The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kebaikan



Itu benar. Master tidak pernah menjelaskan kenapa ia menjadikanku sebagai muridnya.


Hela memberanikan diri untuk bertanya pada Ker tentang alasan dia yang menjadikannya sebagai murid. Karena kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.


"Apa maksud Anda, Master?"


Ker menyentuh pipi Hela dengan lembut. "Hela, aku tidak ingin muridku terjerumus dalam kegelapan lagi,"


Murid? Ada murid lain selain aku?


"Alasanku menjadikanmu sebagai muridku, itu karena kau memiliki kegigihan yang sama dengannya," sambung Ker.


Hela menepis tangan Ker yang sedang menyentuh pipinya.


"Tidak mungkin. Aku tidak percaya jika hanya itu alasannya!" teriak Hela dengan nada kesal.


Hela sangat kesal, bahkan tangannya hampir tak terkendali untuk memukul Ker.


"Namun, ia terbuai dengan kedudukan tinggi dan berakhir diasingkan,"


Hela hanya diam menyimak perkataan Ker.


"Aku hanya tak ingin kau tenggelam dalam balas dendammu pada Iblis. Tolong ... dengarkan permintaan Mastermu ini." Wajah Ker tampak sedih.


Hela menundukan kepalanya. Ia tak tahan melihat wajah sedih yang ditunjukkan Ker padanya.


"Master curang. Bagaimana Saya bisa menolak permintaan Anda dengan wajah seperti itu?!"


Hela menjatuhkan kepalanya di dada Ker.


"Tunggulah beberapa tahun lagi,"


"Apa yang Master rencanakan?"


Ker mengangkat kepala Hela yang bersandar di dadanya.


"Menunggu kabar. Kau juga tahu bahwa aku tidak bisa pergi jauh meninggalkan gua, 'kan?"


Hela mengangguk.


Ada hal yang mengekang Ker saat itu. Ia hanya bisa keluar dengan radius 5 kilometer dari gua. Ada sebuah penghalang yang terpasang dalam radius itu. Penghalang itu yang menahan kekuatan Ker agar tidak bocor keluar. Hanya Ker yang tidak bisa melewati penghalang itu, tidak berlaku dengan makhluk lain. Karena hal itu, kekuatan Ker yang menyebar dalam radius 5 kilometer dianggap sebagai aura kematian oleh makhluk di sekitar hutan.


"Ada rekan Master di luar sana?"


"Iya. Karena itu aku memintamu untuk tinggal di gua menunggu kabar dari mereka,"


Mereka?


"Baik, Master."


Hela sedikit kecewa dengan jawaban Ker tentang alasan diangkatnya ia menjadi muridnya.


Master pasti menyembunyikan sesuatu dariku.


"Ngomong-ngomong, siapa musuh yang Anda maksud sebelumnya, Master?"


"Kau akan segera mengetahuinya nanti."


Ker hendak pergi meninggalkan gua. Tak lama kemudian, Hela menahan tangan Ker.


"Master,"


"Ada apa?"


"Apa yang harus Saya lakukan sekarang? Anda sudah mengajarkan semuanya pada Saya,"


"Kapan aku bilang begitu?"


Hela terkejut dengan perkataan Ker.


"Jika itu terjadi, seharusnya kau sudah bisa mengimbangiku saat ini," lanjut Ker.


Hela mengerutkan keningnya. Sekali lagi, perkataan Ker membuatnya kesal.


"Anda benar, Master."


Melihat sosok Ker, terkadang Hela tidak suka dengan cara Ker menjawab pertanyaannya. Namun, di lain sisi, ia sangat menghormati dan menyayangi Ker sebagai Masternya.


"Yah, aku memang sudah mengajarimu 'semuanya'." Ker menekankan suaranya. "Untuk mengisi kekosonganmu, aku punya hadiah menarik untukmu,"


Lingkaran sihir muncul di bawah mereka. Sesuatu naik keluar dari lingkaran sihir itu.


Area di sekitar gua semakin membesar.


Hela hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukan Masternya.


Guanya melebar? Apa ini benar-benar gua alami?


Perhatian Hela kembali tertuju pada sosok yang keluar dari lingkaran sihir. Sesuatu berdiri tegak setinggi 15 meter, tak terlihat jelas wujud fisiknya karena energi sihir berwarna merah menyelimutinya.


Hela menelan ludah, bahkan keringatnya menjadi dingin ketika merasakan energi yang cukup besar dari sesuatu di sana.


"Mau sampai kapan kau berdiam seperti itu ... Phoenix," ucap Ker.


*Bush!


Sesuatu mengembang dari kanan hingga membentang ke kiri. Hela sangat terpesona dengan pemandangan yang sangat indah di hadapannya. Sepasang sayap raksasa terbakar oleh api yang berwarna-warni.


Sosok itu perlahan terlihat jelas.


Burung?


Seekor burung raksasa yang sangat indah, Hela belum pernah melihat burung seperti itu.


"Sudah sekian lama, akhirnya kau memanggilku dari puncak gunung suci, Ker," ucap burung itu dengan suara yang bergema.


Hela bingung kenapa Masternya memanggil makhluk sekuat ini.


Apa Master ingin dia menjadi familiarku?


"Aku tak ingat pernah memanggilmu, kau yang merengek memintaku untuk menjadikanmu familiarku,"


Phoenix mengepakkan sayapnya. "Hentikaaaan! Itu sangat memalukan!"


Udara mendorong Hela hingga ke dinding gua.


Walau aku sudah menahannya dengan sekuat tenaga, kepakan sayapnya masih bisa mendorongku.


"Lupakan itu. Phoenix, aku ingin meminta bantuanmu,"


"Ohoo ... tak disangka, Dewi Kematian meminta bantuan pada orang lain,"


Ker melihat ke arah Hela. "Anak itu, dia adalah muridku,"


"M-muridmu?!"


Phoenix menatap tajam Hela.


Tubuh Hela bergetar karena aura intimidasi yang dipancarkan Phoenix padanya.


"Diam!" Ker memotong perkataan Phoenix.


Phoenix menunduk ketakutan karena kemarahan Ker.


"M-maafkan aku."


Hela sedikit penasaran dengan perkataan Phoenix. Ia ingin bertanya, namun mengurungkan niatnya setelah melihat kemarahan Masternya.


Ker menghela napasnya. "Phoenix, kau sudah melihat karakteristik sihir anak ini, 'kan?"


Hela menggembungkan pipi sebelah kirinya karena kesal kedua orang di depannya terus memanggilnya "anak".


"Aku paham. Kau benar-benar mengajarkan semuanya pada anak ini. Tapi, apa ini tidak masalah?"


"Tidak,"


"Baiklah. Jadi, apa yang harus kulakukan?"


"Ajarkan anak ini agar bisa menggunakan sihir api abadi milikmu."


Phoenix mengepakkan sayapnya lagi. "Apa kau bercanda?! Monster seperti apa yang akan kau besarkan kali ini?!"


"Percayalah padaku untuk kali ini, Phoenix."


Phoenix melihat Hela sambil berpikir, mengambil keputusan apakah ia menerima Hela atau tidak.


Hela mencoba menghentikan Masternya.


"M-master, Saya rasa itu tidak perlu,"


Ker melirik Hela dengan tatapan tajam. "Ini perlu. Api keabadian sangat cocok denganmu. Sangat sulit menemukannya di dunia ini. Dapat mempelajarinya langsung dari Phoenix yang agung pasti akan membuatnya semakin kuat,"


Phoenix sedikit melirik pada dua orang itu.


"T-tapi, Master ...."


"Jika Phoenix yang agung tidak mampu mengajarimu, maka aku akan cari familiar lain yang sebanding dengan--"


"Aku akan mengajarinya!" Phoenix memotong perkataan Ker dengan suara lantang.


Phoenix merasa bahwa Ker sedang merendahkan martabatnya. Karena hal itu, ia tak punya pilihan lain.


"Kukuku ... baiklah, aku menyerahkan anak ini di bawah bimbinganmu, Phoenix."


Hela sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.


Wujud Ker perlahan memudar dan menghilang dari gua tersebut.


Kini, hanya tersisa Hela dan Phoenix di dalam gua. Suasana begitu canggung bagi Hela.


"Hei, anak kecil,"


"Iya?"


"Jangan membuat Ker sedih. Cukup para bajingan itu yang melukai hatinya, aku tak ingin kau juga terlibat." Phoenix berbicara sambil mengarahkan aura intimidasi pada Hela.


"A-apa maksud Anda?"


"Ker, dia wanita yang baik, hanya saja orang-orang di sekitarnya memanfaatkan kebaikan itu,"


Hela termenung membayangkan Masternya yang hidup dalam kesedihan. Dadanya langsung sesak setelah membayangkannya, ia tahu betul kesedihan seperti apa yang Masternya rasakan. Karena Hela mengalami kesedihan akibat kehilangan orang yang dia sayangi.


"Ker sangat mempercayaimu, aku sedikit paham alasannya. Tapi, aku harap kau tidak mmengecewakannya,"


"Baik." Hela menganggukkan kepalanya.


Phoenix mulai menjelaskan tentang api keabadian yang akan dia ajarkan pada Hela.


----------------------------------


40 tahun kemudian.


Pertarungan dahsyat sedang berlangsung di dalam gua. Hela dan Phoenix sedang melakukan latih tanding. Mereka saling adu kekuatan sihir, jika tanpa pelindung yang menyelimuti gua, segalanya yang ada di sana akan hancur, bahkan hutan akan hilang tanpa bekas.


Hela telah bertambah kuat. Kekuatannya jauh lebih superior di antara makhluk yang ada di dunia ini. Namun, hingga saat ini Hela belum diizinkan untuk keluar dari gua.


Hela dan Phoenix berhenti untuk beristirahat setelah melakukan latih tanding.


"Tak kusangka, sekarang anak kecil sudah berkembang pesat," ucap Phoenix.


Phoenix sedikit terkejut dengan perkembangan Hela. Bahkan Hela bisa mengimbangi Phoenix yang menggunakan setengah kekuatannya.


Hela masih sangat lelah. Ia memilih untuk tidak meladeni perkataan Phoenix. Karena Phoenix sering memanggilnya anak kecil.


"Hela," panggil Phoenix.


"Iya?" Hela sedikit terkejut karena Phoenix jarang memanggil namanya.


"Sepertinya Mastermu akan datang."


Hela juga merasakan kehadiran sihir teleportasi di dalam gua.


Lingkaran sihir muncul, diikuti dengan kedatangan Ker.


"Master!" Hela langsung bergegas menyambut Masternya.


Sebelum Hela sampai, Ker dengan cepat menepuk kening Hela. Cahaya muncul di kening Hela.


"M-master, apa ini?"


"Sekarang, kau boleh keluar, Hela." Ker tersenyum lembut.


"Ker tersenyum!" seru Phoenix.


"B-benarkah?!" tanya Hela dengan antusias.


"Namun, jangan sesekali mencari masalah dengan para Iblis sampai aku memberimu izin,"


Tak masalah, tujuanku saat ini hanya ingin keluar dan bertemu dengan keponakanku!


Itulah tujuan Hela saat ini.


"Baik, Master!"


Hela langsung bersiap-siap memperbaiki penampilannya dengan sihir perubahan. Ker mengajarinya cara merubah pakaian hanya dengan sihir. Selama ia memiliki Mana, pakaian apa pun bisa dibuat. Jika Mana habis, maka pakaian itu akan menghilang dan otomatis ia akan telanjang.


"Master, Saya akan segera kembali!"


Hela berteleportasi tepat di pintu masuk gua.


Tatapannya lurus ke depan. Pemandangan hutan yang telah lama tidak dilihatnya membuatn Hela semakin semangat.


Liche ... aku akan melindungimu!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!