
Chandra berada di sebuah bukit di wilayah Kerajaan Penyihir Maphas. Kerajaan itu terletak di wilayah timur bersebelahan dengan Kekaisaran dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Pandangannya tertuju pada sebuah tempat yang tidak jauh dari bukit. Sebuah hutan terbentang luas, namun, ada sesuatu yang berbeda dari hutan itu.
"Jadi ini Hutan Hijau, ya?" Chandra menyipitkan matanya untuk melihat hutan dengan seksama.
Dia fokus pada bagian tengah hutan yang telah dibabat habis. Ada banyak bangunan aneh yang sangat tinggi di tempat itu, menandakan bahwa itu adalah ibukota Kerajaan Penyihir Maphas.
"Memang benar, kerajaan itu terletak di dalam Hutan Hijau."
Chandra melompat dari bukit, dia benar-benar penasaran dengan bangunan tinggi aneh di tempat itu. Dia berjalan cepat mengikuti jalan setapak yang sudah ada, hingga sampai di pinggiran Hutan Hijau.
Di hadapannya saat ini ada sebuah gerbang kayu. Gerbang kayu itu terbuka, dan dijaga oleh penjaga Dragonewt. Sebelum melangkahkan kakinya ke gerbang itu, perhatian Chandra tertuju pada bagian pinggir hutan.
Ini tidak bisa dipercaya.
Begitulah pikirnya ketika melihat sebuah dinding sihir yang menutupi bagian pinggir hutan.
Normalnya, sebuah kota akan dikelilingi oleh dinding batu. Namun, tempat ini justru dikelilingi oleh penghalang sihir setinggi pohon raksasa.
Hutan ini sangat luas, bagaimana mereka menggunakan sihir pelindung ini? Apa Mana mereka tidak terbatas?
Chandra sangat penasaran dengan rahasia dinding sihir itu.
"Hei, apa kau ingin masuk atau hanya berdiri saja di tempat itu?" Salah satu Dragonewt menegur Chandra.
"Ah, maaf, aku terpesona dengan keindahan tempat ini,"
"Hoho, sepertinya ini pertama kalinya kau ke sini. Aku harap kau tidak terkejut jika sampai di dalam."
"Benarkah?"
Chandra memperlihatkan kartu tanda petualang pada penjaga.
Kesan pertama yang dia rasakan, penjaga gerbang sangat ramah.
Tapi, gerbang ini sangat sepi. Apa mereka memiliki pintu masuk lain? Jika dilihat dari suasananya, kurasa itu benar.
"Silahkan masuk. Nikmati liburanmu." Para penjaga telah mencatat data di dalam kartu guild petualang milik Chandra.
Liburan?
Chandra masuk ke dalam hutan dengan satu pertanyaan di kepalanya.
Baru saja Chandra masuk ke hutan, dan kini ada sesuatu yang membuatnya terkejut.
Dari luar, bagian dalam hutan terlihat gelap. Namun, ketika telah masuk, bagian dalam hutan terlihat indah. Suara serangga bergema di setiap tempat, sinar matahari menyelinap masuk melewati sela-sela dedaunan. Dan hal lain yang membuat Chandra terkejut, yaitu jalan yang sedang dia lalui.
Jalan itu terlihat halus. Terlihat bukan dibuat dari batu, tapi sesuatu berwarna hitam.
"Ini benar-benar luar biasa."
Chandra terus melanjutkan perjalanan melewati suasana hutan yang damai. Hidungnya tidak berhenti menghirup udara sejuk di sepanjang jalan.
*Twing Twing
Sesuatu melompat keluar dari semak-semak.
Chandra langsung berhenti.
Seekor makhluk kecil berbulu melompat-lompat di depannya. Makhluk itu seukuran bola tangan, penuh dengan bulu berwarna biru muda, memiliki telinga panjang seperti kelinci, serta tangan mungil dan telapak kaki yang cukup panjang.
"Tuan! Tuan! Apa kau membutuhkan pemandu?" tanya makhluk itu dengan suara seperti anak kecil.
"Pemandu?" Chandra tidak mewaspadainya karena makhluk kecil itu tidak memiliki niat buruk.
"Benar! Benar! Aku adalah Gobi, pemandu untuk para tamu!"
"Apa semua pendatang memiliki pemandu?"
"Tepat sekali!"
"Berapa aku harus membayarmu?"
"Tuan tidak usah membayar! Karena kami sudah dibayar oleh Nona-nona!"
Nona-nona?
Chandra mendapat sedikit informasi menarik.
"Baiklah, tolong pandu aku, Gobi."
"Ayo, Tuan!"
Mereka berdua berjalan terus menuju ibukota Maphas.
Cahaya perlahan terlihat dari arah depan mereka. Udara berhembus semakin kencang. Akhirnya Chandra keluar dari hutan.
Ia disuguhkan dengan pemandangan sebuah kota yang belum pernah ia lihat. Bangunan-bangunan di kota itu sangat asing baginya, terutama beberapa bangunan tinggi berbentuk seperti balok.
"Selamat datang di Kerajaan Penyihir Maphas, Tuan!" sambut Gobi.
Kota itu berada tepat di bawahnya. Jalan menuju ke kota cenderung menurun, turun melewati banyak anak tangga. Pagar besi sebagai pegangan tangga dan pagar besi lainnya sebagai batas yang mengeliling pinggiran kota.
Mereka turun ke bawah.
Ada hal yang membuat Chandra penasaran, yaitu bahan dasar apa yang mereka gunakan untuk membuat jalan semulus ini.
Aku yakin merasakan sesuatu hal semacam batu bara, namun, hal ini terlihat lebih kompleks jika hanya menggunakan batu bara saja.
"Gobi, terbuat dari apa jalanan hitam ini?"
"Huh, aku tidak tahu, Tuan! Namun, Tuan Arsitek menyebutnya aspal!"
"Aspal?"
"Tuan Arsitek dan asistennya membuat banyak hal yang luar biasa selama 3 tahun terakhir, kau akan melihatnya ketika kita sampai di bawah!"
"Hmmm, jadi begitu."
Mereka telah sampai di kota.
Sekarang Chandra melihat suasana kota dari dekat.
Banyak orang berjalan di sisi jalan, jalanan beraspal hanya dilalui oleh kereta kuda. Di antara orang-orang yang berlalu lalang, tak semuanya manusia. Mereka berasal dari ras yang berbeda.
Chandra teringat dengan Kerajaan Karibian yang juga memiliki penduduk dari berbagai macam ras.
"Tuan, aku akan membawamu ke tempat yang bagus!" Goby melompat-lompat di depan wajah Chandra.
"B-baiklah."
Mereka melanjutkan perjalanan. Berjalan di bahu jalan. Banyak bangunan berlantai berjejer di sepanjang jalan. Hampir sama dengan kerajaan lainnya, banyak toko di pinggir jalan, namun, toko di tempat ini berbeda dengan yang lainnya.
Chandra berpikir sejenak.
Seluruh bangunan memiliki 4 lantai, dengan model yang sana, namun memiliki desain warna yang berbeda. Aku tidak yakin hal seperti ini hanya dikerjakan dalam kurun waktu 3 tahun saja. Ah, itu mungkin saja. Menurut informasi, pemimpin kerajaan ini adalah seorang undead. Aku 100% yakin dia seorang lich, menggunakan tenaga undead panggilannya sebagai tenaga kerja gratis.
Chandra mengangguk-angguk.
Mereka berpapasan dengan orang-orang, Chandra menyapa mereka dengan menunduk dan tersenyum. Hal itu sudah kebiasan orang-orang dari selatan.
"Tuan! Tuan! Ke sini!" Goby berada di pinggir jalan.
Jalanan hitam di depan mereka memiliki garis cat berwarna putih.
"Hmmm ...?" Chandra melihat ke arah lampu warna-warni di tiang.
"Itu lampu lalu lintas! Jika berwarna merah, kereta kuda akan berhenti, dan pejalan kaki boleh menyebrang melewati garis putih! Jika berwarna hijau, kereta kuda jalan, namun orang-orang berhenti!"
"Tapi, apa fungsi warna orange ini?"
"Itu tanda untuk kedua pihak bersiap untuk maju!"
Ini sangat menarik. Hanya bermodalkan lampu, mereka bisa teratur. Huh ... tunggu dulu.
Chandra melihat dengan seksama lampu lalu lintas tersebut.
Batu Mana? Bukankah batu itu sangat langka?
Wajar baginya untuk heran, karena batu Mana merupakan benda berharga. Batu yang bisa menyimpan Mana dalam waktu panjang. Hanya saja, butuh beberapa penyihir untuk bisa mengisi penuh batu Mana. Melihat banyak batu Mana di lampu itu membuat Chandra berpikir ....
Seberapa banyak penyihir mereka?
"Ayo maju, Tuan!"
Mereka melanjutkan perjalanan seperti biasa.
Goby berhenti di depan sebuah restoran.
"Tuan! Aku menyarankanmu untuk makan di restoran ini!"
Restoran itu memiliki kaca yang lebar, sehingga Chandra bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam sana. Orang-orang sedang memakan makanan mereka. Makanan itu terlihat asing bagi Chandra.
Chandra tersenyum kecil.
Makanan khas di sini, ya?
Chandra sangat percaya bahwa wilayah selatan memiliki makanan paling enak, ia tidak terlalu menikmati makanan di wilayah lain.
"Baiklah, aku ingin mencobanya sedikit."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA :(