
"Jessie! Apa yang kau lakukan?! Akhiri bronze itu sekarang!" teriak guru silver itu.
"B-baik, Guru!"
Bajingan itu ingin muridnya membunuh seseorang.
Aku berjalan ke barisan depan, namun Tiffany menahanku.
Dia menggelengkan kepalanya. "Percayalah pada Tirel."
Memang Tirel lah yang mengajukan dirinya, ini harus berjalan sesuai kehendak alam. Dia bukanlah anak lemah, bisa saja menjadi yang terkuat di antara temannya. Hanya saja, belum ada media yang tepat untuk menunjukkan potensinya, dan tongkat ini akan menjadi penentunya.
Murid silver bersiap merapal sihirnya. Energi sihir muncul di sekitarnya.
Tanda-tanda ini, sepertinya tingkat 3.
Tirel berlari ke sisi kiri, ia perlahan berbelok memperlebar jarak.
"Tak akan kubiarkan!" Tirel mengarahkan tongkat sihirnya ke arah murid silver itu. "Magic Arrow!" Ia menembakkan beberapa anak panah sihir ke arah murid silver.
Kabut aneh tiba-tiba muncul. Keberadaan murid silver itu menghilang, panah sihir Tirel hanya melewati kabut itu.
"Illusion Fog." Terdengar suara murid silver itu merapal sihir.
Tirel menghilang di dalam kabut itu, padahal dia sudah memperlebar jarak. Jangakauan kabut itu cukup luas sampai membuat kami harus mundur menjauh dari tempat pertarungan.
Ini sihir tingkat 3, kabut ilusi. Orang yang terjebak dalam kabut ilusi akan susah untuk keluar. Ini sihir ilusi paling dasar, hanya menimbulkan efek seperti labirin, dan pengguna sihir ini akan menyerang dari segala arah.
*Bugh! Bugh!
Terdengar suara pukulan dari dalam kabut.
Ini kekalahan buat Tirel, kecuali dia menggunakan ....
"Fire Blast!" Tirel merapalkan sihirnya.
Kobaran api mulai merambat di antara kabut tebal itu, kemudian ....
*Duaar!
Ledakan pun terjadi.
Murid silver terhempas keluar dari ledakan itu. Sedangkan Tirel masih berada di dalam kepulan asap bekas ledakan.
Cara untuk keluar dalam sihir ilusi tingkat rendah seperti itu adalah dengan membakar seluruh area dari dalam. Pada dasarnya, kabut ilusi itu tercipta dari hawa panas, dan akan meninggalkan gas di dalam kabut. Hanya dengan percikan api, ledakan akan terjadi. Tapi, Tirel justru menggunakan ledakan api, itu sangat berbahaya.
Dan juga, jika sihir ilusi kabut semakin tinggi tingkatnya, maka gas yang dihasilkan akan sedikit, bahkan sama sekali tidak ada.
Kepulan asap mulai menghilang.
Murid silver terlihat hanya menerima beberapa luka kecil di tubuhnya, dia telah memprediksi serangan Tirel dan memilih untuk keluar dari kabut itu. Sedangkan Tirel ....
Terlihat Tirel yang sedak terduduk lemas sambil memegang tongkat dengan tangan kanannya. Tubuhnya dipenuhi luka bakar, jubah yang ia kenakan hampir terbakar.
Tirel, kau ....
Namun, Tirel tetap tersadar, matanya terus menatap tajam ke arah para murid silver.
Membahayakan nyawanya sendiri untuk pertandingan seperti ini. Yah, ini mempertaruhkan harga diri.
Tiffany langsung bergegas menuju ke tempat Tirel.
"Tirel, apa kau bisa mendengarku?"
"G-guru, aku berhasil melukainya," jawab Tirel dengan terbatah-batah.
Tiffany meminumkan potion penyembuh pada Tirel.
"Hahahaha! Inilah akibatnya jika menentang kami para Silver! Camkan itu baik-baik di kepala kalian para bronze, segera tinggalkan arena ini," ucap guru silver itu.
"Kita pergi, anak-anak." Tiffany berbicara sambil menundukkan kepalanya.
"Hei, hei, siapa yang menyuruh kalian pergi begitu saja, hah?" Guru silver dan para muridnya berjalan ke arah kami.
Apa yang bajingan ini inginkan?!
"Kalian harus meminta maaf dan bersujud di hadapan kami,"
"Apa?" Tiffany terkejut mendengar perkataan guru silver.
"Semakin menyebalkan karena orang di Akademi Sihir mulai menganggap kalian para bronze setara dengan kami."
[Ibu, apa makhluk jelek ini boleh dibunuh?]
[Buang jauh-jauh pemikiran seperti itu.]
[Dimengerti.]
Tiffany sepertinya pun mulai kehilangan kesabarannya. Itu terlihat dari aura yang mulai bocor keluar dari tubuhnya, dia terlihat masih menekan auranya.
"Hei! Cepat berlutut!"
"Hentikan itu!" Terdengar teriakan dari arah pintu masuk arena.
*Tak Tak Tak
Suara langkah kaki dari berapa orang.
Mereka mulai terlihat.
Para murid mulai ricuh setelah melihat siapa orang-orang yang masuk ke arena.
Apa yang mereka lakukan di sini?
Satu laki-laki dan dua perempuan. Theresia bersama dua Guru Elite.
"G-guru Elite Omos, Guru Elite Siscia, dan murid teladan Theresia. A-apa yang membawa kalian ke sini?" Guru silver itu terlihat gugup berhadapan dengan mereka.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Guru Elite Omos.
Kesempatan untuk mengadukan ini!
"Kami hanya latih tanding biasa. Salah satu murid kami terluka karena serangan, dan Guru Tiffany memaksa meminta maaf dengan berlutut. Itu sungguh membuatku terharu,"
Apa-apaan bajingan ini?!
"Begitu, ya?"
Dia percaya!
"Sudahlah, Guru Tiffany. Guru tidak usah menahannya lagi," ucap Theresia.
Tiffany menghela napasnya. "Kalian sudah mendapat melihatnya, 'kan?"
Sepertinya mereka merencanakan sesuatu.
"A-apa maksudnya ini?" Guru silver terlihat panik.
"Guru Rafel, kau telah terbukti bersalah atas perundungan di Akademi Sihir. Semua rekan-rekanmu telah kami tahan,"
"O-omong kosong apa itu, Guru Elite Omos?!"
Tangan guru silver sudah terikat oleh item berbentuk tali yang bercahaya.
"A-apa-apaan ini?!"
Bajingan ini akhirnya ditangkap.
"Tiffany! Kau pasti sengaja mengadu pada mereka, 'kan?! Dasar kau guru bronze sialan!"
*Bugh!
Tiffany melayangkan tinjunya tepat di wajah guru silver.
Tidak terlalu kuat, fisiknya bukan seorang petarung.
"Dasar j*l*ng!" teriak guru silver.
Huwaaaa ... kata-kata indah itu didengar muridmu, lho.
Beberapa penyihir muncul dan langsung menekan tubuh guru silver itu ke bawah.
"Otak di balik maraknya perundungan, Rafel Diento, telah diamankan," ucap salah satu penyihir.
"Tiffany! Aku tak akan membiarkanmu!"
Tiffany berjalan mendekati guru silver yang sedang telungkup. Ia membuka mantel hitam yang selama ini dikenakannya.
Terlihat Tiffany mengenakan pakaian yang sama dengan Guru Elite. Pakaian yang terlihat seperti pakaian militer, hampir mirip seperti yang kukenakan dulu. Namun warnanya berbeda tergantung dari menara mana mereka berasal. Dan pakaian Tiffany paling cerah karena berasal dari menara cahaya.
"T-tidak mungkin ...." Guru silver itu sangat terkejut.
Murid dari kedua tingkat juga terkejut setelah mengetahui identitas Tiffany.
Tiffany melemparkan sebuah permata pada Omos. "Itu bukti rekaman suaranya."
"Ini pasti omong kosong! Tidak mungkin kau seorang Guru Elite!"
"Kebenaran ada di depanmu, aku tidak peduli apakah kau percaya atau tidak," ucap Tiffany dengan nada sedikit tinggi.
"Pfftt! Hahahahaha!" Guru silver tertawa keras. "Seorang guru elite kalah saat turnamen di Kekaisaran! Apakah kau tidak malu?!"
Para penyihir menatap tajam guru silver itu. Mereka terlihat ingin membungkam mulutnya.
Tiffany memberi sinyal tangan agar para penyihir tenang.
"Yah, aku memang kalah. Tapi, aku tidak menyesal atau malu dengan kekalahan itu." Tiffany sekilas melihat ke arahku. "Karena orang itu mengajarkanku sesuatu yang lebih penting, lebih dari hanya sekedar meraih kemenangan, yaitu ... percaya pada tekadmu, kekuatan yang akan membawamu menuju tingkat tertinggi. Tingkat yang lebih dari sekedar kemenangan."
Aku tidak pernah berkata seperti itu, bagaimana dia bisa menyimpulkannya perkataanku seenaknya?!
Guru silver itu hanya diam melihat Tiffany. Para penyihir menyeretnya keluar.
"G-guru Tiffany adalah Guru Elite misterius yang dirumorkan itu!" Para murid bronze mendatanginya.
Ini keputusannya untuk mengungkap identitasnya. Nah, sekarang, bagaimana dengan para murid silver. Mereka hanya menunduk karena malu.
"Para murid silver, kalian tidak bersalah. Guru Rafel yang bersalah, dia salah membimbing kalian," ucap Tiffany.
Dengan ini, masalah perundungan di Akademi Sihir telah selesai.
A. Memulai Pergerakan
Istana Kerajaan Nagad.
Para pemuja Satan berkumpul di sebuah aula luas dalam istana. Mereka berdiam menunggu seseorang. Orang itu tidak lain adalah Drac, pemimpin sekte Satan.
Drac berjalan menuju tempat duduknya yang berada di atas.
Suasana menjadi tegang karena Drac terus memancarkan aura membunuhnya.
"Hari ini, kita kehilangan 4300 prajurit, dan satu orang kepercayaanku. Untuk menghormati mereka, kita akan melakukan perburuan besar-besaran!" teriak Drac dengan sangat keras.
"Baik, Tuan!" Pasukan membubarkan diri.
Seorang wanita muncul dari bagian belakang yang gelap. Tangannya perlahan memegang pundak Drac. Wanita itu mengenakan dress putih yang tembus pandang sehingga tubuhnya terlihat jelas dari balik dress itu.
"Drac, apa yang akan kau lakukan kali ini?"
"Mencari orang yang melepas kontrak darah itu,"
"Apa kau yakin bisa mengalahkannya?"
"Maka dari itu, aku meminta bantuan kalian ... para True Vampire,"
"Kukukuku ... kau masih sama seperti dulu. Ngomong-ngomong, dia sepertinya lebih kuat dariku, sampai bisa memutus kontrak darah milikku,"
"Aku melihatnya sekilas dari sudut pandang Cura,"
"Yah, aku juga melihatnya,"
"Apa kau yakin tidak ada orang dari dunia bawah yang naik ke atas?"
"Aku pastikan tidak ada. Dan aku juga belum pernah melihat orang itu,"
"Seberapa kuat dia ...?"
"Aku rasa, dia bisa bertarung seimbang dengan Lord True Vampire kami."
Drac menggigit bibirnya, dia sangat kesal dengan kenyataan yang dia lihat.
"Hei, darah di bibirmu sayang untuk dibuang, biarkan aku mengambilnya." Wanita itu mencium bibir Drac.
Drac terus bepikir keras.
Sebelumnya ada Elf, sekarang ada True Vampire yang entah dari mana muncul. Tuan Satan, sepertinya Anda harus menunggu lebih lama lagi.
"Tak ada pilihan lain,"
"Aku akan mempersiapkannya, Drac." Wanita itu perlahan mundur kembali ke bagian gelap di belakang.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA! :(