The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Lisan



"Bahkan kami mencurigai kalian dan pangeran telah bersekongkol menjatuhkan Kerajaan Rexist!"


Suasana menjadi sangat tegang, namun Justin masih terpana oleh Alissa Hart yang tersenyum padanya. Menyadari ketegangan di sekitarnya, Justin langsung mengendalikan ekspresinya dan bersikap tenang. "Eheem ... Tuan Neno, tenanglah, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan."


Aura yang dipancarkan Neno sangat besar, Justin terlihat sedikit panik karena salah satu pengganggu rencananya berada di luar kendali.


Para anggota Federasi menatap Justin tajam, seperti mencurigai sesuatu. Tentu saja itu dalam sudut pandang Justin, tapi kecurigaan kecil tetap ada setelah itu.


Justin mulai tersadar bahwa sikapnya saat ini terlihat lebih condong ke arah Kerajaan Penyihir Maphas, ia mencoba membuat alasan jelas.


"Mari beri ruang untuk Nona Hart berbicara, mungkin semuanya akan memahami sesuatu."


"Tch!" Salah satu perwakilan terlihat acuh ketika Alissa Hart hendak berbicara.


Untuk sekarang, aku harus bisa menahan keinginanku terhadap wanita itu. Pertemuan ini bisa menjadi bom waktu jika tak diselesaikan dengan tenang, bahkan sudah sangat bagus jika tak ada keributan.


Justin mempersilahkan Alissa Hart berbicara.


"Saya ingin meluruskan satu hal. Kami, Kerajaan Penyihir Maphas tidak berhubungan dengan kudeta yang sedang terjadi di Kerajaan Rexist."


"Itu hanya alibimu saja!"


Alissa Hart mengangkat jari telunjuknya ke depan.


"K-kau!" Pihak Federasi sangat kesal melihat tindakan itu.


"Seperti yang kalian lihat, kami mengalami kerugian besar karena ketidakadilan, penghinaan dalam perang. Kami hidup hanya dengan memanfaatkan sumber daya dari hutan, perlahan melakukan perdagangan kecil hingga kami mampu membangun 'kota' saat ini." Alissa Hart menekan kata kota dengan jelas.


Perwakilan Federasi terdiam, namun tidak dengan Pendeta Neno. Alasan yang lainnya terdiam adalah karena mereka tak berani berbicara, karena takut menyinggung Gereja Suci, lebih baik diam atau celaka di masa depan, begitulah yang ada di pikiran mereka saat ini.


"Dari mana sumber penghasilan kalian?" tanya Neno yang kini bisa mengontrol emosinya, aura di tubuhnya mulai menghilang.


"Sepertinya Anda lupa tempat yang menjadi tanah dari Kerajaan Penyihir Maphas."


Justin tahu betul tentang sumber penghasilan lain dari kerajaan itu. Ini juga sebagai upaya untuk menutupi kebenaran, sebuah kamuflase bahwa mereka juga yang memiliki produksi senjata massal.


Neno sudah mengetahui bagaimana Hutan Hijau menjadi sumber kekayaan mereka. Pikiran licik muncul di saat yang sama, Neno mulai tersenyum kecil.


"Ah, Saya tahu betul apa itu. Walau kami tak pernah membelinya, tapi bahan tanaman obat dari Hutan Hijau memang sangat terkenal. Kami tak melarang anggota Federasi menggunakannya."


"Baguslah, Saya senang Anda mengetahuinya--"


"Tapi ...." Neno memotong perkataan Alissa Hart dengan cepat. "Ini masalah besar."


"Masalah besar?" Alissa Hart menatap tajam Neno.


"Tuan Justin, apa tidak masalah jika ada diskusi tambahan? Kita telah sepakat soal harga yang Anda tawar sebelumnya, 'kan?"


"I-iya, silahkan." Justin sedikit tertekan, ia tak bisa secara terang-terangan membela Kerajaan Penyihir Maphas.


"Saya mengingat tentang ketentuan hukum yang telah disepakati Asosiasi Perdagangan Luxtier dengan kerajaan yang bermitra dengannya. Poin itu menuliskan, bahwa hasil dari alam tanpa pemilik harus dibagi sama rata dengan mitra lainnya."


"Apa maksudmu?" Wajah Alissa Hart terlihat kesal, namun tetap tak ada aura yang memancar dari tubuhnya.


Justin hanya bisa menggesek-gesek giginya.


"Hoi, hoi, tenanglah, Nona, ini hanya meluruskan saja. Hutan Hijau dahulu adalah tempat tak bertuan, walaupun masuk di wilayah Kekaisaran, namun mereka sama sekali tak menyentuhnya sejak dahulu."


"Hutan Hijau itu milik Suku Liche!" bantah Alissa Hart dengan tegas.


"Benar, mereka tak terikat dengan kerajaan mana pun. Mereka menjualnya tanpa perantara, hal itu jelas ilegal menurut hukum asosiasi. Federasi membiarkan hal itu karena tak ingin mengurus perihal tentang Suku Liche yang tak mungkin berkembang jika hanya mengandalkan tanaman obat. Namun, kini semua sudah berbeda dari perkiraan, karena variabel tertentu telah menggunakannya dengan semena-mena."


Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau meninggalkan kesan yang buruk pada Alissa Hart!


"Jadi, apa kita bisa menggunakan poin ini sebagai bukti pelanggaran, Tuan Justin?" tanya Neno, lanjutan dari perkataan sebelumnya.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," potong Alissa Hart.


Justin sedikit tenang karena Alissa Hart mencoba membela diri. Dalam benaknya, ia juga sangat frustasi pada dirinya yang kehilangan kontrol atas pertemuan ini.


"Tipu muslihat apa lagi yang akan kau lakukan kali ini?"


"Tak ada tipu muslihat apa pun. Ketua Asosiasi Perdagangan Luxtier, Tuan Edd de Moriento telah menyetujui kepemilikan hak atas tanaman obat pada kami. Itu sesuai dengan perjanjian, tak ada pihak lain yang bisa menyentuhnya."


*Brak!


Neno memukul meja dan berdiri dari tempat duduknya. Ia tampak kesal pada Alissa Hart.


"Omong kosong! Tanaman obat itu harus diberikan pada asosiasi, agar dijual dengan adil! Tak ada bukti dari perjanjian yang kalian buat!"


Maksud Neno ialah merujuk pada hak kepemilikan tanaman obat. Kerajaan Penyihir Maphas tak melakukan pendaftaran kepemilikan dan hanya menjualnya pada asosiasi, begitulah yang ia pikirkan saat ini.


Neno tahu, bahwa Edd de Moriento sedang terbaring lemah. Kemungkinan besar persetujuan itu hanya dalam bentuk lisan saja. Kesempatan menang mungkin ada.


Alissa Hart terdiam, membuat Federasi semakin yakin dengan perkataan Neno.


"Tuan Justin! Segera ambil aset kepemiikan tanaman obat agar diolah oleh asosiasi!" Neno terus menekan agar Justin goyah dan melakukan perintahnya.


Tidak! Tidak! Aku ingin berhubungan baik dengan wanita itu agar bisa menjebaknya masuk ke perangkapku! Dasar Gereja Suci pengganggu!


Justin mencari cara agar bisa menolong Alissa Hart. Hanya satu orang yang bisa melakukannya, orang yang membuat janji lisan dengan Alissa Hart. Tapi, dia sendiri yang sudah membuat orang itu terbaring tak berdaya.


Ah, aku tahu.


"Tenanglah, Tuan Neno. Tuduhan ini tak mendasar, aku percaya dengan perkataannya." Justin membalas pertanyaan sembari tersenyum.


Neno mengerutkan keningnya, ia kembali memancarkan aura dari tubuhnya. "Apa Anda memihak orang jahat ini?"


"Aku mencoba bersikap netral, sebagai pemimpin sementara Asosiasi Perdagangan Luxtier. Jika Nona Hart melakukan perjanjian lisan dengan ayahku, maka kita hanya perlu menunggu jawabannya nanti."


Neno sedikit tenang, ia menarik aura masuk ke tubuhnya. Suasana sedikit mencair.


Tak tahu kapan ayahnya sadar, Justin hanya bisa melakukan hal ini untuk mengulur waktu sembari mencari alasan lain. Terlebih lagi, dia dan Neno ada pembicaraan pribadi, sesuatu yang mungkin akan menguntungkannya.


"Baiklah. Aku akan menahan ini sampai Tuan Edd siuman."


"I-iya, terima kasih." Justin terlihat lega, beban besar di pundaknya seketika menghilang saat itu juga. Pertemuan yang awalnya berada di bawah kendalinya, kini malah berbalik menerkamnya.


Hal terpenting ....


Justin menoleh ke arah Alissa Hart yang melihatnya dengan tatapan lembut, sebuah ekspresi yang seolah mengatakan, "Terima kasih, karena sudah melindungiku." Membuatnya semakin jatuh hati pada wanita itu.


Wanita yang terlihat meminta perlindungan seperti ini adalah petualang rank S? Apa kau bercanda? Rumor tentang kekuatannya, mengalahkan naga, aku rasa itu hanya omong kosong belaka!


Justin semakin tidak sabar ingin segera melanjutkan rencananya.


Assassin milik Justin memberikan sepucuk surat yang muncul di telapak tangannya. Justin langsung menyeringai setelah membaca isi surat kecil tersebut.


Bersambung ....