
Chapter 48 : Mata-mata
3 tahun pasca perjanjian antara Kerajaan Penyihir dan Gereja Suci.
Suatu tempat di Wilayah Gereja Suci.
Seorang pria terlihat berjalan menyusuri gang kecil di sebuah desa. Ia berpenampilan seperti petualang, tubuhnya sedikit besar dan berisi, dua pedang pendek melengkung seperti sebuah taring berada di punggungnya. Itu menandakan dia seorang pengguna Dual Sword.
Pria itu berencana menuju ke sebuah tempat makan di desa itu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang mengenakan jubah putih menghalangi jalannya.
Ia langsung mengambil sikap waspada.
Perampok?
Pria itu menggelengkan kepalanya.
Tidak, wilayah Gereja Suci terkenal sangat ketat, mau seburuk apa pun, mereka tetap tidak akan membiarkan kejahatan di wilayah mereka.
Setelah memikirkannya, pria itu memilih untuk bersikap tenang terhadap orang-orang misterius di depannya.
"Apa kalian memerlukan sesuatu?' tanya pria itu.
Salah satu dari mereka mendekat dan berkata, "Chandra Murya, petualang rank S, sang penjelajah,"
Tangan pria itu bersiap menarik dua pedang di punggungnya.
Nama pria itu adalah Chandra Murya. Seorang petualang rank S yang berasal dari benua selatan. Orang-orang dari benua selatan memiliki fisik yang sedikit lebih pendek dari benua di barat. Mereka hidup dari pekerjaan sebagai nelayan dan petani.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Tenanglah, kami hanya ingin menyampaikan pesan." Orang-orang itu membuka sedikit jubah putihnya, menunjukan sesuatu pada Chandra.
Terlihat sebuah simbol yang sangat familiar.
Mereka dari Gereja Suci?
"Apa yang dibutuhkan Gereja Suci untuk orang rendah sepertiku?"
"Pertama-tama, Tuan Chandra, tolong pegang surat ini." Salah satu dari mereka memberikan secarik surat.
Keraguan menyelimutinya, namun Chandra tetap mengambil surat itu.
"Tolong bukalah."
Chandra membuka surat itu.
Isinya kosong, tak ada satu pun huruf atau angka di atas kertas itu.
"Apa maksudnya ini?" Chandra mengibas-ngibaskan surat itu untuk memastikan keasliannya.
Sebuah lingkaran sihir muncul di kakinya.
"Sialan! Ini teleportasi!" Chandra mencoba berlari menuju ke tempat orang-orang itu. Namun, ia terlanjur terbawa oleh sihir teleportasi.
Chandra terkirim ke sebuah ruangan yang cukup lebar. Kursi panjang tersusun rapi menghadap ke suatu tempat, yaitu bagian terdalam ruangan.
Chandra melihat sebuah patung besar yang menyerupai sosok wanita. Ia berputar untuk melihat keseluruhan ruangan.
Tempat ini, bukankah ini Gereja?
Dugaan Chandra bukan tanpa dasar. Beberapa simbol terpajang di dinding, serta rak buku di ujung ruangan yang dipenuhi energi suci. Hanya Gereja yang memiliki karakteristik seperti itu.
Mereka membawaku ke Gereja yang entah berada di mana.
Begitulah kesimpulan yang dia buat.
Tiba-tiba Chandra merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, lebih tepat bagian depan mimbar. Ia spontan langsung melihat sumber aura itu.
Di hadapannya, seorang wanita duduk di kursi kayu, matanya tertutupi oleh seutas kain putih.
Chandra menebak-nebak siapa sosok itu berdasarkan informasi yang dia miliki.
Benar-benar tidak terduga.
Chandra tersenyum kecil dan bertanya, "Ada keperluan apa Uskup Agung dengan orang rendahan sepertiku ini?"
"Chandra Murya, Petarung Terkuat Benua Selatan, aku sudah menantikanmu. Apa kau masih menerima permintaan?"
Chandre menghela napasnya. "Sepertinya Anda sudah menyelidikiku. Namun, itu tergantung tingkat kesulitannya, Uskup Agung."
Selain menjadi penjelajah, Chandra juga merupakan prajurit bayaran. Tak terikat dengan serikat mana pun, ia mendeklarasikan diri sebagai pemain tunggal dalam pekerjaannya
"Ini tidak sulit. Kau harus menjadi informanku,"
Pekerjaan informan merupakan pekerjaan termudah bagi pata prajurit bayaran. Mereka hanya harus menyamar, berbaur, dan mencatat perkembangan tatget yang mereka awasi. Chandra bisa bernapas lega, karena ia selalu menerima pekerjaan kotor yang merepotkan.
"Siapa yang harus kuawasi?"
"Bukan siapa, melainkan tempat,"
"Tempat?"
Chandra mencoba menahan ekspresi terkejutnya setelah mendengar nama kerajaan itu.
Bukankah itu kerajaan yang berperang melawan mereka?
"Ini sedikit mengejutkan, kenapa Anda memintaku?"
"Kami masih memiliki perjanjian untuk tidak melewati wilayah mereka, secara otomatis orang yang berasal dari faksi kami dilarang melanggar perjanjian. Perjanjian itu tersisa 4 tahun lagi. Jadi, kami ingin kau mengawasi tempat itu selama 4 tahun dan terus melaporkannya padaku,"
"Namun, ini akan sangat mahal."
Uskup Agung langsung mengeluarkan satu karung berisi emas.
Mata Chandra langsung bersinar-sinar melihat kilauan emas itu.
"Ini uang mukanya, jika kau kehabisan uang, kami akan mengirimnya,"
"Ini sudah lebih dari cukup."
Otak Chandra sedang menyusun siasat.
Aku bisa menimbun emas-emas ini dan memintanya setiap bulan. Aku pasti kaya raya!
Sebelum Chandra jatuh dalam fantasinya, ia merasakan aura mengerikan dari belakang Uskup Agung. Dia baru sadar, bagian belakang Uskup Agung terlihat gelap, seolah-olah ada pemisah dimensi.
*Tak Tak Tak
Terdengar suara langkah kaki dari kegelapan itu.
"Uskup Agung, apa dia bisa dipercaya?" Seorang wanita muncul dari belakang Uskup Agung.
Wanita itu mengenakan zirah yang sangat mengkilap.
Chandra mencoba mengingat-ingat kembali tentang informasi Gereja Suci.
Tidak, wanita ini tidak ada di daftar 12 Saint Suci. Jadi, siapa dia?
"Aku mempercayainya, Luna."
Luna? Nama itu benar-benar tidak ada di dalam informasi Gereja Suci.
Chandra menyerah untuk mencari informasi tentang wanita itu.
"Tenanglah, Saint Luna. Uskup Agung pasti punya alasan untuk memakai jasa orang ini." Terdengar suara pria dari belakang Uskup Agung.
Hanya mendengar suaranya, tubuh Chandra langsung merinding. Tekanan langsung menusuk tubuhnya. Hanya satu hal yang pasti ....
Di hadapanku ini, ada sosok monster.
Itulah yang Chandra pikirkan saat ini.
Pria itu berjalan keluar dari tempat gelap. Tubuhnya terlihat pendek, seperti remaja berumur 16 tahun. Memiliki wajah seperti anak kecil. Chandra hampir salah menafsirkan pria itu dengan sebutan anak itu ketika melihat fisiknya. Hanya saja dia menyadari bahwa pria itu seumuran dengannya.
"Zay, bukankah Uskup Agung melarangmu keluar?"
"Tenanglah, Saint Luna, aku hanya penasaran seperti apa orang yang dipilih Uskup Agung, apa dia kuat, atau hanya seorang penipu?" Tubuhnya dipenuhi aura yang besar.
Jika disuruh bertarung melawan pria itu, Chandra tak yakin bisa menang. Namun, dia yakin bisa memberi perlawanan yang sengit. Ada sebuah pengecualian, wanita yang mengenakan zirah, Chandra seperti bertemu dengan tembok yang sangat tinggi saat berhadapan dengan wanita itu.
"Wah, wah, sepertinya dia meremehkanku."
*Bum!
Pria bernama Zay itu memancarkan aura membunuh pada Chandra.
"Khuk!" Chandra langsung terjatuh memegang lehernya.
Apa-apaan ini?! Tubuhku seperti akan hancur!
"Zay, hentikan itu," perintah Uskup Agung.
Tubuh Chandra perlahan kembali normal. Aura yang menekannya telah menghilang.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah mereka. Lagian, ini bukanlah pekerjaan yang sulit
Chandra perlahan bangkit berdiri.
"Uskup Agung, ak-- Saya akan menjalankan tugas yang Anda berikan." Chandra berlutut di hadapan Uskup Agung, membuang harga dirinya sebagai pejuang dari selatan. "Emas yang Anda berikan, Saya akan mempergunakannya dengan baik."
"Terima kasih, Chandra. Aku benar-benar tertolong karenamu." Uskup Agung memberikan sebuah buku kosong pada Chandra. "Itu item untuk mengirim laporanmu. Semua yang kau tulis akan tersalin di buku milikku."
Setelah hari itu, Chandra berteleportasi di perbatasan Kerajaan Penyihir Maphas. Ia melangkahkan kakinya masuk melewati perbatasan.
Pekerjaan baru : Mata-mata Gereja Suci.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA :(