
Chapter 65 : Keluarga Hart Bergerak
Sebuah kota kecil yang terletak di pelosok wilayah Kekaisaran. Kota yang terkenal dengan perkumpulan para penjahatnya. Hiburan malam, perjudian, bahkan kejahatan terlihat normal di kota ini. Sehingga mereka menyebut kota ini sebagai "Kota Kelam".
"Hei, bajingan! Kenapa kau melihat gadisku seperti itu?!"
"Masukkan dia ke kandang jika kau tak ingin orang lain melihatnya!"
Hal-hal kecil bisa menjadi masalah besar di kota ini. Keributan yang tak berarti, manusia yang serakah hingga kekejian para penguasa tempat ini.
Suasana di luar kota kecil itu sangat senyap, hanya terdengar suara serangga. Karena letaknya yang berada di perbatasan, kota ini sudah terbiasa "hidup" berdampingan dengan alam. Terkadang monster menerobos masuk ke kota, itu adalah pemandangan yang wajar.
Di dalam hutan, ada jalan setapak yang mengarah ke kota, jalan itu terhubung ke seluruh wilayah Kekaisaran, namun hanya jalan itu satu-satunya yang ada di kota.
Ada empat orang yang sedang berjalan menuju ke kota, tiga pria dan satu wanita. Mereka terlihat seperti sekelompok petualang, namun hanya ketiga pria yang benar-benar satu kelompok, kecuali wanita. Para pria menggunakan pedang, sedangkan wanita tak terlihat memiliki senjata di tubuhnya.
"Hmmm ... Nona, jika kau butuh bantuan, kami akan memandumu selama di kota," ucap salah satu dari para pria itu.
Mata ketiga orang itu terus melirik ke arah tubuh wanita itu. Mereka berpikir bahwa wanita ini hanyalah petualang yang ingin cari mati dengan berkelana sendirian ke tempat berbahaya.
Mereka tersenyum licik sembari membayangkan rencana mereka berhasil.
"Apa pendengaranku kacau? Aku mendengar salah satu dari kalian berkata ini pertama kalinya kalian ke kota ini," ketus wanita itu.
Ketiga pria itu spontan panik karena terlalu terbawa suasana. Tak ada yang bisa disembunyikan, mereka serentak menganggukkan kepala.
"Huh ... mau bagaimana lagi? Sepertinya kami harus memaksamu." Mereka memandangi tubuh wanita itu. "Tubuhmu sangat luar biasa, pasti akan banyak orang yang tertarik menggunakan jasamu."
Salah satu dari mereka menjulurkan tangannya ke arah dada wanita itu dengan ekspresi mesum. Dengan keadaan seperti itu, dia berkata, "Biar aku yang memastikan kualitasnya."
Tangan pria itu tidak bisa bergerak. "Ugh!" Sesuatu seperti melilit tangannya.
*Crack!
Darah mengucur deras, tangan pria itu terputus dan hancur di saat yang bersamaan.
Pria itu berteriak histeris karena merasakan sakit yang luar biasa.
"Dasar ******! Dia bukan orang biasa!" Kedua rekannya langsung menyerang secara bersamaan.
Sama seperti rekannya, tubuh keduanya seperti tertahan oleh sesuatu. Terasa seperti benang yang super kuat melilit tubuh mereka.
"T-tubuhku tidak bisa bergerak."
*Crack!
Pria pertama tewas dengan kepala hancur.
Wanita itu mendekat ke arah mereka berdua. Sosoknya terlihat seperti pembawa kematian, kedua pria itu benar-benar ketakutan.
"M-maafkan kami!" Mereka rela menjatuhkan harga diri demi keselamatan. Memohon ampun, bahkan wanita itu belum berbicara sepatah kata pun.
S-siapa wanita ini sebenarnya?! Kami berurusan dengan orang yang salah!
Wanita itu melihat ke arah salah satu dari mereka dengan seksama, terlihat sesuatu menarik perhatiannya.
"Kukira kalian hanya bajingan biasa, ternyata juga bawahan orang itu."
"K-kami tidak-"
*Crack!
Satu orang lagi tewas dengan tubuh yang terpotong-potong. Tersisa satu orang yang mati ketakutan.
"A-aku akan mengatakan segalanya!" Pria itu benar-benar pasrah demi pengampunan nyawanya.
"Di mana pria itu?" tanya wanita itu dengan aura intimidasi yang mengancam.
"T-tuan Berto berada di kota, t-tepatnya di satu-satunya bar terbesar, d-dia telah menguasai jaringan bisnis di kota itu," jawab pria itu dengan tubuh gemetar.
Wanita itu melihat ke arah kota, matanya melihat tajam dengan emosi yang terpendam.
Sepertinya ini adalah pelabuhan terakhir bagimu, Berto.
Kerutan di kening wanita itu terlihat sangat jelas, amarah yang terpendam cukup lama akan terlepas.
"S-siapa kau sebenarnya?" Walau dipenuhi rasa takut, tetap saja pria itu sangat penasaran dengan identitasnya.
Kulit pria itu perlahan mengkerut, rasa sakit semakin bertambah, air matanya terus mengalir deras berharap pengampunan.
"Rose Valentine," jawab wanita itu.
Mata pria itu terbuka sangat lebar, ekspresinya sangat terkejut ketika mendengar nama wanita itu.
"Rose ...."
Ada nama yang terkenal di kalangan penjahat. Ia pernah diberitahu tentang pembunuh kejam yang memiliki nama seperti bunga. Hanya pria itu yang tahu nama seorang pembunuh itu.
*Crack!
Tubuh pria itu seketika hancur berkeping-keping.
Rose Valentine, seorang wanita yang dipenuhi hasrat balas dendam. Hatinya sangat gelap karena dikuasai oleh dendam.
"Lima belas tahun," gumam Rose.
Lima belas tahun Rose mengukir kebencian di hatinya, semuanya tertuju pada satu orang. Ia terus mencari ke penjuru benua, namun tak menemukan orang yang dicarinya.
"Berto Gallian."
Kehidupan yang tidak adil. Menikah dengan teman masa kecilnya, melahirkan di usia tujuh belas tahun. Keluarga kecilnya tak bertahan lama.
Rose merasa dirinya tidak ditakdirkan bahagia. Keadaan membuat mereka mengambil jalan yang berduri. Pada akhirnya semua memberikan hasil yang terus disesalinya.
Rose telah berada di depan bar yang dibicarakan sebelumnya. Bangunannya terlihat besar dan mewah, sangat jarang di kota kecil seperti ini.
Suasana bar terlihat cukup ramai, sebagian besar bar itu diisi oleh orang-orang yang berpengalaman dalam bertarung. Beberapa meja judi sedang digunakan.
Ruangan kecil di sisi lain bar masing-masing berisikan dua orang yang melampiaskan nafsu mereka.
Seorang pria dengan tubuh berisi sedang bersandar di balkon sembari melihat kondisi bar. Wajahnya tersenyum bahagia karena pencapaian yang akhirnya ia raih selama bertahun-tahun lamanya.
Berto Gallian, itulah nama pria itu. Bertahun-tahun di dunia gelap, secara perlahan mulai menikmati masa-masa tuanya di kota kecil.
"Mungkin tempat ini akan menjadi peristirahatan terakhirku," ucap Berto sembari menghembuskan asap rokok ke atas.
Berto masih menikmati apa yang dia lakukan saat ini, tak ada gangguan karena memilih kota terpencil di Kekaisaran. Tindak kejahatan tak bisa terbendung, namun pihak Kekaisaran tak ambil pusing untuk kota kecil seperti ini.
Pria itu tersenyum kecil, ia benar-benar senang dengan masa-masa terakhir tanpa harus mengotori tangannya lagi.
"Huh?" Berto merasakan sesuatu.
Aura membunuh, tapi di mana?
Matanya dengan cepat memeriksa seluruh tempat.
Semua terlihat normal, tak ada yang melakukan gerakan aneh. Jadi, dari mana itu berasal?
Berto menaruh pandangannya pada Rose. Seorang wanita dengan pakaian longgar yang menutupi hampir seluruh tubuh kecuali kepala, rambut panjangnya terlihat jelas seluruhnya.
Mata mereka bertemu. Berto tak tahu perasaan apa yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.
Siapa wanita itu?
Pertanyaan itu memenuhi pikirannya dalam sekejap.
Rose berjalan pelan dengan sedikit menggoyangkan pinggulnya.
"Huh! Kukira ada masalah apa! Ternyata hanyalah seorang j*l*ng yang sedang mencari uang! Khuahahahaha!" Salah satu pelanggan bar itu dan yang lainnya menertawai Rose.
Mereka menurunkan kewaspadaannya dan kembali melanjutkan permainan.
Rose terus berjalan pelan mengarah ke Berto. Di sisi lain, Berto sudah sadar bahwa wanita itu memang menargetkan dirinya. Ia mencoba tenang dengan pengalaman yang dimilikinya.
Salah satu pengunjung bar mendekati Rose dalam kondisi mabuk. Dalam keadaan sempoyongan, ia mencoba merayu Rose. "Hei, aku bisa memberimu banyak koin emas, ikutlah bersamaku, huhu."
Tangan pengunjung itu hendak menyentuh pundak Rose, namun ....
*Crack!
Kedua tangannya putus secara tiba-tiba.
"T-tanganku!" Pengunjung itu jatuh merintih kesakitan.
"Penyusup!" Perhatian seluruh pengunjung bar tertuju pada Rose. Dengan reaksi yang cepat, semua orang sudah memegang senjata dan menyerang Rose dalam waktu bersamaan.
Berto tersenyum melihat hiburan kecil di hadapannya. Ia tahu tujuan wanita itu datang mencarinya.
"Benar, tunjukkan kemampuanmu dan layani aku!"
Beberapa saat kemudian. Seluruh ruangan dipenuhi darah, potongan tubuh tersebar di setiap ruangan. Laki-laki maupun perempuan, semuanya meregang nyawa, hanya satu orang yang berdiri di tengah tempat itu dengan tubuh yang lelah dan penuh luka.
Apa aku terlalu memaksakan diri? Mau bagaimanapun, hampir seluruh orang di tempat itu setara petualang kelas B dan A.
Rose terus melihat ke arah Berto, tubuhnya mulai sempoyongan, namun tekad untuk membalas dendam masih membara di dalam dirinya.
Berto melompat dari balkon dan berjalan ke arah Rose dengan ekspresi puas di wajahnya.
"Kerja bagus, kau sudah menunjukkan kelayakanmu. Menunjukkan niat membunuh pada semua orang, menghilangkannya, dan kembali memicu api di tengah-tengahnya." Berto bertepuk tangan mengapresiasi Rose.
Rose hanya diam sembari mempertahankan kesadarannya.
"Siapa namamu?" tanya Berto.
Wanita itu mempersiapkan diri untuk melakukan langkah terakhir.
"Rose ... Valentine," jawab Rose dengan nada terputus-putus. Ia mempersiapkan Mana di kedua tangannya.
Mendengar nama Rose, Berto terkejut. "Valentine? Kukuku, jadi begitu, kau istri dari pria itu. Benar-benar nostalgia."
Rose menggertakkan giginya. "Dia ... adalah korban dari keserakahanmu."
Lima belas tahun yang lalu, terjadi perang antar dua bangsawan di Kekaisaran. Suami Rose, Daniel Valentine bertugas menjadi penengah keduanya, ia merupakan prajurit salah satu bangsawan.
Namun, tindakan baiknya dimanfaatkan oleh mereka yang haus akan kekuasaan dan menjadikannya sebagai kambing hitam. Daniel dituduh mempengaruhi kedua bangsawan untuk bisa menguasai harta mereka.
Pelaku utama yang memprovokasi orang-orang adalah Berto Gallian. Atas kejadian itu, Berto dianggap penyelamat dan menerima banyak hadiah hingga membuatnya terjun ke dalam kejahatan.
"Tidak hanya suamiku ... bahkan ... putriku." Air mata Rose menetes, ia tak bisa menahannya ketika mengingat putrinya.
"Rose Valentine, manusia itu memiliki sifat serakah, bahkan sekelas orang suci sekali pun. Ini tentang bertahan hidup di lingkungan masyarakat, kelemahan adalah masalah besar. Aku melakukan apa pun untuk mendapatkan semuanya seperti sekarang."
*Bugh!
Berto menendang wajah Rose hingga terdorong cukup kuat.
"Ngomong-ngomong, aku menyadari sesuatu. Melihat teknik bertarungmu, aku yakin kau adalah si Penjagal. Memotong dan menguliti korbanmu dengan benang yang kau buat dengan Mana."
Rose terkejut mendengar Berto tahu teknik yang ia gunakan.
Bajingan ini tak hebat dalam pertarungan, apa dia sekarang bisa menganalisa orang lain dalam sekali lihat?
Berto berdiri di hadapan Rose, ia tersenyum layaknya penguasa yang sedang menginjak budak.
"Jadi, Rose Valentine, apa kau mau melupakan kejadian itu dan menjadi bawahan setiaku, atau menyia-nyiakan nyawamu di sini?" tanya Berto yang terlihat serius akan hal itu.
Rose hanya diam tertunduk, seolah tak peduli dengan apa yang ditawarkan. Tujuannya hanya ingin membalaskan dendam.
"Jika itu keinginanmu, aku akan menjadikan tempat ini sebagai pemakamanmu, Rose Valentine." Berto menarik belati di pinggangnya dan bersiap menusuk ke dada Rose.
*Crack!
Seketika dada Berto berdarah, menimbulkan luka garis panjang yang dalam. Berto kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"A-apa ini?!"
Rose perlahan berdiri dengan luka di tubuhnya yang perlahan pulih. Kuku tangan wanita itu memanjang dan menghitam.
"Berto Gallian, jika kau ingin membunuh targetmu, lain kali jangan biarkan satu orang pun hidup. Sekarang kau gagal dan menciptakan monster sepertiku," ucap Rose dengan suara menggema.
Berto terlihat terkejut melihat taring Rose yang perlahan tumbuh. Hanya satu kemungkinan yang bisa menjawab semuanya. "K-kau ... vampir?"
"Aku tak ingin menunjukkan wujud ini, tapi ... aku melalui banyak hal demi momen ini."
Berto tertawa kecil melihat sosok di hadapannya. "Haha, jadi ini akhirku, ya? Aku menciptakan monster pendendam. Yah, setidaknya tempat ini akan menjadi pemakamanku."
*Crack!
Genangan darah mememuhi lantai ruangan, hanya ada mayat di dalam bar itu.
Rose terduduk lemas sembari menatap ke atas. Air mata darah mengalir, ia tersenyum puas dengan tujuannya yang kini telah tertuntaskan.
"Daniel, Rubia, aku sudah membalaskan dendam kalian."
Perlahan genangan darah mengalir menuju Rose dan mulai meresap masuk ke tubuhnya.
Aku benar-benar harus berterima kasih pada wanita itu.
"Huh?" Rose merasakan sesuatu datang menuju bar.
Tidak, dia sudah berada di bar!
"Sepertinya aku tak perlu repot-repot mencari dayang pribadi untuk Beliau di kota kriminal ini. Sekali dayung, dua pulau terlewati." Terdengar suara seorang pria dari arah pintu masuk.
Rose menoleh ke arah pria itu. Semuanya serba hitam, dia seperti seorang butler. Begitu yang dipikirkan olehnya.
"Siapa kau?" tanya Rose dengan nada mengancam, serta aura membunuh yang ia tunjukkan pada pria itu.
Dengan tenang, pria itu menjawab, "Namaku ... Raymond."
Bersambung ....