The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Malaikat Bersayap Hitam



Apa yang sudah terjadi?!


Aliran Mana di mata Putri Anna semakin tidak terkendali.


Seluruh tubuh Putri Sharah diselimuti aura putih.


Huuh ....


"Maaf sudah membuatmu kesulitan, Putri, oh, tidak, maksudku, Baginda Kaisar Annat-"


*Swing!


Pedang Putri Anna dengan cepat mencapai leher Putri Sharah.


"Hentikan, kalian berdua!"


Mereka mengabaikanku.


Putri Sharah menggeser pedang yang diarahkan ke lehernya dengan sangat mudah hanya menggunakan satu jari telunjuk.


Hoh ... levelnya memang sudah berbeda dari Putri Anna. Tidak, tidak! Aku harus menghentikan mereka!


"Divine Chain." Aku mengikat tubuh mereka dengan sihir berbentuk rantai.


"Y-yang Mulia!"


"Baginda Ratu ...."


{Low Indimitadion Aura:ON}


"Hentikan omong kosong ini,"


"B-baik!" Mereka berdua menjawab serentak.


Kedua Putri itu tertunduk lesu seperti seekor anak anjing.


Ini jauh lebih baik.


Aku memandangi mereka dengan tatapan hina.


Mereka malah suka dengan tatapan penghinaan yang kutunjukan kepada mereka.


Kalian berdua benar-benar tidak waras!


"Aku tidak ingin melihat pertengkaran konyol seperti itu lagi. Jika kalian mengulanginya maka aku akan-"


Mereka berdua langsung memegang kedua tanganku.


"Yang Mulia, kami berjanji tidak akan melakukan tindakan memalukan seperti itu lagi," ucap Putri Anna.


Diakhiri dengan sebuah kecupan di punggung tanganku.


Mecium tangan adalah simbol kesetiaan. Ini sering dilakukan oleh para pelayan terhadap majikannya. Jadi, jangan berpikir yang macam-macam!


"Baiklah, ayo kita pergi,"


Putri Sharah memberiku jubah hitam seperti milik Putri Anna dan miliknya.


Mungkin ini jubah khusus milik Sekte Hitam. Sebisa mungkin aku akan menghilangkan aura milikku. Karena Putri Sharah bilang ada beberapa item di sana yang tersinkron dengan Mana milik Keres.


"Gate." Putri Sharah mengaktifkan Gate.


Sebuah portal teleportasi muncul.


Itu seperti sihir teleportasi, namun ada perbedaan signifikan. Gate adalah sebuah sihir berbentuk portal yang bisa dibuka di mana saja tanpa terdeteksi oleh sihir pelacak. Tetapi, hanya bisa menampung satu tempat di dalam portal itu. Jika ingin menggantinya, maka pengguna sihir Gate harus menghapus lokasi sebelumnya, dan menggantinya dengan lokasi baru. Aku jarang menggunakan ini. Jadi teleportasi jauh lebih unggul daripada Gate.


Aneh, Putri Sharah bisa menggunakan teleportasi, kenapa tidak pindah dengan teleportasi saja?


"Silahkan masuk, Baginda Ratu,"


"Panggil aku Alissa mulai sekarang,"


"B-baiklah,"


Aku benar-benar tidak nyaman dengan sebutan itu.


Aku mulai memasuki Gate, diikuti oleh kedua Putri.


Kami sampai di ruangan yang cukup gelap.


Putri Sharah menggunakan sihir cahaya untuk menerangi ruangan.


Ruangan ini sangat kecil. Sepertinya kami di dalam sebuah menara.


"Bagi- Alissa, ini adalah ruangan arsip di menara tertinggi," ucap Putri Sharah.


Oh, jadi Gate itu mengunci lokasi di dalam menara ini, ya? Aku memang merasakan energi sihir di luar, itu mungkin adalah segel. Menara ini tidak bisa dimasuki sembarang orang. Masuk ke sini dengan teleportasi memang tindakan yang salah. Menarik.


"Ada apa di sini, Putri Sharah?" tanyaku.


"Anda pernah bilang kalau sebagian ingatan Anda menghilang saat disegel, jadi Saya menyarankan Anda membaca semua arsip dari masa lalu ini,"


Heeeh?! Aku menyesal karena menggunakan alasan itu! Sialaaan!


"Ti-tidak perlu terburu-buru, aku akan segera mengingatnya. Bagaimana kalau kita keluar sekarang,"


"Baiklah, jika itu keinginan Anda,"


Huuh ... aku tidak suka melakukan hal-hal yang membosankan. Mungkin akan kubaca jika ada waktu luang. Aku memang sangat penasaran, sih.


Putri Sharah membawa kami dengan teleportasi.


 ----------------------------


Kami keluar dari menara.


"N-nona Sharah?!" teriak seseorang.


"Iya?"


"Apa Anda tadi berada di dalam?"


Putri Sharah mengangguk.


Kami tepat berada di depan menara tadi.


Melihat reaksi orang-orang di sini, tampaknya Putri Sharah memang sangat dihormati.


"...." Aku melihat ke arah Putri Anna.


Dia hanya diam daritadi.


"Putri Anna, apa ada hal yang mengganggumu?"


"Ti-tidak ada, Yan- Alissa,"


Aku menggenggam tangannya.


Putri Anna terkejut dengan perlakuanku.


Kami bertiga berjalan menuju tempat utama Sekte Hitam berkumpul.


Riuh suara para pedagang menawarkan dagangan mereka. Kota ini sangat ramai. Tidak terbayangkan bahwa kota ini merupakan markas Sekte Hitam.


Sepertinya aku tahu penyebab diamnya Putri Anna. Kota ini masih berada di wilayah Kekaisaran, sebagai Kaisar, Putri Anna sepertinya sedikit canggung untuk datang ke Sekte Hitam. Huh ... dasar wanita! Aku akan ingatkan sekali lagi, aku bukan wanita, jadi aku tidak sama sepertinya!


 -------------------------------


Kami telah sampai di tempat utama.


"Bagin- Alissa, kita sudah sampai, ayo masuk," ucap Putri Sharah.


Ngomong-ngomong, siapa pimpinan mereka? Sudah pasti bukan Putri Sharah, karena dia pimpinan di divisi sihir.


Kami memasuki tempat utama.


"Selamat datang, Nona Sharah dan Nona Anna," ucap salah seorang anggota Sekte Hitam.


Putri Sharah mengangguk, Putri Anna hanya diam sambil memegang erat tanganku.


Ada apa dengan anak ini?


"Nona Sharah, siapa wanita yang Anda bawa?"


"Dia rekanku, dan akan menjadi anggota baru di Sekte Hitam,"


Heh?


"Waah, kita harus merayakannya,"


Perayaan apa?! Aku tidak pernah bilang ingin bergabung dengan kalian!


"Tidak perlu,"


Kami melanjutkan perjalanan ke bagian ruangan terdalam.


"Ke mana tujuan kita, Putri Sharah?" tanyaku.


"Saya akan mengenalkan Anda dengan Pimpinan Sekte Hitam, Baginda Ratu,"


Dia kembali berbicara formal dengan memanggilku Ratu.


*Kreeek


Pintu terbuka. Kami memasuki ruangan terdalam.


Ruangan diselimuti energi gelap yang sangat pekat.


Seseorang duduk di singgahsana.


"Salam, Nyonya Abigail." Putri Sharah menundukan kepalanya.


"Selamat datang, Putri Sharah dan ... Baginda Kaisar Annatasya,"


Putri Anna hanya menundukan kepala dan diam tanpa sepatah kata pun.


"...." Orang itu mengarahkan energinya ke arahku.


Kelihatannya dia lebih kuat dari Putri Sharah. Aku tidak bisa melihat fisiknya dengan jelas karena ruangan yang gelap.


"Putri Sharah, siapa orang yang kau bawa ke sini?" tanya orang itu.


"Nyonya tidak mengenalnya?!"


Sepertinya dia lupa bahwa aku sedang menekan auraku.


"Aku tidak merasakan apa-apa darinya,"


"Tidak ... dia adalah-"


"Orang ini adalah utusan dari Kerajaan Penyihir Maphas." Putri Anna langsung memotong perkataan Putri Sharah.


Heh? Kenapa dia membuat ini semakin rumit?!


Tujuan Putri Sharah adalah memperkenalkanku sebagai Keres. Tapi, dia terlalu terburu-buru. Dan juga, Putri Anna malah menambah kerumitan ini dengan menyebutku sebagai utusan Kerajaan Maphas.


"Hmmm ... Kerajaan yang menurunkan martabat kalian berdua itu?" sindir orang itu.


Auranya semakin mengancam. Siapa orang ini?


Ruangan perlahan menerang karena sihir cahaya yang dilepaskan oleh Putri Sharah.


Sosok yang sebelumnya ditelan kegelapan itu perlahan terlihat.


Terlihat sosok wanita mengenakan jubah hitam duduk di singgah sana. Matanya merah, serta warna rambutnya juga sama sepertiku. Rupanya seperti wanita berumur 30 tahunan.


Bagian yang menarik perhatianku ialah sepasang sayap di punggungnya.


Dia ... bersayap?! Aku ingin sekali melihat stat miliknya.


Satu hal yang pasti, dia bukan Manusia. Sayap hitam, dikatakan dalam informasi ras, sayap hitam yang dimiliki oleh Malaikat adalah sebuah hukuman dari Dewa. Malaikat dengan sayap hitam dianggap sebagai aib dan dibuang dari dunia Dewa. Mungkin orang ini memiliki hubungan dengan Dewi.


"Nyonya Abigail, kami menjadi Negara Bawahan bukan tanpa alasan," ucap Putri Sharah.


"Apa Nona Kaisar di sebelahmu juga berpikiran yang sama?" tanya orang itu.


Kedua Putri hanya terdiam.


"Anda sangat kelewatan karena sudah merendahkan dua orang yang sangat loyal ini, Nyonya," ucapku.


".... Maaf atas perlakuan buruk yang aku tunjukan, Nona Utusan,"


Auranya memudar.


 ------------------------------


Kami meninggalkan ruangan itu.


Pertemuan itu berlangsung singkat. Dia terlihat tidak bersemangat untuk melakukan apa pun.


Dia menerimaku sebagai utusan dari Kerajaan Maphas walau masih mencurigaiku pastinya.


Kami bertiga berada di ruang tamu.


Ini memang terlihat seperti ruang tamu, jadi anggap saja begitu.


"Baginda Ratu, orang itu salah satu dari 10 Pilar terkuat Sekte Hitam," ucap Putri Sharah.


"Lebih tepatnya, dia Pilar ke dua," sambung Putri Anna.


Pemimpin, nomor dua?


"Siapa Pilar Pertama?"


"Orang itu ... jarang menunjukan dirinya,"


Huuuh ... semuanya sudah jelas.


*Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk," sahut Putri Sharah.


"Permisi, Nona Sharah." Seorang pria masuk ke ruangan.


Pria itu terlihat tidak asing.


Tunggu ... dia?!


Pria itu menatap tajam diriku. "K-kau?!"


Dia bajingan dari Kerajaan Rexist.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMENT, YA! ✨❤️