
Tidak, tidak! Kondisi Delila masih belum pulih sepenuhnya! Apa yang kupikirkan?! Aku akan menguji kekuatan matanya lain waktu.
Delila mencoba bangkit duduk di tempat tidur. Aku ingin menghentikannya, tapi aku urungkan karena dia pasti akan kembali melakukan itu, seluruh NPC memiliki sifat keras kepala.
"Ibu, sepertinya MP Saya perlahan mulai pulih. Setidaknya sudah 35%," ucap Delila.
Berkat item-item kelas atas dari dungeon, kondisi Delila mulai membaik. Yah, aku jarang menggunakan item-item itu di game, sudah waktunya kalian jadi berguna.
Delila mulai mengumpulkan Mana di sekitarnya, dia terlihat seperti sedang bertapa. Karena MP-nya sudah di atas 20%, dia bisa melakukan metode ini. Prosesnya memakan waktu sekitar beberapa jam tergantung kemampuannya, aku harus menunggu.
[Ibu.] Sebuah telepati dari Elina.
[Elina, kalian bisa menghentikan proses pencarian, Delila sudah siuman.]
[Begitu, ya. Saya juga ingin melaporkan bahwa tempat tinggal para vampir itu telah ditemukan.]
[Benarkah? Di mana pintu masuknya?]
[Berkat bantuan bawahan Rayna yang bernama Cura, kami menemukan pintu masuknya terletak di ruang bawah tanah istana Kerajaan Nagad.]
Tunggu dulu ....
[Elina, apa kau berada di sana saat ini?]
[Benar, Ibu, Saya bersama dengan Hela.]
[Bagaimana situasi Kerajaan Nagad?]
[Sebelumnya, kerajaan ini terlihat suram, seluruh penduduknya adalah vampir. Namun, Saya dan Hela memurnikan seluruh Kerajaan Nagad dan mengembalikan ras mereka menjadi seperti sebelumnya.]
[Bagaimana dengan Raja mereka?]
[Tidak ada di sana. Kemungkinan kerajaan ini sudah runtuh.]
Ini kabar bagus!
[Elina, berapa luas Kerajaan Nagad saat ini?]
[Sekitar 70% dari wilayah timur, Ibu.]
Jackpot!
[Siapkan doppelganger level tertinggi yang kita miliki.]
[Ah, Saya paham. Baik, keinginan Ibu adalah perintah mutlak bagi kami.]
Karena keributan di dunia bawah, kemungkinan Raja Drac juga ada di antara ribuan prajurit vampir yang Delila bantai. Kerajaan Nagad tidak memiliki pemilik saat ini, aku tak akan melepas kesempatan ini.
Namun, akan sulit membersihkan rumor peninggalan Raja Drac sialan itu. Yah, akan kupikirkan itu nanti.
Aku turun dari tempat tidurku, berjalan menuju jendela. Angin sejuk langsung melewati tubuhku. Kerajaan Mystick berada di utara, suhu udara yang biasanya dingin, kini terasa sedikit hangat karena sinar matahari yang sudah mulai naik ke atas.
Sudah lama aku tidak menghirup napas dengan lega seperti ini. Kehidupanku yang sekarang berbanding terbalik dengan dulu. Sekarang, aku punya orang yang harus kulindungi. Aku akan menghabisi segala hal yang membahayakan orang-orangku.
Aku berbalik badan membelakangi jendela. Delila sudah berdiri di hadapanku, kondisinya terlihat jauh lebih baik.
Tak kusangka dia akan pulih secepat ini. Aku tak perlu membawanya kembali ke dungeon untuk perawatan lain.
Kami langsung berpindah ke Kerajaan Nagad, tepat di tempat Elina dan Hela yang sedang menunggu, di sebuah lorong bawah tanah.
Aku masih tidak tahu alasan Hela berubah sikap terhadapku, untuk sementara aku hanya perlu mewaspadainya.
Ada sebuah pintu di depan kami, tingginya tidak jauh berbeda seperti pintu pada umumnya, namun pintu ini terbuat dari logam yang sangat tebal.
Pintu ini tidak bisa dibuka dengan cara biasa, ada alasan kenapa mereka membuatnya dari logam. Selain berat, logam ini sangat kokoh, sulit dihancurkan. Terlebih lagi orang biasa akan mengira pintu ini hanyalah dinding logam biasa.
Elina menyentuh pintu itu dengan tangan kirinya. Lingkaran sihir seukuran pintu logam muncul, dan tak lama setelah itu pintu logam lenyap begitu saja.
Seperti itulah metode membuka pintu ini. Ada sebuah sihir khusus yang terpasang di pintu, hanya bisa dibuka oleh orang yang memasang sihir tersebut. Elina bisa membukanya karena dia memiliki skill tingkat S yang bernama God Key. Itu juga alasan aku sering membawanya ketika mendapatkan drop item atau peti harta di dungeon.
Sesuai dugaanku, ada sebuah portal di dalam pintu besi itu.
Kami masuk ke dalam portal dan sampai di suatu tempat.
Sebuah dataran gersang, banyak pepohonan yang mati, puing-puing bangunan, mayat vampir, dan monster berserakan di mana-mana.
"Delila, hancurkan portal itu."
"Baik, Ibu."
Aku tak ingin ada orang lain yang masuk ke tempat ini. Karena tempat ini dipenuhi energi sihir yang kuat, akan berbahaya jika orang lain menyalahgunakannya. Aku belum bisa menyerap energi sihir ini untuk memulihkan kekuatanku.
"Elina, periksa seluruh wilayah ini, cari Adikmu."
"Baik, Ibu." Elina langsung mengaktifkan sihir alam yang membuatnya menyatu dengan dataran ini. Tubuhnya menghilang sepenuhnya.
"Ibu, Saya bisa memeriksanya," ucap Delila.
"Tidak, kondisimu masih belum sepenuhnya membaik, aku melarangmu menggunakan sihir ruang dimensi sampai kondisimu pulih sepenuhnya."
"B-baik, Ibu."
Kami berjalan ke depan untuk memeriksa kondisi sekitar.
Di mana tempat pertarungan kami sebelumnya? Wilayah ini hancur sampai tidak bisa kukenali lagi, sangat sulit mencari istana Vlad berada.
"Tak disangka, mereka juga memiliki benda itu." Hela melihat ke atas, tempat cahaya yang tergantung di langit-langit. "Tapi, sepertinya sudah tidak berguna lagi."
"Benda apa itu?" tanya Daisy.
Bagus, Daisy!
Sebenarnya aku masih canggung berbicara dengan Hela pasca kejadian sebelumnya.
"Benda itu memiliki fungsi sebagai pengganti matahari, dataran yang berada dalam jangkauannya akan menjadi tempat seperti di permukaan. Tanaman bisa hidup berkat benda itu, air terus mengalir juga berkat benda itu yang menariknya keluar dari celah bebatuan. Namun, saat ini benda itu hanya terlihat seperti sebuah alat penerangan biasa."
Kurang lebih aku paham maksudnya, item itu memang cocok untuk bidang pertanian. Item yang tidak ada di Magic Infinity.
"Ibu, Saya menemukannya. 5 kilometer lurus ke depan." Suara Elina terdengar dari segala objek di sekitar kami.
Kami langsung terbang dengan kecepatan penuh menuju lokasi. Ketiga orang ini membantuku terbang dengan mengikuti kecepatan mereka. Kami terbang melewati kota yang sudah rata dengan tanah.
Pertarungan sebelumnya berada di istana, tapi Elina menemukan mereka berada di luar kota.
Mataku terbuka lebar ketika melihat pemandangan yang ada di bawah. Bukit hijau dan bukit batu seluruhnya hancur dan hampir tidak berbentuk.
Rayna, ini hasil pertarungannya dengan Satan? Dia sudah berusaha keras.
Ada sebuah dataran yang hancur meninggalkan bekas lubang sedalam sekitar 20 meter dan sangat luas. Ada seseorang di tengah lubang itu.
Kami bergegas menuju ke pusat lubang besar itu.
Ada dua orang di sana, seonggok tubuh besar terbaring dengan tubuh yang sudah hangus terbakar, dan seorang wanita berdiri di depannya dengan memegang sebuah pedang.
Rambut putih wanita itu berkibar tertiup angin.
Kami mendarat tepat di belakang wanita itu.
"R-rayna?" tanyaku dengan nada gemetar.
Tidak salah lagi, itu Rayna.
Hampir seluruh zirah di tubuhnya telah menghilang, hanya meninggalkan bagian paha kanan dan bagian pinggang. Bagian tubuh lainnya tidak tertutupi oleh sehelai benang pun. Kulit pucat Rayna terlihat jelas.
Aku perlahan mendekati Rayna karena tak ada reaksi darinya. Kepalanya penuh dengan darah, tulang punggungnya menekuk ke belakang.
Pertarungan seperti apa yang sudah dia alami?
Sampai di saat aku melihat wajah Rayna. Pandangannya kosong, warna matanya yang dahulu merah kini memudar menjadi merah mudah.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Rayna!"
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA