
Baru satu hari sejak kekuatan Hela kembali, mereka langsung menyadarinya dan bergegas ke sini. Mereka bergerak cepat.
"Hmmm ... sebaiknya kalian juga ikut bersamaku ke ruang takhta."
Huh? Bukannya ini kesempatan yang bagus? Aku bisa mengetahui apa yang mereka bicarakan. Entah itu hanya utusan atau salah satu ksatria mereka, aku tak peduli, aku hanya ingin tahu tujuan mereka.
Kami semua pergi menuju ruang takhta untuk menyambut orang dari Gereja Suci.
30 menit kemudian.
Aku dan yang lainnya masih menunggu mereka, kami duduk di bagian kanan dari arah singgahsana.
Sudah setengah jam, mereka belum datang. Tapi, Hela tidak mengirim utusan untuk menyambut mereka. Atau jangan-jangan dia sengaja melakukan ini?
Terlihat beberapa maid manusia yang kembali sejak kejadian waktu itu menunjukkan ekspresi bingung.
Apa yang dia rencanakan?
Tiga orang masuk ke ruang takhta. Mereka adalah Tiga Guru Elite.
"Yang Mulia, Gereja Suci datang untuk berkunjung. Mereka telah sampai di depan istana. Apa keputusan Anda?"
"Biarkan mereka masuk."
Tak lama berselang. Beberapa orang berjubah putih masuk ke ruang takhta, diikuti oleh 12 orang yang menggunakan pakaian sama.
Mereka pasti 12 Saint Suci. Walaupun tidak mengenakan zirah, mereka sepertinya telah mempersiapkan sesuatu jika terjadi hal yang tidak diiinginkan.
"Hmmmm ...?" Pandanganku tertuju pada salah satu Saint.
Seorang wanita. Aku merasa auranya berbeda dengan 11 Saint lainnya. Tunggu ... jika 12 Saint ikut serta, maka ....
"Uskup Agung dari wilayah Gereja Suci akan memasuki ruangan!"
Uskup Agung! Dia benar-benar datang!
Aku melihat ke arah yang lainnya untuk memastikan.
Akan jadi masalah kalau jika salah satu dari orangku kenal dengan mereka. Tapi, seingatku hanya Daisy-lah yang pernah bertemu dengan mereka, dan aku ... sebagai Alissa Hart.
Uskup Agung masuk bersama dengan para Priest.
Dia terlihat anggun dan beribawa, siapa sangka isi kepalanya ternyata sangat busuk. Hmmm
... dia masih terus mengenakan kain penutup mata itu.
Para ksatria yang menemaninya berdiri di samping ruang takhta. Di tengah ruangan hanya ada Uskup Agung dan Saint wanita yang sebelumnya menarik perhatianku.
Dia tidak terlihat arogan seperti di Kerajaan Rexist. Yah, karena ajaran mereka sama sekali tidak bisa menyentuh Kerajaan Mystick.
"Salam, Yang Mulia Ratu Hela Naura Legarde. Saya adalah Uskup Agung dari Gereja Suci, Christa Larafala Ruine,"
Hela menjentikkan jarinya. Sebuah kursi mewah muncul di belakang Uskup Agung dan Saint wanita.
Orang-orang di dalam ruangan, khususnya dari Gereja Suci terkejut melihat apa yang mereka lihat barusan.
"Aku tidak sejahat itu untuk menyuruh tamu yang berjalan jauh berdiri terlalu lama," ucap Hela.
"T-terima kasih, Yang Mulia." Kedua orang itu duduk.
Oho ... aku tahu kenapa dia sengaja tidak menyambut mereka, pelatihan fisik, haha!
Di sisi lain, aku tidak bisa menebak apa yang Hela pikirkan. Dia sangat sulit ditebak.
"Lalu, apa tujuan Gereja Suci datang ke Kerajaan Mystick?"
"Saya akan berterus terang, sisi mana yang akan Anda pilih?" Walau matanya tertutup, aku yakin bahwa tatapan mata yang dia tunjukkan pasti tajam dan tegas.
"Apa hubungannya dengan pilihanku?"
"Anda pasti sudah menyadarinya, 'kan? Orang itu ... Keres Vasilissa, dia telah bangkit dan keberadaannya tidak diketahui,"
Hela menyipitkan matanya. "Coba ulangi siapa yang kau sebut?"
"Keres Vasilissa."
*Bum!
Hela memancarkan aura yang sangat mengerikan. Semua orang menundukkan kepala karena tak kuat menahan aura darinya.
Elina dan Delila masih bisa bertahan.
Huh?
Aku merasakan sensasi aneh di tubuhku.
"Menyebut nama Master dengan mulut kotormu, bagiku itu adalah kejahatan."
Saint wanita berdiri dengan sempoyongan di depan Uskup Agung. "Anda terlalu berlebihan! Kami datang hanya ingin memastikan Anda berada di pihak mana!"
Aura Hela perlahan menghilang.
"Hentikan, Luna, aku yang salah,"
"T-tapi ...?!"
"Cukup."
Kenapa kalian berdebat?!
"Pfft ... hahahaha!" Hela tertawa lepas. "Maaf, aku hanya bercanda tadi."
Dan wanita ini, memang benar ada sesuatu yang salah di kepalanya!
Eh ... apa Hela tadi melirikku sesaat?
"Bercanda Anda terlalu berlebihan,"
"Jadi, kalian bertanya aku ada di pihak mana, ya? Sebelum itu, aku ingin mendengar alasan kalian kenapa tiba-tiba datang untuk menyeretku ke dalam urusan kalian,"
"Anda salah satu muridnya, kami tidak bisa membiarkan orang seperti Anda berpihak pada kejahatan," jelas Uskup Agung.
"Kajahatan, ya? Ini terdengar menggelikan ketika seorang 'peternak' berbicara soal kejahatan,"
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
Wooah! Sepertinya aku dapat informasi menarik. Teruskan, Hela!
"Ah, maaf, aku sepertinya melewati batas,"
"Tidak ada batasan bagi Anda, Yang Mulia,"
"Jika kalian menyamakanku dengan orang itu, kalian salah besar. Aki tidak dibutakan dengan kekuasaan,"
Kekuasaan apanya?! Lihatlah tempat ini, pendusta!
"Dan aku tidak terobsesi untuk menjadi lebih kuat dari Masterku, yah, kenyataannya aku tetap tidak bisa melampaui Beliau," lanjut Hela.
"Apa Anda berani menjamin perkataan Anda barusan?"
"Tindakanku tergantung apa yang dilakukan Masterku, jika Beliau ingin melawan dunia, aku harus mengikutinya." jawab Hela dengan wajah penuh keyakinan.
Orang-orang dari Gereja Suci bersiap mengeluarkan senjata mereka. Kegaduhan pun terjadi.
"Jadi, Anda berniat untuk menentang kami?"
"Wah, kalian membuatku seolah-olah seperti penjahat di sini. Rendah sekali cara berpikir kalian. Apa itu yang Dewi kalian ajarkan?"
Kukuku ... Hela semakin membuat mereka panas.
"Satan sudah menjadi ancaman bagi kami! Bagaimana kami tidak mewaspadai Anda yang juga merupakan salah satu muridnya?!"
Eh, Satan murid Keres?
"Jangan sebut nama bajingan itu di depanku!"
*Bum!
Lagi-lagi Hela mengeluarkan aura intimidasinya.
Aku tidak percaya ini. Satan, bagaimana mungkin?
"Hentikan ketidak sopananmu, Ratu Hela!" Saint wanita mengibaskan pedang yang entah datang dari mana datangnya ke arah depan.
Kibasan itu membelah aura Hela yang menekan mereka.
Saint itu, dia punya penyimpanan dimensi?
"Apa ini pernyataan perang untuk kami, Ratu Hela?!" tanya Saint itu.
Hela hanya diam dengan tatapan tajam.
*Prok Prok Prok
Aku bertepuk tangan. Tidak, tanganku bergerak sendiri!
Tidak mungkin, jangan-jangan ini ....
"Wah, wah, pertunjukan yang bagus," ucapku.
Mulutku berbicara sendiri!
Tanganku melakukan gerakan melepas cincin item penyamaran.
Tidak, tidak! Apa yang kau lakukan?!
Aku berubah ke wujud Alissa Hart.
Sial, berakhir sudah.
"K-kau?!" Orang-orang dari Gereja Suci mulai berbisik-bisik setelah melihatku.
"Sangat menyenangkan melihat kalian kebingungan seperti ini," ucapku, tidak, ucap mulutku!
"Alissa Hart." Uskup Agung terlihat sangat marah melihatku. "Yang Mulia, jadi ini pilihan Anda, ya?" tanya Uskup Agung pada Hela.
Hela hanya diam sambil tersenyum menatapku.
Kenapa kau malah tersenyum?!
"Pantas saja kau tidak terlihat selama perperangan waktu itu. Ternyata kau sedang merencanakan siasatmu di tempat ini, selama ini kami hanya menari-nari di telapak tanganmu. Benar-benar tipu daya yang mengerikan, aku jadi yakin bahwa kau adalah penguasa Kerajaan Penyihir Maphas yang sebenarnya."
Heh ... kapan aku merencanakan itu?!
"Kalian saja yang terlalu gila dengan perang."
Hei, mulut! Kenapa kau selalu memprovokasi mereka?! Aku hanya ingin Hela yang melakukan itu!
Huh?
Saint wanita sudah berada di depanku dalam posisi melayang, bersiap menebas kepalaku.
*Ting!
Delila menahan pedang itu dengan tangan kosong.
Mau bagaimanapun, pedang itu berada pada tingkat legendary. Tapi sepertinya itu bukan masalah bagi Delila.
Saint wanita tampak terkejut dengan Delila. Dia melompat mundur kembali ke posisinya.
"Dengan ini kalian sudah paham, 'kan, tentang jawaban dari Ratu Hela untuk kalian?"
"Cara licik apa yang kau gunakan untuk mencuci otak sang Ratu?"
"Tenangkan dirimu, Uskup Agung." Hela akhirnya angkat bicara.
Selamatkan aku, Hela! Katakan bahwa kita tak memiliki hubungan apa pun!
"Orang ini, tidak, Alissa Hart, dia orang yang telah menolongku. Kekuatanku kembali, semua itu berkat dirinya,"
Habislah.
"A-apa?"
"Jika kalian melakukan hal yang sama, mungkin aku akan berpikir untuk membantu kalian. Namun, Alissa Hart telah menolongku tanpa memikirkan semua resiko yang akan dia terima. Aku berhutang budi cukup besar padanya,"
"Itu artinya Anda ...."
Hela mengacungkan jarinya ke atas kemudian menggoyangkannya. "Tidak, aku tidak akan ikut campur tentang masalah kalian. Namun, ada pengecualian, jika kalian menggunakan sesuatu yang mengancam dunia, aku pasti akan bergabung bersama mereka,"
"Apa maksud Anda?"
"Rumor tentang kalian memanggil Pahlawan dengan cara yang tidak wajar telah tersebar, apa kau pikir aku hanya akan diam saja melihat bom waktu yang telah kalian pelihara?"
Uskup Agung hanya terdiam mengepalkan tangannya.
"Satu lagi, kalian memiliki Malaikat di sisi kalian, 'kan?" lanjut Hela.
Cahaya putih keluar dari punggung Hela. Cahaya itu semakin memanjang dan membesar.
Mustahil.
"Jika kalian membawa Malaikat ke sisi kalian, tidak masalah bagiku untuk ikut mereka yang tidak memiliki Malaikat, 'kan?"
*Bush!
Cahaya putih itu berubah menjadi sayap putih. Sangat besar sehingga kepakannya membuat badai kecil di ruang takhta.
Hela, dia seorang Malaikat?
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!