The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Perantara Dewi



Kehadiran Uskup Agung membuat kondisi di ruang takhta semakin menegangkan. Tidak diketahui apa tujuan mereka tiba-tiba datang ke sini. Karena insiden waktu itu, pihak Kerajaan sedikit meragukan Gereja Suci. Bagaimana bisa Saint Suci lari meninggalkan pertempuran? Tapi, pihak Kerajaan tidak bisa menunjukan rasa kecewa mereka di hadapan Gereja Suci. Itu karena Gereja Suci memberi pengaruh yang cukup besar di Kerajaan Rexist, maka Kerajaan tidak bisa bertindak ceroboh dengan protes ke Gereja Suci.


Pangeran Mahkota tidak memperdulikan kehadiran Uskup Agung dan yang lainnya.


"Putraku ... beri salam kepada Uskup Agung,"


"Tch." Pangeran memalingkan wajahnya.


Itu sikap yang sangat berani.


Pihak Gereja melihat Pangeran dengan tatapan tajam.


Ada yang datang lagi?


Aku menoleh ke arah pintu.


Ada 5 orang lagi masuk ke ruang takhta.


Wajah yang tidak asing, salah satunya ialah orang yang membantuku melawan Dragonewt. Mereka adalah keempat Saint Suci yang membantu kami sebelumnya. Tapi, satu orang lagi ... dia yang sebelumnya ikut turnamen di Kekaisaran, 'kan? Untuk apa Gereja Suci membawanya? Tunggu ... apa mereka ingin protes kepada Nona Hart?


Kelima orang itu berdiri di tepi ruangan bersama para Ksatria Kerajaan.


"Saya menyambut kehadiran Uskup Agung dan yang lainnya, seperti yang Anda ketahui, saat ini kami sedang memberikan penghargaan kepada para Pejuang yang sudah melawan musuh dengan kekuatan mereka," ucap Raja.


Uskup Agung mengangkat tangannya.


"Tidak apa-apa, Raja, kedatangan kami ke sini hanya ingin memastikan orang yang mengalahkan Naga Hitam serta Ksatria Suci kami,"


Dia sengaja menekan suaranya saat mengucap "Ksatria Suci". Apa tujuan Uskup Agung sebenarnya?


"Apa maksud Anda, Uskup Agung?"


Uskup Agung hanya diam mendengar pertanyaan Raja.


"Tch." Decitan suara yang dikeluarkan Pangeran semakin memanaskan situasi.


Aku merasakan sedikit aura membunuh seseorang.


Aura ini ... milik salah satu Saint Suci di sana.


Uskup Agung hanya diam.


"Eheem ... Pahlawan, apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Raja.


Raja ingin mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.


"Yang Mulia, seperti yang sudah Saya katakan sebelumnya, Saya mohon agar Yang Mulia mengabulkan permintaan Nona Hart,"


".... Itu ke-"


"Apa maksudmu, Pahlawan?" Uskup Agung memotong perkataan Raja.


Aku sedikit bingung siapa yang menduduki posisi tertinggi di sini? Kenapa Gereja Suci selalu berbuat seenaknya?


"Ini tentang kerja sama antara dua Kerajaan, Uskup Agung,"


"Tutup mulutmu, Pahlawan. Dia tidak memiliki hak untuk bertanya," sambung Pangeran.


Pangeran Mahkota langsung menyerang Uskup Agung dengan perkataannya.


Semua orang dari Gereja Suci menunjukan ekspresi kesal mereka.


Pangeran sudah sangat kelewatan. Sebenci apa pun dia dengan Gereja Suci, itu bukan berarti dia bisa menghina Uskup Agung yang merupakan orang yang memimpin Gereja Suci.


"Pangeran!" Teriak salah satu Saint Suci.


Dia ....


"Hentikan, Alfred." Uskup Agung mengangkat tangannya. "Maafkan, ketidaksopanan Saya, Pangeran,"


"Kalian sangat tidak sopan karena datang ke sini," ucap Pangeran.


Orang ini benar-benar sudah gila.


*Bum!


Aura membunuh yang sangat kuat terpancar dari seluruh Saint Suci.


"Hei, hei, apa yang kalian lakukan? Saint yang lari dari pertempuran," ucap Pangeran.


Aura yang mereka pancarkan mulai mereda.


"Hentikan, Putraku!" teriak Raja.


Keadaan di sini semakin rumit. Aku ingin segera pergi.


"Huuuh ... memuakkan." Pandangan semua orang tertuju ke arah sumber suara tersebut.


"No-nona Hart?"


"Apa kalian semua sudah selesai bermain sandiwaranya?"


"Apa maksudmu, Alissa Hart?" Pangeran berdiri dari tempat duduknya.


"Jadi, apa keputusanmu, Raja?" tanya Nona Hart.


Dia bahkan sudah tidak berbicara secara formal terhadap Raja.


"I-itu-"


*Swing


Pangeran tiba-tiba sudah berada di depan Nona Hart dengan posisi pedangnya yang mengarah ke leher Nona Hart.


"Perasaanku saat ini sangat buruk semenjak para pemuja Dewi itu datang ke sini,"


Orang-orang dari Gereja Suci semakin tersulut emosinya setelah mendengar perkataan Pangeran.


"Itu bukan urusanku." Nona Hart tersenyum dengan wajah yang menyeramkan.


Aku harus membantunya!


"Absolute Pressure." Seseorang menggunakan sihir berskala besar.


*Bum!


Sihir apa ini?!


Tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak.


Semua orang juga merasakan hal yang sama. Tekanan yang sangat kuat! Bahkan setara dengan Naga Hitam.


"Apa kalian sudah tenang?" Uskup Agung mengangkat tangannya ke depan.


Uskup Agung?!


"Maaf karena sudah menahan kalian dengan sihirku,"


Level berapa dia?!


Nama : Christa Larafala Ruine


Umur :


Ras : Manusia/?


Job : Priest/?


Tittle : Goddess Intermediary


Level : 913


Huh ... apa ini? Siapa dia sebenarnya?! Dia benar-benar manusia, 'kan?!


Uskup Agung menoleh ke arahku.


"Jika kalian tenang, aku akan menghentikan sihir ini,"


"Khuuk!" Semua orang menahan sakit akibat sihir yang digunakan Uskup Agung. Bahkan orang dari Gereja Suci yang merupakan bawahannya juga tak luput dari sihirnya.


"Pahlawan." Seseorang memanggilku.


"Nona Licia,"


Huh ....


Nona Emina terduduk lemas.


"Apa yang terjadi dengan Nona Emina?!"


"Sihir ini juga menghisap Mana kita," ucap Nona Licia.


Apa yang dia rencanakan?!


"Ugh!"


Sial tubuhku tidak bisa bergerak, bahkan sihir penguat tubuh tidak berpengaruh.


"Hei! Hentikan ini! Akan kutarik penutup matamu itu!" Pangeran berusaha menggerakan tubuhnya.


Dasar Pangeran bodoh!


Pangeran mulai berjalan secara perlahan menuju Uskup Agung.


Dia bisa melawan tekanan sihir ini?!


Uskup Agung terlihat terkejut.


Pangeran Mahkota, dia benar-benar sangat kuat.


*Bruk


Pangeran terduduk lemas.


"Us-uskup A-agung, t-tolong hentikan ini!" Sang Ayah yang melihat putranya tumbang pun tak bisa berbuat banyak.


Sialan! Bagaimana ini?! Huh?


"N-nona Hart?!"


Nona Hart dengan santai berjalan tanpa hambatan sedikit pun.


"Dasar, ya, kalian anjing milik Dewi sialan,"


Uskup Agung terkejut melihat Nona Hart yang dengan mudah berjalan tanpa terpengaruh oleh sihir miliknya.


Uskup Agung mengangkat tangannya.


Sesuatu yang bercahaya muncul di tangannya.


Apa itu sihir serangan?


Cahaya berbentuk tombak muncul.


Energi sihir yang sangat kuat menyelimuti cahaya itu. Itu tidak terlihat seperti sihir suci, sihir apa itu sebenarnya.


"White Blood Spear!" Uskup Agung melempar tombak sihir miliknya.


*Wush!


"Apa?!"


Energi gelap muncul di sekitar Nona Hart dan melahap sihir milik Uskup Agung.


"Anti Magic Area." Nona Hart mengangkat tangannya ke atas.


Ini, 'kan ... benar, ini pernah digunakan saat turnamen di Kekaisaran.


"Ugh." Sihir kuat yang menahan semua orang langsung hilang.


Nona Hart ... padahal MP miliknya belum pulih.


"Hah ... kenapa sihirku tidak bekerja?!" Uskup Agung kebingungan.


Energi gelap di sekitar Nona Hart perlahan berkumpul di satu titik.


Energi itu bergabung menjadi sebuah bentuk manusia.


Semua orang terdiam melihat energi gelap itu.


Kegelapan mulai memudar, sesuatu terlihat!


"Perkenalkan, Beliau adalah Ratu dari Kerajaan Penyihir Maphas, Daisy Maphas,"


Sesosok wanita muncul dari balik bayangan itu.


Wajahnya terlihat tidak asing. Huh ... memang tidak asing! Tapi, siapa?!


"Raja, apa kau yakin ingin menolak permintaan kerjasama yang aku tawarkan?" tanya Nona Hart.


"Aku te-"


"Hentikan! Kalian ... Iblis!" Uskup Agung memotong perkataan Raja. "Wahai Dewi, berikan hamba kekuatan untuk melawan Iblis-iblis jahat,"


Tubuh Uskup Agung bercahaya.


"Bukannya sihir tidak bisa digunakan?" tanyaku.


"Itu berkat," jawab Nona Licia.


"Berkat?"


"Uskup Agung memiliki berkat langsung dari Dewi,"


Jadi begitu, berkat Dewi ... tidak, ini sihir milik Dewi, sepertinya tidak terpengaruh terhadap skill Nona Hart.


Kedua tangan Uskup Agung mengarah ke depan.


Tunggu ... apa dia akan menembakkan sesuatu?


Nona Hart terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Cahaya terpusat di telapak tangan Uskup Agung.


Ternyata benar! Dia akan menembakan sesuatu seperti di anime yang kutonton dulu!


*Buaaar


Serangan itu mengarah ke Nona Hart.


*Buush!


Ratu Maphas menangkisnya hanya dengan satu tangan.


Apa kau bercanda?!


Nama : Daisy Maphas


Umur : -


Ras : Undead


Job : Magic Caster


Tittle : Queen of the Undead


Level : 1000


U-undead?! Dan levelnya juga sudah maksimal! Siapa sebenarnya dia?!


"Ba-bagaimana mungkin berkat Dewi tidak mempan?!" Uskup Agung terkejut.


"Huuh ... baiklah, aku akan meninggalkan Kerajaan ini, Yang Mulia Raja Hentrick, selanjutnya kita akan bertemu di medan perang,"


Apa?


"N-nona Hart ...." Aku mencoba menghentikan Nona Hart dengan mengangkat tanganku ke depan.


*Wuush


Mereka berdua menghilang.


Teleportasi, ya ....


 -----------------------------


Setelah menenangkan situasi di ruangan, beberapa petinggi dan Uskup Agung mengadakan rapat. Aku termasuk.


"Bagaimana ini? Apa kita akan berperang dengan makhluk itu? Belum lagi di sana ada Kekaisaran dan Kerajaan Elf Tharasia," tanya seorang Bangsawan.


Huuuh ... apa yang harus kulakukan? Apa aku juga akan terlibat dalam perang ini? Seharusnya kita memerangi Iblis. Aku tidak bisa membayangkan saat pedang ini aku arahkan pada Nona Hart.


*Brak


Aku pergi meninggalkan ruang panas itu.


"Huuuh ... merepotkan,"


Aku terdiam memandangi langit dari balkon Istana.


"Kelihatannya Sang Pahlawan sedang gelisah." Seseorang datang menghampiriku.


Dia ... ternyata Saint Suci yang membantuku melawan Dragonewt.


"Salam, Saint Suci,"


"Panggil saja Alfred,"


"B-baiklah, Tuan Alfred, tolong panggil Saya Zain,"


Kami tertawa kecil.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Tuan Alfred.


"Huuuh ... entahlah,"


"Apa kau ingin belajar Martial Arts?"


Mataku seketika melebar. "Apa Anda serius?"


"Ya, aku juga ingin menurunkan skill yang kupunya, dan tidak ada orang yang menarik perhatianku, sampai aku bertemu denganmu. Lagipula, dengan kondisiku sekarang, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi,"


Ini kesempatan bagus, dengan belajar Martial Arts, aku bisa berkembang.


"A-aku menerima tawaran Anda,"


"Itu bagus, Zain."


Kami melanjutkan perbincangan tersebut hingga lupa dengan situasi di sekitar.


A. Harapan Kecil


Di mana aku?


"Ah ...." Uskup Agung sialan itu menahanku dengan sihir anehnya. Kemudian ... wanita bernama Alissa Hart itu, siapa dia sebenarnya? Dia bisa meniadakan sihir. Aneh ....


Orang yang muncul secara tiba-tiba itu, kehadirannya bagaikan bayangan kematian. Jika salah melangkah, aku akan mati. Sosok itu seperti yang telah digambarkan dalam cerita 300 tahun lalu. Apa mungkin dia ... tidak, orang-orang di sana belum melaporkan tentang kebangkitan Beliau. Tapi, Ratu Daisy Maphas itu memiliki aura yang sama seperti dalam gambaran cerita itu. Apa mereka memiliki hubungan? Jika itu benar, apa Beliau bisa bangkit kembali? Semoga saja.


[Pilar ke tiga, datanglah ke markas besok,]


[Baik, Nona Sharah.]


Bersambung ....



Hai, Gaes! Maaf karena tiba-tiba jadi lama update lagi. Tiba-tiba kerjaan Saya menumpuk 😭


Tapi, akan diusahakan agar terus update, kok, jadi support terus, ya!


JANGAN LUMA LIKE DAN KOMEN! ❤️