The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Bimbang



Chapter 46 : Bimbang


Dua hari setelah pesta perayaan.


Kami masih berada di istana Kerajaan Mystick. Lebih tepatnya, hanya aku, Delila, dan Elina yang masih di sini. Sedangkan Erish dan Theresia telah kembali ke Akademi Sihir. Hela menahanku untuk kembali ke sana karena aku harus membantunya menekan Tiga Menara.


Benar-benar merepotkan. Aku bahkan tidak melihatnya hari ini. Ke mana dia pergi?! Aku bosan!


*Krkk


Perutku berbunyi karena lapar.


Ah, sial.


"Ibu lapar?! Saya akan panggil pelayan!" Elina bergegas menuju ke pintu kamar.


Aku menahan tangan Elina untuk tidak pergi keluar.


"Aku tak mau makan di sini,"


"Apa maksud Ibu?" Elina terlihat bingung.


Aku merindukan makanan itu.


"Delila, siapkan portal, kita akan makan daging enak lagi!"


"Baik, Ibu!"


 --------------------------------


Kami berjalan di suatu tempat. Melihat pemandangan yang tidak asing bagiku dan juga Delila. Sedangkan Elina hanya kebingungan melihat apa yang ada di sekitarnya.


Yah, kami pindah ke dimensi buatan Delila, ke bumi. Dimensi yang dibuat berdasarkan ingatanku. Aku merindukan steak favoritku.


Aku masih belum memahami cara kerja dunia ciptaan Delila. Ini merupakan kemampuan tersembunyi yang belum dia perlihatkan di game. Ngomong-ngomong, Elina sudah tidak terlihat kebingungan lagi, justru dia terlihat fokus mengamati bangunan di sekitarnya.


"Sudah kuduga," kata Elina.


Apa dia mengingat sesuatu?


"Ibu, bangunan di sini sangat mirip dengan desain rancangan yang dibuat pria Assassin dan seorang Dark Hero itu,"


"Glenn dan Zain?"


"Benar. Ini benar-benar terlihat mirip. Ibu, tempat apa ini sebenarnya?"


Aku belum memberitahu mereka tentang tempat ini. Tidak mungkin aku bilang ini dunia asalku, 'kan? Elina terlihat sangat ingin tahu, berbeda dengan Delila yang mengertiku, bisa saja dia mengorek ingatanku tentang tempat apa sebenarnya ini.


"Sebelum aku menciptakan kalian, aku hanyalah wanita biasa yang tinggal di tempat seperti ini. Namun, karena suatu keadaan, aku terpaksa bertahan hidup sampai menjadi seperti saat ini,"


Aku mengingat-ingat beberapa cerita novel dan komik yang memiliki cerita serupa.


Para penulis, terima kasih!


"I-ibu ...." Kedua orang itu tampak terharu mendengar ceritaku.


Yes! Ini berhasil!


"Tak perlu dipikirkan, itu hanyalah masa lalu,"


"Tidak!"


Heh?


"Ibu harus menceritakannya pada kami semua tentang masa lalu Ibu!"


Kenapa aku baru menyesal sekarang, ya?


"B-baiklah."


 ------------------------------------------


Kami telah sampai di restoran steak. Seperti biasa, aku memesan steak terbaik, tak peduli dengan harganya, Delila hanya cukup menjentikkan jarinya untuk membayar.


Elina terlihat menikmati steak itu. Yah, aku tidak tahu pasti, seharusnya Elf itu vegetarian. Dia tanpa ragu memakan daging lembut itu dengan nikmat.


Aku kepikiran dengan Tiga Menara. Masih belum ada tanda-tanda pergerakan apa yang akan mereka lancarkan. Mereka sepertinya tidak akan lelah untuk mempengaruhi Hela.


Usaha kalian sia-sia! Karena Hela yang menyuruhku untuk menggoyahkan hubungan kalian bertiga!


Aku melirik Elina.


Makanan di piringnya sudah habis, tapi dia masih menggesek piring dengan garpunya. Dia menunduk terlihat menginginkan sesuatu.


Ah, aku tahu.


"Elina, apa kau mau lagi?"


Elina menganggukkan kepalanya, wajahnya terlihat antusias.


Huuh ... aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan Elf ini.


"Ibu,"


"Ada apa, Delila?"


"Apa Ibu ingat rumah aneh waktu itu?"


"Hmmm ... aku ingat.'


Hei! Rumah aneh itu adalah rumahku!


"Saya masih merasakan penghalang aneh itu di sana."


Penghalang aneh itu, ya? Aku tak tahu apa itu sebenarnya, kenapa penghalang itu bisa ada di dimensi ciptaan Delila, terlebih lagi, kenapa harus di rumahku?


Hmmmm ... apa Elina juga merasakannya?


"Kita pergi ke sana," perintahku.


Kami langsung berteleportasi ke rumahku.


Ada satu hal yang mengganjalku. Delila ... dia tidak merapalkan apa pun. Apa ini karena dimensi miliknya sendiri? Dia menyebut dirinya Dewa di dimensinya sendiri ternyata bukanlah sebuah omong kosong.


Aku melihat ke arah depan tepat di mana rumahku berada. Tak ada keanehan, tak ada penghalang. Itu yang terlihat di penglihatanku.


"Ibu, penghalang itu masih ada di sana," ucap Delila.


"Benarkah?"


Aku berjalan mendekat ke rumah. Delila dan Elina menempel di belakangku untuk berjaga-jaga.


Dilihat dari reaksi Elina, sepertinya dia melihat penghalang itu. Namun, kenapa dia masih terus mengunyah steak?!


Aku mengangkat tanganku ke depan, meraba-raba letak penghalang. Bajuku terasa seperti ditarik dari belakang. Itu karena mereka berdua terlihat semakin waspada.


Tubuhku sudah melewati bagian pagar ruangan. Rasanya seperti tidak ada yang menahan tubuhku dari belakang.


Tunggu, mungkinkah ...?


Aku langsung menoleh ke belakang.


"Delila? Elina?"


Delila dan Elina terlihat tertahan oleh sesuatu tepat di luar pagar. Mereka memukul-mukul udara seolah ada kaca yang menghalangi mereka. Mereka seperti berteriak memanggilku, namun aku tidak bisa mendengar mereka.


Ini artinya ... aku sudah berada di dalam penghalang? Bagaimana mungkin? Hanya aku yang bisa masuk ke dalam. Apa mungkin karena ini adalah rumahku? Hanya satu jawabannya, aku harus masuk!


Aku tidak tega melihat kedua wanita itu berteriak dengan wajah panik.


"Kalian, tetaplah di sana."


Ah, mereka tidak mendengarku!


Aku memberi tanda untuk mereka bahwa aku baik-baik saja. Keduanya perlahan tenang ketika melihat itu.


Langkah kakiku terus tertuju ke arah pintu rumah, tanganku membuka pintu yang ada di depanku.


Rasanya sedikit membuatku merinding.


*Kreek


Suara pintu yang kututup.


Aku berhasil masuk ke rumahku. Suasana sangat gelap. Tanganku segera mengarah ke tombol saklar lampu.


Lampu pun hidup.


Terlihat jelas suasana rumahku saat ini.


Semua tersusun rapi, mulai dari rak sepatu yang berada di sebelah pintu, lantai terlihat bersih, serta ruangan yang sangat harum. Ini seperti seseorang telah merawat rumah ini.


Tapi ... aku sama sekali tidak terlalu memperhatikan kebersihan rumahku. Ada orang lain di sini, aku yakin itu.


Aku memeriksa seluruh ruangan di lantai bawah. Rumahku memiliki dua lantai.


Semua tersusun rapi, tak ada sampah, dan juga tak ada orang yang sedang melakukan kegiatan.


Sekarang, tinggal bagian atas, 'kan?


Aku perlahan berjalan menuju tangga. Jantungku berdegup kencang, napasku terengah-engah. Aku takut kematian datang jika bertemu seseorang di atas.


Tenanglah! Aku adalah Ratu Kematian! Hal kecil seperti ini tidak akan menggoyahkanku, sialan!


Aku mulai menaiki tangga dengan langkah ringan. Seminimalisir mungkin menghindari suara saat sedang melangkah.


Sudah beberapa anak tangga.


Lantai atas merupakan ruang untuk menonton tv, dan dua ruangan yang salah satunya merupakan kamarku.


Aku hampir sampai.


Heh?


Langkahku terhenti saat melihat sinar dari atas.


Lampu di ruangan itu mati. Namun, terlihat cahaya samar yang terus berubah-ubah.


Tv menyala? Benar, aku juga sedikit mendengar suara dari atas, itu suara yang berasal dari Tv.


Aku memberanikan diri untuk terus melangkahkan kakiku ke atas. Bahkan tidak peduli dengan langkah ringan.


*Bruk Bruk Bruk


Aku berlari langsung melewati anak tangga.


Siapa kau sebenarnya?!


Aku melihat seseorang yang sedang menonton tv. Orang itu terlihat tidak asing. Kakiku gemetar seketika karena terkejut dengan hal yang kulihat.


Aku terus mengusap-usap mataku untuk memastikan.


Tidak mungkin ....


Bersambung ....


JANGM LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!