The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pertarungan Sengit



Situasi benar-benar di luar dugaanku. Orang itu datang dan merubah situasi dengan cepat. Serangan Uskup Agung seperti sihir tingkat 1 baginya.


"Uskup Agung, siapa dia?!" tanyaku dengan nada tinggi.


Uskup Agung hanya terdiam seolah-olah semua telah berakhir.


Orang itu memiliki sayap hitam yang panjang. Dia terlihat seperti ras Malaikat dalam cerita di Gereja Suci. Tapi, kenapa sayapnya hitam? Dalam cerita, Malaikat memiliki sayap berwarna putih cerah, bukan hitam seperti itu.


Tekanan yang dipancarkan Blues dan Ratu Daisy perlahan menghilang. Sepertinya kedatangan orang itu mengalihkan perhatian mereka.


Tubuhku sudah bisa bergerak, aku harus mendekat ke sana.


"Ugh!"


Tubuhku masih sakit karena tekanan yang mereka keluarkan sebelumnya. Aku masih bisa jika harus berjalan pelan-pelan.


"Zain ...."


Aku melupakan Nona Eline yang masih berada dalam dekapanku. Tak ada tim medis di sekitar sini, aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Nona Saint hanya memperdulikan Uskup Agung.


Aku mengurungkan niatku untuk pergi ke tempat orang-orang itu.


Blues dan Ratu Daisy menghentikan pertarungan mereka dan mengalihkan perhatian mereka pada orang itu.


Melihat Ratu Daisy beraksi seperti itu, kemungkinan orang itu bukan bagian dari Kerajaan Penyihir Maphas.


"Blues! Habisi wanita gila itu sekarang!" teriak Uskup Agung.


Blues langsung melayangkan serangan ekornya ke arah Malaikat itu.


*Bush!


Malaikat itu terhempas cukup jauh.


Blues langsung lompat menuju Malaikat itu, dia mengabaikan Ratu Daisy yang berada tepat di depannya.


Ratu Daisy terlihat kesal.


Blues menghantam Malaikat itu dengan ekor dan kedua kaki belakangnya sehingga dataran di tempat itu hancur.


Seseorang berada tepat di belakang Blues. Orang itu adalah Ratu Daisy yang bersiap dengan pedangnya.


*Crack!


Ratu Daisy menyerang Blues secara membabi buta. Punggung Blues terluka parah akibat serangan itu.


Blues terhempas karena pukulan yang mendarat di perutnya, orang yang melakukannya adalah Malaikat.


Malaikat itu tak terluka sama sekali karena dia berlindung di balik sayap hitamnya.


Blues terbaring lemas karena tebasan pedang hitam dari Ratu Daisy.


Sepertinya regenerasi Blues tidak bekerja. Pedang hitam itu memiliki atribut gelap, mungkin itu berlawanan dengan atribut milik Blues.


Malaikat dan Ratu Daisy saling berhadapan.


*Bum!


Ratu Daisy mendominasi dengan tekanan aura yang luar biasa.


Malaikat itu mengepakkan sayapnya untuk menghalau aura Ratu Daisy yang diarahkan padanya.


Mereka berbicata.


Sial! Lagi-lagi aku tak bisa mendengarkan percakapan mereka! Bisa saja itu adalah informasi yang sangat penting. Aku sedikit penasaran dengan Ratu yang disebut oleh Malaikat itu. Jika bukan Ratu Daisy, lantas siapa?


Huh?


Rasa sakit di tubuhku menghilang. Cahaya hijau menyelimuti tubuhku.


Sihir penyembuh?


"Tuan Zain!"


Suara ini? Nona Licia!


Tubuhku mulai bisa digerakan.


"Nona Licia, apa yang kau lakukan di sini?!"


"Serahkan wanita itu padaku, kau bisa pergi dari sini,"


Dia menyuruhku pergi begitu saja. Tapi, rasa penasaranku begitu besar dan langsung menuruti perkataannya.


Aku langsung bergegas pergi menuju Blues yang terbaring lemas.


*Tak Tak Tak


Seseorang mengikutiku dari belakang.


Itu Uskup Agung, kondisinya telah pulih berkat Nona Licia. Dia menghiraukanku dan fokus pada Blues.


"Blues! Kau tak apa?!"


"C-christa ...." Blues berbicara dengan mulut yang terus mengeluarkan darah.


Uskup Agung mengecek luka di punggung Blues.


Lukanya sangat dalam, sebuah keberuntungan Blues masih hidup, itu karena kekuatannya.


"Seharusnya aku membebaskan bebeberapa dari kalian," gumam Uskup Agung.


"Tidak, Christa, aku hanya lengah karena tak menyadari Undead itu di belakangku,"


"Tch!"


Ekspresi Uskup Agung terlihat kesal, seolah-olah semua ini tidak sesuai keinginannya.


"Bagaimana bisa Abigail muncul di sini?"


"Aku tidak tahu, apa mungkin berita tentang 'orang itu' yang telah bangkit?"


"Tapi, aku mendengar percakapanmu dengan Undead itu tentang dirinya yang merupakan bawahan 'orang itu',"


Siapa yang mereka maksud? Apa itu Ratu yang disebutkan oleh Malaikat?


"Benar. Ada hal yang membuatku bingung." Blues menunjuk ke arah Malaikat dan Ratu Daisy yang saling berhadapan. "Bukankah aneh jika mereka saling menatap seperti itu, seolah-oleh mereka tak mengenal satu sama lain,"


"Bisa saja itu hanya tipu muslihat yang sengaja mereka tunjukan,"


Apa yang kalian bicarakan?!


"P-permisi, Uskup Agung, aku tak mengerti dengan percakapan kalian,"


"Ah, maafkan aku, Zain, hahaha, uhuuk!" Blues batuk berdarah.


"Orang itu bernama Abigail, pemimpin Sekte Hitam," sambung Uskup Agung.


Sekte Hitam, aku pernah mendengar tentang mereka, sebuah organisasi misterius yang ahli menggunakan sihir kegelapan. Hanya itu yang aku ketahui tentang Sekte Hitam.


"Lalu, siapa Ratu yang dia sebutkan?"


Uskup Agung dan Blues saling memandang.


"Kami belum bisa memberitahumu informasi tentang orang itu, namun, kau harus mengingat dengan baik nama orang itu,'


"Nama?"


"Keres Vasilissa,"


Keres Vasilissa. Aku akan mengingatnya.


Uskup Agung memejamkan matanya dan bersandar di tubuh Blues.


"Akhirnya, Beliau akan turun tangan," ucap Blues.


Aku kembali memperhatikan Malaikat dan Ratu Daisy. Keduanya masih saling bersitegang.


Putri Elf melerai keduanya dengan berdiri di tengah-tengah mereka.


Aku tak mendengar ucapannya. Blues terhempas terlalu jauh, benar-benar posisi yang kurang menguntungkan.


Sudah berapa lama waktu berjalan? Sepertinya ini sudah lewat tengah malam.


Uskup Agung masih tertidur lelap. Dia seperti orang yang jiwanya sedang berkeliaran meninggalkan tubuhnya.


*Bush!


Putri Elf terhempas oleh kepakan sayap Malaikat.


Ratu Daisy menebaskan pedangnya ke arah Malaikat.


Malaikat menangkisnya dengan sayap kiri.


*Crack!


Pedang itu dengan mudah memotong hampir setengah bagian dari sayap kirinya.


Pedang apa itu sebenarnya?!


Malaikat melompat ke belakang.


Sayap kirinya perlahan tumbuh kembali walau regenerasinya lambat.


Kedua tangannya mengeluarkan pedang pendek.


Aku ingin melihat stat milik Malaikat, tapi besar kemungkinan dia bisa memblokir mata penilaianku.


Pertarungan dimulai!


Malaikat dengan cepat menyerang Ratu Daisy menggunakan kedua pedang di tangannya.


Serangannya sangat cepat, lebih cepat dari serangan Blues sebelumnya.


Ratu Daisy menangkis semua serangannya. Tangan kanannya mengikuti semua gerakan dari Malaikat. Tangan kirinya mengeluarkan sihir berwarna hitam.


Ratu Daisy menembakan sihir hitam ke arah Malaikat.


Malaikat terhempas, namun ia menahan gesekan udara dengan menyelimuti tubuhnya menggunakan sayap kanan yang masih normal, kemudian ia melesat ke arah Ratu Daisy dengan cepat.


Malaikat menyerangnya dari arah kiri Ratu Daisy dengan kedua pedang miliknya.


Ratu Daisy menurunkan pedangnya.


*Ting!


Hantaman tak terelakan.


Ratu Daisy terhempas ke arah kami.


Blues mendorongku sambil membawa Uskup Agung.


Benar-benar pertarungan yang sangat sengit.


Sayap kiri milik Malaikat telah pulih. Ia mulai mengepakkan sayapnya dan terbang.


Malaikat diam di udara seperti elang yang sedang mengunci mangsanya, yaitu Ratu Daisy.


*Wush!


Malaikat melesat dengan sangat cepat. Hempasan udara yang dihasilkan sangat kuat.


"Kemampuan ini sangat merepotkan," ucap Blues.


Malaikat mengarahkan kedua pedangnya ke depan, seperti cakar yang bersiap menerkam mangsanya.


Ratu Daisy telah menyiapkan perisai hitam di depannya.


*Ting!


Kedua pedang di tangan Malaikat menusuk tajam ke perisai hitam milik Ratu Daisy.


Malaikat terus mendorong Ratu Daisy ke belakang. Menekan kedua pedangnya ke perisai hitam. Ia melebarkan kedua sayapnya.


Sayapnya bisa memanjang maupun melebar.


*Wush!


Malaikat mengurung Ratu Daisy dengan menggunakan kedua sayap hitamnya.


Seseorang dengan zirah hitam berada di belakang Malaikat dengan pedang besar terangkat ke atas.


Bukankah itu undead?


*Ting!


Pedangnya sama sekali tidak melukai Malaikat.


Malaikat melempar Ratu Daisy ke arah undead yang menyerangnya.


Undead itu hancur terkena hantaman dari tubuh Ratu Daisy.


"Bagaimana menurutmu, Blues?"


Blues hanya diam sambil menatap tajam kedua orang itu.


Posisi mereka berdua dekat dengan kami, akhirnya aku bisa mendengar percakapan mereka.


Huh?


Mereka hanya diam saling menatap tajam.


Kenapa kalian tidak berbicara?!


*Bum!


Aku merasakan aura dari arah lain.


Aura ini ... Iblis!


"Ada gerombolan Iblis dari arah Kerajaan Penyihir Maphas menuju ke sini, beberapa dari mereka memiliki level di atas rata-rata," ucap Blues.


"Apa yang dilakukan Iblis di tempat ini?!"


"Hanya ada dua kemungkinan, mereka membantu Kerajaan Penyihir Maphas, atau mencari keuntungan dengan mengacaukan perang ini,"


"Sialan!"


"Sepertinya, para Saint Suci telah membereskan kekacauan di sana,"


Kedatangan Iblis berada di luar perkiraan kami, jika Blues bilang beberapa dari mereka kuat, maka Iblis wanita itu juga ada, 'kan?


Rencana apa yang sudah kalian persiapkan kali ini, para Iblis ...?


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.