The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Menentukan Masa Depan



Di pagi hari yang cerah. Hela dan Naura mulai berlatih di padang rumput yang tak jauh dari gubuk kecil. Sebelumnya, Naura menjelaskan tentang pengaruh sihir Hela terhadap dagger tulang miliknya. Karena itu, mereka mencoba bereksperimen untuk mengembangkannya.


Aku menggunakan api dari Hela waktu itu karena ketidaksengajaan, karena kelinci yang terbakar. Aku tak tahu apa metode lain bisa digunakan atau tidak.


Naura sedikit cemas apakah percobaan kedua ini akan berhasil atau tidak. Seperti yang diketahui, jika Hela melemparkan sihirnya langsung ke dagger Naura, kemungkinan itu akan melukai Naura sendiri.


"Hela, kau sudah belajar mengontrol tingkat Mana milikmu, 'kan?"


Hela mengangguk. "Legarde telah mengajariku."


Naura sedikit lega mendengarnya, namun ia tetap mencemaskan dirinya.


Ia menggelengkan kepala.


Tidak, tidak! Aku akan percaya pada Hela!


Naura membulatkan tekadnya!


Kedua gadis itu saling berhadapan. Naura mengangkat rendah kedua dagger tulangnya. Dan Hela mulai merapalkan sihir yang sama saat membakar Hornet Rabbit sebelumnya.


"Fire!"


*Bush!


Kedua tangan Naura langsung terbakar, ia langsung reflek menggoyangkan tangannya untuk memadamkan api.


"Kenapa tidak menghilang?!"


Namun, api tak kunjung padam, Naura semakin panik.


"Naura!" teriak Hela.


Naura tersadar dan kembali tenang setelah mendengar teriakan Hela. Ia menyadari sesuatu, tangannya sama sekali baik-baik saja, tak ada rasa sakit yang dirasakan.


Ini ... bagaimana bisa? Dagger hingga pergelangan tanganku terbakar, seperti pukulan berapi!


Naura langsung berlari menuju ke sebuah batu besar. Kedua tangannya sudah bersiap untuk menghancurkan batu itu.


"Hiyaaaaaaak!"


*Duar!


Serangan Naura berubah menjadi ledakan yang besar. Tubuhnya terhempas karena ledakan tersebut.


"Naura!" Hela langsung bergegas menuju ke tempat Naura terhempas.


Naura tergeletak tak sadarkan diri, ia menderita luka kecil akibat hempasan yang kuat.


"Heal!" Hela mencoba merapalkan sihi penyembuh pada Naura.


Luka-luka kecil perlahan menutup, namun Naura masih tak sadarkan diri.


"Bangun, Naura!" Hela benar-benar panik. Ia terus menggunakan semua Mana yang dimilikinya, tak peduli jika itu membahayakan nyawanya sekalipun.


Pandangan Hela mulai memudar karena jumlah Mana yang terus berkurang.


"Naura ...."


*Bruk!


Hela pun jatuh tak sadarkan diri.


 ------------------------------


Sebuah ruangan mewah, seluruh ruangan itu tampak berkilau. Itulah yang Hela lihat pertama kali ketika membuka mata.


"...." Hela tak bisa membuka mulut maupun mengeluarkan suara.


Ia merasa aneh pada tubuhnya. Ada dua tangan kecil yang melayang-layang di hadapannya.


Tangan?


Kepalanya bergerak tak beraturan.


*Kreeek


Pintu terbuka, sepasang pria dan wanita masuk ke ruangan. Mereka mengenakan pakaian asing, pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh mereka.


Hela baru sadar bahwa ia sedang terbaring di tempat tidur yang lembut, kenyaman ini tak pernah ia rasakan.


"Lihatlah, bayi kecil ini sangat menggemaskan," ucap si pria.


Bayi?


Hela bingung dengan perkataan pria itu yang menyebutnya bayi.


"Kamu benar, sangat menggemaskan dan cantik." Si wanita langsung mengangkat Hela dari tempat tidur.


Ia merasakan tubuhnya bersentuhan dengan wanita itu, perasaan aneh terjadi.


Aku hanya bisa merasakan beberapa centimeter saja dari bagian tubuhku, apa aku lumpuh?


"Apa kamu juga ingin melihat wajah menggemaskanmu?"


Wanita itu berjalan menuju cermin besar di belakangnya.


Hela diam seribu behasa melihat pantulan cermin di hadapannya. Wanita itu menggendong seorang bayi. Itu membuat Hela syok berat.


"Aaaaaaaagh!" Hela berteriak cukup keras.


"Hela?!" Naura datang memeriksanya.


"Huh?" Hela kebingungan melihat ia yang terbangun di gubuk kecilnya.


"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Naura.


"Mimpi?"


Ah, jadi itu hanya mimpi. Tidak mungkin aku menjadi bayi, 'kan?


Itu yang dipikirkannya, ia pun menghela napas.


Perhatian Hela kembali tertuju pada Naura. Air matanya menetes melihat Naura yang menatapnya cemas.


"Naura!" Hela menangis sembari memeluk Naura dengan erat.


Naura sangat tersentuh melihat Hela yang sangat begitu mengkhawatirkannya.


"Tak apa, ini semua berkatmu, Hela."


Naura sepenuhnya pulih, itu semua berkat Hela yang mati-matian memyembuhkannya.


Aku tidak menyangka, bahkan luka dalam yang kuterima juga sembuh. Kekuatan Hela benar-benar sangat mengerikan.


Melihat kekuatan Hela yang tidak normal, Naura semakin cemas, ia takut tentang masa depan yang akan dialami oleh Hela. Akan menjadi seperti apa Hela jika ia tersesat dalam kegelapan. Itulah yang ia cemaskan.


Masa depan bukan apa-apa, masa depan berasal dari keputusan yang diambil hari ini.


Naura teguh dengan keyakinannya.


"Hela, aku mohon padamu, jangan gunakan sihirmu di mana pun tanpa seizinku dan Legarde,"


"Kenapa?" tanya Hela dengan wajah yang masih basah karena air mata.


Hela menatapnya curiga. Hal itu membuat Naura bingung ingin menjawab pertanyaan darinya.


Bagaimana agar jawabanku bisa meyakinkan gadis kecil ini? Hela lebih pintar untuk anak seusianya.


"Hela!" Naura memegang kedua pundak Hela dan menatapnya tajam.


"I-iya ...?"


"Tak ada alasan, ini semua demi kita bertiga, kau harus berjanji!"


Hela terdiam sejenak dengan wajah tertekan. Naura terpaksa membentaknya.


"A-aku berjanji,"


"Bagus! Kau memang gadis kecil yang menggemaskan." Naura kembali memeluk Hela. "Ayo kita makan, ini sudah hampir sore sejak kejadian tadi."


Mereka keluar dari gubuk kecil menuju ke tempat koki andalan mereka, Legarde.


 -------------------------------


Tiga hari kemudian.


Tengah malam yang sangat dingin membuat Naura terbangun dari tidurnya.


Aku tidak bisa tidur.


Naura melapisi Hela dengan selimut miliknya. Ia memandangi Hela dengan senyuman kecil di wajahnya.


Andai aku bisa tidur nyenyak sepertinya.


Naura keluar dari gubuk kecil, ia berencana ingin membuat api unggun, namun ia melihat Legarde yang sudah duduk di depan api unggun.


"Kau juga tidak bisa tidur, Naura?"


"...." Naura hanya tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat Legarde.


Ia duduk di sebelah Legarde. Dengan beralaskan batu, mereka berdua melihat keindahan langit di tengah malam.


"Apa kau sudah dengar beritanya?" tanya Legarde.


"Berita apa?"


"Karavan dari Menara Sihir dirampok oleh Red Heart,"


Naura melihat ke arah api unggun sambil melempar beberapa helai daun. "Jadi itu sebabnya, orang-orang di desa terlihat murung,"


"Dengan kejadian ini, aku harap Menara Sihir akan mengerahkan banyak pasukan untuk mengawal karavan,"


"Kau terlalu naif, Legarde." Naura kembali menatap bintang-bintang di langit. "Menara Sihir akan menghentikan pengiriman ini,"


"A-apa maksudmu?"


"Baru-baru ini, aku bergabung dengan guild kecil di Menara Sihir. Aku mendapatkan informasi tentang karavan, itu hanyalah tipu daya yang dilakukan para petinggi,"


"Guild?!" Legarde semakin tidak paham dengan perkataan Naura.


"Biarkan aku selesai bicara,"


Legarde terdiam setelah mendengar itu.


"Para petinggi menara itu, makanan yang mereka kirim semuanya tidak layak makan, beberapa roti sudah berjamur, mereka mengubahnya dengan memberikan sihir pada roti itu. Semua uang dari para penyumbang, sepenuhnya masuk ke kantong mereka,"


Mereka memang tak tahu makanan apa yang diterima para penduduk, karena mereka berburu untuk mencari makanan. Para penduduk desa lebih banyak diisi oleh orang yang tidak memiliki kemampuan, mereka terlalu takut untuk berburu dan memilih menunggu uluran tangan dari Menara Sihir.


"Bahkan sebuah gunung tinggi pun tak boleh berhasrat untuk memiliki sungai kecil. Karena sungai sudah memiliki haknya sendiri, yaitu mengalir ke lautan luas. Para petinggi melupakan amanat yang diberikan oleh para donatur itu. Setidaknya kita bersyukur karena masih ada orang baik seperti para donatur itu,"


"Kita tidak bisa berbuat banyak, Legarde. Berperang dengan Red Heart juga hanya membuang-buang pasukan dari pihak manusia. Para petinggi juga berusaha untuk meningkatkan pengaruh mereka."


Legarde menghela napasnya.


Naura benar.


"Jadi, kenapa kau terlihat panik ketika aku bergabung dengan guild?" tanya Naura dengan senyum kecil di wajahnya.


Legarde mulai kehilangan sikap melihat Naura yang menatapnya.


"Aku tidak pergi ke Menara Sihir, hanya saja guild itu membuat markas kecil di sekitar perbatasan," lanjut Naura.


"B-begitu, ya?"


"Hmmm ...? Apa kau takut jauh dariku?" Naura kembali menggoda Legarde.


Legarde menahan dirinya, wajahnya mulai memerah.


"Hei, kenapa kau tidak menjawabku?"


Terdengar napas terengah-engah dari Legarde.


"L-legarde?"


"Land Block." Legarde merapal sihirnya.


Tanah setinggi 3 meter mengelilingi mereka.


Melihat tingkah Legarde, Naura paham situasinya, ia mendekat ke Legarde.


"Naura, sudah terlalu lama aku terjebak di pusaran ini, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat bagiku keluar." Legarde mendekatkan wajahnya. "Aku men--"


Naura menutup mulut Legarde dengan jari telunjuknya. "Tidak, aku ingin kita berdua tetap terjebak di dalam pusaran itu. Jadi, tariklah aku."


Bibir mereka saling bersentuhan. Mereka seling bergenggaman tangan, Legarde mendorong pelan Naura sampai terbaring. Merepa benar-benar sudah dikendalikan oleh nafsunya masing-masing.


Mereka saling menyatu, bulan dan bintang menjadi saksi sejarah tentang dua orang yang sangat penting bagi Hela, sang penyihir terkuat di masa depan.


Ketika pikiran mengejar hawa nafsu, ketenangan jiwa akan hilang. Seperti angin yang membawa kapal di atas air. Sebuah sejarah akan lahir dari tindakan mereka berdua, baik dan buruknya itu semua tergantung bagaimana kedua pasangan ini menyikapinya.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!