
Chapter 52 : Kerajaan True Vampire
2 hari kemudian.
Belum ada kabar dari Lilith hingga detik ini, aku sudah bersiap-siap untuk menarik item itu dari tempat mereka.
Aku akan menunggu hingga malam nanti.
"Ibu! Tolong pulangkan undead menyebalkan ini!" Rayna berteriak tidak jelas di dalam kamarku.
"Dasar vampire rakus! Kau itu hanya benalu yang selalu menghisap darah Master!"
Sesaat setelah aku mencoba pedang Durandal, aku mencoba men-summon Daisy, dan ternyata berhasil. Hal itu sungguh mengejutkanku. Tapi, Daisy tidak dengan kekuatan penuhnya. Delila melihat stat Daisy menurun, level-nya menjadi 800. Mungkin itu efek karena level-ku yang kemungkinan berada di kisaran 700 - 800, sehingga Daisy mengikuti stat-ku.
Ini pertama kalinya terjadi, bahkan aku belum pernah melihat makhluk panggilan terkena penurunan level. Kasus yang langka hanya menyebutkan bahwa makhluk panggilan akan mengalami penurunan statistik, bukan level. Itu terjadi jika sang pemanggil terkena efek sihir atau item yang memberikan efek debuff untuk waktu yang lama.
Daisy adalah makhluk yang melakukan kontrak denganku ketika aku berhasil menyelesaikan dungeon undead rank S bersama 12 NPC. Dan Ray juga naga yang kudapatkan dengan melakukan kontrak, tetapi dia tidak mengalami penurunan level. Apa itu karena dia makhluk asli dunia ini? Tunggu, saat pertama kali aku memanggil Daisy di dungeon beberapa tahun lalu, bos undead dungeon itu mengenali Daisy sebagai Ratu Undead, apa maksudnya itu?
Kepalaku jadi pusing ketika memikirkan hal ini!
"Kalian berdua, hentikan!" teriak Delila.
Kedua orang itu langsung terdiam.
Namun, aku mendapatkan pencapaian baru. Sekarang aku tidak perlu menunggu cooldown untuk memanggil Daisy, dan dia bisa bertahan lebih lama tanpa perantara tubuh. Yah, walau begitu dia tetap memerlukan perantara tubuh milik wanita dari party pahlawan.
"Daisy, mendekatlah ke sini."
"Baik, Master."
Aku memperhatikan Daisy yang terduduk di lantai.
Ada beberapa perubahan dengan fisiknya, dia sedikit lebih kurus dari sebelumnya, mungkin karena efek debuff. Dia masih mengenakan gaun hitam dengan baluran kaca di beberapa bagian, dan aura hitam yang masih menyelimuti tubuhnya.
Aku akan terus meningkatkan level-ku sampai kondisi Daisy kembali seperti semula.
"Daisy, karena kau terkena debuff yang sama sepertiku, aku ingin memberi satu pilihan untukmu. Apa kau ingin kembali sampai kekuatanku kembali, atau--"
"Aku akan tetap bersama Master. Aku juga ingin merasakan apa yang Master rasakan selama ini," jawab Daisy yang langsung memotong perkataanku.
Wajah gelap Daisy terlihat meyakinkan, aku tidak tega merusak semangat yang dimilikinya.
"Baiklah, aku mengizinkanmu, Daisy."
"Terima kasih, Master ... aku akan terus berusaha agar tidak menyusahkan Anda."
Semua telah berjalan semestinya, sekarang waktunya berbaring di tempat tidur menunggu kabar dari Lilith!
Di saat aku hendak berbaring, aku merasakan hawa kehadiran seseorang di luar kamar. Seperti sedang berjalan menuju ke kamarku.
"Daisy, Rayna, bersembunyilah."
"Baik."
Jika itu Hela, untuk apa dia berjalan di lorong asrama? Dia sudah terbiasa bersikap tidak sopan dengan membuka portal di kamarku.
*Tok Tok Tok
Orang itu mengetuk pintu kamarku.
"Alissia." Terdengar suara yang tak asing bagiku. Suara seorang gadis yang lembut.
Livia?
Aku bergegas membuka pintu kamarku.
Livia berdiri di hadapanku. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku dalam wujud remaja. Dia mengenakan pakaian kasual yang ditutupi oleh jubah berwarna merah bermotif kuning keemasan.
"Livia, apa yang kau lakukan di sini?"
Livia masuk ke kamarku dengan perasam riang.
"Kudengar kau masih berada di Akademi Sihir, aku memiliki sedikit urusan di sini, jadi aku sekalian mengunjungimu."
Aku juga penasaran bagaimana kabarnya sekarang, dia satu tahun di atasku. Pengalaman seperti apa yang telah dia kumpulkan selama setahun pasca lulus dari tempat ini.
Livia duduk di kasurku. Aku hanya memiliki 1 kursi di meja belajar yang tak pernah kugunakan. Sedikit sungkan, tapi beginilah kenyataannya, bahkan aku kehabisan teh di sini!
"Ngomong-ngomong, apa kesibukanmu selama 1 tahun terakhir?"
Livia melihat sedikit ke atas sambil memegang dagunya. "Hmmm ... aku belajar dan bekerja di divisi penyihir Kekaisaran, sedangkan Kak Theo menjadi petualang dan sekarang dia sudah rank A."
Divisi penyihir Kekaisaran, aku belum pernah mendengarnya, sepertinya Putri Anna sedang melakukan proyek besar di sana.
"Itu sungguh luar biasa, di usiamu yang masih muda, kau masuk dalam jajaran Kekaisaran."
Dia senang hanya dengan pujian kecil seperti ini.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian masih di sini? Di mana Erish?" tanya Livia.
"Aku masih memiliki beberapa urusan kecil di akademi ini. Dan Erish akhir-akhir ini sering keluar melihat-lihat suasana kota."
Itu benar, Erish sering bepergian ke kota, aku tak tahu apa yang dia lakukan saat ini.
Livia tersenyum dengan mata tertutup ke arahku. Suasana hatinya sangat bagus hari ini. Hal ini mengingatkanku pada kejadian 2 tahun lalu. Livia yang dulu terlihat suram dan menyedihkan, sekarang dipenuhi sinar cerah.
"A-apa kau baik-baik saja, Livia?" tanyaku gugup.
"Tidak ada. Aku hanya senang bisa bertemu lagi denganmu, Alissia."
"Aku juga, Livia."
Suasana menjadi canggung seketika. Livia terus melihatku dengan senyuman aneh itu, aku sangat gugup.
"Bagaimana kabar Alissa Hart saat ini?!" tanya Livia dengan penuh antusias.
Ah, jadi ini maksud dari sikapnya tadi. Aku melupakan hal ini, dia sungguh tergila-gila padaku, maksudku, Alissa Hart.
"Aku belum pernah kembali sejak berada di Akademi Sihir."
"Begitu, ya." Livia terlihat murung saat rnendengar jawabanku.
Aku malah mematahkan semangat gadis ini!
"L-livia, kau pasti akan bertemu dengannya!"
"Itu benar!" Livia kembali bersemangat. "Beberapa bulan lagi, pimpinan Keluarga Hart akan mengunjungi Kerajaan Penyihir Maphas, beberapa keluarga cabang juga akan hadir termasuk keluargaku!"
Wah, ini informasi yang penting.
"Aku bisa bertemu dengan Alissa Hart! Kak Theo pasti iri!" Livia tertawa kecil.
Dia sangat bahagia, aku tak tega menghapus senyum bahagianya itu.
"Livia." Aku memegang kedua pundak Livia. "Aku berjanji bahwa kau akan bertemu dengan Alissa Hart di sana."
"Benarkah?" Livia menatapku dengan tatapan penuh harap.
"Iya, aku berjanji!"
Aku akan menjaga malaikat kecil ini!
------------------------------------
Malam harinya.
"Obrolan yang melelahkan."
"ibu terlihat bersemangat," ucap Delila.
"Huh?"
Livia telah kembali mengerjakan urusannya, kini suasana menjadi sepi. Masih ada beberapa jam sebelum aku menarik item dari tangan True Vampire.
"Delila, sampaikan informasi soal kedatangan Keluarga Hart ke kerajaan. Minta Elina mengatur semua skenario untuk mereka."
"Baik, Ibu."
Aku masih belum yakin, sepertinya Kepala Keluarga Hart ingin mengklaim Alissa Hart dan memperkuat pengaruh mereka. Bisa saja ini menjadi tanda-tanda mereka akan membelot dari Kekaisaran ke Kerajaan Maphas.
Aku menghela napasku. "Sial."
Jika itu benar, aku tak bisa berkata-kata lagi. Pemimpin Keluarga Hart sangat bodoh.
[Alissa Hart.] Seseorang menghubungiku melalui telepati.
Suara ini ... Hela.
[Yang Mulia, apa Anda memerlukan sesuatu?]
[Kemarilah, Lilith sudah datang.]
Bingo!
[Baik, Yang Mulia, Saya akan segera ke sana.]
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA