
Tak ada celah, Glenn membuat dinding bayangan untuk menahan Clara yang hendak menebaskan pedang sihir itu. Suara ledakan dari sisi lain terdengar, Clara sepertinya tidak bercanda ingin menghancurkan Glenn.
Dia bersungguh-sungguh ingin membunuhku
Glenn mendapatkan kembali pijakan di tanah, dan bersiap memperlebar jarak dari Clara.
Aku tak ingin bertarung dalam jarak dekat, dia sudah mengalami banyak perkembangan. Ayah pasti mengajarinya teknik berpedang. Jadi, bagaimana dengan serangan jarak jauh?
Glenn menggunakan Shadow Dance : Step One untuk menyebarkan bayangan ke seluruh sisi.
"Percuma, Kakak!" Clara tertawa setelah berteriak seperti itu.
Wujud fisik Glenn masih berada di posisi yang sama, hanya tak bisa dilihat secara kasat mata. Namun, kakinya seperti menginjak sesuatu.
Glenn melihat sesuatu yang menyerupai lingkaran sihir di bawah kakinya. Dalam sekejap, ia menyadarinya.
Tanah tempatnya berpijak seketika bercahaya, ratusan lingkaran sihir kecil menyala di waktu yang sama.
Glenn kali ini benar-benar mati langkah.
Gawat!
Itulah kata yang muncul di benaknya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Mega Explosion Trap!" Clara merapalkan sihirnya.
Glenn panik serangan Clara yang di luar prediksinya. Nyawa semua orang di kediaman dalam bahaya. Cahaya di bawah semakin terang, bersiap untuk meledak.
Glenn menutup kecil matanya sembari mempersiapkan sesuatu di tangan kanannya.
"Kuserahkan padamu, Vyron," ucap Glenn pelan.
[Percayakan padak- eh?] Sesuatu menjawab melalui transmisi pikiran. Namun, jawaban itu terdengar tak meyakinkan.
"Ada apa, Vyron?"
Sesuatu menarik Glenn dari belakang. Karena penglihatannya buta sesaat, Glenn tak tahu siapa yang menariknya, terlebih inderanya juga terganggu. Namun, ia menebak bahwa itu adalah ....
Clara.
Clara melempar Glenn hingga terhempas menabrak pagar besar yang mengitari kediaman Duke Aleister. Dengan benturan sekeras itu, semua gangguan pada tubuhnya kembali normal.
Kedua tangan wanita itu terlihat diselimuti energi sihir yang kuat.
Glenn melihat Clara dengan jelas, terutama perubahan pada diri Clara.
Nama : Clara Aleister
Umur : 18 tahun
Level : 392
Job : Magic Caster
Ras : Manusia
Semua penguatan di tubuhnya murni dari menggunakan sihir. Magic combat bertarung dengan memanfaatkan sihir sebagai pelapis tubuh mereka. Berbeda dengan swordman maupun warrior yang menggunakan Mana kemudian dilepaskan sebagai aura untuk memperkuat tubuh mereka.
Perbedaan keduanya yaitu dari tubuh mereka. Pengguna magic combat sangat jarang, karena umumnya penyihir tak memiliki kondisi fisik kuat seperti yang lainnya. Magic combat sangat membebankan tubuh penggunanya. Berbeda dengan pengguna aura, mereka memiliki fisik kuat dan Mana yang berubah menjadi aura, itu memudahkan elemen itu tersinkronisasi.
Glenn sangat terkejut melihat perubahan adiknya.
Dia membatalkan sihir ledakan itu dengan sangat cepat, bahkan menggunakan sihir lain untuk melumpuhkan pandanganku. Clara sudah mempersiapkan rencana ini dengan sangat matang. Aku jadi teringat dengan Nona Erish. Dia juga seorang magic combat. Namun, aku rasa kekurangan itu tak berdampak baginya karena dia adalah suku Liche.
"Kau lihat itu, 'kan?! Aku sudah bertambah kuat! Tanpamu, aku bisa melindungi keluarga ini!" teriak Clara.
Raut wajahnya terlihat bangga, namun perlahan menunjukkan ekspresi kesal!
"Orang yang pergi tanpa sepatah kata pun tak punya tempat untuk kembali!" Clara menepuk dadanya sekali. "Jadi ...." Kepalanya tertunduk. "Tolong, jangan membuat kami bersedih untuk kedua kalinya." Suara isak tangis dalam ucapannya terdengar.
Glenn memegang keningnya sembari menatap langit dengan senyum kecil.
Benar juga. Aku terlihat seperti bajingan sekarang.
Clara mengangkat tangannya ke depan. "Pergilah, Kak."
Glenn bangkit perlahan dengan penampilan yang sangat berantakan. Ia berjalan pelan ke arah Clara dengan kepala tertunduk.
"Pergi!" Clara bersiap menembakkan sihir ke arah Glenn, namun ia masih ragu-ragu karena ia tak melihat energi dari Glenn. Dengan kata lain, kakaknya pasrah dengan keadaan.
Tanpa ragu Glenn terus berjalan pelan ke arah Clara.
Di sisi lain Clara mulai goyah, tangannya bergetar sembari terus mengarahkan aura intimidasi pada Glenn. Hingga Glenn hampir mencapainya, ia mengulurkan tangan pada Clara. Hal itu membuat Clara panik.
Semakin dekat, sampai Clara menutup matanya karena tak siap dengan apa yang akan dilakukan kakaknya.
Tubuhku terasa hangat, sesuatu memeluk erat tubuhku.
Clara membuka matanya secara perlahan. Ia melihat pundak kakaknya, perlahan melirik rambut hitam tepat di sebelah kiri kepalanya.
"K-kakak?" Clara terlihat kebingungan sekaligus terkejut.
Mendengar perkataan Glenn, air mata Clara tak bisa terbendung lagi. Ia membalas pelukan Glenn dan mulai menggosok-gosokkan wajahnya di dada kakaknya itu.
"Dasar kakak bodoh!" teriak Clara sembari melepaskan tangisan keras. "Kenapa kau meninggalkan kami?!"
Glenn merasakan perasaan Clara di saat yang sama. Perasaan sedih dan amarah, ia merasakan itu.
Aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Keluarga, aku benar-benar tak bisa meninggalkan mereka.
Glenn melirik ke arah jendela di kediaman Duke Aleister. Seorang pria melihatnya dari balik sana. Pria itu adalah Magna Aleister.
Ayah.
Magnan tersenyum melihat kedua anaknya itu. Sedangkan Glenn terkejut melihat ayahnya tersenyum seperti itu.
Dia tersenyum?
Beberapa saat kemudian, keluarga itu berkumpul di ruang kerja Duke Aleister. Hanya tiga orang, Glenn, Magnan, dan Clara yang tertidur di pangkuan Glenn.
"Jadi, kenapa kau kembali?" tanya Magnan dengan sedikit mengarahkan tekanan pada Glenn.
Alasan Glenn menyiapkan mental setebal mungkin sebelum masuk ke rumah lamanya adalah karena Magnan. Obsesinya untuk mengalahkan Keluarga Hart tak bisa terbendung, menjadikan anak-anaknya sebagai pedang untuk melawan mereka, ia memikirkan egonya.
Magnan dikenal sebagai sword master kuat di Kekaisaran. Dia tipe orang yang tak terlalu peduli akan hal lain kecuali kekuatan untuk mengalahkan Keluarga Hart. Wajah tersenyum sebelumnya membuat Glenn frustasi.
"Ayah ...." Glenn masih terus mengelus kepala Clara. "Aku akan segera menikah."
"Menikah?" Magnan terlihat bingung dengan pernyataan Glenn.
Dalam pikirannya, Glenn adalah anak pendiam dan tak tertarik dengan hal semacam itu.
Wanita seperti apa yang berhasil meluluhkan hati anak ini?
"Dari keluarga mana wanita itu berasal?"
"Wanita itu adalah Sang Kaisar, Ayah."
Suasana seketika hening, Magnan terdiam dengan mulut terbuka.
"Sebenarnya, aku sudah mengenal Kaisar sejak berada di akademi. Kami mulai berhubungan beberapa tahun terakhir."
Glenn tak berbohong sepenuhnya. Anna kerap menemuinya dalam beberapa kesempatan, namun Glenn tak tahu maksud dari setiap kedatangan wanita itu.
"Eheem, sepertinya kau berkata jujur. Tujuanmu ke sini adalah untuk meminta persetujuanku sebagai Duke Aleister, bukan?"
"Benar. Ini juga akan menguatkan posisi kita di Kekaisaran, dan upaya untuk menekan oposisi."
Magnan kembali memasang ekspresi serius. "Aku mengerti garis besarnya. Kaisar dalam posisi yang kurang menguntungkan, karena jumlah bangsawan di pihak oposisi jauh lebih banyak. Hanya perlu menunggu waktu sampai mereka menyerang habis-habisan. Pernikahan ini terlihat tak memberikan dampak besar."
"Tapi, mereka tidak gegabah untuk menyerang secara sembrono. Ayah tahu alasannya, bukan?"
"Iya ... Kerajaan Penyihir Maphas."
Glenn memantapkan dirinya untuk berbicara pada ayahnya. Dengan seksama Magnan mendengar cerita dari Glenn, cerita dari saat dia meninggalkan rumah hingga saat ini.
Beberapa waktu kemudian. Magnan terlihat lesu setelah mendengar cerita Glenn.
"Apa ini balasan yang harus kuterima? Ayah macam apa aku ini? Aku tak punya wajah untuk melihatmu, Glenn."
"Ini bukan salahmu, Ayah. Aku tahu betul batas keserakahanmu akan kekuatan, namun menjadi pembunuh bayaran adalah keinginanku. Aku hanya ingin memuaskan hasratku."
"Bagiku itu tak ada bedanya, tapi aku senang kau tak melakukan hal itu lagi." Magnan melirik Clara yang tidur di pangkuan Glenn. "Satu tahun setelah kepergianmu, Ibumu meninggal. Hal itu membuatku gila. Namun, Clara mengatakan sesuatu yang menyadarkanku."
Glenn melihat wajah polos Clara yang tertidur.
"Dia berkata bahwa aku harus berubah, keluar dari jalan gelap yang mungkin bisa membahayakan keluarga kita. Di saat yang sama, dia mengingatkanku pada Ibumu. Aku tak mengira hal itu akan terucap dari mulutnya, padahal aku melatihnya hingga ia takut untuk menentangku. Adikmu, dia sangat menyayangimu. Dia berusaha keras untuk berlatih, menggunakan semua peralatanku untuk menaklukkan dungeon, dan ia menjadi seperti ini. Kau adalah kakak yang ingin dia kejar."
Clara memiliki tekad kuat untuk mengejar Glenn. Bahkan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa Glenn pulang dengan kedua tangannya sendiri. Namun, Glenn benar-benar terkejut dengan perjuangan Clara untuk menjadi kuat seperti saat ini.
"Tapi, aku tetap tidak menyangka kau memiliki posisi penting di Kerajaan Penyihir Maphas," lanjut Magnan.
"Itu semua berkat Sang Kaisar. Jika aku tertangkap oleh party Keluarga Hart waktu itu, mungkin aku akan hidup dalam siksaan."
Magnan diam sejenak, selanjutnya kembali bertanya, "Glenn, apakah benar mereka sangat kuat?"
Pertanyaan yang benar-benar serius dilontarkan oleh pria paruh baya itu. Sebuah kerajaan dengan wilayah mencakup Hutan Hijau, bisa menundukkan Kerajaan Elf Tharasia yang terkenal angkuh dan superior dalam hal sihir.
Seketika tubuh Glenn merinding mendengar pertanyaan Magnan, tapi ia berusaha untuk menjawabnya.
"Kami semua kuat."
Magnan tersenyum setelah mendengar jawaban Glenn. Rasa penasarannya semakin besar, namun itu terdengar tidak etis jika terus menanyainya seperti itu.
"Baiklah, aku mengizinkanmu untuk menggunakan nama Aleister kembali. Jika itu bertujuan untuk mempermalukan Karman Hart, kau tak perlu meminta izinku, aku akan selalu mengizinkannya. Aku merestui pernikahanmu, Nak."
"Terima kasih, Ayah." balas Glenn dengan senyum lega di wajahnya.
Glenn lupa, Ayahnya benar-benar membenci Keluarga Hart.
Bersambung ....