The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Seorang Kakak Yang Gundah



Keesokan paginya. Pesta perayaan berjalan lancar, tak ada hal buruk yang terjadi saat perayaan berlangsung. Aktivitas pasar masih cukup ramai, para tamu masih sangat menikmati hari-hari mereka di tempat ini.


Masih di Kota Penengah, di sebuah bukit hijau yang berada di hutan. Ada sebuah bangunan kecil di atas bukit itu, bentuknya terlihat seperti benteng mini. Bagian belakang bangunan itu memiliki beberapa arena latihan yang cukup luas, mengingat bagian atas bukit hijau memang sangat luas yang memungkinkan untuk membangun dua atau tiga benteng mini.


"Khuaaak!" Beberapa orang pria berpakaian tempur terhempas karena sesuatu.


*Wush!


Suara tombak yang ditusuk ke depan dengan sangat cepat, menimbulkan hempasan udara yang cukup besar.


Tombak itu digunakan oleh seorang wanita. Mata wanita itu sangat tajam, seolah telah mengunci target yang akan segera dihabisinya. Wanita itu adalah Saraya de Moriento.


"Berdiri! Aku tak pernah ingat punya bawahan selemah ini! Serang aku dengan niat membunuh kalian!" teriak Saraya pada para prajurit pria itu yang merupakan bawahannya.


Para prajurit mulai bangkit, aura di tubuh mereka semakin kuat setelah menerima tekanan dari Saraya. Masing-masing dari mereka menggunakan pedang, namun kemampuan mereka tak boleh diremehkan.


Saraya bersiap dengan kuda-kudanya, mengarahkan tombaknya lurus ke depan. Delapan orang prajurit membagi formasi, lima dari mereka berlari secara bersamaan dari segala arah menuju Saraya.


Mereka berlari dengan cepat, namun Saraya tetap tenang dalam posisinya, tombaknya sama sekali tidak bergerak, bahkan tak bergetar sedikit pun karena daya cengkeram tangannya sangat kuat sehingga mampu menahan efek guncangan dari luar tubuhnya.


Serangan pertama dari sisi kiri, dua prajurit secara bersamaan menebas pedang mereka. Saraya masih diam dalam posisinya, kedua pedang yang diselimuti aura itu semakin dekat menuju ke arahnya.


Sisi kanan lainnya, dua orang bersiap menyerang, satu dari mereka melemparkan beberapa bilah pisau yang disekimuti aura ke tempat Saraya. Secara penampilan, mereka memang menggunakan pedang, namun ada waktu bagi mereka untuk menggunakan senjata kecil jika dalam kondisi terpojok.


Terlihat sebuah percikan listrik sebelum bilah pisau dan pedang itu mengenai tubuh Saraya. Kilatan listrik itu langsung mengubah arah serangan mereka ke sisi belakang yang merupakan tempat serangan selanjutnya dari satu orang prajurit.


Prajurit itu menghindari serangan mendadak sambil berlari menuju Saraya tanpa senjata di tangannya.


"Hmmmm ...." Saraya menghempaskan kedua prajurit di sisi kirinya terlebih dahulu, kemudian sepenuhnya menunjukkan perhatiannya pada prajurit di belakangnya.


Ahli bela diri.


Saraya menancapkan tombaknya, ia tak menghentikan langkahnya dan terus berlari ke arah prajurit itu.


Pukulan pertama diarahkan, Saraya berhasil menghindarinya, hanya beberapa baris sebelum lengan besar itu menyentuhnya. Aura dari prajurit itu sedikit menggores kulit Saraya.


Rasanya memang mustahil menang melawan beruang ini jika tak kuhadapi dengan sungguh-sungguh, tapi ....


Saraya dengan cepat memutar tubuhnya dan langsung memberikan serangan sikut dari sisi kiri prajurit itu.


*Dum!


Serangan itu berhasil menghempaskannya.


Wanita itu tak sadar jika dia hampir menggunakan kekuatan penuhnya dalam satu serangan fisik itu.


Ketiga prajurit lainnya datang dari arah belakang dengan kecepatan serta aura yang sangat besar.


Saraya merentangkan tangan kanannya, tombak yang tertancap langsung terbang menuju ke arahnya dengan cepat.


*Ting!


Saraya berhasil menahan tiga serangan itu secara bersamaan dengan tombak yang dimiringkan.


Kilatan listrik kembali terlihat, tubuh ketiga prajurit itu langsung lemas tak berdaya. Serangan itu milik Saraya, hanya kilatan kecil, namun serangan tak terlihat dari kilat itu yang melumpuhkan mereka.


"Dan yang terakhir." Saraya menarik tombaknya dan merubahnya menjadi pedang.


Adu pedang tak terhindarkan, lawannya adalah prajurit yang belum bergerak dari sisi kanan sebelumnya.


"Kuharap kau tak membuatku kecewa kali ini, A One," ucap Saraya dengan ekspresi yang mulai serius.


Prajurit terkuat di antara mereka semua, dengan kode A One. Seorang Swordmaster yang diakui oleh Saraya sendiri.


Keduanya maju secara bersamaan. A One menyerang dengan sangat cepat, namun Saraya berhasil menangkis tanpa terlewat sedikit pun.


A One terus menekan Saraya yang terus bertahan. Mereka menggunakan aura pedang, namun A One sama sekali tak merasakan aura pedang dari Saraya, karena Saraya sengaja membuat auranya setipis mungkin.


Nona Saraya sangat kuat, aku akan lebih serius sekarang.


Suara benturan pedang masih terdengar, namun A One sudah berpindah di belakang Saraya.


Saraya tersenyum kecil, prajuritnya sudah menunjukkan perkembangan kecil.


A One menebaskan pedang aura yang sangat besar. Udara di tempat itu berkumpul di pedangnya membentuk pusaran angin.


Saraya melemparkan pedangnya ke atas, di saat yang bersamaan serangan A One telah mencapainya.


*Duar!


"Apakah berhasil?" tanya A One dengan raut wajah penasaran.


Kepulan asap akibat serangan tadi mulai menghilang, namun tak ada tanda keberadaan Saraya. Hanya menyisahkan lubang besar dari serangan itu.


*Swing


Sebilah pedang menempel tepat di leher A One.


"Kerja bagus, A One," ucap Saraya.


A One menoleh dan membalasnya, "Saya tak melakukan banyak hal, No--"


*Bugh!


Sebuah pukulan didaratkan tepat mengenai pipi A One. Ia langsung terhempas karena pukulan itu.


Dia menggunakan teknik ilusi pada serangan terakhir, sehingga serangan terakhir itu melakukan gerakan berbeda sampai membuatku tak menyadarinya. Jika aku tak merasakan keberadaannya samar-samar, mungkin akan merepotkan nanti.


"Kembali ke hadapanku dalam satu detik!" teriak Saraya.


"Baik!" Kedelapan prajurit kembali setelah menerima perintah dari Saraya.


"Delapan ketua regu yang sangat kubanggakan, ada apa dengan kalian hari ini?"


"Tidak ada hal yang bisa mengganggu kami, Nona," jawab A Six.


"Kerja sama kalian tidak berkembang banyak, bahkan aku sendiri bosan melihatnya."


Kedelapan prajurit hanya diam menunduk tanpa ada sepatah kata pun sama sekali. Mereka tahu penyebab Saraya bersikap keras, lebih keras dari yang sebelumnya.


Saraya berhenti berbicara, tangannya meremas tombak yang telah tertancap di tanah. Tekanan aura cukup besar keluar dari tubuhnya, hal ini dipicu karena emosi yang mendalam, lebih tepatnya ... kekesalan. Bukan karena bawahannya, namun ....


Kedelapan prajurit sedikit terkena efek tekanan dari aura itu.


"Nona Saraya, tenangkan dirimu." Suara seorang pria yang berjalan mendekat.


"Edward?" Aura Saraya yang keluar kini menghilang. "Kalian, pergilah."


"Baik!" Delapan prajurit bergegas pergi meninggalkan arena latihan.


Kondisi Saraya kembali normal setelah melihat Edward, ia akhirnya tersenyum setelah emosi yang meluap sebelumnya.


Edward menyentuh pipi Saraya dengan lembut, dan berkata, "Aku tak tahan melihatmu termakan oleh amarah, luapkan semuanya padaku."


Saraya menatap haru Edward, menarik tubuh pria itu mendekat, dan kemudian ... Edward menahannya sembari memberikan sepucuk surat.


"Ini?" Saraya mengambil surat itu.


"Dari wanita itu."


Seketika Saraya meremas surat itu hingga terbakar oleh percikan listrik dari tangannya.


"Sepertinya dugaan kita benar. Tuan Justin adalah dalang dari tersebarnya obat terlarang itu," lanjut Edward.


"Apa wanita itu juga mengatakan hal serupa?"


"Benar, mereka menyebutnya ... caoy."


Saraya terdiam sembari memandang langit-langit. Perasaannya jadi gundah, ia tak ingin mendorong adiknya ke jurang, namun ia adiknya membawanya sendiri masuk ke jurang itu.


"Assassin yang dikirim Tuan Justin sangat banyak, mereka terus mengawasiku. Kalau terus begini, kita akan kesulitan menemukan siapa yang memberikan barang itu pada Tuan Justin."


"Di mana wanita itu sekarang?"


"Para pelayan bilang, waktu pagi buta dia keluar dari kantor utama, kondisinya berantakan."


"Jadi, mereka benar-benar?"


"Tidak mungkin." Edward tersenyum kecil. "Nona Saraya, apa pertarungan itu belum cukup membuatmu tersadar?" tanya Edward dengan nada bercanda.


"A-aku tahu!" Saraya terlihat sedikit panik, namun seketika kesal mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Pertarungannya melawan Alissa Hart.


Bersambung ....