
Chapter 21 : Pertempuran Yang Menentukan
Sehari setelah pertemuan darurat, semua Pasukan dari 12 Panglima Iblis telah siap di posisi mereka masing-masing, termasuk Pasukanku. Saat ini kami tinggal menunggu perintah untuk bergerak. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Burimo, sampai saat ini dia tidak muncul.
"Master,"
"Ada apa, Lia?"
"Apa ini tidak berlebihan? Mereka bahkan tidak tahu jika akan diserang habis-habisan,"
"Tidak, Lia, bahkan dengan Pasukan ini pun sangat kurang,"
"Eh?"
Aku benar-benar tidak ingin Edelia ikut dalam operasi ini. Sial! Andai saja aku lebih kuat!
"Tuan Burimo telah sampai!" teriak para Pengawal.
Akhirnya dia datang.
"Kita akan segera memulai operasi penyelamatan Yang Mulia Arys, sekaligus penyerbuan ke Kerajaan Penyihir Maphas, dan menghancurkannya!" Dia berteriak untuk meningkatkan semangat juang Pasukan. "Apa kalian siap mengorbankan nyawa?!"
"Kami siap!" Para Prajurit menjawabnya dengan penuh semangat.
"Maryna." Seseorang memanggilku dari belakang.
Dia ... Azazel.
"Azazel, apa yang membawamu ke sini?"
Jarak unit Pasukanku dengan Pasukannya sangat jauh, mengingat Pasukan diurutkan sesuai peringkat Panglima Iblis. Apa dia bisa teleportasi?
"Penyerangan akan dilakukan dari dua arah, aku ingin pasukan kita bergabung untuk menyerang barisan bagian belakang," jawab Azazel.
Dia ingin aku bergabung dengannya. Pasukan Iblis akan menyerang dari dua arah. Arah depan berada di perbatasan dengan Kekaisaran, jika kami memblokir jalan dari Kekaisaran, maka bala bantuan mereka akan terputus. Kemudian, arah belakang merupakan wilayah yang tidak dikelola oleh Kekaisaran, sepertinya sudah menjadi wilayah Kerajaan Penyihir Maphas.
"Tapi, kenapa harus denganku, Azazel? Harusnya kau bergabung dengan Abbadon menyerang bagian depan, dia kuat,"
"Aku hanya ingin bersama denganmu, orang yang bertarung dengan mereka,"
Bertarung, ya?
"Aku tidak bisa menyebut itu sebagai sebuah pertarungan,"
Azazel memegang pundakku. "Dengan kehadiranku, mungkin kita bisa menyelamatkan Yang Mulia." Azazel tersenyum kecil.
Dia mencoba meyakinkanku.
"Aku harap begitu,"
"Baiklah, aku akan mempersiapkan pasukanku,"
Azazel terbang dengan kecepatan yang luar biasa.
Memang benar, dia sangat kuat.
"Master, apa kita akan langsung ke Kerajaan Penyihir itu?" tanya Edelia.
"Tidak, sebelum itu, kita akan memeriksa Kerajaan Dwarf, karena menurut informasi dari mata-mata, Kerajaan Dwarf sama sekali tak berpenghuni,"
"Baiklah,"
Bagaimana mereka memindahkan seluruh Dwarf itu? Bahkan bertelerpotasi seorang diri saja sudah memakan banyak Mana. Apa ini ada hubungannya dengan perkataan Dwarf? Mereka bilang Mana milik wanita itu di luar pemikiran mereka. Dwarf yang ahli mengumpulkan Mana untuk persenjataan, pastinya mereka mengetahui batas Mana yang bisa digunakan oleh orang di dunia ini. Melihat senjata mereka rusak karena kelebihan kapasitas Mana, sudah pasti wanita itu bukan orang sembarangan. Apa dia seorang Dewi? Aku tidak pernah mendengar ada Dewi selain "Dia". Bahkan Kakakku bisa berkomunikasi dengan "Dia", tidak mungkin ada Dewi yang lain, 'kan?
"Master, apa Anda memikirkan sesuatu?"
"Ah, tidak ada, Lia,"
---------------------
Seluruh pasukan mulai bergerak, para Prajurit menggunakan item yang bisa membuat mereka terbang, dan juga ada yang mengendarai beast. Perjalanan ini memakan waktu hampir 5 hari jika melalui jalur darat. Karena tujuannya ada di Wilayah Manusia. Saat ini, seluruh pasukan telah memenuhi langit-langit seperti gumpalan awan hitam.
Aku dan Edelia mengendarai Griffon. Aku memasang pelindung di tubuh Edelia, sangat bahaya jika dia terkena serangan kuat seperti sihir waktu itu.
Hanya ada 3 Panglima Iblis yang menyerang dari belakang, yaitu aku, Azazel, dan Panglima Iblis ke 7 Misala Argiento. Dia ahli dalam sihir ilusi. Hubunganku dengan Misala tidak begitu buruk, kami jarang berkomunikasi.
Pasukan Azazel berada tepat di sebelah pasukanku. Dia benar-benar ingin melawan wanita itu. Aku juga penasaran dengan kekuatan Azazel.
---------------------
Lima jam telah berlalu, kami sudah melewati perbatasan.
"Master, apa di dalam lubang itu ada Kerajaan Dwarf?" Edelia menunjuk ke lubang besar di bawah.
Lubang? Ah, benar, para Prajurit yang membuat lubang itu.
"Benar, Lia,"
Hanya beberapa pasukan saja yang bisa masuk ke dalam, mengingat Kerajaan Dwarf sangat kecil, terutama bangunannya.
Aku dan Edelia memeriksa tempat pertarungan sebelumnya.
Sangat sedikit kerusakan yang terjadi, karena pertarungan berjalan sangat singkat.
Perhatianku tertuju pada portal batu tempat orang-orang itu muncul.
Mereka menggunakan Gate melalui portal batu itu.
Aku memeriksanya.
"Huh?"
"Ada apa, Master?"
Aku merasakan sedikit energi Mana dari portal batu ini.
"Lia, alirkan Mana milikmu ke batu ini,"
"Baik!"
Jika dugaanku benar, ini sisa dari Gate. Lokasi mereka masih tertanam di portal batu ini.
Edelia terus mengalirkan Mananya ke portal batu.
Edelia mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Hentikan, Lia,"
Jika cara itu tidak berhasil, bagaimana cara memicunya?
"Maryna," Azazel datang dari belakangku.
"Apa kau menemukan sesuatu, Azazel?"
"Tidak ada yang tersisa, bahkan perabotan dan alat-alat penempah juga hilang,"
Sihir mereka benar-benar gila!
"Berarti para Dwarf sudah memutuskan untuk tinggal di Kerajaan Penyihir Maphas," ucapku.
"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan?"
Aku menjelaskan tentang portal batu ini ke Azazel.
"Jadi begitu, mengalirkan Mana pun tidak memicu sihirnya aktif, ya,"
"Apa kau bisa menggunakan Gate?"
"Mustahil, aku seorang Swordmaster,"
Eh?
"Be-begitu, ya,"
Karena tidak menemukan petunjuk, kami kembali ke atas dan melanjutkan perjalanan.
Nampaknya pasukan lainnya sudah bergerak terlebih dahulu.
Hanya ada pasukanku, pasukan Azazel, dan ....
"Misala?"
"Apa yang kau tunggu? Ayo pergi." Misala memalingkan wajahnya dariku.
Apa-apaan perkataannya itu?! Dia benar-benar menyebalkan!
".... Tunggu!"
Aku merasakan kumpulan energi besar menuju ke sini.
"Master! Lihat itu!"
Sekumpulam monster besar terbang ke sini.
Mereka ... ras Naga. Jadi mereka setuju untuk ikut dalam operasi ini, ya?
"Mereka ke sini,"
*Wush!
Kepakan sayap mereka mendorong apa pun di sekitar.
Naga Merah, Naga Hitam. Eh, di mana yang satu lagi? Hanya ada suku Merah dan Hitam, aku tidak tahu di mana suku yang satu lagi.
Rombongan itu dipimpin oleh masing-masing Kepala Suku mereka.
Dua Naga dari kedua suku mendatangi kami.
"APA KAMI TERLAMBAT?" ucap Kepala Suku Naga Hitam.
Aku berinisiatif menjawab pertanyaan mereka. "Sama sekali tidak, Tuan,"
Aku merasakan hawa membunuh dari Kepala Suku Naga Merah.
Tidak salah lagi, dia mengarahkannya kepadaku.
"KAU?!" Dia berteriak kepadaku.
Azazel maju paling depan menghalau amukannya.
"KAU PEMBUNUH SIALAN!"
Aku tidak akan menyangkal itu. Sebelum menjadi Panglima Iblis, aku memburu Naga yang keluar dari wilayah mereka untuk dijual. Itu hanya Naga yang berlevel rendah, tapi, dengan itu aku bisa naik level dengan cepat.
"Tenanglah, Tuan." Azazel berusaha untuk menenangkan Pimpinan Naga Merah.
Naga Hitam terlihat tidak terpancing untuk menyerangku, itu karena aku hanya membunuh Naga Merah. Suku-suku ini sebenarnya saling bersinggungan satu sama lain.
"DIAMLAH KAU DASAR MERAH BODOH!" teriak Pimpinan Naga Hitam.
Dugaanku benar.
"APA KAU BILANG?! DASAR HITAM BAJINGAN!"
Para Naga meraung sehingga menimbulkan kekacauan di hutan. Raungan mereka mengandung sihir.
Sialan, kalau begini kita tidak akan sampai ke tempat Yang Mulia Arys.
"Tuan, aku sudah menyesali tindakanku di masa lalu, bahkan Raja Iblis sudah memberiku hukuman, apa itu masih kurang untuk Anda?"
"TENTU SAJA! AKU TIDAK AKAN PUAS JIKA TAK MEMBUNUHMU!"
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Burimo datang bersama dengan pengawalnya.
"TCH!"
Sepertinya dia menekan Naga itu dengan item.
"Nona Maryna, Tuan Azazel, Nona Misala, mari lanjutkan perjalanan,"
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Sepertinya kami telah tertinggal jauh dari barisan depan. Itu tidak masalah, karena tujuan kami berbeda.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! 🙏