
Beberapa saat setelah pertemuan.
Justin berada di kantor utama ketua asosiasi, tanpa ditemani dua bawahannya. Di tengah malam yang sunyi, orang-orang yang menghadiri perjamuan telah meninggalkan tempat. Dikelilingi assassin yang berada di luar hingga atap, membuat Justin tak perlu mengkhawatirkan keamanannya.
Orang itu datang secara mendadak, beruntung aku tidak membuatnya marah.
*Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
Justin langsung tersenyum lebar dengan penuh nafsu. Untuk memastikan, dia bertanya pada assassin, "Apa itu dia?"
"Benar, Tuan Muda."
Justin bergegas berjalan menuju pintu. Tubuhnya sedikit sempoyongan karena mabuk, namun dengan bantuan assassin, Justin mampu menjernihkan kepalanya.
Pintu terbuka, cahaya terang dari lorong ruangan langsung menyinari ruangan yang gelap itu. Seorang wanita berdiri tepat di hadapannya, Justin sama sekali tak bisa melihat karena cahaya silau.
"Apa aku mengganggu istirahatmu, Tuan Justin?" tanya seorang wanita di hadapannya.
Suara ini ... akhirnya.
"Tidak." Justin tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya ke depan. "Silahkan masuk, Nona Hart."
Dan selamat datang, wanitaku.
Keduanya duduk saling berhadapan dengan segelas teh di depan mereka masing-masing. Justin mempersilahkan Alissa Hart meminum tehnya terlebih dahulu, dan Alissa Hart meminumnya tanpa ragu.
Perhatian Justin tertuju pada gelas yang bersentuhan langsung dengan bibir wanita itu.
"Ini teh yang nikmat, sangat cocok karena udara begitu dingin malam ini," ucap Alissa Hart.
Alissa Hart mengenakan sebuah mantel bulu yang menutupi bagian pundaknya yang terbuka. Sesuai ucapannya, cuaca memang sangat dingin malam ini.
"Kau benar. Ini teh berkualitas tinggi, sangat langka bisa menikmatinya di tengah malam seperti ini," sambung Justin.
"Apa Anda jarang meminumnya? Anda terlihat sibuk."
"Hmmm ... benar, tapi meminum teh dalam kondisi tertekan justru sangat menggangguku."
Justin tidak berbohong mengenai ini. Ia hanya mengonsumsi kopi atau sesuatu yang sering digunakan bersama kedua bawahannya.
"Menikmati teh di waktu santai seperti ini membuatku terasa seperti telah menyelesaikan segalanya," lanjut Justin.
Alissa Hart kembali menyeruput tehnya. Justin kembali melirik bibirnya.
"Sepertinya teh ini sangat cocok dengan lidah orang-orang di kerajaan kami. Apa Anda bisa menjual beberapa dari teh berkualitas ini?"
"Sepertinya akan sedikit sulit. Karena teh ini datang dari selatan. Selain biaya perjalanan, masalah utama teh ini adalah masa panennya, mereka hanya panen di satu musim tertentu. Oleh karena itu mereka hanya bisa menghasilkan daun teh yang terbatas."
"Selatan, ya ...."
"Ada satu kerajaan di selatan yang menjalin kerja sama dengan asosiasi, tapi maaf, aku tak bisa memberitahunya. Beruntungnya, kerajaan itu tak menerima dampak signifikan dari serangan vampir yang terjadi beberapa waktu lalu."
"Tidak perlu meminta maaf, itu memang sudah ada dalam perjanjian, 'kan?" Alissa Hart tersenyum lembut pada Justin.
"I-iya, akan kuusahakan agar kalian juga bisa menikmati teh ini."
Suasana menjadi canggung ketika obrolan berakhir. Alissa Hart masih menikmati tehnya, sedangkan Justin hanya bisa mengepalkan tangannya untuk mengendalikan pikirannya.
Waktunya kalian bekerja, assassin.
Udara semakin dingin, jendela sama sekali tidak terbuka lebar, namun udara dingin terus mencoba menusuk kulit mereka berdua.
"Maksud kedatangan Saya ke sini adalah untuk mengucapkan terima kasih karena Anda mempercayai perkataan Saya. Berkat Anda, pihak Federasi tidak lagi meributkan soal tanaman obat." Alissa Hart menundukkan kepalanya di hadapan Justin.
"Itu hanya masalah kecil," balas Justin sembari tertawa kecil. "Aku memang percaya pada kalian. Ayahku pasti akan melakukan hal yang sama."
"Sekali lagi Saya mengucapkan terima kasih."
Justin menghela napasnya. "Baiklah. Sebagai bayarannya, bagaimana jika kau menemaniku sembari mendiskusikan hal lain?"
"Tidak masalah. Bahkan Saya akan menemani Anda hingga pagi."
Percakapan formal telah selesai, kini saatnya memulai pendekatan. Justin mengambil sesuatu dari sakunya.
"Bagaimana kalau kita menambah sedikit varian rasa pada teh ini?"
Alissa Hart memperhatikan bungkusan kecil yang dikeluarkan oleh Justin.
"Apa itu semacam gula?" Pertanyaan yang diajukan wanita itu terdengar sangat polos.
"Terlihat seperti gula, aku menyebutnya Caoy. Ini bisa membuatmu tenang, aku bisa menjaminnya bahwa ini sangat aman." Justin menyodorkan caoy itu pada Alissa Hart.
Wanita itu terlihat terlihat ragu-ragu mengambilnya.
Sikapnya jauh berbeda dari sebelumnya, mungkin ini sikap asli seorang Alissa Hart? Terlihat lemah dan mudah dibodohi.
Justin menganggap Alissa Hart yang berada di hadapannya saat ini sebagai sosok asli, maksudnya adalah sikap sebenarnya. Ia tidak percaya dengan rumor petualang ranks S yang mengalahkan naga.
Alissa Hart mengambil caoy itu dari tangan Justin, wajahnya masih terlihat ragu.
"Caoy bisa digunakan sebagai penambah rasa pada minuman. Namun ada cara lain untuk mengolahnya ...." Mulutnya secara tiba-tiba berhenti berbicara.
Apa ini?
Justin merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
Aku tak tahu pasti, sepertinya ada sesuatu yang aneh. Apa itu perasaanku saja?
"Huh?" Justin terlihat kebingungan dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Alissa Hart tanpa ragu langsung mencampurkan caoy dengan teh, kemudian mulai meminumnya.
"Anda benar, rasanya sedikit lebih kuat dari sebelumnya," ucap Alissa Hart, sembari menyeruput tehnya beberapa kali.
Hei, hei, apa kau bercanda? Bahkan aku saja langsung merasakan efeknya pada tarikan pertama. Tapi, wanita ini ... ah, aku lupa tentang hal itu.
Justin sangat menikmati obrolan santai ini, ia mencoba menelusuri jalur lain, seperti merubah topik pembicaraan.
"Nona Hart, bagaimana kalian akan menghadapi perperangan nanti pasca gencatan senjata?"
"Kenapa Anda menanyakan itu?" jawab Alissa Hart selesai meneguk tehnya. Posisi wanita itu saat ini sedang menundukkan kepala dalam keadaan tangan kanan bertumpuh di meja sembari memegang gelas.
"Aku akui, Kerajaan Penyihir Maphas memiliki kemajuan signifikan dalam bidang insfrastruktur. Sampai kerajaan-kerajaan lain sangat penasaran dan mulai menjadi topik pembicaraan, aku juga ingin pergi ke sana sesekali."
"Anda sudah melupakannya? Kami yang memproduksi semua senjata yang ada saat ini."
"Yah, itu benar. Tapi kalian tak pernah menunjukkan kekuatan militer di depan umum. Aku takut kerajaan lain akan selamanya memandang kalian lemah."
Terlebih lagi, Justin sedikit penasaran dengan rumor tentang pedang legendaris yang menjadi hadiah turnamen beberapa waktu lalu di tempat itu.
Aku sangat yakin, mereka pasti memiliki senjata mematikan yang tak diperlihatkan pada kami.
"Anda tak perlu cemas. Ratu Daisy telah kembali, Beliau memiliki banyak rencana yang sudah dipersiapkan. Semua sudah di bawah kendalinya."
Dia sombong.
Begitulah yang dipikirkan Justin, namun ....
Kesombongannya itu menambah ketertarikanku padanya.
Mata Alissa Hart terlihat sayu, ia tak bisa mengontrol tubuhnya yang bisa saja tumbang sewaktu-waktu. Justin sudah menunggu lama untuk momen ini.
Akhirnya, caoy menunjukkan efeknya.
Ada dua cara menggunakan caoy yang diketahui Justin. Pertama, membakar dan menghisapnya, efeknya akan membuat perasaan tenang, dan rileks. Lalu kedua, mencampurkannya langsung ke dalam minuman, efek yang ditimbulkan sedikit lebih berat dari yang pertama, dan efek itu tak langsung muncul tiba-tiba. Tubuhmu akan mati rasa, namun akan tetap terasa nyaman, dan rasa kantuk yang luar biasa tak akan bisa kau lawan.
"Hup!" Justin menangkap tubuh Alissa Hart yang hendak terjatuh dari tempat duduknya. Wajahnya mulai mendekat ke leher wanita itu dan mulai mengendusnya.
"Ah, sial. Alasan apa yang harus kubuat besok?"
Jika ini akan menimbulkan masalah lain, aku tak keberatan melakukannya.
Bersambung ....