
Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia tidak bisa membaca situasi sekarang?!
Elina menerobos keluar dari kamar sambil menangis.
"Elina, kembali!"
Dia tak menghiraukanku.
"Kak Elina hanya pergi ke kamar Theresia," ucap Delila.
Karena Theresia juga Elf, aku berharap dia bisa menenangkannya. Sekarang, ayo dengar apa yang ingin wanita ini sampaikan.
"Masuklah, Nona Tiffany-- tidak, maksudku Guru Tiffany,"
"Aku merasa terhormat bisa menjadi guru untuk orang sepertimu, Nona Alissa." Tiffany tersenyum sambil menarik kursi dari sudut dinding kamar.
Dia sangat santai, menganggap ini seperti kamarnya sendiri. Aku suka itu! Ngomong-ngomong, sepertinya dia sudah mengenalku. Ternyata benar, kami pernah berhubungan sebelumnya.
"Apa yang membawamu kemari, Nona Tiffany?"
"Aku sangat terkejut ketika kau mengungkapkan identitasmu tadi. Dan aku ingin berbicara tentang pertemuan pertama kita waktu itu,"
"Oh, hanya itu,"
Pertemuan pertama yang mana?!
"Nona Alissa, apa menurutmu aku ini kuat?"
"Jika kau tidak kuat, maka kau tidak akan berada di jajaran 3 Guru Elite, 'kan? Orang-orang mengakuimu,"
"Bukan itu maksudku. Aku tidak peduli hal itu, keberadaanku sebagai Guru Elite juga tidak banyak yang mengetahuinya,"
Benar juga, dia mengajar kelas Bronze selama ini.
"Aku ingin tahu dari sudut pandangmu, selama ini perkembanganku terhenti sejak waktu itu,"
Dia merasa terbebani dengan kejadian yang menimpanya. Dan masalahnya, kejadian itu berhubungan denganku! Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dengannya.
"Hei, aku tak paham apa yang kau bicarakan, tapi kondisi kami sedang kesulitan pasca peristiwa tadi. Ibuku sedang memikirkan perperangan di masa depan. Terlebih lagi, pertemuan apa yang kau maksud? Ibu tak pernah meluangkan waktu untuk menemui orang lain." Delila memotong pembicaraan dengan rasa kekesalan di wajahnya.
Ha ... ha ... Delila mewakili perasaanku!
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Pertarungan waktu itu masih mengangguku, aku tak tahu bagaimana cara lepas dari bayang-bayang Alissa Hart,"
Pertarungan? Aku pernah bertarung dengannya?
"Sebuah turnamen di Kekaisaran, aku kalah oleh Nona Alissa. Dia mengalahkan jangkauan sihir cahayaku dengan sihir kegelapan miliknya," lanjut Tiffany.
"Apa itu benar, Ibu?"
Ah! Dia wanita yang kulawan waktu itu! Sekarang aku ingat. Aku sedikit menikmatinya, walau akhirnya mendapat gangguan dari para Iblis.
"Tentu aku ingat. Itu benar-benar menghiburku,"
Maaf, karena sudah melupakannya!
"Ibu, sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal ini,"
"Tidak, Delila, aku ingin mengatakan sesuatu padanya."
Aku juga merasa bersalah soal itu. Dia hanya kurang beruntung menjadi lawanku waktu itu. Jika dilihat dari sihirnya, dia sudah termasuk penyihir yang hebat. Aku tak menyangka dia adalah Guru Elit di sini.
"Nona Tiffany. Perkembanganmu terhembat karena kurangnya rasa percaya dirimu,"
"Percaya diri? Aku sudah berusaha untuk percaya diri pada kemampuanku, aku termasuk yang terbaik di Menara Cahaya,"
Itu bukan percaya diri, Nona, tapi kesombongan!
"Eheeem ... maksudku, kau bisa terus berkembang tanpa dibayangi oleh orang yang mengalahkanmu. Jadikan mereka sebagai alasan untukmu berkembang. Percayalah pada kekuatanmu. Tidak selamanya jalan yang kita lalui akan selalu mulus, terkadang kita membutuhkan beberapa rintangan untuk belajar dan terus berkembang,"
Mata Delila bersinar-sinar ketika melihatku, seolah berkata, "Ibu, kau keren!"
Aku memang keren!
"Jadi begitu. Aku mulai paham maksud perkataanmu, terima kasih,"
"Jangan sungkan untuk berbicara denganku jika kau memiliki masalah---"
"Nona Alissa." Tiffany memotong perkataanku dengan cepat.
"I-iya?"
"Aku ingin latih tanding denganmu. Aku akan memperhatikan seluruh pergerakanmu. Memahami lawan yang mengalahkanmu, menjadikan tindakan mereka sebagai tujuan baruku,"
Heh?
"Tolong, berlatih tandinglah denganku."
Wanita ini, sepertinya dia salah memahami maksud perkataanku tadi.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu,"
"Aku memiliki masalah yang sama seperti Ratu Hela, kehilangan kekuatanku. Seperti yang bisa kau lihat, aku selalu ditemani oleh Delila, dia yang melindungiku,"
"Kau tidak mencoba cara yang sama?"
Cara yang sama?
"Tidak, ini sedikit lebih rumit dari yang Ratu Hela alami. Aku tak tahu bagaimana cara menyembuhkan ini,"
"Jadi begitu, ya. Maaf sudah merepotkanmu,"
"Tidak masalah, Nona Tiffany,"
"Baiklah, aku akan pergi. Sampai jumpa di pesta nanti malam, Nona Alissa." Tiffany pergi.
---------------------------------
Malam hari pun tiba. Acara pesta telah dimulai. Aku, Delila, dan Elina masih sibuk memilih pakaian untuk pesta.
"Ibu, cobalah yang ini!" Elina memegang satu rak penuh dengan pakaian.
Lebih tepatnya, sibuk memilih pakaian untukku, sih.
Aku tidak suka dengan pakaian seperti itu. Bahkan pakaian yang Keres kenakan sedikit menekan dadaku, itu cukup untuk menggambarkan semua pakaian di sini.
"Kita cari yang lain." Aku memeriksa lemari yang penuh dengan gaun.
Aku tidak suka gaun. Akan lebih baik jika aku terus menggunakan pakaian petualang, kurang lebih harus mirip.
"Hmmmm ...?"
Ini, 'kan?
Aku menemukan sebuah pakaian yang sesuai dengan seleraku. Celana panjang berwarna hitam, jas ala militer kerajaan berwarna biru dengan bagian tengah terbuka yang bisa dilapisi menggunakan kemeja berwarna putih. Ada beberapa perhiasan di jas itu, terlihat seperti emas.
Ini sangat keren. Yah, aku harus singkirkan beberapa benda-benda bersinar ini, sangat mencolok. Wah, ternyata sudah termasuk jubah merah dengan lambang Kerajaan Mystick.
Aku akan memilih ini!
"Delila, Elina, bantu aku,"
"Baik!"
Elina dan Delila membantuku memakai pakaian ini.
Rasanya sangat tidak nyaman ketika ada orang yang meraba-raba tubuhku. Tapi, Elina dan Delila terlihat tidak memiliki maksud lain, mereka memang ingin memakaikan pakaian ini. Akan berbeda ceritanya jika Rayna ada di sini.
20 menit kemudian.
Aku berjalan menuju cermin besar di sebelah tempat tidur.
"I-ibu ... sangat tampan!" ucap Elina dan Delila secara bersamaan.
Mereka benar. Aku hampir tidak mengenal siapa orang di pantulan cermin ini. Sangat keren! Tubuhku terlihat berisi. Hmmm ... bagaimana jika aku menggunakan ekspresi seperti model pria macho?
"Kyaaaaa! Ibu sangat keren!" Dua wanita itu teriak tak karuan.
"Eheem ... ini semua berkat usaha kalian."
Elina dan Delila mengenakan gear berbentuk gaun yang sangat indah. Delila menggunakan gaun hitam dengan bagian ujung yang transparan. Elina mengenakan gaun berwarna hijau yang indah dan terlihat modis. Gear itu berasal dari ruang penyimpanan harta di dungeon, tentu saja memiliki beberapa buff besar di dalamnya.
*Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu kamar kami.
"Nona Alissa, Saya maid yang dikirim oleh Yang Mulia Ratu. Ada surat yang harus Anda baca,"
"Surat?"
Maid itu membuka pintu dan berjalan menuju ke tempatku.
Homunculus, dia benar-benar dikirim langsung oleh Hela.
Delila mengambil surat itu dan menyerahkannya padaku.
Apa dia berubah pikiran dan memilih mengakhiri pesta ini? Yah, aku berharap begitu, sih.
Surat itu berbentuk lipatan segi empat, memiliki simbol sihir di atasnya.
Sebuah segel, ya? Aku tahu pola segel ini. Membutuhkan sedikit Mana dari si penerima yang sudah diatur oleh pengirim.
Aku mengalirkan Mana-ku pada surat. Segel perlahan menghilang.
Baiklah, mari kita lihat apa isinya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!