belakang.
Ternyata itu Edelia, syukurlah dia selamat.
"Lia, bagaimana keadaanmu?"
Dia melepaskan pelukannya. "Kondisi Saya baik-baik saja, Master. Justru Saya yang seharusnya menanyakan kondisi Anda, Saya sangat khawatir!"
Aku juga tidak tahu bagaimana kondisiku sebelumnya.
"Lupakan itu." Aku menolehkan pandanganku ke wanita yang mendampingiku sebelumnya. "Terim-"
Eh?
Wanita itu sudah tidak ada di tempatnya.
Sejak kapan dia pergi? Aku bahkan tidak merasakan pergerakannya.
"Master, ada yang ingin Saya tunjukan,"
Edelia menarik tanganku dengan wajah yang tergesa-gesa. Kami melewati tenda yang ada.
Saat Edelia menarikku, pandanganku tertuju pada orang-orang di tenda. Beberapa wajah mereka terlihat tidak asing di mataku.
Eh? Dia, 'kan?! Beberapa wajah yang kulihat di perbatasan Hutan Hijau ada di sini. Mereka seharusnya sudah mati!
Edelia semakin menarik tanganku dengan kuat sehingga tubuhku hampir terjatuh.
Aku kembali dibawa masuk ke hutan.
Rasanya hutan sudah seperti tempat persinggahan bagiku.
"Master." Tangan Edelia menunjuk ke arah dua pohon kecil.
Sesuatu terikat di pohon itu. Sebuah penghalang terpasang di sekelilingnya.
Sepertinya ada seseorang yang terikat di sana.
Aku berjalan secara perlahan untuk melihat sesuatu di balik pohon.
Edelia memegang tanganku dengan perlahan.
Akhirnya aku melihat siapa orang di balik pohon.
Dua orang ini, penampilannya sangat tidak asing bagiku. Mereka tidak sadarkan diri. Tubuh mereka dipenuhi oleh luka. Salah satu orang di depanku ini juga yang membantuku sebelumnya.
Tapi, kenapa?
Perasaanku sangat sedih.
"Apa yang telah kau lakukan sehingga menjadi seperti ini ... Azazel?"
Edelia menggenggam erat tanganku.
"Tuan Burimo dan Tuan Azazel, mereka penghianat, Master,"
"Penghianat?"
"Saya mendengar Yang Mulia Arys bergumam tentang seseorang yang bernama S****,"
Edelia menyebutkan nama seseorang, tapi aku tidak bisa mendengar nama yang dia ucapkan.
"Kuhk!"
Kepalaku!
"Master!"
"Siapa orang yang kau sebut tadi?"
"S****,"
Telingaku berdengung.
Aku menggenggam tangan Edelia dengan sangat kuat.
"Jangan menyebut nama itu, Edelia. Beberapa ingatan Maryna tersegel." Seseorang datang.
"Maafkan Saya, Yang Mulia!"
Aku membuka mataku secara perlahan dan memandangi sosok yang ada di depanku.
Sosok yang selalu ingin kupandang setiap waktu.
Oh, aku sangat merindukan Anda, Yang Mulia.
"Apa kau baik-baik saja, Maryna?"
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! 🙏🙏