
Chandra dan Usolo membersihkan sisa bebatuan lantai arena yang menutupi ruang gerak mereka. Arena saat ini sepenuhnya beralaskan tanah. Kedua orang itu kini saling bersiap dengan kuda-kuda, mereka saling menatap tajam, dan aura besar keluar begitu saju dari tubuh mereka.
"Berikan aku waktu," ucap Usolo.
Chandra mengangguk menuruti permintaan Usolo.
Apa yang dia lakukan?
Usolo menekan tubuhnya ke bawah, kuda-kudanya semakin melebar dengan kedua tangan yang mengepal.
*Bum!
Aura Usolo semakin membesar dan terus membesar. Urat di kening hingga otot-ototnya terlihat jelas.
Hal mengejutkan lainnya datang setelah itu. Aura di tubuh Usolo kembali stabil, namun jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya sedikit membesar, dia melepas sarung tangan besi karena sudah tidak muat untuk ukuran tangannya saat ini.
Dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Mungkin dia bertransformasi atau semacamnya, itu karena dia jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku sudah selesai, saudaraku!" teriak Usolo dengan kepercayaan diri di wajahnya.
Kedua pedang pendek Chandra diselimuti oleh aura tipis yang membentuk bilah. Chandra langsung berlari menuju ke arah Usolo dengan tenang.
Usolo langsung memberikan pukulan pertama yang menimbulkan efek ledakan angin menuju ke arah Chandra.
Dengan cepat Chandra memiringkan tubuhnya ke sisi kanan untuk menghindari dorongan angin dari pukulan Usolo. Serangan itu tipis mengenai bagian depan tubuhnya, Chandra menutupi daerah depan tubuhnya yang rawan dengan pedang untuk menghindari gesekan angin itu.
Refleknya benar-benar mengagumkan. Aku yakin Chandra belum menunjukkan kemampuan penuhnya, namun bisa mengimbangi kecepatan serangan Usolo. Di sisi lain, aku teringat akan sesuatu. Sepertinya Usolo sedang dalam mode berserk yang merupakan kemampuan khas para beastman.
Usolo berpindah dengan cepat ke sisi kanan Chandra, dia hendak memukulnya lagi, namun ....
"Apa ini?!" Usolo tidak bisa menggerakkan kakinya untuk mengeksekusi gerakan.
*Crack!
Chandra menyerang punggung Usolo dengan kedua pedang pendeknya. Namun, tebasan tersebut tak meninggalkan luka yang berarti bagi Usolo.
Tubuh Usolo semakin kuat ketika beralih ke mode ini. Dia benar-benar dalam mode berserk.
Sesuatu yang membuat kaki Usolo tidak bisa bergerak adalah slime. Slime dengan daya rekat luar biasa yang digunakan Chandra di pertarungan pertama.
Kapan dia menggunakan slime itu? Tidak, itu tidak penting! Bagaimana bisa Usolo tidak bisa lepas dari daya rekat slime itu?! Aku benar-benar melihatnya berusaha lepas dengan seluruh kekuatannya.
"S-saudaraku, kenapa kau menggunakan trik murahan seperti ini? Kita bisa bertarung layaknya pria, 'kan?" tanya Usolo dengan kesulitan yang dialaminya.
Chandra tersenyum kecil sembari bersiap melakukan serangan. "Foreign Sword Technique: Two Swords of Hope."
*Wush!
Chandra menebas tubuh Usolo dengan sangat cepat. Dia hanya menebasnya sekali, namun bekas luka tebasan di tubuh Usolo lebih dari dua.
"Huaaaaa!" Usolo teriak kesakitan. Luka yang diterimanya cukup dalam.
*Crack!
Chandra memotong tangan kanan Usolo.
Dia dengan mudah menebasnya. Pedang pendek di tangannya juga terlihat berbeda dari sebelumnya, kini diselimuti aura yang tebal. Aku tak mengira dia juga menguasai pedang aura seperti para swordman. Warrior macam apa dia ini?
"Tak kusangkau kau bermain licik! Aku begitu menghormatimu layaknya rival!"
"Jangan pernah percaya lawanmu, suadaraku," ucap Chandra.
"Kau! Aku akan membawamu mati bersamaku!" Aura di tubuh Usolo meningkat drastis, dia berteriak cukup keras seperti jiwanya sedang ditarik.
*Duar!
Ledakan terjadi di tempat Usolo, tak lama setelahnya dia keluar dengan penampilan lain. Seluruh tubuhnya berwarna merah seperti darah, bola matanya memutih.
Kekuatan apa ini sebenarnya? Ini berbeda dengan Reno yang menggunakan kekuatan dari organisasi Satan. Siapa pun bisa melihatnya, bahwa tubuh Usolo terus mengeluarkan uap panas. Ini kekuatan hidupnya.
Dia ingin bunuh diri.
*Wush!
Usolo berlari dengan sangat cepat menuju ke tempat Chandra. Gerakannya tak terlihat sama sekali, bahkan Chandra sudah memeriksanya dari segala arah, tak ada tanda-tanda dari gerakan Usolo.
Chandra menebas kedua pedang pendeknya ke segala arah, kecepatan tebasannya tidak bisa dianggap remeh. Dia menebas membentuk seperti iglo, tak ada kesempatan untuk masuk ke dalam sana karena kecepatan tebasan yang dia lakukan.
Tapi ....
*Brak!
Chandra dalam posisi melayang karena pijakannya hilang. Di saat yang bersamaan Usolo muncul tepat di hadapan Chandra.
Usolo mengepalkan kedua tangannya ke atas dan langsung menghantam Chandra hingga masuk ke dalam tanah. Dinding arena mulai retak karena serangan itu, namun secara perlahan kembali seperti semula.
Pukulan itu harusnya sudah menghancurkan tubuh Chandra menjadi beberapa bagian. Tapi, ini soal Chandra, aku ragu dia mati karena serangan itu.
Usolo melayang menggunakan aura di tubuhnya sambil melihat ke arah lubang di bawah.
Sangat sulit melayang menggunakan aura, bahkan ini pertama kalinya aku melihat warrior bisa melayang menggunakan aura mereka. Sangat disayangkan, kondisi Usolo semakin memburuk. Tubuhnya terus mengeluarkan uap panas, dan menyusut.
Ada sesuatu yang keluar melesat dari lubang.
*Crack!
Ternyata itu salah satu pedang milik Chandra. Pedang itu melesat menusuk dada Usolo.
"Kau kira trik ini akan bekerja padaku!" Usolo menarik pedang itu dari dadanya. "Huh?" Namun, pedang itu tidak tercabut sama sekali dari dadanya.
Chandra melompat melalui pinggiran lubang tanah, sampai tiba di tempat Usolo.
"Terima ini!"
*Brak!
Chandra meninju Usolo tepat di gagang pedang pendek yang menancap di dadanya. Usolo terhempas ke sisi arena menabrak dinding.
Tubuh Usolo kembali seperti biasa, pedang pendek milik Chandra sudah menusuk dalam tepat di posisi jantungnya berada. Aku tak yakin apa pedang itu benar-benar menusuk jantungnya.
Chandra menghampiri Usolo. Kondisinya terlihat berantakan. Ada beberapa luka memar di tubuhnya yang berasal dari pukulan telak Usolo sebelumnya.
Tangan Chandra meraih gagang pedang di dada Usolo, bersiap untuk mengakhirinya..
"C-cepatlah, bunuh, aku." Usolo mulai kehilangan kesadarannya.
Tidak! Aku tak akan membiarkan dia mati seperti itu!
Aku melompat ke arena menuju ke tempat mereka berada. Aku menahan tangannya yang hendak memiringkan pedang itu untuk menyelesaikan semuanya.
"Apa masalahmu?" tanya Chandra sambil menatap tajamku.
"H-hei, kenapa, kau, tidak, membiarkanku, mati?"
Aura Chandra berbeda dari biasanya, dia benar-benar jatuh dalam hasratnya untuk membunuh.
"Kau sudah mengalahkannya, jadi hentikan ini," ucapku.
Chandra hanya diam, namun tidak mengalihkan padandangan tajamnya padaku.
"Kau merusak harga dirimu sebagai warrior, setidaknya jangan melanjutkan hal memalukan ini."
*Crack!
Chandra menarik pedang pendeknya dari dada Usolo, darah bercucuran ke mana-mana.
"Aagh!"
"Pemenangnya adalah Chandra Murya!"
"Medis! Di mana kalian?!" teriakku.
Tak lama kemudian Nona Sylvia muncul dan langsung menutup luka di dada Usolo dengan sebuah daun besar. Daun itu bercahaya kehijauan dan juga menghetikan pendarahan di tangan kanannya yang terputus.
Usolo terselamatkan.
Aku menoleh ke arah Chandra untuk berbicara padanya. Chandra berjalan menjauh menuju pintu keluar.
"Chandra."
Mendengar panggilanku, Chandra berhenti, namun ... dia menoleh sambil menatap tajamku dengan aura membunuhnya.
A-apa-apaan dia? Tidak mungkin dia ingin membunuhku, 'kan?
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!
MAAF KARENA LAMA UPDATE, ITU KARENA SAYA SEDANG MEMPERSIAPKAN JUDUL BARU! PANTENGIN TERUS, YA!