The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Tawaran Bersekutu



3 hari telah berlalu, Lilith belum memberi kabar tentang tawaran kerja sama tempo hari. Mengingat ini tawaran yang menentukan masa depan mereka, mungkin mereka akan memerlukan waktu setidaknya 1 minggu termasuk uji coba item yang kuberikan pada mereka.


Yah, semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa gangguan.


Saat ini, aku berada di kamar asrama. Suasana akademi sangat sepi, itu karena masih hari libur pasca penerimaan murid baru. Sedikit berbeda dengan sekolah di duniaku, di sini mereka akan libur selama seminggu untuk tour akademi kerajaan. Ini hampir sama seperti melihat-lihat klub sekolah, sih.


Aku harus tertahan di sini sampai Lilith memberi pesan. Hela tak akan melepasku begitu saja ketika kerja sama ini terjalin. Dasar rubah licik!


"Aku bosan di sini."


Hanya ada Delila di sini, Rayna kembali ke Kerajaan Maphas karena suatu hal. Dia merengek ingin terus bersamaku, aku tak bisa berbuat banyak, begitu tugasnya selesai, dia akan segera kembali.


"Ibu, sudah lama kita tidak melihat rumah aneh itu. Apa Ibu ingin mengunjunginya?" tanya Delila.


Rumah aneh itu adalah rumahku! Tunggu, apa Delila tidak rutin memeriksa situasi di sana? Mungkin dia punya alasan.


"Kau benar, ayo kita kunjungi rumah itu."


Jika rumah itu ada, besar kemungkinan Keres juga ada di sana.


----------------------


Aku dan Delila berpindah ke dimensi yang dibuat berdasarkan ingatanku. Kami langsung berada di depan lokasi rumahku berada, namun ....


"Kosong."


Hanya tanah kosong yang terbentang di depanku, rumahku masih belum muncul.


Aku berjalan menuju ke tengah.


Walau sedikit, aku bisa merasakan energi sihir milik Keres. Delila tidak pernah menyinggung soal ini, sepertinya dia tidak bisa merasakannya.


Aku mencoba duduk, melakukan meditasi di tengah lahan kosong.


Ada hal yang ingin aku coba.


"Absorption." Aku menggunakan skill yang bisa menyerap Mana.


Secara teknis, Mana ini sudah menyebar menjadi energi sihir. Aku masih belum bisa menggunakan Absorption dengan sempurna sekarang.


Energi sihir mulai menyelimuti tubuhku, kemudian berputar-putar di sekitarku. Walau aku memejamkan mata, aku bisa merasakan alirannya dengan jelas.


Sangat sulit membuka celah untuk jalan masuk energi ini.


Mind Acceleration.


Aku mempercepat kinerja otakku, fungsi tubuh bekerja berkali-kali lipat karena otak bekerja keras.


Tubuhku terasa sangat dingin, keringat mulai keluar dari kulitku. Rasanya seperti terkena demam tinggi.


Ini masih belum! Energi sihir masih berputar-putar di sekitarku!


Kepalaku seperti akan pecah. Rasa sakit mulai menjalar ke seleruh tubuhku.


Terbukalaaah!


Energi sihir mulai masuk ke tubuhku, rasa sakit perlahan mulai menghilang. Ini terasa nyaman, energi sihir ini langsung menghangatkan tubuhku.


Aku terus melanjutkan menyerap energi sihir di sekitar rumahku. Membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk menyerap semuanya.


Sudah selesai.


Aku membuka mataku secara perlahan, kepalaku masih terasa pusing karena efek skill Acceleration. Tubuhku mengeluarkan uap panas, keeingat mengucur deras dari tubuhku.


Ini membuatku sesak, rasanya ingin segera membuka seluruh pakaianku.


Aku mengangkat kepalaku ke depan. Delila berdiri tidak jauh dari posisiku dengan wajah cemas. Pandanganku perlahan samar, kepalaku semakin pusing.


"Ibu!"


Ah, aku sudah tidak kuat ... lagi.


----------------------------------


Aku membuka mataku secara perlahan, pandanganku masih sedikit samar. Aku mendapati diriku berada di kamar asrama, terbaring di tempat tidur.


Sepertinya aku langsung tak sadarkan diri setelah menyerap energi sihir milik Keres.


"Ibu!" Delila yang berjaga di sebelah tempat tidur langsung mendekatiku.


Rayna juga ada di sini, mereka berdua menjagaku selama aku tak sadarkan diri.


Delila menggunakan sihir pemulih padaku. Rasa sakit di tubuhku perlahan membaik.


"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"2 hari, Ibu."


2 hari?!


"Eheem ... apa ada kabar dari True Vampire?"


"Tidak ada, Ibu."


Aku akan menunggu sampai 2 hari berikutnya. Jika mereka tidak memberikan jawaban, aku akan menarik paksa item itu dari mereka. Bukan menarik paksa seperti akan terjadi pertarungan, item itu akan menghilang dan kembali padaku.


Delila meraih tangan kiriku dan mengangkatnya. "Sepertinya kekuatan Ibu telah meningkat."


Kalau begitu ....


Aku mencoba melepaskan energi sihir milikku yang terpendam selama 2 hari.


Mana di tubuhku langsung mengalir seperti aliran sungai yang deras. Aku bisa merasakan kekuatan besar yang tertahan selama 2 hari, jika aku tidak melepasnya, kemungkinan akan terjadi kerusakan pada tubuhku karena kesenjangan level dengan kekuatanku saat ini. Namun hal itu tidak berlaku jika aku telah mencapai kondisi terbaikku.


Ada beberapa peningkatan yang kurasakan. Inderaku semakin tajam dan tubuhku mengalami penguatan, ini menandakan bahwa job-ku sebagai Swordmaster telah kembali. Kapasitas Mana milikku juga semakin besar. Aku tak tahu sudah berapa level-ku saat ini, aku harus melakukan beberapa tes.


-------------------------


Kami berpindah ke dimensi milik Delila. Bukan dimensi replika duniaku, melainkan dimensi lain milik Delila. Dimensi ini hanya berisi dataran luas yang dikelilingi bukit dan gunung berapi.


Ini tempat yang cocok.


Aku mengambil pedang terkuatku dari penyimpanan dimensi, Durandal. Sebuah pedang yang memiliki atribut gelap, bisa melenyapkan apa pun dengan kegelapan yang dimilikinya. Tingkat pedang ini adalah mitos.


Aura hitam langsung menyelimuti tubuhku.


Tidak sepenuhnya, aku hanya bisa melepaskan 35% kekuatan Durandal akibat perbedaan stat yang cukup besar.


Ini sudah cukup kuat bagiku. Targetku adalah gunung besar di sana, jaraknya sekitar 5 kilometer. Aku akan mengetes kekuatan fisikku.


Aku berlari menuju gunung itu.


Delila dan Rayna mengikutiku dari belakang. Aku semakin cepat sampai bisa membelah udara di depanku.


Ini adalah kecepatan terbaikku di level ini, jika aku memaksa lebih jauh lagi, kemungkinan tubuhku akan terluka.


Dalam beberapa menit aku telah sampai di depan gunung itu.


Sekarang saatnya.


Konsentrasi, fokuskan seluruh energi di tangan, kemudian alirkan ke pedang. Berhasil. Sekarang!


"Slash of Destruction!" Aku menebaskan pedangku ke arah gunung besar itu. Bilah pedang berwarna hitam langsung keluar dari pedangku. Bilah raksasa, namun sangat tipis.


Angin berhembus kencang akibat tebasan yang kulancarkan.


Bilah gelap itu berhasil membelah sebagian gunung besar itu tepat di bagian puncaknya. Hanya 20% dari puncak gunung itu terbelah dan lenyap. Sangat jauh dari yang semestinya.


"Saya akan menyelesaikan sisanya, Ibu!" Rayna langsung melompat menuju gunung besar itu, posisi tangannya mengepal.


*Duaaar!


Ledakan besar terjadi, Rayna menghancurkan gunung itu dengan pukulannya. Tak ada yang tersisa selain kerikil-kerikil besar di sana.


Yah, setidaknya ini cukup untuk melawan musuh level 800. Berbicara tentang peningkatan, aku ingin mencoba sesuatu.


"Summon Undead : Daisy Maphas!"


A. Keinginan Menyimpang


Di hutan pinggiran Kerajaan Mystick. Ada hutan khusus yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun, kecuali Hela.


Hela berada di tengah-tengah hutan yang tidak dikelilingi pohon. Dia berdiri di padang rumput yang tidak luas, ada sebuah pohon di tengah padang rumput itu. Hela mengangkat kepalanya, melihat bintang-bintang di langit malam yang indah.


Bayangan hitam menutupi wajahnya, sehingga tidak diketahui ekspresi apa yang ia tunjukan saat ini. Namun, pipinya terlihat basah.


Ia menurunkan kepalanya dan melihat ke arah pohon besar. Ada 2 batu besar yang berdiri di sisi kiri dan kanan pohon itu.


Hela menghela napasnya dan berbalik membelakangi 2 batu itu. Ia langsung bergegas keluar dari hutan itu.


Seorang wanita telah menunggunya di luar hutan. Wanita yang memiliki sayap hitam di belakang tubuhnya.


Hela langsung menatap tajam orang itu.


"Hela, sudah lama, ya ... hmmm, berapa lama kira-kira?"


"Aku tidak mengingatnya lagi karena begitu lamanya, Abigail."


Wanita itu adalah Abigail, pipimpinan Sekte Hitam, seorang Fallen Angel.


"Kukuku ... maafkan aku. Seharusnya aku sering mengunjungimu, namun banyak kesibukan yang kumiliki saat ini."


"Begitu, ya. Kau terlalu sibuk sampai tidak memberitahuku tentang keberadaan Master." Hela melepaskan aura membunuhnya pada Abigail.


Abigail terkena tekanan dari Hela, namun ia mencoba untuk tenang.


"Aku juga tidak tahu tentang keberadaannya waktu itu. Namun aku merasakan auranya beberapa saat sebelum perang itu pecah."


Hela menarik kembali auranya yang tersebar.


Itu sama halnya denganku.


"Kau membuatku iri, Hela. Bersama dengannya hampir 3 tahun," lanjut Abigail.


"Itu benar. Namun rasanya aku tidak benar-benar bersama Master. Beliau seperti orang lain, atau kemampuan aktingnya yang terlalu mendalami, aku tahu." Hela mengepalkan tangannya. "Ditambah lagi, Master memiliki anak, bahkan 3!"


Hela benar-benar telah terbawa oleh suasana. Dadanya langsung terasa sakit saat ini.


"Sepertinya kau sedikit keliru."


"Apa maksudmu, Abigail?"


"Kondisi Yang Mulia telah seperti itu sejak terbebas dari segel. Para bawahannya berkata bahwa Yang Mulia kehilangan ingatannya."


"Kehilangan ingatan?"


"Aku tak tahu pasti, mereka bilang itu karena efek dari segel."


Hela terdiam sejanak setelah mendengar hal itu.


Apa efek segel itu benar-benar ada? Selama ini aku mempelajari efek dari segel untuk mengeluarkan Master, namun aku tak menemukan kode lingkaran sihir yang bisa menghilangkan ingatan target. Apa mungkin aku melupakan sesuatu?


"Soal anak Yang Mulia. Beliau tidak hanya memiliki 3 anak, namun 6." Abigail mengangkat keenam jari tangannya.


"E-enam katamu?"


Aura besar kembali kuluar dari tubuh Hela, kali ini menyebar ke seluruh kerajaan.


"BAJINGAN MANA YANG SUDAH MENYENTUH MASTER!" Hela berteriak sangat keras hingga memunculkan gema sihir dari suaranya. Pepohonan di hutan langsung terhempas jauh.


"Tenangkan dirimu, dasar bodoh!" Abigail merentangkan kedua sayap hitamnya yang besar.


Hela perlahan tenang dan menarik auranya yang keluar.


"Aku memastikan bahwa Beliau tidak menikah dengan siapa pun. Menurutku, Beliau menciptakan mereka, seperti kau menciptakan para maid itu."


"Itu tidak mungkin, mereka semua sangat kuat. Walaupun itu Master, mustahil menciptakan makhluk sekuat mereka, terlebih mereka berjumlah 6 orang!"


"Yah, itu sekedar asumsiku saja. Mungkin Beliau menemukan sihir baru yang bisa menciptakan makhluk sekuat mereka."


Hela mengembalikan posisi pohon yang terhempas karena teriakannya, dan juga memperbaiki tempat-tempat yang rusak dengan sihirnya.


"Jika itu benar, maka aku tak perlu khawatir dengan keamanan Master. Namun, aku memiliki tujuan lain sekarang."


"Apa itu?"


"Setelah mendengar ceritamu tentang Master yang kehilangan ingatan, aku terpikirkan sesuatu. Jika kau tidak keberatan, aku ingin memanipulasi ingatan Master."


Abigail langsung mengangkat tangan kanannya ke depan tepat di hadapan Hela. Lingkaran sihir muncul di telapak tangannya.


"Jangan coba-coba kau berbuat buruk pada Mastermu sendiri, Hela!"


Hela tersenyum. "Aku bercanda. Lupakan hal itu, saat ini kami sedang bernegoisasi dengan ras True Vampire."


Abigail kembali tenang, dia belum terbiasa dengan candaan aneh Hela. "True Vampire? Kedengarannya menarik."


"Ini bukan tempat yang cocok, ayo ke tempat lain."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!