The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
High Elf



Siapa Elf itu? Aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Dari banyaknya penduduk Kerajaan Elf Tharasia, aku tidak pernah melihat wanita ini. Terlebih lagi, rambutnya berwarna hitam. Elf atau Dark Elf, tak ada di antara kami yang memiliki rambut hitam.


Namun, dia bisa menahan serangan itu hanya dengan tangan kosong. Orang seperti ini harusnya sudah sejajar dengan Ibu.


Wanita itu menoleh padaku.


Warna matanya hijau, seperti daun basah yang terkena sinar cerah pagi hari.


Dia sangat cantik.


"Apa kau putrinya Sharah?" tanyanya dengan suara lembut.


"B-benar. S-siapa kau?"


"Aku mendengar dari Ibumu bahwa kau memiliki bakat dalam sihir alam. Aku sedikit tertarik dengan itu dan memutuskan untuk menyapamu."


Apa kau pikir aku percaya dengan omong kosong seperti itu?


"Hei! Siapa kau?!" Olivier terus memberontak, namun dia sama sekali tidak bisa bergerak.


*Crack!


Wanita itu menghancurkan dagger milik Olivier.


"Kau berisik sekali, ya."


"M-mustahil!"


"Fear." Dia merapal sihir yang tak kuketahui.


Olivier langsung tersungkur ke belakang. Wajahnya pucat, dia sangat ketakutan.


"S-siapa kau?! Aku tak pernah tahu ada Elf sepertimu selain Putri dari Kerajaan Elf!"


"Elf kau bilang?" Perlahan pakaian wanita itu berubah warna menjadi biru cerah. "Aku adalah High Elf, Elina Elsworth."


High Elf?!


"Aku jauh lebih superior dari Elf. Jadi, jangan samakan aku dengan mereka."


High Elf merupakan entitas tertinggi dari Elf. Keberadaan mereka menuai perdebatan bagi para Elf. Mereka menganggap High Elf itu mitos belaka, dan mereka dijadikan sebagai cerita penghantar tidur, karena anak-anak suka dengan cerita tentang kekuatan mereka yang luar biasa.


Tapi, entah kenapa aku percaya bahwa dia benar-benar seorang High Elf. Ciri-ciri yang dimiliki sama dengan di cerita, memiliki telinga sedikit lebih pendek dari Elf pada umumnya. Dan mereka memiliki semua kemampuan dari ras Elf lain termasuk kami. Melihat fisiknya yang kuat seperti Dark Elf, aku percaya bahwa dia High Elf.


"Tunggu, Nona Elina." Erish berdiri sempoyongan. "Aku masih memiliki urusan dengannya."


"Nona Guerra?! Jangan paksakan dirimu!" Aku langsung berlari menuju Erish.


Bahkan lututku gemetar saat berlari. Manaku sudah hampir habis. Aku tak bisa menggunakan sihir lagi atau aku akan mati kehabisan Mana.


"Kalau tidak salah, kau Penanggung Jawab Keuangan Kerajaan Penyihir Maphas, Erish Guerra, 'kan?"


"Benar." Erish sedikit kesulitan untuk berbicara. Dia bahkan memaksa mulutnya untuk terbuka.


Kerajaan Penyihir Maphas? Kalau tidak salah, itu, 'kan Kerajaan ....


"Huh ... selama kau pergi, kepalaku hampir pecah mengurus keuangan, belum lagi dua orang itu terus meminta dana untuk hal aneh mereka. Jika bukan karena Ibu, aku pasti sudah mencincang mereka,"


"M-maafkan aku, Nona."


Kerajaan Elf Tharasia beberapa waktu lalu menjadi bawahan Kerajaan Penyihir Maphas. Hal itu membuatku syok dan meminta penjelasan dari Kakek. Namun Kakek melimpahkan semua pada Ibu. Aku tak tahu alasannya, tapi ada orang sekuat ini di Kerajaan Penyihir Maphas. Sepertinya Ibu kalah olehnya.


Aku dengar, Ratu mereka seorang undead. Tapi, undead itu kabarnya telah mati atau beberapa kabar lainnya juga menyebut dia sedang melemah, dan sepertinya High Elf ini mengurus segalanya. Kata "Ibu" yang dia maksud, mungkin merujuk pada undead itu.


"Ruler's Gift." Nona Elina merapal sihir yang tak kuketahui lagi.


Tubuhku memancarkan cahaya putih. Di saat yang bersamaan pula, kondisi tubuhku membaik, Manaku juga perlahan pulih. Kondisi serupa juga dialami oleh Erish, luka-luka di tubuhnya langsung sembuh. Ini mirip seperti efek potion yang kuminum sebelumnya.


"Hei, kau." Nona Elina berbicara pada Olivier.


"Y-ya, Nona?"


"Aku akan membebaskanmu, tapi ... kau harus melawan dia."


Keraguan terlihat dari mata Olivier.


Dia berpikir apa pun jalan yang kupilih, aku tetap akan mati.


Aku pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti Nona Elina, Olivier merupakan sumber informasi penting.


"Baiklah, baiklah!" Olivier berdiri dengan tubuh yang gemetar.


Nona Elina membawaku menepi dari tempat pertarungan.


"Nona Elina, tolong pulihkan kondisi orang itu juga," pinta Erish.


"Tidak masalah."


Nona Elina merapalkan sihir yang sama pada Olivier, bahkan daggernya kembali ke bentuk semula.


Kekuatan yang mengerikan, dia ... seperti Dewa.


Erish dan Olivier bersiap pada posisi mereka. Ada yang berbeda dengan Erish kali ini. Padangannya tidak terlalu tajam, terlihat tenang, dan tidak terganggu dengan aura membunuh milik Olivier.


"Mulai!" Nona Elina memberi tanda untuk memulai pertarungan.


"Assassin Technique : Silence in the Dark." Erish bergerak menusuk dengan sangat cepat melewati Olivier.


*Crack!


Dalam sekejap, dada Olivier berlubang. Olivier langsung tumbang oleh serangan itu.


Kecepatan yang ditunjukan sangat luar biasa, tak ada efek suara apa pun yang ditimbulkan dari gerakan secepepat itu. Erish, dia bahkan bisa menggunakan teknik Assassin seperti itu.


"T-teknik itu, j-jangan bilang, orang yang mengajarimu teknik itu adalah ...."


"Glenn Aleister," jawab Erish.


Olivier tertawa kecil. "Bahkan setelah kau pergi, aku tetap tidak bisa mengalahkanmu ... bajingan, Glenn."


*Crack!


Erish langsung menghabisi Olivier saat itu juga.


Kenapa dia tidak menggunakan serangan seperti itu sebelumnya?


*Bruk!


Erish terjatuh.


"Nona Guerra!" Aku langsung berlari ke arahnya.


Aku menyadarinya, teknik tadi menguras banyak Mana miliknya. Ini seperti taruhan hidup dan mati. Jika tidak ada Nona Elina, kami mungkin akan mati.


Nona Elina kembali merapal sihir penyembuh pada Erish.


Berapa banyak Mana yang dia punya?


"Apa kalian bisa menjelaskan situasinya?


Aku menjelaskan secara garis besar tentang apa yang terjadi di Kerajaan Mystick. Tentang mantan murid yang bergabung dengan pemberontak, tentang orang yang mendalangi ini semua keberadaannya masih belum diketahui. Aku juga menceritakan sedikit tentang kondisi Kerajaan Mystick.


"Sungguh menyedihkan. Kerajaan ini akan segera runtuh jika dipimpin oleh Ratu yang tidak memiliki pendirian seperti itu."


Aku tidak bisa menepis pernyataan itu. Ratu Hela, dia terkesan tidak peduli dengan Kerajaannya. Bahkan membiarkan menara mengolah wilayah kerajaan sudah merupakan kesalahaan besar. Entah bagaimana Kerajaan ini bisa bertahan hingga ratusan tahun lamanya.


"Aku hanya penasaran dengan putrinya Sharah. Sihir alammu, aku sempat melihatnya tadi, itu sudah lumayan,"


"T-terima kasih, Nona."


Ini sedikit memalukan bagiku, dipuji oleh orang lain. Aku sudah terbiasa dipuji oleh para murid, namun rasanya berbeda ketika Nona Elina yang memujiku.


"Erish, di mana keberadaan Delila? Sepertinya dia memasang penghalang yang tidak bisa sembarangan kutembus,"


"Dia berada di asrama."


Masalah hampir selesai. Kini kami hanya perlu mengurus para pemberontak yang tersisa.


*Bum!


"Agh!" Tubuhku seperti ditekan oleh sesuatu. Aku langsung jatuh telungkup, begitu juga dengan Erish.


Aku melihat Nona Elina sedikit menekuk kakinya, seperti terkena efek tekanan ini juga.


Dari mana tekanan mengerikan ini datang?!


"Apa yang terjadi?!" tanyaku dengan suara keras.


Tubuhku bisa remuk jika terus menahan tekanan ini.


"Erish, bawa aku ke sana,"


"K-ke mana?!"


"Ke asrama. Ini gawat, Delila ... dia sangat marah."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!