The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Teleportasi Unik



Chapter 63 : Hubungan Keluarga


Justin berjalan di lorong yang gelap, wajahnya terlihat sedikit kesal. Momen yang sudah ia tunggu seketika terganggu. Justin terus mempercepat langkahnya, suara langkah kakinya tidak terdengar sama sekali karena derasnya hujan di luar. Sambaran petir sesekali muncul mengagetkannya.


Dua bawahan sialan itu tak terlihat sejak tadi, di mana mereka?!


Sampai di depan pintu, Justin mengubah ekspresinya, kali ini ia terlihat memasang ekspresi serius.


*Tok Tok Tok


Justin mengetuk pintu, kemudian membukanya.


Seseorang berdiri menghadap jendela. Penampilannya serba hitam, terlebih lagi ruangan sangat gelap membuat sosoknya terlihat misterius.


"Senang melihat Anda kembali, Tuan Red Own," ucap Justin sembari menundukkan kepalanya.


"Tak perlu seformal itu, Justin, kita adalah rekan bisnis." Red Own menoleh ke belakang, di saat yang sama kilat petir muncul dari balik jendela. Terlihat siluet topeng yang sangat menyeramkan, sampai kondisi kembali menjadi gelap seperti sebelumnya.


Justin tersenyum, "Baiklah, mari kita bicara santai dengan segelas teh."


Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan segelas teh masing-masing di meja.


"Kerja bagus, karena sudah memperluas jaringan bisnis ini, Justin."


"Itu semua berkat bantuan Anda, jika bukan karena Anda, mungkin orang gereja itu tak akan datang ke sini."


Sisi lain Justin mengatakan hal yang berbeda.


Tentu saja! Semua karena aku yang bisa bernegosiasi dengan mereka! Tak ada hal yang tidak bisa kulakukan.


"Mereka sudah mendapatkan setengah dari permintaan, sekarang sedang dalam perjalanan, mungkin saint itu juga di sana," lanjut Justin.


"Bahkan pengikut setia Dewi ada yang berkhianat, bukankah ini sangat menggelikan?" Red Own bersandar di kursi sembari melipat kedua tangannya.


Hanya melihatnya saja sudah membuat Justin tertekan. Keningnya sedikit berkeringat, tak tahu pasti kenapa kondisinya seperti itu, tak ada kerugian jika ia tak bekerja sama dengan Red Own.


Tapi, mulutnya terasa berat ingin mengatakannya, seolah-olah ada seseorang yang menarik bibirnya.


Karena sudah terlanjur seperti ini, aku tak punya pilihan lain.


"Tuan, mungkinkah keributan di kota ...?"


"Benar, itu juga alasanku ingin bertemu denganmu saat ini."


Suhu di ruangan itu perlahan menjadi panas, hujan deras masih berlangsung, namun suhu terus naik.


"Justin, apa kau percaya diri bisa menguasai asosiasi?" tanya Red Own.


Tanpa ragu, Justin menjawab, "Saya sangat yakin."


Red Own menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat kecewa, itu bayangan Justin tentang ekspresi di balik topengnya.


"Walau kau menyiapkan banyak penjaga kuat, itu semua akan sia-sia jika kau sendiri lemah."


Justin sedikit memiliki kemampuan berpedang yang ia pelajari saat masih kecil bersama Saraya. Ia berhenti sejak remaja, kehidupannya berubah drastis, bahkan Saraya yang dulu selalu tersenyum padanya kini membencinya.


Ia mulai meninggalkan pedang, pada akhirnya terjerumus dalam kehidupan yang gelap. Hanya para assassin yang bisa diandalkan olehnya saat ini.


"Dan juga, orang kuat akan mengendalikan orang lemah. Dominasi mereka dengan kekuatan, itu akan membuatmu kokoh sebagai alpha satu-satunya yang mengatur segalanya di telapak tanganmu," lanjut Red Own.


"Maksud Anda?"


"Buat semua orang tunduk dengan kekuatanmu. Aku sudah memberitahumu bagaimana cara mengekstrak caoy, bukan?"


Justin mengambil caoy dari saku celananya. Ia terus melihat caoy itu, perasaannya gundah, tak tahu jalan mana yang harus dia pilih.


Lagi-lagi bayangan kakaknya muncul. Saraya yang berdiri menghadap Justin layaknya sebuah tembok sembari menatapnya rendah.


"Tch! Sudah kuputuskan!" Justin menggigit kecil bagian ujung jari telunjuknya. Kemudian ia meneteskan darah dari telunjuknya ke caoy.


Langkah terakhir, aku harus mengalirkan Mana ke caoy ini.


*Duuuaaar!


Sebuah petir menyambar kota, suaranya begitu memekakkan telinga. Walau hanya sekilas, bentuk petir itu bercabang, menyambar beberapa bangunan lain melalui cabang itu.


Kedua orang itu langsung melihat ke arah jendela.


Red Own menyangga dagunya sembari berpikir.


Sepertinya itu tak cukup menahannya. Saraya de Moriento, dia benar-benar sesuatu. Akan kubiarkan, tapi tidak dengan bawahannya.


 


Saraya berjalan menuju ke tempat pertarungan antara maid berkacamata melawan monster aneh.


Kalau tidak salah, nama maid itu Rista, bukan? Atau Rasta?


"Pertarungan ini milikku, mundurlah," ucap Saraya.


Rista melompat menjauhi monster itu. Tentu monster itu tak melepasnya, ia hendak memukul Rista, namun ....


*Crack!


Sebuah tusukan menghancurkan pergelangan tangan monster itu. Serangan itu berasal dari Saraya yang sudah berada beberapa langkah di dekat monster itu.


"Lawanmu adalah aku."


Saraya mengalirkan listrik di tombaknya, ia langsung merobek-robek tubuh monster itu dengan sangat cepat menggunakan tombaknya. Tubuh monster itu terbagi menjadi beberapa keping, hanya bagian kepalanya saja yang masih utuh.


Aku bisa merobek tubuhnya yang keras itu dengan melapisi tombakku menggunakan aura penuh, ini memang membuang-buang Mana, tapi aku ingin mengakhiri ini secepatnya.


"Selesai? Mengecewakan, bahkan aku belum melakukan pemanasan." Saraya berbalik meninggalkan potongan tubuh di belakangnya.


Dari kejauhan, Rista menganalisa kekuatan Saraya.


Sebelum menyerang monster itu, jarak aku dan Saraya cukup jauh. Jika aku tak melihat pertarungannya melawan Nyonya sebelumnya, mungkin aku akan menganggap Saraya memiliki kecepatan yang luar biasa. Tapi, itu semua adalah teleportasi, berbeda dengan sihir teleportasi, dia ....


Tubuh monster yang terpotong-potong dengan cepat kembali menyatu. Tubuh monster itu belum kembali ke bentuk semula, namun posisi tubuhnya sudah bersiap memukul Saraya dengan energi penuh di tangannya.


Saraya menyadarinya, ia melemparkan tombak ke arah belakang, melewati monster itu. Hanya beberapa detik serangan itu mendarat mengenainya.


*Duaaarr!


Pukulan monster itu menimbulkan efek ledakan yang begitu besar, gempa kecil terjadi setelah itu.


"MATI KAU! KHUAHAAHAHAHA!" Monster itu kegirangan setelah melancarkan pukulan tersebut.


Namun, kesenangan itu hanya berlangsung sementara, monster itu mengangkat tangannya dan melihat tak ada Saraya di bawah tangannya.


"Kau sangat senang memukul air hujan?" Saraya berada tepat di belakang monster itu sambil bersiap dengan tombaknya.


"BAGAIMANA KAU MENGHINDARINYA?! AKU YAKIN ITU MENGENAIMU!"


"Kau sangat lambat." Saraya melempar tombak ke arah kepala monster itu.


Dengan mudah monster itu memiringkan kepalanya menghindari tombak Saraya.


"KAU TIDAK PUNYA BAKAT MELEMPAR!"


"Thunder Slash."


Tanpa disadari, bilah tombak sudah menembus wajah monster itu.


"KAU PIKIR AKU AKAN MATI HANYA DENGAN INI?!" Monster itu melirik ke atas dan terkejut.


Langit secara mengejutkan memunculkan cahaya, namun cahaya itu hanya muncul pada satu titik, tak melebar ke area lainnya.


"Satu-satunya cara menekan regenerasimu adalah dengan melenyapkan tubuhmu tanpa sisa."


"ITU TAK AKAN CUKUP UNTUK MEMBAKAR TUBUHKU!"


Saraya tersenyum. Melihatnya tersenyum, monster itu merasakan tekanan yang luar biasa dari Saraya.


"H-HENTIKAN."


*Duaaaarrr!


Petir dengan kekuatan dahsyat menyambar tubuh monster itu. Kejadian itu sangat cepat, tubuh monster itu berubah menjadi abu dalam sekejap.


Senjata utamanya adalah tombak itu, tidak, lebih tepatnya cincin itu. Dia bisa berteleportasi menggunakan media senjata yang dibuat menggunakan cincin itu. Tetap saja, kekuatan kilatnya juga tidak kalah mengerikan.


Rista mengepalkan tangannya cukup erat, bisa saja menghancurkan sebuah logam besi dalam genggamannya itu. Matanya penuh dengan kepercayaan diri, dan juga semangat bertarung yang membakar.


Aku ingin bertarung dengannya segera.


Saraya melompat ke atas dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa. Ia terlihat melayang di ketinggian dua puluh meter. Matanya sedang mencari tempat yang diteror para monster.


Dari seluruh tempat, ia terfokuskan pada sebuah bangunan besar.


Tempat itu terlalu hening.


Bersambung ....